Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 78


Tara mulai meremas bukit kembar Aulia " Maafkan bunda yah....." dengan dua bulir air mata penyesalan lolos dari mata Aulia.


Tara membuat Aulia duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan masih memegang erat lipatan handuknya, takut terlepas.


" Kak, Kita sudah seperti keluarga. Keluarga tidak akan menyakiti" Aulia masih berusaha lembut.


" Kita memang keluarga, keluarga kecil yang sebentar lagi akan bersama"


Tara mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Aulia, mulai meluma*nya lembut.


Aulia menggelengkan kepalanya untuk menghindari bibir Tara, namun Tara dengan cepat menahan tengkuk Aulia supaya tidak bergerak lagi, tapi Aulia menutup rapat mulutnya agar Tara tidak bisa masuk.


" Kak!" Aulia mulai memberontak, mendorong tubuh Tara saat Tara sedang terbuai.


Nafas Tara tersengal, dia sudah sangat di buru nafsu.


" Kakak mohon ul, Kakak sudah tidak tahan lagi!"


" Jangan begini kak, kakak adalah sahabat kak Dzaky. Kakak tega mengkhianatinya?" Aulia sudah menangis.


" Kakak hanya mengambil yang sejak dulu seharusnya menjadi milik kakak" Tara terus mencoba membuka handuk Aulia dengan lembut, tapi Aulia tetap memegang erat hingga tangannya memerah.


" Ini sudah takdir kak, ul bukan jodoh kakak"


" Maka dari itu kakak akan menjadikan ul, jodoh kakak"


" Sudah terlambat kak!" Teriak ul.


" Suussst, jangan berteriak" ucap Tara sensual.


" Tapi ini benar-benar salah kak!"


" Kakak akan mempertanggungjawabkan atas semua yang kakak perbuat"


" Bukan tentang tanggung jawab kak! Tapi salah dalam aturan Allah kak" Aulia semakin kencang menangis.


" Jangan menangis ul, kakak tidak mau melihat kamu menangis" ucap Tara sambil menghapus air mata Aulia.


" Kalau kakak tidak mau melihat ul menangis, pergilah kak! Jangan kakak lanjutkan semua dosa ini!"


" Dosa ini, akan kakak tanggung sendiri"


Tara berdiri melepaskan satu persatu kancing kemejanya. terlihat jelas tubuh sixpack di balik kaos putih yang melekat pas di tubuhnya.


Seandainya Aulia wanita yang mudah tergoda, pasti dia tidak akan berfikir ulang untuk ajakan seorang laki-laki tampan bermata sipit, kulit putih, wajah mulus dan aroma khas lelaki maskulin yang sangat menggoda.


" Kak!" teriak Aulia saat melihat Tara mulai melepaskan kaitan gaspernya dan mulai membuka kancing celananya.


" Kakak sungguh menginginkan mu ul, percayalah kakak akan bertanggung jawab" Tara mulai memposisikan kedua kakinya di atas ranjang di atas paha Aulia, dia membungkukkan tubuhnya meraup rakus bibi* Aulia. Aulia masih menutup rapat bibirnya, sampai Tara menggigit bibir Aulia Sampai berdarah,Tara sekarang bisa menikmati dan menyelusuri bibi* Aulia yang bercampur darah.


Tara terus *******, sampai mereka kehabisan nafas. Keduanya tersengal merasakan udara yang seperti hilang di sekitar mereka. Tara melihat bibi* Aulia yang bengkak dan sedikit terluka karena ulahnya, Tara mengelus pelan bibi* Aulia. " Maaf " Kata itu lolos dari mulut Tara.


Tara meneliti tubuh Aulia dan berhenti tepat di perut besar Aulia.


" Kamu sudah besar sekarang, papa rindu gerakan mu. Papa selalu teringat gerakan itu" Tara mengelus perut besar Aulia yang masih terbungkus handuk.


Tara perlahan membuka belahan handuk tepat di perut Aulia, tapi dengan sekuat tenaga Aulia menahannya.


" Izin kan kakak memeluknya ul" Aulia menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.


Dengan paksa Tara membuka handuk bagian perut Aulia, gerakan cepat Aulia mengambil bantal yang berada di dekatnya untuk menutupi bagian bawahnya.


Tara tersenyum merebahkan kepalanya, pada bantal yang Aulia letakkan tepat di atas pangkuannya. Dengan lancang tangan Tara melingkarkan tangannya di balik handuk yang Aulia kenakan.


Sekarang posisi Tara berlutut di depan Aulia, meringkuk nyaman memeluk pinggang Aulia menempelkan kepalanya langsung ke perut besar Aulia tanpa pembungkus. Merasakan pergerakan demi pergerakan si bayi.


Tara sangat menikmati pergerakan si bayi, sampai melupakan hasratnya. Sementara Aulia masih menangis dengan kedua tangan memegang erat handuk bagian atas.


Tak berapa lama pintu kamar terbuka kasar, Dzaky dengan amarahnya langsung menghajar Tara dengan membabi buta.


Dzaky dapat melihat jelas Aulia yang masih menangis dan terlihat kaget.


Dzaky mendorong Tara keluar dari kamar.


" Cepat pakai baju!" Perintah Dzaky pada Aulia yang berdiri mematung sambil memegang erat handuknya. Dzaky langsung menutup pintu kamar dengan kencang.


Saat Dzaky pulang dia melihat Sean main sendiri dengan begitu banyak mainan baru yang belum pernah Dzaky lihat sebelumnya.


" Di mana bunda sayang?" Tanya Dzaky ke anaknya yang sibuk bermain.


" Tidak tahu" Ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.


" Ini, siapa yang beliin Abang banyak mainan?"


" Ini papa Tara yang beli yah....." Dzaky langsung emosi.


" Sekarang di mana papa?"


" Tadi Abang lihat, papa masuk ke dalam kamar. Papa bilang ada yang mau diomongin sama bunda" Bertambah emosi Dzaky mendengar Sean berkata kalau Tara berani masuk ke kamar mereka.


" Ayah mau lihat papa dulu" Dan Sean mengangguk " Pantas saja pria brengse* itu memberi ku banyak pekerjaan, ternyata ini! supaya bisa datang kerumah ku sesuka hati"


Saat di depan pintu, Dzaky melihat Tara memeluk Aulia yang hanya menggunakan handuk. Tadinya Dzaky ingin langsung masuk menghajar Tara, tapi Dzaky mengingat Sean.


Dzaky mengajak Sean masuk ke dalam kamar Sean tak lupa dia menyambar handset di atas meja, Dzaky meletakkan handset yang di sambungkan dengan handphonenya. Menayangkan sebuah film kartun dengan suara tertahan di handset yang berada di telinga sean.


Melepas sebentar handset yang Sean gunakan, Sebelum keluar kamar Sean Dzaky berpesan. " Bang, Abang jangan keluar dari kamar. Tunggu ayah di sini, ayah akan keluar sebentar mencari bunda" Sean hanya mengangguk, sementara matanya berfokus pada gambar kartun yang bergerak di layar handphone Dzaky.


Setelah memastikan Sean aman dan sangat menikmati kegiatannya sekarang, Dzaky segera keluar dan dengan langkah lebar terkesan terburu-buru langsung menuju kamarnya yang sedang di gunakan oleh pria yang sedang menikmati istrinya.


Beruntung kamar tersebut tidak di kunci malah menyisakan sedikit celah agar orang bisa melihat kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang di dalamnya.


" Brengkse*"


Bugh bugh


Dzaky menghajar Tara tanpa ampun.


" Cepat pakai baju" Dzaky memerintahkan Aulia yang duduk di pinggir ranjang terlihat sangat shock.


Dzaky mendorong Tara untuk keluar dari kamar dan menutupnya kencang.


Aulia masih melamun dengan mata yang terus menangis. Memikirkan apa yang suaminya pikirkan atas kegiatan yang tadi dilihatnya. Sampai suara keras dari luar kamar membuat Aulia sadar dan dengan cepat menggunakan pakaiannya.


" Kau benar-benar laki-laki bajingan!" Teriak Dzaky sambil terus melayangkan pukulan kearah Tara.


" Ku fikir kau masih mempunyai otak manusia, ternyata aku salah Semua otakmu sekarang, otak binatang!"


" Itu istriku, istri dari sahabatmu!"


" Sebelum menjadi istrimu dia itu milikku!" Kali ini Tara melawan, dia membalas pukulan Dzaky dengan kencang.


" Haha...Kau sudah tidak waras! siapa yang kau sebut milikmu? Dia hanya pacarmu tidak ada ikatan yang membenarkan dia milikmu!"


" Seharusnya kau malu! Kau menikahi wanita yang dulunya pacarku, harusnya kau tau, itu akan membuatku terluka, tapi kau tetap menikahinya!" ucap Tara sambil menghapus darah dari sudut bibirnya.


" Kalau kau mencintainya harusnya kau menikahinya sebelum meninggalkannya" Nafas Dzaky tersengal-sengal.


" Tadinya aku akan kembali dan menikahinya, tapi ku dengar dia telah menikah, dan ternyata pria itu kau"


" Alasan! kalau kau cinta, tapi membuatnya selalu memikirkan mu yang meninggalkannya dan memutuskan semua kontak. Menikahi wanita lain" Mereka terduduk karena lelah dengan wajah lebam.


" Itu semua karena aku di jodohkan dan karena kalian menikah"


" Biarkan Aulia bahagia bersamaku, ku mohon jangan ganggu kami"


" Berikan Aulia pada ku, aku tidak meminta lebih"


" Dasar laki-laki brengse*, Ku izinkan Sean memanggilmu papa, setelah itu kau juga mengingatkan istriku. Dasar tak berotak, dasar otak binatan*" Dzaky tersulut emosi, mengambil kursi dan mengarahkannya ke Tara.


" Ayah......." Aulia berlari pelan sambil memegang perutnya seakan hendak terjatuh.


" Ayah jangan" Peluk Aulia Dzaky dari belakang.


like ya sayang........


Maaf telat update, lagi nungguin ibu sakit di kampung. Mohon doanya untuk ke sembuhkan ibu ku....