Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 160 Jangan Keterlaluan


(Masih Flash Back)


Tony mengambil handphonneya dan dia mencari data diri Ivan. “Ivan Hadi Dwipangga, cucu kedua di keluarga Agung Jaya, dia adalah pemilik saham terbesar saham Agung Jaya, dan penerus yang memiliki banyak prestasi, diantaranya Ivan berhasil membawa Perusahaan keluarganya menjadi Perusahaan besar yang sangat berpengaruh."


"Ivan Hadi Dwipangga, seorang pememimpin sah bisnis keluarga Agung Jaya, banyak bisnis yang dia miliki, dari Perusahaan yang bergerak di bidang farmasi, tambang, dan beberapa Perusahaan lain.” Tony memberikan handphonenya pada Diana. "Baca sendiri, aku capek menyebutkan prestasi Ivan."


Diana dengan cermat membaca semua data-data diri Ivan. Hal yang baru dia ketahui adalah Ivan adalah orang terkaya di negara mereka. “Info ini benar?” Diana mengembalikan handphone Tony.


"Mana berani aku membohongimu, Ketua."


Diana sulit mempercayai hal itu, dia hanya diam dan terus tenggelam dalam segala pemikirannya.


“Makanya aku kaget saat melihat laki-laki itu bersamamu.”


“Aku lumayan lama bertemu dengannya tapi aku tidak tahu apa-apa tentangnya,” kilah Diana.


"Kenapa dia terlihat begitu membelamu?


Belum sempat Diana menjawab pertanyaan Tonny, samar-sama Dia mendengar suara perdebatan yang tidak jauh darinya, Diana memandang kearah Tony.


“Apapun yang kamu dengar dan kamu lihat nanti, tetap tunggu aku di sini,” pinta Diana.


Tony menganggukan kepalanya menjawab permintaan Diana, dan dia bersadar di tembok Lorong itu. Sedang Diana perlahan mendekati sumber suara itu. Semakin dekat, Diana semakin yakin dengan pemilik dua suara itu.


“Orang yang tidak memiliki sopan santun seperti gadis pembawa sial itu tidak akan memiliki kejeniusan seperti yang kamu katakan!”


Mendengar kalimat itu kesabaran Diana habis, Rani tidak pernah bosan menghujaninya dengan kebencian.


Flash Back Off


Brakkkk!


Dia sengaja menendang pintu ruangan itu, saat pintu terbuka dia melihat Rani dan Ivan ada di dalam ruangan itu. Wajah Rani terlihat sangat marah saat matanya melihat Diana. “Sebelum kau puji dia dengan kejeniusan, sebaiknya kamu ajarkan dia tata krama dan sopan santun!” ucap Rani pada Ivan.


“Yang seharusnya diajarkan tata krama dan Sopan Santun itu Anda! Nyonya Rani!” balas Diana.


“Dasar gadis kampung tidak beretika! Lihat dia! Dia tidak punya sopan santun sedikit pun!” maki Rani.


“Diana?” Ivan tidak menyangka Diana tiba-tiba ada di ruangan tempatnya dan ibunya berada.


“Seperti ini wanita yang kau puji memiliki kejeniusan yang tinggi itu?” ledek Rani.


"Mama, tolong tenang dulu."


Ivan langsung mendekati Diana. “Diana, kemarilah kita bicara sama-sama.”


Ivan meminta Diana duduk di salah satu sofa, dengan santai Diana menghempaskan bobot tubuhnya di sofa empuk itu. Pandangan mata Diana hanya tertuju pada Rani, yang ada di sorot mata perempuan itu hanya ada kebencian untuknya.


“Mama, tolong turunkan ego dan emosi mama, mari kita bicara dengan kepala dingin,” pinta Ivan.


Rani mulai tenang. Melihat hal itu Ivan mulai berbicara.


“Mama, izinkan aku berbicara banyak hal, dan tolong mama jangan memotong penjelasanku,” pinta Ivan.


Rani menghempas napasnya kasar.


“Mama, seharusnya mama berterima kasih pada Diana. Berkat Diana kak Angga bisa membaik. Aku sangat berharap mama berbesar hati meminta maaf pada Diana atas perakuan buruk mama selama ini pada Diana,” ucap Ivan lembut.


“Mama menghina orang yang telah menolong kita, seharusnya mama berterima kasih, namun mama terus menghinanya. Aku mohon ma, minta maaflah pada Diana. Mama tidak tahu bagaiman perjuangan Diana untuk keluarga kita.” Ivan memandang sendu wajah ibunya.


“Jangankan meminta maaf padanya, berterima kasih pun aku tidak sudi!” teriak Rani. “Dia adalah suatu kesalahan! Seharusnya aku lebih berusaha keras untuk mengusirnya! Dulu Kakekmu yang selalu melindunginya sekarang kamu!”


“Mama ….” Ivan sangat berharap ibunya mau mendengarkan dirinya.


“Buka matamu Ivan! Gadis udik itu tidak pantas menjadi istrimu!”


Diana tersenyum melihat begitu besar kebencian Rani padanya. “Mamamu benar Van, aku memang tidak pantas menjadi istrimu.”


Rani tersenyum sinis mendengar ucapan Diana.


“Jangan paksa mamamu untuk berterima kasih padaku, atau meminta maaf padaku.” Diana memberikan senyuman manisnya, perlahan Diana bangkit dari posisinya. “Mamamu sangat menyayangimu, Van. Kemarahannya saat ini karena dia sangat sayang padamu.”


Diana memandangi Ivan dan ibunya bergantian. “Mamamu tahu aku tidak pantas menjadi pendampingmu, hal ini benar dan aku juga merasakan hal demikian.”


Ivan merasakan firasat tidak enak dengan ucapan Diana.


Diana memandang wajah Ivan dengan tatapan yang begitu lembut. “Ivan Hadi Dwipangga, seorang pengusaha sukses, the Rich man yang sesungguhnya, memiliki wajah yang sangat tampan, menurutku dia laki-laki yang sempurna. Sedang aku? Aku hanya seorang wanita desa yang tidak memiliki latar dan asal usul yang jelas.”


Pandangan Diana kemudian tertuju pada Rani, dia memberikan senyuman kecil pada Rani. “Aku sadar diri Nyonya, dan aku tahu siapa aku. Aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan ini, karena aku tidak pantas menjadi istri Ivan.”


Rani tersenyum bahagia mendengar Diana memutuskan pertunangan mereka. Tidak dengan Ivan, wajah Ivan seketika pucat.


Ivan langsung memegang pergelangan Diana dengan begitu kuat. “Apa maksudmu?”


“Pertunangan kita putus,” ucap Diana.


“Pertunangan kita yang didasari perjodohan kakekku dan Nenekku memang putus, tapi pernikahan kita pasti akan berlangsung.” Ucap Ivan begitu mantap. “Pernikahan itu akan tetap terjadi, dan sebuah pernikahan impian yang di dasari rasa cinta.”


"Ivan!" bentak Rani.


“Tidak ada seorang pun yang bisa mengaturku, jika aku tidak suka tidak ada yang mampu memaksaku untuk menyukai hal itu, jika suka tidak ada juga yang bisa menghalangiku untuk mencapai tujuanku.” Ivan menatap dingin kearah ibunya.


“Pernikahanku hanya aku yang menetukan dengan siapa aku menikah, dia pantas atau tidak itu tidak berlaku untukku. Jika aku menginginkannya maka itulah yang terjadi.”


Ivan kembali menatap Diana dengan tatapan lembut. “Aku tidak peduli kamu mencintaiku atau tidak, tapi rasa cintaku akan membuatmu bertahan dalam ikatan ini, bukan hanya bertahan dalam ikatan pertunangan, tapi rasa cintaku akan mengantarkan kita pada ikatan pernikahan.” Ivan dan Diana larut dalam peraduan pandang mereka.


“Ivan!” maki Rani.


“Diana, pergilah dulu aku akan berbicara dengan mamaku.”


Diana memandang kearah Rani. “Aku sangat tahu siapa Anda, Nyonya. Tapi ingatlah, diatas langit masih ada langit. Jangan merendahkan seseorang hanya dengan kadar yang ada lihat, karena kebanyakan orang tidak pernah memamerkan kwalitas dirinya, tolong jaga sikap Anda dan jangan bersikap keterlaluan.” Diana langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.


Rani sangat geram dengan perkataan Diana, dia menatap Diana dengan pandangan kebencian.


“Seperti itu wanita yang kamu banggakan di depan ibumu, Ivan?!” teriak Rani.


“Mama seperti ini, sama halnya mama menciptakan masalah untuk diri mama sendiri. Di kemudian hari kalau Diana tidak mampu menahan diri dengan sikap mama, aku tidak akan membela mama, dan aku akan membiarkan Diana berbuat apa saja pada mama.”


Kemarahan Rani semakin besar mendengar jawaban Ivan.


Sialll! Si udik itu berhasil menguasai Ivan dan mempermainkan perasannya.