Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 271 Memang Pantas


Perjalanan panjang menuju desa Diana semakin dekat, mengingat banyak orang sudah tahu siapa Diana, Ivan tidak mau ambil reseko. Walau dirinya dan Diana mampu menjaga diri sendiri, dia tetap menyiapkan 20 orang pengawal khusus untuk menjaga mereka.


Ivan dan Diana mengunjungi rumah Kakek Agung, mereka berdua berpamitan pada Kakek Agung. Saat yang sama Rani dan Sofian baru turun dari tangga, di belakang keduanya terlihat beberapa pelayan menarik koper besar.


"Mama papa berangkat keluar Negri sekarang?" tanya Ivan.


"Iya Van, biar mamamu bahagia."


"Tidak semua orang memiliki kesabaran untuk menunggu, saranku, lebih baik Nyonya belajar bahasa isyarat dulu, agar saat berinteraksi dengan orang lain tidak menimbukan kesalah fahaman, bahasa isyarat yang Nyonya pelajari lebih awal adalah, tunggu, dan aku tidak bisa berbicara."


Rani sangat marah, dia mempercepat langkahnya menuju mobilnya. Ivan dan Sofian tidak tahu lagi harus bagaimana melembutkan hati Rani.


"Tumben kalian mampir, apakah ada kabar bahagia? Misal aku akan dapat cucu?" tanya Sofian.


"Kami mampir ke sini, hanya ingin berpamitan saja, besok kami akan ke desa Diana," sahut Ivan.


***


Rani dan Sofian memulai perjalanan mereka untuk pengobatan Rani. Sedang Diana, Ivan dan rombongan memulai perjalanan mereka menuju desa Diana. Dalam rombongan perjalanan Diana, selain dia dan Ivan, ada Yudha dan Dillah dalam rombongan itu. Urusan Perusahaan saat ini Ivan percayakan pada Narendra.


Iring-iringan mobil yang memili roda monster itu mulai memasuki jalur yang sulit. Diana terlihat sangat tenang, dia sudah biasa melewati jalur ini, bahkan dia lebih suka menaiki motor trail, perjalanannya lebih menantang.


"Huuu!" Dillah berpegangan erat pada pegangan mobil. "Kenapa kita tidak pakai burung besi saja ...."


"Pakai burung besi tidak seru, perjalanan kita sangat singkat, kalau lewat jalur darat, banyak keseruan yang menantang adrenalin kita," sahut Diana.


"Menantang apanya, jalur ini menakutkan, Huuuu!" Dillah terlihat sangat takut.


Yudha fokus pada jalan yang mereka lewati. "Aku sangat prihatin, ternyata desamu sangat tertinggal Diana, pantas saja kepala suku tidak mau membuka tambang."


Diana tersenyum mendengar perkataan Yudha.


"Apakah perjalanan ini masih jauh?" rengek Dillah.


"Iya, butuh waktu 3 hari," goda Diana..


"Beruntung aku membawa tenda, sudah kuduga kita akan bermalam di tengah hutan," sela Yudha.


3 jam berlalu, akhirnya mobil harus berhenti, tidak ada jalur lagi di depan mereka, adanya sungai ber arus tenang


"Apakah jantungku tidak bisa tenang, baru saja aku bernapas lega karena tidak uji nyali, sekarang kita harus menyeberangi sungai dengan kapal sederhana ini?" Dillah menunjuk pada beberapa perahu yang menunggu mereka.


Tidak ada yang menajawab, Ivan, Diana, dan Yudha langsung naik ke perahu, para pengawal Ivan juga naik ke perahu yang lain. Dillah terpaksa memberanikan diri menaiki perahu itu. Perjalanan tenang pun di mulai.


Yudha mengambil handphonenya, dia kagum walau di tengah hutan, dia masih mendapatkan jaringan telepon dan internet. "Desa ini penuh misteri sepertinya, lihat ada signal." Yudha memperlihatkan layar handphonenya.


"Ya jelas ada signal, lihat di sana dan di seberang itu ada tower."


Menyadari hal itu, rasanya Yudha ingin menarik katanya yang menyebut desa Diana sebuah desa yang tertinggal, belum masuk saja, dia sudah dikejutkan dengan adanya 2 menara pemancar signal.


"Diana, selama Sekolah dulu, adakah mata pelajaran yang menyulitkanmu?" tanya Yudha.


"Ada, Bahasa Ingris."


"Kenapa?" Yudha terlihat tidak percaya.


"Aku punya adik sepupu yang juga cerdas, bahkan nilai bahasa Ingrisnya 90."


"Kamu jangan percaya apa yang Diana katakan, dia tidak pernah menampakan dirinya siapa, aku yakin Diana tidak kesulitan dalam hal belajar. Bagaimana dia bisa kesulitan, saat anak-anak yang seusianya masih duduk di bangku SMP, Diana sudah meraih gelar sarjana di Universitas Jerman. Jadi untuk nilai kamu cari sendiri Yudh."


Usul Ivan sangat bagus, akhirnya Yudha mencari tahu sendiri nilai Diana di Universitas Bina Jaya. Yudha sangat terkejut, karena nilai-nilai ujian Diana mendekati sempurna, bahkan disetiap mata pelajaran. Belum puas, Dillah mencari tahu tentang Diana, dan dia dikejutkan dengan prestasi Ketua IMO yang menguasai banyak bahasa dunia, selain ingris, Diana mengusai bahasa Cina, arab, dan Urdhu.


Drrrtttt!


Yudha tersadar dengan pesan yang baru masuk. Terlihat pesan itu dari Ivan, Yudha segera membuka pesan itu.


*Aku tidak marah kamu membanggakan sepupumu, hanya saja banyak orang yang lebih genius, tapi mereka dan orang terdekatnya diam, kehebatan bukan untuk diperlihatkan dan dibanggakan, tapi digunakan untuk melakukan kebaikan dan memberi manfaat.


Yudha semakin bungkam, kini matanya dikejutkan dengan barisan kapal-kapal mewah yang bersandar di pelabuhan yang ada di depan matanya. Desa ini ternyata desa yang sangat kaya dan maju.


"Yang berdiri bersama Profesor Hadju itu adalah besan beliau, Kepala suku desa kami." Diana mengisyarat pada dua orang yang menyambut mereka di pelabuhan.


"Ternyata kalian semua memilih jalur perjuangan, selamat kalian lolos di ujian pertama, tapi aku merasa kurang puas, karena Ivan membawa banyak pengawal," ucal Profesor Hadju.


"Membawa mereka bukan untuk melindungi diriku, tapi untuk menakuti musuh yang mengincar, walau hanya aku dan Diana saja, kami bisa melindungi diri kami sendiri," sahut Ivan.


"Kalau begitu, cepat naik. Kita langsung pada ujian kedua," sela kepala Suku.


"Ujian? Ujian apa?" tanya Dillah.


"Uji kelayakan, apakah aku pantas memiliki Diana," sahut Ivan.


Mereka semua berjalan mengikuti kepala suku dan Profesor Hadju. hingga mereka sampai di sebuah lapangan. Di sana terlihat banyak laki-laki bertubuh besar dan kekar.


"Apa ini? Bukankah aku sudah meminta untuk diganti?" Diana sangat takut Ivan dipukuli jagoan desanya.


"Suamimu sendiri bilang mampu menjaga diri tanpa pengawal, sekarang aku ingin melihatnya langsung," sahut kepala Suku.


"Diana, tenanglah, percaya padaku. Aku malah bahagia jika aku diuji, dengan ujian ini, aku merasa memperjuangkan dirimu."


"Tapi aku tidak mau kamu terluka!" ucap Diana.


"Walau aku harus mati, aku sangat bahagia, karena akhir hayatku aku mati demi memperjuangkan dirimu." Ivan mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Diana, dia segera maju ke tengah lapangan.


Satu jagoan desa maju, dan mulai menyerang Ivan. Namun Ivan sangat gesit menghindari pukulan penyerang, sedang pukulannya selalu medarat telak dibagian tubuh penyerang.


Kepala suku tersenyum melihat itu, dia mengisyarat agar semua jagoan desa langsung turun menyerang Ivan.


"Kepala suku tidak adil, kenapa main keroyokan?" Diana sangat kesal, dia segera ke tengah lapangan membantu Ivan.


Suami istri itu bekerja sama melawan semua musuh, dalam hitungan 10 menit, mereka mengalahkan 50 jagoan desa yang menyerang mereka.


Kepala suku mendekati Ivan dan Diana. "Aku percayakan permata desa kami padamu. Melihat bagaimana kerjasama kalian, ku rasa kamu memang pemuda yang pantas untuk Diana."


Dillah mendekati Yudha dan berbisik. "Pantas saja Nenek Zelin menunjuk Ivan, kalau Nenek Zelin menunjuk kamu, nasib kamu akan sama seperti ayam geprek saat mengikuti ujian ini."


Yudha tidak merespon, dia masih kagum dengan cara Ivan dan Diana menghajar semua musuh.