
Tubuh Lucas bergetar hebat saat kedua matanya melihat bukti kalau Diana yang memenjarakan Ayah tirinya. Artinya Diana yang telah menyelamatkan dia dan ibunya dari jurang siksa.
“Kamu tidak pernah tahu bukan, kalau yang menyelamatkan kalian adalah Diana. Diana melakukan itu saat kalian kembali ke rumah Nyonya Zelin, agar kalian tidak melihat dirinya. Bukan hanya memenjarakan Ayah tirimu, Diana juga membantu ibumu bercerai dengan Ayah tirimu.”
Ivan memberikan tabletnya pada Lucas. “Itu video saat penangkapan Ayah tirimu.”
Lucas gemetaran, napasnya juga mulai terasa sesak menonton Video yang selama ini tidak dia ketahui.
“Dan ini bukti perceraian resmi ibumu dan Ayah tirimu.” Ivan memberikan salinan perceraian ibu Lucas dan Ayah tirinya.
“Kurang baik apa Diana padamu?” tanya Ivan.
Arggghhh!
Lucas menjerit, dadanya bagai dihantam sebuah kayu besar dengan begitu keras. Sakit, perih, relung hatinya dipenuhi penyesalan.
Hiks!
Lucas tersungkur di lantai, dia tenggelam dalam tangis penyesalannya. Selama ini dia berpikir hidup sangat tidak adil padanya, Diana hidup tenang bersama neneknya, dan tidak peduli dengan mereka, sedang dia menderita dengan ibunya.
Ivan mematung melihat Lucas tenggelam dalam tangisnya. Ivan berulang kali mengatur tarikan napasnya.
“Maafkan aku.” Lucas baru ingat kalau dia bersama Ivan.
“Aku memahami penyesalan yang kamu rasa.” Ivan menepuk pundak Lucas, dan mengajaknya untuk duduk di kursi di dekat mereka.
Ivan memberikan kotak tisu pada Lucas. Lucas meraih beberapa lembar tisu dan menyapu air mata yang membasahi wajahnya.
“Selain itu Diana juga yang membantu hidup kalian. Catatan transfer dari Diana untuk kalian.” Ivan memberikan dokumen yang lain.
Dengan tangan gemetaran Lucas menerima dokumen yang Ivan berikan padanya.
"Di sana tercatat, Diana rutin mentrasfer uang ke rekening ibumu selama 7 tahun, artinya sejak kamu berusia 10 tahun, hingga kamu berusia 17 tahun. walau kalian jauh dari Diana, tapi dia selalu memikirkan kalian," ucap Ivan.
Argg!
Lucas geram dengan dirinya sendiri, sekuat apapun dia menjerit menyesali segala perbuatannya, rasa yang mengganjal di hatinya tidak juga berkurang. Andai waktu bisa diputar, dia ingin mengulang waktu yang lalu dengan bersikap baik pada Diana.
“Lucas, berhentilah membenci Diana. Diana memang tidak memiliki hubungan darah denganmu, Ayah kandungmu adalah anak angkat Nyonya Zelin. Tapi Diana menganggapmu sebagai saudara kandungnya, dia menyayangimu dan menjagamu. Tanpa kamu tahu Diana sudah membalaskan semua dendam yang kamu simpan dalam hatimu pada Ayah tirimu. Dia sudah memberi balasan setimpal pada laki-laki yang menyiksa kalian. Ku harap kamu bisa menganggap Diana saudaramu, dan menyayanginya seperti dia menyayangimu.”
“Aku tidak pernah menyangka, kalau pahlawan dalam hidup kami adalah Diana.” Air mata kembali membasahi pipi Lucas.
“Saat Ayah tiriku menganiaya kami, saat itu ibuku tengah hamil, aku masih kecil, sulit bagi kami untuk melarikan diri.” Lucas kembali terisak, bayangan saat dia dan ibunya disiksa laki-laki itu kembali terlintas. “Aku tidak pernah menduga kalau Diana melindungi kami, karena saat kami kembali ke rumah nenek Zelin, aku tidak bertemu Diana, ku pikir wanita itu bersenang-senang di luar.”
“Bukan maksudku membuka luka lamamu, Lucas. Aku hanya tidak tahan melihat kebencianmu pada Diana, sebab ini aku mencari tahu semua tentangmu dan Diana. Maafkan aku karena berusaha mongorek masa lalu kalian, ini ku lakukan demi Diana. Diana sudah terlalu lama menuai kebencian dari banyak orang, hidupnya terlalu extrim, aku hanya ingin memberi Diana kebahagiaan dengan caraku. Salah satunya membuka mata orang-orang yang membencinya, membenci Diana adalah hal yang salah, dia wanita baik-baik dan penuh kasih sayang."
"Terima kasih karena membuka kedua mataku yang selama ini di selimuti kebencian." Suara Lucas tertahan, tangisnya kembali pecah.
“Aku sangat jahat, andai aku tahu sejak lama Diana adalah pelindung kami, aku tidak akan melakukan hal bodoh!” jerit Lucas.
“Hal bodoh apa?” tanya Ivan.
Lucas berusaha menahan tangisnya, merasa lebih baik, Lucas kembali bercerita. “Saat aku ke sebuah club malam, aku melihat Diana duduk dipangkuan seorang laki-laki, dan aku memotretnya. Bahkan aku memberikan foto-foto itu pada orang yang berusaha mengenal Diana.” Lucas meremass kuat rambut kepalanya.
Ivan kini tahu, siapa yang mengabadikan foto-foto Diana bersama Fredy.
“Lupakan semua kebencianmu, dan mulai jalin kembali hubungan kekeluargaan kalian. Bagaimanapun Diana, dia sangat dingin, keras, sombong, di balik sikapnya yang menyebalkan itu, dia sangat peduli padamu.”
Ivan dan Lucas tidak jadi makan malam, rasanya perut mereka sudah penuh. Ivan membungkus banyak makanan, dan meminta Lucas membawa semuanya. Setelah Ivan meninggalkannya. Lucas meraih handphonenya dan segera menelepon Diana.
Tutttt!
“Halo.”
“Diana, ini aku Lucas.”
“Iya. Aku tau.”
Lucas menghela napasnya mendengar jawaban judes Diana. “Diana, kapan kamu kembali ke kampus?”
“Tidak ada, aku hanya ingin membantumu membereskan asrama barumu.”
“Kenapa kau sebaik ini? Kepalamu kejedot apa? Apa kau merencanakan sesuatu untuk menyerangku lagi?”
“Tidak Diana, aku benar-benar ingin membantumu. Mulai detik ini aku berjanji tidak akan mengganggumu."
"Hmmm ... Seseorang membayarmu?"
"Apa pantas aku membenci dan berlaku buruk pada seseorang yang berjasa besar dalam hidupku?”
"Izinkan aku membalas perbuatan baikmu, Diana. Walau perbuatan baik dariku tidak akan mampu membayar semua yang telah kamu lakukan untukku dan ibuku."
Tuttt! Tut! Tutttt ….
Sambungan telepon mereka diputus sepihak oleh Diana.
**
Diana sangat geram mengetahui kalau Lucas tahu perbuatannya di masa lalu. Diana segera bangkit dari tempat tidurnya, dia berusaha melacak nomor Lucas, siapa saja yang menghubungi nomor itu. Hampir semalaman Diana terjaga memandangi layar laptopnya. Hingga dia menemukan salah satu pesan yang mengajak Lucas untuk bertemu. Diana semakin geram saat melihat nama Ivan sebagai pengirim pesan tersebut.
“Tidak salah lagi, pasti Ivan!”
Diana melirik jam dinding, hari hampir pagi, tapi dia tidak bisa tidur lagi, Diana keluar menuju dapur dan membuat segelas susu hangat untuknya. Diana duduk santai diatas kursi goyang sambil meminum susunya.
Detik demi detik berlalu, gelas yang tadi penuh kini tinggal separu. Tidak terasa matahari semakin menampakan cahayanya.
Ting! Tong!
Suara bel yang terdengar sedikit pun tidak mengusik ketenangan Diana, dia tenggelam dalam kemarahannya.
Ceklak!
Pintu kamar Ivan terbuka. Ivan merasa heran dengan Diana, keadaannya terlihat kacau, Diana masih mengenakan piyama tidur warna hitam dengan rambut yang sangat beratakan. Suara bel yang kembali terdengar membuat lamunan Ivan buyar. Dia mengabaikan Diana dan menuju pintu. Ivan kembali dengan membawa dua bungkus makanan.
“Diana, kamu baik-baik saja?” tanya Ivan.
Diana masih tidak bergeming.
“Diana, sebaiknya kamu atur waktu untuk mengerjakan tugasmu, jangan tidur terlalu malam terus,” ucap Ivan. Ivan memandangi Diana. “Diana …, ayo sarapan.”
Panggilannya kali ini direspon Diana, gadis itu segera bangkit dan berjalan mendekat kearah meja makan. Dia berdiri tepat di samping Ivan.
“Sebentar, aku ambilkan piring untuk kita.” Ivan segera beranjak menuju lemari.
Tapi langkahnya terhenti, Diana mencengkram kuar krah kemeja Ivan.
“Apakah kehidupanku terlalu menarik untukmu, sehingga kau ikut campur masalah keluargaku?!”
Ivan sangat terkejut dengan reaksi Diana. “Apa maksudmu?”
“Tidak usah pura-pura bego! Aku tahu kamu yang mengatakan semuanya pada Lucas!” Diana melepaskan krah kemeja Ivan dengan kasar. “Berhenti mencampuri urusanku! Apa kamu lupa perjanjian kita dulu?!” Suara Diana begitu lantang seakan memenuhi ruangan yang mereka tempati.
“Jangan ganggu aku, dan jangan main-main denganku. Ini adalah dua kesepakatan yang kita sepakati dulu.”
“Aku tidak mengganggumu Diana,” ucap Ivan lembut.
“Dengan mencari tahu masa laluku, dan mencampuri masalah keluargaku, kau bukan hanya menggangguku, tapi kau mempermainkanku, bukahkah sudah ku katakan jangan cari tahu tentang aku!”
Ivan terlihat begitu tenang, walau dalam dirinya dia sangat terkejut melihat Diana semarah ini padanya.
“Tiba-tiba Lucas baik padaku, aku yakin kamu mengatakan banyak hal padanya bukan?”
“Diana, tenang dulu. Aku akan jelaskan semuanya.”
Diana melipat kedua tangan didepan dadanya, dia ingin mendengar seperti apa penjelasan Ivan.