Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 62


" Nda ayah berangkat kerja dulu, nanti kalau butuh sesuatu telpon aja jam makan siang ayah kesini lagi, tadi ayah sudah beli sarapan jangan lupa di makan, termosnya sudah ayah isi nanti bunda bisa buat susu. Tanya sama Abang nanti siang mau di bawain apa?"


" Ia yah, Hati-hati. Ayah nggak perlu khawatir"


" Gimana ayah nggak khawatir, kalau meninggalkan kalian di rumah sakit! Semoga hari ini Abang bisa keluar. Jangan melakukan hal berat nda, ayah nggak mau perut bunda sakit lagi, apalagi posisi tidur bunda nggak nyaman tadi malam"


" Ia nanti bunda tanya Dokter Arkan, bunda nggak apa-apa. Ayah malahan tidur sambil duduk nahan kepala bunda lagi, pasti pegel. Sekarang ayah pergi aja nanti bunda tanya Abang mau apa"


" Assalamualaikum, baik-baik ya dek" Ucap Dzaky mencium kening istrinya dan mengelus perutnya"


" Waalaikumsalam"


Aulia membersihkan diri dan mulai memakan sarapan yang tadi Dzaky beli tidak lupa dia membuat susu ibu hamil. Dzaky benar-benar suami siaga dia sudah mempersiapkan semuanya, Aulia tersenyum mengingat suaminya yang sangat perhatian. Saat minum susu Aulia melihat kearah pintu yang terbuka dan alangkah terkejutnya Aulia ternyata itu Tara.


" Kak Tara! ngapain pagi-pagi sudah di sini kak? kok bisa masuk, ini belum jam besuk?"


" Kakak hanya ingin memastikan kalau kalian baik-baik saja" Jawab Tara tersenyum sambil melihat kearah ranjang melihat Sean yang masih tidur.


" Kami baik-baik saja kak, kak Dzaky baru saja berangkat, apa kakak nggak ketemu?"


Tara hanya menggelengkan kepalanya, dia melihat Dzaky hanya saja dia menghindar tidak ingin Dzaky tau kalau dia berada di sini.


" Ul..." Aulia terkejut Tara tiba-tiba mendekat.


" Kakak!" Aulia langsung menghindar duduk di sofa, Namun Tara tetap mendekatinya.


" Ul....bolehkah kakak menyentuh perutmu?"


" Hah" Aulia kaget mendengar permintaan Tara.


" Sekali saja ul, kamu tau semenjak kakak pulang kakak nggak tenang, biasanya setiap malam kakak selalu menyiapkan kalian makan, kakak rindu kalian"


" Kak jangan bicara sembarangan! kalau ada yang mendengar bisa salah faham"


" Kamu tau, Kakak sangat menginginkan anak, kakak hanya ingin merasakan menjadi seorang ayah"


" Ia, ul mengerti tapi bukan dengan ul kak! kalau kak Dzaky dengar akan terjadi kesalahpahaman, ul nggak mau itu terjadi"


" Apa salah kalau kakak ingin merasakan kalau bayi yang kamu kandung itu seperti bayi kakak"


" Itu nggak masuk akal kak"


" Hanya seandainya ul" Aulia hanya diam, dia tidak tau harus berbuat apa dia ingin menghindar tapi kasihan saat melihat mata Tara yang sudah memelas. " Kakak hanya ingin menyentuhnya sekali.....saja"


" Huft....Baiklah" Tara mulai mendekatkan tangannya kearah perut Aulia dan mulai menempelkannya, dengan memejamkan mata Tara tersenyum.


" Begini rasanya kalau kita akan mempunyai bayi, ini anugerah" Tara mulai mengelus perut Aulia yang terbungkus pakaian.


" Sudah kak" Aulia mundur. " Ul minta kakak untuk segera pergi Dokter akan datang sebentar lagi.


" Baiklah, terimakasih" Tara mendekati ranjang dan mencium Sean, seolah-olah itu adalah keluarganya.


Tara pergi, Aulia bisa bernafas lega.


" Nda...." Panggil Sean.


" Eh Abang sudah bangun? Bunda bersihin Abang dulu terus Abang sarapan ok! Biar bisa pulang"


" Ia nda...."


Tidak lama setelah Sean sarapan Dokter datang.


" Assalamualaikum, selamat pagi..."


" Waalaikumsalam Dok, pagi"


" Kita periksa sebentar, Semuanya bagus tinggal pemulihan saja, Sean harus banyak makan ya sayang"


" Dok apakah hari ini Sean sudah bisa pulang?"


" Insyaallah bisa kalau kondisinya seperti ini sampai siang nanti, obatnya jangan lupa di minum"


" Ia Dok, terimakasih"


" Sama-sama" Dokter pun pamit pergi untuk melakukan visit keruangan lain.


" Abang sudah bisa pulang nanti sore...."


" Hore.......Bisa main lagi"


Siang harinya Dzaky menuju kerumah sakit untuk melihat kondisi anaknya. Saat di lorong rumah sakit Dzaky berpapasan dengan perempuan dari masa lalunya.


" Selvy?" Tunjuk Dzaky.


" Mas Dzaky?" Dzaky langsung mengangguk.


" Kamu ngapain disni?"


" Ini, mau nganter anak Selvy ke papanya, mas ngapain di sini?"


" Anak mas lagi di rawat"


" Sakit apa?"


" Gejala tipes"


" Boleh Selvy jenguk?"


" Ayo, siapa namanya ganteng?"


" Rayyan om"


" Pinter, anak aku kayaknya seumuran sama Rayyan "


" Ia! Bagus dong bisa jadi temen"


Sampai di ruangan Sean.


" Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam ayah....." Sean nampak bingung melihat dua orang yang tidak di kenalnya.


" Ini temen ayah dan ini anaknya, namanya Rayyan. Ini Sean anak aku"


" Anak yang tampan mas"


" Mana bunda bang?"


Tak berapa lama terdengar suara Aulia yang berbincang dengan sang Dokter.


" Eh ayah sudah sampai?"


" Papa...." Panggil Rayyan kearah Dokter Arkan.


" Lho anak papa sudah sampai di sini?"


" Kalian?....." Tanya Dzaky.


" Ini mantan suami aku mas, mas aku titip Rayyan aku ada acara selama beberapa hari di luar kota"


" Iya"


" Mama pergi dulu ya, baik-baik sama papa, nanti mama bakal sering telfon" Rayyan hanya mengangguk, tidak terlihat dekat dengan mamanya, tidak merasa sedih mamanya pergi. " Mas aku permisi, semoga anak mas cepet sembuh"


" Ya" Padahal Dzaky ingin memperkenalkan istrinya tapi selvy terlihat sangat sibuk.


Dokter Arkan mendekati Sean untuk melihat kondisinya karena Sean meminta untuk di cabut infusnya.


" Sudah nggak apa-apa, kayaknya nanti sore sudah bisa pulang"


" Ayo Rayyan ikut papa"


" Rayyan mau di sini boleh?" Dokter Arkan bingung karena Rayyan baru kenal sudah mau tinggal bersama Sean.


" Emm"


" Enggak apa-apa Dok, biar Rayyan bermain sama Sean, nanti akan saya antar keruangan dokter kalau dia sudah bosan di sini" Kata Aulia.


" Baiklah,. papa masih ada kerjaan nanti papa jemput Rayyan di sini, ok!"


" Ok"


" Anak pintar" Dokter Arkan mengelus kepala anaknya.


" Saya titip Rayyan"


" Ya"


" Ayah kenal mamanya Rayyan?" Tanya Aulia saat Dokter Arkan sudah pergi.


" Mamanya itu anak dari sahabat mama"


" Oh... perempuan yang pernah mama jodohkan sama ayah?" Aulia terlihat cemburu.


" Itu masa lalu sayang....."


" Tapi mamanya Rayyan masih memandang ayah denga hangat"


" Bagaimana sic nda memandang dengan hangat?" Dzaky tergeletak.


" Ih ayah ni!"


" Habis bunda sok tau, memandang dengan hangat" Sambil memeluk Aulia.


" Terus apa tadi? mantan suami? jadi dia sudah bercerai dengan Dokter Arkan?"


" Sudah mau bercerai atau belum bukan urusan kita"


" Ada! kalau dia Deket sama ayah lagi?"


" Deket gimana? nggak ada link kami yang bisa mendekatkan, mama sudah tidak berteman dengan mamanya semenjak kami gagal di jodohkan, karena ayah sudah punya Bunda. Apalagi sekarang ada Sean dan ini" Mengelus perut Aulia. Aulia tersenyum dia percaya suaminya, Aulia hanya ingin menggoda suaminya.


Terlihat Sean dan Rayyan yang mulai akrab, tertawa bersama. Aulia menyuapi Sean makan, sekarang Sean sudah bebas dari infus dan bisa bergerak lebih leluasa. Mereka makan di sofa dengan makanan yang tadi Dzaky beli.


" Rayyan tinggal sama mama?" Tanya Aulia, dan Rayyan hanya mengangguk.


Tak berapa lama Dokter Arkan datang dengan makanan di tangannya.


" Eh Dokter"


" Saya lupa kalau Rayyan belum makan, kalau mamanya nggak SMS" Dokter Arkan tersenyum.


" Rayyan sudah makan di suapin ayah Sean Dok" Kata Aulia.


" Terimakasih maaf merepotkan"


" Tidak masalah Dok, Rayyan anaknya cepat akrab"


" Dia anak yang baik, saya dan mama Rayyan baru 3 bulan berpisah kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami, apalagi saya yang di pindahkan ke sini saat Rayyan baru berusia beberapa bulan membuat jarak di antara kami" ucap Dokter Arkan mengenang rumah tangganya.


" Semoga Rayyan selalu bahagia" Ucap Aulia.


" Terimakasih, Rayyan butuh sosok teman apalagi neneknya baru saja meninggal, orang yang paling dekat dengannya"


" Maksud Dokter, mamanya selvy?" tanya Dzaky kaget.


" Ia, mas mengenalnya?"


" Ia, beliau teman kerja mama saya"


" Beliau terkena Serangan jantung"


" Rayyan mau ikut papa? kalian mau siap-siap pulang kan?"


" Ia, sudah bisa pulang kan Dok?"


" Ia, seperti sudah sangat sehat" Ucap dokter melihat Sean sudah bisa berlarian. " Tapi jangan sampai terlalu lelah"


" Terimakasih Dok"


" Pa...Ray di sini dulu boleh?" Dokter melihat kearah Dzaky dan aulia meminta izin dan mereka mengangguk.


" Boleh, saya pamit dulu"


like


like


like


berharap like komennya