
Pak Abimayu menatap Danu kesuma dengan tatapan yang penuh intimidasi, selama ini Danu yang selalu menekan orang-orang yang menjadi lawan bicaranya. “Biar aku perjelas, apa saja perbuatan putri kesayanganmu! Melewati batas, berusaha membunuh Nyona Zunea, dan membayar seseorang untuk menggagalkan operasi Nyonya Zunea, agar Nyonya Zunea mati, supaya bukti kejahatannya hilang? Ck! Ck! Ck!” Pak Abi menggelengkan kepalanya membayangkan kejahatan Veronica. "Dia ingin membunuh Nyonya Zunea, agar seseorang mendekam di penjara atas tuduhan yang dia rencanakan."
“Veronica mengganggu orang yang salah kali ini, dia mengganggu seorang dokter bedah terhebat di kota ini! Gara-gara Veronica kedua tangan dokter hebat itu terluka. Anda tahu? Sepasang tangan dokter hebat itu adalah Anugerah, banyak nyawa yang terselamatkan karena keahliannya. Sumpah demi apapun! Ingin rasanya aku membalas semua perlakuan Veronica pada dokter DRAB!”
“Maksud Anda ….” Danu terlihat membuat otaknya bekerja lebih keras lagi. Danu membuang napasnya begitu kasar, mempersiapkan jiwanya untuk mengatakan hasil kinerja otaknya. “Maksud Anda … Veronica melukai dokter hebat yang sangat misterius itu? DRAB adalah dokter bedah handal dan sangat ternama itu? Di mana semua Rumah Sakit menginginkan dia, tapi Rumah Sakit ini beruntung karena dokter DRAB memilih mengabdikan dirinya di Rumah Sakit ini?”
“Yap!”
Oksigen yang ada di ruangan Abimayu seakan habis, paru-paru Danu seketika sesak, menyadari dengan siapa Veronica membuat masalah. Danu berpegangan erat pada sisi meja kerja Abimayu, menumpu bobot tubuhnya yang hilang keseimbangan, dirinya sangat shock setelah menyadari siapa sosok yang berselesih dengan Veronica. Dengan sisa tenaga yang tersisa sebelah tangannya meraih kursi yang ada di sampingnya.
Brukkk!
Danu menghempaskan bobot tubuhnya ke kursi di dekatnya. Marah, malu, kecewa, semua melebur jadi satu. Susah payah Danu menetralkan napas dan dentuman jantungnya karena keterkejutannya. Semua orang di kota ini ingin memeluk dan meyayangi dokter bedah yang ber inisial DRAB, putrinya malah mencari gara-gara, memusuhi dokter DRAB, sama saja memusuhi lebih separu penduduk kota ini.
Kemarahannya yang mulanya tertuju pada Abimayu, kini beralih pada putri yang selama ini dia manjakan. Perlahan helaan napas Danu mulai normal, dia langsung meraih handponenya dan menghubungi putrinya, Veronica.
“Halo papa ….”
“Kamu sangat mengecewakan papamu, Veronica!”
“Pa—"
“Apa di kota ini kehabisan orang-orang yang tidak berguna untuk menjadi korban kejahilanmu!”
“Pa—”
“Kenapa kamu mencari masalah dengan dia?!”
“Papa!”
Danu tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Veronica untuk bicara. “Kamu harus meminta maaf pada lawanmu! Papa tidak mau tau! Dan papa sangat kecewa padamu!”
Di sisi lain ….
“Papa!” Veronica berusaha berbicara.
Namun ….
Tut! Tut! Tut!
Sambungan telepon diputuskan Ayahnya secara sepihak.
“Akkkkkk!” Jeritan Veronica menggema di kamarnya. Kemarahnnya semakin besar, hanya demi seorang Diana, papanya yang selama ini sangat menyayanginya, selalu bersikap sangat lembut padanya. Kali ini malah memarahinya.
“Arggggg! Kenapa Diana? Ivan lebih memihaknya! Sekarang papa memarahiku hanya karena dia!”
“Akkkkk!”
Prank! Pyar!
Bermacam suara barang jatuh terus terdengar di kamar Veronica. Dia tidak terima Ayahnya memarahi dirinya hanya karena Diana.
Sejenak Veronica terdiam, sosok Ivan seketika muncul di pikirannya. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, dia merapikan penampilannya dan langsung menuju kantor Ivan. Veronica putri seorang Danu Kesuma, dia memiliki Akses khusus memasuki Gedung perkantoran Agung Jaya. Tujuan Veronica adalah ruangan Ivan, tanpa permisi pada siapapun dia melengos begitu saja melewati meja Amanda. Bahkan tanpa mengetuk pintu ruangan Ivan, dia langsung masuk begitu saja.
Ceklak!
Suara pintu yang terbuka membuat Ivan dan Yudha terkejut, melihat siapa yang datang membuat Ivan langsung menghampiri Veronica. “Ada urusan apa kau kemari?!”
“Ivan ….” Rengek Veronica.
“Aku tidak memiliki urusan denganmu! Pergi dari sini!”
“Ivan … maafkan aku, karena aku melewati batasanku, Tapi—”
“Pergi dari sini!” Ivan memegang lengan Veronica begitu kasar, dan menyeretnya menuju pintu.
Veronica berusaha mempertahankan keseimbangannya, karena tenaga Ivan lebih besar, dia pun terpaksa mengikuti tarikan Ivan. “Ivan … dengarkan aku, aku memang bersalah, tapi aku akan buktikan semua tuduhan itu tidak benar. Quenzee dan aku akan memperjuangkan keadilan untuk kami.”
Ivan mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Veronica, dan berkata pelan. “Aku tidak punya urusan denganmu!” Ivan melepaskan cengkrramannya, dan mendorong Veronica keluar dari ruangannya.
“Semua masalah yang berkaitan denganmu, tidak ada kaitannya denganku. Jadi … kamu tidak perlu meminta maaf padaku.”
“Amanda!”
Wanita itu segera mendekati Ivan. “Iya Tuan.”
“Kalau dia datang lagi ke sini, jangan biarkan dia masuk kedalam ruanganku! Terserah dirimu bagaimana cara mengusirnya, jika dia sampai masuk ke ruanganku tanpa izinku, kamu yang aku pecat!”
Amanda tertawa bahagia dalam hatinya, selama ini dia ingin mencegat Veronica agar tidak bisa mendekati Ivan, tapi dia tidak berani. Kali ini dia diberi mandate untuk mengusir perempuan ini jika datang lagi.
Pandangan mata Ivan tertuju pada Veronica. “Berhenti mencari perlindungan dariku! Ingat Diantara kita TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN!”
Degummm!
Rasanya hati Veronica dihantam batu besar, sangat sakit saat mendengar ucapan Ivan, bahwa dianta mereka ‘Tidak ada hubungan apapun’ Veronica seketika merasa kesulitan untuk bernapas, rasanya paru-parunya tidak berfungsi dengan baik, lehernya juga terasa diikat kencang seutas tali yang begitu kuat.
“Kalau dia masih tidak mau pergi, usir dia!” titah Ivan pada Amanda.
“Baik Tuan.” Amanda berusaha terlihat normal, walau dalam dirinya ada rasa bahagia yang meledak-ledak.
Brukkkk!
Bantingan pintu yang begitu keras, membuat tubuh Amanda dan tubuh Veronica terperanjat.
Ivan kembali kedalam ruangannya, emosinya seketika meledak melihat Veronica. Ivan menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya, dan menyandarkan punggungnya. Bukan hanya kemarahan Ivan yang seketika berkobar melihat Veronica, tapi juga Yudha.
“Berani-beraninya dia menampakkan wajahnya!” Wajah Yudha memerah sejak dia melihat Veronica. "Begitu polosnya dia meminta maaaf padamu, harusnya dia meminta maaf padaku!”
Sekujur tubuh Yudha bergetar hebat menahan luapan kemarahannya kala teringat perbuatan Veronica pada neneknya.
“Dokter yang melakukan operasi sebelumnya bukan seperti seorang dokter, tapi seperti seorang tukang jagal!” Yudha meringis, hatinya sangat sakit jika terbayang perkataan tim dokter juga perkataan Pak Abimayu. “Hhhhhhh!” Yudha berusaha mengontrol dirinya yang tenggelam oleh rasa sakit dan kemarahan yang menggebu.
“Malpraktek yang dia lakukan pada nenekku tidak akan bisa ku maafkan! Nyawa nenekku hampir melayang karena ulahnya!”
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Yudha langsung berusaha menetralkan segala perasaanya yang kacau.
“Masuk!” ucap Ivan.
Perlahan pintu terbuka, terlihat Amanda memasuki ruangan Ivan dengan membawa berkas. Dia langsung berdiri di samping Ivan dan memberikan berkas yang dia bawa. “Permisi Tuan. Ini laporan dari orang kepercayaan perusahaan.”
“30 menit yang lalu Tuan Fazran menemui pimpinan perusahaaan Edge Group.”
Ivan langsung membuka berkas yang Veronica berikan padanya.
“Dari laporan, Tuan Fazran berencana membawa semua saham dan proyek mereka untuk bekerja sama denga perusahaan Edge Group. Tuan Fazran melakukan itu, dia ingin menekan perusahaan Anda.”
Ivan masih membaca setiap baris tulisan yang tertera.
Mendengar semua laporan Amanda, dan membaca detail yang terlampir, senyuman menghiasi wajah tampan seorang Ivan Hadi Dwipangga.
“Maaf, Tuan …, apakah Anda mengutus orang kantor untuk memberitahu masalah antara keluarga Agung dan keluarga Harisons?” tanya Amanda.
Ivan memberikan berkas yang dia baca pada Amanda. “Aku tidak tahu, dan aku tidak mengutus siapa pun.”
Amanda pun undur diri dari ruangan Ivan. Sedang Ivan kembali bersandar di sandaran kursinya, pikirannya melayang, membayangkan sosok yang berani menemui pimpinan Edge Group, dan membuat CEO itu menolak tawaran Kerjasama dari keluarga Harisons.
“Kamu yang menemui Fredy?” tanya Ivan pada Yudha.
“Kapan aku menemui Fredy? Aku selalu di sampingmu, bahkan keromantisan kita melebihi apapun.”
“Asem!” Ivan melemparkan pulpen kearah Yudha.
“Kita selalu bersama, Romeo dan Juliet aja kalah, Van!”
Perkataan Yudha sangat benar, Yudha selalu ada di sampingnya.
Entahlah, siapa sosok itu, dia sangat berani.
Ivan berusaha mengesampingkan membayangkan siapa sosok yang menjadi pahlawan perusahaannya, dia kembali fokus dan melanjutkan pembahasan kerja sama dengan Yudha.
Flash Back.
*Disekitarmu sangat banyak orang-orang hebat. Pak Abimayu, Profesor Russel, bahkan pengacara Nizam, ups ... bahkan Nizam seorang dokter bedah paling hebat di kota ini. Tidak terhitung, sangat banyak orang-orang hebat di sekitamu, kenapa kamu tidak meminta bantuan mereka atau meminta mereka mencarikan dokter yang handal untuk menangani dan menyembuhkan bisumu?
Aku sangat yakin, bisumu pasti bisa disembuhkan*.
Perkataan Ivan terus berulang di benak Diana, Diana membuang napasnya begitu kasar, dan membuka pesan masuk yang dia abaikan sebelumnya.
……
Kedua alis Diana tertaut membaca pesan tersebut. Dia langsung mengirim pesan pada seseorang, memastikan rencananya untuk melindungi perusahaan Ivan berhasil, Diana pun segera menyudahi chatnya, dia menyimpan handphone dan segera berlabuh ke alam mimpi.
(Pada Bab 36)
Flash Back Off
***
Sejak berbagi bahan penelitian bersama, ikatan pertemanan Saras dan Diana semakin erat. Pribadi Saras yang tidak pernah kepo tentang Diana, membuat Diana nyaman berteman dengannya. Kebebasan privasi yang Saras beri padanya, membuat Diana mudah akrab dengannya. Saras juga sangat menghormati setiap keputusan dan Tindakan yang Diana ambil. Keduanya berada di perpustakaan kampus, bermacam jenis buku bertumpuk di meja yang mereka tempati.
Sorot mata Saras tertuju pada Diana, hari ini Diana terlihat sangat berbeda, selama kelas berlangsung semangat yang selama ini terpancar dari wajah Diana hari ini semangat itu redup. Semakin mencermati wajah Diana, Saras baru menyadari wajah Diana putih pucat.
“Hari ini semangat yang selalu menyala dalam dirimu, seakan padam Na. Wajah kamu juga pucat banget …, kamu sakit?”
Diana menegakkan padangannya memandang Saras, dia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Saras.
Tink!
Tlink!
Kedua handphone Diana berdering. Secara bersamaan kedua handpone menerima pesan. Perhatian Diana tertuju pada dua layar handphonenya. Kedua handphonenya menerima satu pesan pada masing-masing handphone dari nomer yang tidak di kenal.
Handphone 1.
*Bisa kita pergi makan siang bersama, siang ini?
Diana mengabaikan pesan yang telah dia baca. Tangannya meraih handphone yang satunya.
*Kamu sibuk nggak siang ini? Kalau nggak sibuk … aku ingin bertemu, bagaimana kalau kita makan siang hari ini.
Diana berpikir, ajakan yang sama untuk makan siang dari nomer yang asing.
Darimana mereka mendapatkan nomor handphoneku? Gumam Diana dalam hati.
Tink!
Notifikasi pesan yang baru masuk menyadarkan Diana dari lamunannya, dia segera membaca pesan yang baru masuk. Terlihat satu pesan baru dari Ivan.
*Setelah mata kuliah selesai, apa ada mata kuliah tambahan?
Diana segera membalas.
"Tidak ada.
Tink!
Mata kuliahmu hari ini selesai jam 1 bukan? Aku tunggu kamu di depan kampus.
Diana segera menyimpan handponenya, dia jawab atau tidak, pastinya Ivan akan tetap menunggunya di depan kampus. Perhatian Diana kembali pada buku yang dia pelajari sebelumnya.
“Beneran kamu baik-baik aja?” Saras kembali memastikan.
Diana mulai mengetik jawabannya, dan memperlihatkannya pada saras.
*Aku baik-baik saja. Hanya saja aku kurang semangat.
****
Semua mata kuliah hari ini selesai, Diana segera membereskan semuanya, dan memacu langkahnya keluar kampus. Saat dia hampir sampai di depan gerbang sekolah, benar saja di depan sana ada sebuah mobil yang tidak asing baginya. Kaca pintu mobil itu terbuka saat jarak Diana dengan mobil itu semakin dekat, sangat jelas Diana melihat Ivan ada di kursi belakang dengan seorang Wanita yang dia lihat di Apartemen sebelumnya.
Pandangan Ivan yang begitu teduh terus tertuju pada Diana, tapi melihat wajah Diana yang sangat pucat membuat rasa khawatir seketika menyeruat. Sedang Diana sama sekali tidak memerdulikan pandangannya. Diana ingin membuka pintu mobil bagian depan, karena bagian belakang sudah ditempati Ivan bersama sekretarisnya.
“Kamu sakit?”
Pertanyaan Ivan membuat gerak tangan Diana terhenti, dia tidak menjawab pertanyaan Ivan, namun membalas pandangan mata Ivan.
“Barbara, tolong kamu carikan sesuatu untuk Diana,” titah Ivan.
“Baik Tuan.” Barbara pun segera keluar dari Mobil.
Ivan juga keluar dari mobil, dia meminta Diana masuk kedalam mobil. Diana pun masuk dan duduk di kursi mobil yang sebelumnya Ivan tempati. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Ivan kembali masuk kedalam mobil, dan menempati kursi yang sebelumnya di tempati Barbara.
Ivan berusaha menyembunyikan mimik kekhawatirannya melihat Diana sepucat ini, berusaha bersikap tidak peduli, namun sepasang matanya tidak bisa diajak kerja sama, mata Ivan tidak rela mengalihkan padangan dari sosok Diana. Sangat khawatir melihat Diana seperti ini, tapi juga sangat mengagumi sosok yang duduk di sampingnya.
“Permisi Tuan ….”
Sapaan Barbara membuyarkan segala kekaguman dan kekhawatiran Ivan.
“Saya hanya menemukan ini di kantin sekolah.” Barbara memberikan satu sandwich yang masih dalam bungkusan, segelas susu hangat, dan sebotol air mineral.
Diana hanya menerima segelas susu hangat dari Barbara, dan segera meminumnya. Barbara membawa sandwich dan sebotol air mineral bersamanya.
“Apakah kamu mau ikut ke kantorku dulu? Aku ada pekerjaan penting.” tanya Ivan.
Diana menganggukkan kepalanya, dia bersedia ikut Ivan ke kantornya.