Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 86


Hari ini Aulia sudah di perbolehkan pulang, Sean sangat senang, sampai Aulia tidak di perbolehkan duduk di depan.


" Bang, biasanya Abang bobok. Abangkan belum bobok siang!" Ucap Dzaky, sambil melihat istri dan anaknya dari kaca depan.


" Abang mau main sama adik ja" Dzaky melengos mendengar panggilan untuk anaknya.


Aulia hanya memperhatikan anak dan ayah yang sedang ngobrol.


" Tapi adek mau bobok bang!"


" Iya, Abang temenin adek bobok!"


" Yah....biar lho"


" Tapi ayah berasa jadi supir......." Gumam Dzaky manja, melirik istrinya.


Aulia hanya menanggapinya dengan tawa kecil, sambil menggeleng.


" Ayah koq lebih ngegemesin sic!" Tawa Aulia pecah, melihat kelakuan suaminya.


" Ayah kenapa nda?"


" Nggak......"


" Tunggu kalau adek za sudah besar, pasti berada di pihak ayah, ya dek!"


Mereka sampai di rumah, Dzaky dengan perhatian menggendong bayinya sambil merangkul istrinya yang berjalan pelan.


" Eh Aulia sudah pulang, maaf nggak jenguk di rumah sakit"


" Nggak apa-apa Bu..." Jawab Aulia pada tetangganya yang lewat hendak ke warung sebrang.


" Bayinya cewe apa cowo?"


" Alhamdulillah cewe Bu" Dzaky yang menjawab.


" Sudah sepasang, semoga jadi anak sholeha, ibu dan baik sehat selalu. Bayinya mirip pak Dzaky" Ibu itu memperhatikan wajah bayi dan setelahnya memandang wajah Dzaky dan Aulia.


" Amiiin"


" Ibu ke depan dulu, besok baru kesini" Ibu itu pergi setelah melihat anak Aulia.


" Iya Bu"


" Ayah kan ayahnya, wajar kalau mirip ayah!" Setelah ibu itu pergi, Dzaky mengomel.


" Hahaha, ibu itu cuma ngomong gitu yah....kalau di bilangnya adek za mirip suaminya baru ayah boleh marah. Ayah sudah seperti ibu-ibu saja"


" Ayah bunda......Abang kenapa di tinggal.." Teriak Sean sambil berlari.


Aulia dan Dzaky tertawa, mereka bukan meninggalkan Sean, tapi Dzaky akan mengangkat Sean setelah mengantar istri dan bayinya masuk. Eh Sean sudah bangun duluan.


" Huh! ayah sama bunda lupa sama abang! Makanya abang males kalau di suruh tidur, Abang pasti di tinggal" Ucap Sean merajuk.


" Bukan di tinggal sayang, ayah nganter bunda sama adek ke dalam dulu baru setelah itu gendong masuk Abang" jelas Aulia.


Mereka duduk di ruang tv, Dzaky merebahkan tubuhnya di karpet berbulu. Dzaky sangat lelah menjaga keluarga kecilnya, tapi bahagia.


Untuk semua pakaian dari rumah sakit telah Dzaky titipkan ke Loundry, jadi tidak mengurusi pakaian kotor lagi.


Siang itu mereka gunakan untuk beristirahat, kecuali Sean yang sibuk dengan adiknya, Sean sangat posesif dengan adiknya, nyamuk pun tidak boleh mendekat.


Saat mereka mulai memasuki dunia mimpi, terdengar suara orang mengucapkan salam dari depan.


" Siapa yah?" Tanya Aulia hendak berdiri membuka pintu.


" Bunda duduk aja, biar ayah lihat"


" Assalamualaikum bro"


" Waalaikumsalam, eh Bagas. Masuk"


" Gimana bro? lancar?"


" Apanya?"


" Lahirannya"


" Duduk" Dzaky belum menjawab, malah mengeluarkan air mineral dan beberapa cemilan.


" Eh Sinta"


" Selamat ya Aulia, dapet cewe. Sean akhirnya punya adek cewe"


" Iya, Abang punya adek cewe seperti mas Baim" Ucap Sean sombong.


" Iya deh....yang sudah punya adik cewe. Sean lupa sama adik Kia" Ucap Sinta pura-pura sedih.


" Abang juga sayang sama adik Kia" Mereka semua tertawa.


" Posesif banget anak Lo Dzak!" Saat Bagas mendekati bayi Dzaky dan Aulia, Sean melarangnya.


" Namanya juga anak aku!"


" Jam berapa lahirannya?" Tanya Sinta.


" Nggak tau, nggak lihat jam juga. Panik Sin!"


" Lho, memangnya tenaga medis nggak nyatet jam lahirnya?"


" Orang lahiran di jalan"


" Di jalan bagaimana?"


" Aulia sudah pecah ketuban dari rumah, tapi katanya hanya rembes. Terus di jalan macet ada kecelakaan"


" Kecelakaan, yang Ibu yang bawa anak itu?"


" Nggak tau, namanya juga panik, untung ada pihak polisi yang bantu kami keluar dari kemacetan"


" Terus, ceritanya bisa lahiran di jalan, mas?" Sinta penasaran.


" Aulia suruh aku minggir, katanya sudah nggak tahan. Aku bilang, aku akan ngebut supaya cepet sampai, tapi Aulia kekeh nyuruh minggir. Bayinya sudah nggak tahan mau keluar"


" Terus!" Mereka menyimak serius cerita Dzaky.


" Sudah seperti dukun beranak aja Lo Dzak!" Bagas menggelengkan kepalanya.


" Urgen Gas!"


" Terus?"


" Ya aku bantu, Alhamdulillah keluar, sempet nggak nafas dan badannya biru. Kami nangis, tapi Allah beri bayi kami pertolongan"


" Ya Allah..... Hebat mas Dzaky"


" Aku juga gemetaran sin! Baru kali itu bantu melahirkan"


" Tapi mas hebat, kalau mas Bagas pasti sudah pingsan"


" Alhamdulillah semua sehat, walaupun prosesnya. Wow Banget" Ucap Bagas.


" Sempet pendarahan karena Aulia Ken preeklampsia"


" Itu kan bahaya Aulia?"


" Ia dia ngeyel, bunda Fatma sudah sering nyuruh ke rumah sakit, tapi di abaikannya"


" Lah kenapa Aulia?"


" Bunda, minta aku buat operasi secar. Aku takut"


" Bunda itu pro lahiran normal, tapi dia juga punya alasan kenapa kamu harus secar. Tapi ya sudahlah yang penting sekarang semua baik-baik saja"


" Siapa nama adeknya Sean?" Tanya Bagas pada Sean yang sibuk menjaga adiknya"


" Namanya adik ja"


" Hah!" Bagas ingin memastikan pendengarannya.


" Adik ja om......." Ucap Sean kesal.


" Siapa Dzak? ja. Dijah atau jana?" Ucap Bagas sambil tertawa.


" Za panggilannya Gas, dasar Sean lidahnya" melirik Sean kesal.


" Oh....gue pikir...... panjangnya?"


" Azalia Hasanah nama panjangnya"


" Ha....Sean...Sean..."


" Kamu nggak kerja Gas?"


" Aku izin, kantor lagi panas"


" Maksudnya?"


" Pak Tara itu selama ini mengabaikan pekerjaannya, sehingga berantakan dan merugikan negara"


" Kok bisa, Tara itu orangnya pekerja keras dan bertanggung jawab yang aku kenal"


" Itu dulu mungkin! Kemaren semua petinggi pusat datang sidak, dan memberitahukan pemecatan Tara. Tara kabur bawa uang kantor, sekarang dia jadi DPO"


" Terus yang jadi manager siapa?"


" Ya belum ada, makanya panas tu kantor"


Aulia menyimak, ada rasa bersalah dalam hatinya. Pasti ada sangkut paut dirinya terhadap kelakuan Tara.


" Kenapa nda?" Dzaky melirik istrinya yang terlihat melamun.


" Eh, nggak ada yah" Aulia tersenyum kaku.


Mereka kembali pada topik anak-anak yang terlihat sibuk.


Setelah kepergian keluarga Bagas, Dzaky duduk lesehan dengan kedua tangannya memegang lutut istrinya.


" Bunda kenapa? Ayah lihat setelah bunda mendengar berita tentang Tara, bunda jadi pendiam gini!"


" Huft, nggak ada yah"


" Nggak mungkin, ayah sudah kenal bunda luar dalam"


" Bunda takut kalau....kelakuan kak Tara ada kaitannya dengan bunda"


" Buat apa bunda pikirkan, sekarang malah bunda yang mikirin dia" Dzaky hendak bangkit, tapi tanggannya di tahan oleh Aulia.


" Maaf....maaf selalu buat ayah kecewa" Aulia menangis sambil memeluk lengan Dzaky.


Dzaky menekuk kakinya bertumpu dengan lututnya, tangan menangkup wajah istrinya yang berderai air mata.


" Ayah kecewa kalau bunda terus memikirkannya, apa tidak cukup kehadiran kami untuk mengusir namanya dari hati bunda? kenapa masih menyimpan namanya?"


" Bunda hanya merasa bersalah, maaf"


" Sudah, ibu yang habis melahirkan harus selalu senang tidak boleh sedih" Dzaky mengecup bibir Aulia.


Aulia malah menahan tengkuk suaminya, memperdalam cium** yang tadi sempat Dzaky lepaskan. Setelah kehabisan nafas Aulia melepaskan bibirnya.


" Berani bunda sekarang ya! Jangan mancing, ikannya malah takut kepancing terus kailnya di biarkan hanya di bibir, sakit nda"


" Apa sic yah" Aulia memukul manja suaminya.


" Bunda mancing ayah, kalau ayah sudah kepancing nggak bisa ngapa-ngapain" ucap Dzaky pura-pura marah.


" Sabar...."


" Itu jawaban pamungkas bunda" Dzaky menyandarkan kepalanya pada dada istrinya.


" Ayah, bunda, adek ja nangis! malah sibuk duaan aja!"


" Za bang, Za...." Tekan Dzaky pada huruf z.


" Mulai deh" Kata Aulia bangkit hendak menyusui anaknya.


like


like