Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 72


Sudah 3 hari Dzaky dan Aulia mengikuti acara yang biasa di lakukan di kampung ibu Aulia, untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, yang biasa di sebut tahlilan.


Mama Dzaky meminta maaf via telepon, karena tidak bisa datang melihat besannya di makamkan.


Dzaky akan pulang terlebih dahulu, karena dia sudah lama tidak masuk kerja, dari sejak Aulia masuk rumah sakit. Dzaky tidak segan dengan Tara sebagai pimpinan, tapi Dzaky merasa bertanggung jawab dengan pekerjaan dan keluarganya.


Dzaky akan menjemput Aulia dan sekaligus mengikuti acara tahlilan malam ke tujuh.


" Aku pulang nanti sore, jangan lupa obatnya di minum" Dzaky mulai bersiap untuk pulang.


Sikap Dzaky memang sedikit melunak, tapi masih tetap dingin, walaupun tak seacuh sebelumnya.


Aulia hanya melirik setiap pergerakan suaminya, kehidupan rumah tangganya sudah membuatnya lelah, ditambah dengan kehilangan ibu untuk selamanya. Aulia seperti raga tak bernyawa.


Dzaky menemani Sean bermain sebelum pulang. Sean tadinya merengek tidak mengizinkan Dzaky pulang, tapi Dzaky dan semua keluarga membujuk akhirnya Sean memperbolehkan ayahnya untuk pulang, di tambah lagi Sean sudah dekat dengan anak-anak kak Bian dan kak Firman, jadi tidak susah membujuknya.


Saat berpamitan Sean tidak turun dari gendongan Dzaky, Dzaky pun berpamitan dengan menggendong Sean. Terakhir Dzaky berpamitan dengan istrinya.


" Ayah pulang dulu, beberapa hari lagi ayah sudah di sini lagi. Obat, susu dan vitamin jangan lupa diminum! Jangan terlalu keras memikirkan, tidak baik untuk dedek bayi" ucap Dzaky sambil mengelus perut besar istrinya. Aulia hanya mengangguk, Terlihat seperti sebuah keluarga yang harmonis. Banyak mata yang menatap iri kearah Aulia.


" Enak ya jadi Aulia, suaminya sayang banget"


" Ganteng lagi"


" Mapan juga..."


" Badannya itu keker banget! Gimana kalau lihat dia nggak pake baju?" Seketika perempuan yang berbicara mendapatkan toyoran teman-temannya.


" Lah iyakan!"


" Pikiranmu itu lho mesum....."


" otak kalian nggak sampai sana sih!"


" Ngapain juga mikir kesana kejauhan!"


" Eh...eh... kalian kenapa pada ribut?" Tanya ibu-ibu yang melihat segerombolan perempuan yang sedang menggendong anak itu ribut dengan bibir yang sudah maju lima centi.


" Nggak apa-apa Bu...cuma....."


" Apa? cuma ghibahin orang!" Sekak si ibu tadi. " Sudah bubar-bubar" ibu membubarkan segerombolan ibu-ibu yang terlihat sedang berkumpul unfaedah.


" Mba....Kak dan Adi. Dzaky titip Aulia dan Sean Beberapa hari"


" Kamu nggak usah menitipkan, kami pasti akan menjaga ul dengan baik. Kamu fokus saja bekerja dan hati-hati di jalan" Begitulah pesan keluarga Aulia pada Dzaky.


Sepeninggalan Dzaky, Aulia kembali melamun. Dia membayangkan bagaimana menata hidupnya ke depan.


Kalau biasanya Dzaky yang selalu menemani Aulia, sekarang Aulia selalu di temani keluarga secara bergantian, tidak berani meninggalkan Aulia sendirian.


**


Saat Dzaky masuk kerja, banyak rekan Dzaky yang memberikan ucapan turut berdukacita atas meninggalnya ibu mertuanya. Mereka mengetahui kabar tersebut dari Bagas yang mengirim berita itu ke grup kantor.


" Dzak, bagaimana kabar Aulia? bukannya istri lo masih di rumah sakit saat mendapatkan kabar itu?" Tanya Bagas, saat mereka makan di kantin kantor.


" Huft.. Alhamdulillah kandungannya baik-baik saja, Dokter tadinya melarang Aulia untuk keluar dari rumah sakit, tapi Aulia bersikeras untuk pulang"


" Iyalah, bukannya dia anak perempuan satu-satunya? anak perempuan itu Deket sama ibunya"


" Iya, Aulia Deket banget sama ibu, dia sangat terpukul. Sekarang dia lebih banyak diam"


" Bukannya ini sudah bulannya istri lo melahirkan?"


" Iya... Itulah yang saat ini membuat aku khawatir. Apalagi dia terkena darah tinggi, takut kenapa-kenapa sama kandungannya"


" Lo harus jadi orang yang selalu ada buat dia, jangan sampai dia merasa selalu memikirkan ibunya. Lo harus hibur dia" Dzaky terdiam, memikirkan sikapnya selama ini.


" Eh, lho liat pak Tara nggak?" Dzaky diam, dia malas mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Tara.


" Sudah ayo balik kerja, jam makan siang sudah habis" elak Dzaky.


Di tempat lain, Tara baru saja tiba di kampung Aulia. Tara sebenarnya mau datang dua hari yang lalu, saat melihat Bagas yang mengabarkan ibu Aulia meninggal. Tapi Tara masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya dan Tara yakin di sana masih ada Dzaky. Dia tidak ingin membuat keributan di suana yang masih berduka itu.


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam...Tara!" Kak Bian masih mengenali Tara, mereka pernah dekat.


" Ya kak, Tara turut berdukacita atas meninggalnya ibu kak. Terakhir Tara ketemu ibu, sewaktu ibu berkunjung kerumah Dzaky dan Aulia"


" Ya terimakasih, silahkan duduk. Kalian sempat ketemu ternyata" Bian mempersilahkan Tara duduk di teras rumah, karena di dalam kosong, semua kursi masih berada di luar untuk acara tahlilan dua hari lagi.


" Papa......." Teriak Sean, yang langsung memeluk Tara.


" Sean sehat nak?" Sean hanya mengangguk.


" Ini Tara?" Sekarang istri kak Bian yang mengenali Tara.


" Koq Sean manggil kamu papa?" Tanya kak Bian, mewakili rasa penasaran keluarga yang mendengar panggilan untuk orang yang di rasa asing bagi mereka.


" Aku sama Tara sekarang satu tempat kerja, dan kami dekat seperti keluarga. Makanya Sean manggil aku papa"


" Oh.... Anak kamu sudah berapa Tar? Sudah menikah kan?"


" Sudah kak, tapi aku belum di kasih rezeki anak sama Allah"


" Sabar..... mudah-mudahan secepatnya di kasih" Kak Bian merasa tidak enak melemparkan pertanyaan tadi.


" Em.... Aulia mana kak?" Tanya Tara, sedari tadi dia sudah mencuri pandang mencari keberadaan perempuan yang sudah membangkitkan rasa di masa lalunya. Tara tau Dzaky pulang, makanya dia baru berani datang. Takut menimbulkan masalah dan membuat Aulia semakin terluka.


" Ul ada di dalam, ul sangat terpukul atas kepergian ibu" Kata istri kak Firman.


" Em...boleh Tara bertemu Aulia kak?"


Keluarga pun saling pandang, karena Aulia sekarang sedang berada di kamar dan tidak ingin keluar. Mereka tidak mungkin mengizinkan pria yang bukan muhrimnya masuk ke kamar adiknya.


Tara dapat melihat keraguan di mata keluarga Aulia, yang sepertinya tidak mengizinkannya masuk menemui Aulia.


" Em...Tara akan masuk bersama Sean, boleh kak"


Mereka saling pandang lagi, dan mereka terlihat setuju. Apalagi mendengar mereka sudah seperti keluarga.


" Terimakasih kak, mba. Ayo Sean kita lihat bunda" Sean mengangguk, tapi terlihat murung.


" Kenapa Sean? Kok Sean sedih?"


" Bunda.......bunda diam aja, tidak mau main sama Abang lagi"


" Bunda lagi sedih sayang, karena di tinggal nenek" Ucap Tara sambil tersenyum.


Sean berlari masuk menemui bundanya, beberapa kali Sean mendekat dan mengajak bundanya bermain tapi Aulia tidak memperdulikannya.


" Bunda....ada papa..." Seketika Aulia kaget dan matanya membesar, menatap benci kearah Tara.


" Kenapa kamu kesini? tidak cukupkah kamu membuat rumah tangga ku berantakan?" Tanya Aulia menatap sinis Tara.


" Huft...kakak hanya ingin mengatakan turut berdukacita atas meninggalnya ibu"


" Sudah? kalau sudah pergi dari sini!" Usir Aulia.


Sean yang melihat bundanya berkata dengan nada tinggi menjadi takut dan berlari memeluk kaki Tara.


" Ul, jangan begini! kamu membuat Sean takut, kakak minta maaf. Kakak salah" Aulia yang melihat Sean takut merasa bersalah, dan menyesal. Mengingat sudah beberapa hari sejak ibu meninggal, dia tidak memerhatikan anaknya itu.


" Maafkan bunda bang, sini" Aulia merentangkan tangannya, agar Sean tidak takut dan ingin memeluknya. Suara Aulia sudah kembali seperti semula.


Tara pun mendekati Aulia dan memberikan Sean masuk ke dalam pelukan Aulia.


" Bunda jangan marah....!"


" Maaf, bunda tidak akan marah lagi" Aulia melihat kearah Tara.


" Aulia, kakak dengar kamu masuk rumah sakit. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


Aulia memandang Sean, rasanya dia ingin mengusir Tara. Tapi, Aulia takut akan membuat Sean takut.


" Alhamdulillah sudah baikan"


" Kakak senang mendengarnya. Sini Sean, nanti Sean menindih adik bayi" Tara mengambil Sean dari pelukan Aulia, Aulia pun tidak bisa melarang karena kondisinya memang sedikit lemah.


" Kak, kalau tidak ada urusan lagi sebaiknya kakak pergi"


" Kakak hanya mau bersilaturahmi ul, apa salah?"


Tara duduk di kursi dan mendekatkannya di samping ranjang Aulia, karena Sean terlihat mengantuk.


" Ul, Kakak benar-benar minta maaf atas semua kesalafahaman yang terjadi di antara kita"


" Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang membuat ul kecewa, kakak tidak menjelaskan kebenarannya kepada kak Dzaky"


" Kakak sudah menjelaskan kepada Dzaky saat di kantor ul! Tapi Dzaky tidak percaya! malah menyalahkan mu ul, mengatakan kalau kamu memang......."


" Memang apa kak?"


" Perempuan murahan" Ucap Tara pelan sambil menunduk. Dalam hati Tara meminta maaf telah mengatakan kebohongan. Sungguh tadinya dia ingin meluruskan semua, tapi banyak gosip beredar kalau telah beredar kedekatan dirinya dan Aulia, dan Dzaky ingin berpisah dengan Aulia setelah anak yang berada dalam kandungan Aulia lahir. Membuat tekad Tara bulat ingin merebut Aulia dari Dzaky.


Deg_


Hati Aulia bertambah terluka mendengar perkataan Tara, Aulia menerima kalau Dzaky mengatakannya perempuan murahan. Tapi kalau Dzaky mengatakan kepada orang lain bahwa dirinya murahan, apa tidak keterlaluan. Seperti menyebarkan aib yang harusnya di simpan dalam rumah tangga, tapi Suaminya malah menyebarkannya.


like


like