
Hari ini jadwal Aulia untuk melakukan kontrol kandungan, sedari pagi Sean begitu semangat menunggu malam. Tadi sebelum sholat Maghrib, Sean menelepon neneknya memberitahukan bahwa dia akan punya adik. Ibu Aulia sangat senang mendengar kabar itu tapi ibu belum bisa janji kapan bisa datang karena sekarang kesehatannya mulai terganggu seiring bertambahnya umur.
Adi juga sudah bekerja di salah satu bank swasta namun penempatannya sedikit jauh dari kampung Aulia, membuat ibu Aulia terkadang tinggal sendiri di rumah walaupun lebih banyak di temani kak Bian sekeluarga tetap saja ibu Aulia merasa kesepian.
Mama Dzaky juga akhirnya di beritahukan kabar kehamilan Aulia takut mama mendengar dari orang lain dan membuat mama marah. Tadinya Dzaky dan Aulia akan memberitahukan kabar ini setelah 4 bulan usia kandungan Aulia sama seperti saat dirinya hamil Sean tapi Sean bocah kecil yang begitu bahagia akan mempunyai adik itu seakan tidak bisa menahan untuk tidak memberitahukan bahwa dirinya sebentar lagi akan jadi Abang.
" Ayo sudah siap?" tanya ayah kepada kedua orang yang sibuk sendiri.
" Sudah yah." Jawab Aulia lantas memasukkan hp kedalam tasnya.
" Tunggu yah." Jawab Sean cepat langsung masuk kedalam kamar entah apa yang mau diambilnya.
" Adek mau ngapain itu nda?."
" Bunda juga nggak tau yah."
Sean segera keluar membawa sebuah gambar orangan lidi.
" Apa itu dek?" Tanya ayah
" Ini adek, eh jangan panggil Sean adek lagi lah yah! Sean ini sudah jadi Abang. Itu adeknya dalam perut bunda." ucap Sean dengan raut wajah yang sangat menggemaskan.
" Iya iya, jangan ngambek ah. Katanya sekarang jadi Abang....koq ngambek! Ini apa bang?."
" Kita kan mau lihat dedek bayi? Sean mau tunjukkan gambar yang siang tadi Abang buat untuk dedek bayi yah."
Dzaky dan Aulia tersenyum mendengar perkataan Sean dan langsung mengambil kertas yang Sean pegang dan terlihat gambar orangan lidi yang saling berpegangan tangan. Ternyata Sean pernah melihat Baim menggambar itu jadi Sean mengikutinya.
" Wah sangat bagus pasti adek bayi senang melihatnya." ucap Dzaky, Sean tersenyum bangga.
" Ayo! ini hampir jam delapan no antiran kita 10 jadi nggak bakal lama nanti malah lewat lagi." ucap Aulia kepada dua orang yang masih sibuk dengan gambar yang Sean pegang.
Setibanya di rumah sakit mereka langsung menuju ruang praktek dokter Fatma dan benar saja mereka hanya menunggu satu pasien dan nama Aulia langsung dipanggil setelah cek tensi darah dan berat badan Aulia ditemani suami dan anaknya langsung masuk.
" Assalamualaikum Dok?"
" Waalaikumsalam, eh si ganteng ikut? bulan lalu Dokter koq nggak lihat yah saat bunda kontrol?"
" Iya kemarin dia main sama suster di depan, jadi nggak masuk Dok." ucap Dzaky.
" Oh...nggak nyangka sudah sebesar ini, kalau ingat prosesnya. Tapi sering ketemu dulu sewaktu masih imunisasi kan bu? sama dokter Arkan kan?"
" Iya bu." jawab Aulia.
" Baiklah langsung aja naik Bu." Seperti biasa dokter akan melakukan USG dan melihat perkembangan janin Aulia.
" Semua bagus."
" Mana dedek bayinya Dok?" Tanya Sean yang tidak melihat apa-apa pada layar monitor, tidak sesuai dengan ekspektasinya yang akan melihat bayi yang bergerak gerak dan dia akan menunjukkan gambar yang di bawanya dari rumah tadi.
" Dedek bayinya masih kecil sayang belum terlihat jelas." Kata Dokter
Terlihat muka Sean yang kecewa.
" Nanti kalau sudah besar baru kelihatan bang." Kata Dzaky
" Jadi dedek nggak akan bisa lihat gambar abang?"
" Bisa, dari dalam perut bunda dedek bayi sudah bisa lihat gambar abang." ucap Aulia menghibur anaknya.
" Bener bunda?"
" Iya."
" Hore......dedek bayi suka gambar abang?"
" Suka sekali...."
" Semua normal, darah juga normal dan tidak ada keluhan yang berarti hanya masih sedikit mual saja kan bu? akan saya berikan resep."
Setelah dari ruangan Dokter mereka langsung mengambil resep vitamin yang Bu Fatma berikan dan mereka langsung pulang.
Hari-hari terlewati begitu sangat menyenangkan menunggu kehadiran anggota keluarga baru, terutama Sean.
Hari ini Amira datang kerumah Aulia, begitu sangat membuat Aulia kaget karena sudah berminggu-minggu Amira tidak pernah kerumah atau mengirim SMS seperti biasa.
" Assalamualaikum mba Aulia." Saat kaki Amira menginjak teras rumah dan melihat Aulia sedang bermain dengan Sean di ruang tamu.
" Waalaikumsalam, mba amira?"
" Iya mba, maaf sudah lama nggak main kesini dan juga aku mau minta maaf baru ngucapin selamat atas kehamilan mba Aulia." Ucap Amira sambil menyerahkan kue dan buah yang tadi di bawanya.
" Nggak apa-apa mba, koq repot-repot bawa beginian mba?."
" Nggak repot koq mba, Sean maaf ya mama sudah lama nggak main sama Sean."
" Iya ma, sini kita main." Ajak Sean sementara Aulia sedang memindahkan kue yang tadi di bawa Amira dan membuat kan Amira teh.
" Mba koq repot-repot buatin minum segala, aku kesini cuma mau minta maaf karena sudah lama nggak kesini." Kata Amira sambil menyambut nampan yang Aulia bawa.
" Nggak repot, iya mba Amira sudah lama nggak kesini sering di tanyakan Sean mba?."
" Lagi repot dan lagi ada sedikit masalah keluarga mba."
" Oh...moga cepet selesai."
" Alhamdulillah sudah walaupun berat." itu karena kamu Aulia, karena kamu hadir di dalam rumah tangga kami! tadi malam aku sudah berjanji dan meyakinkan diriku untuk membantu kak Tara agar bisa lebih dekat dengan mu walaupun sakit. ucap Amira dalam hati sambil terus memandang Aulia.
" Mba pasti bisa melewatinya." Aulia memberi semangatnya.
" Insyaallah mba." Ucap Amira tersenyum.
Mulai hari itu Amira dan Tara kembali menjadi mereka yang sebelumnya, yang sering main bersama Sean, membawa Sean jalan-jalan dan Tara tidak lagi menghindari Dzaky.
Sepulang dari kantor Dzaky terlihat lelah dan menutup mata duduk di sofa depan TV.
" Ayah......ganti baju dulu, malah tidur di sini." Kata Aulia melihat suaminya memejamkan mata.
" Sini nda..." Dzaky langsung membuka mata dan menyuruh Aulia untuk duduk disampingnya. " Ayah akan malakukan dinas keluar kota selama 5 hari." Dzaky mengingat percakapannya tadi dengan Tara di ruangan Tara.
" Tar kamu tau kan Aulia sedang hamil? aku nggak bisa ninggalinnya. Dia masih sering mual di pagi hari , apalagi ini lima hari."
"Mau bagaimana lagi KY? itukan bidang kamu!"
" Masih banyak yang lain, kalau masalah ini bidang aku Tar! bukan cuma aku di bidang ini!"
" Itu demi karier kamu KY."
" Jangan sekarang lah Tar. Aulia lagi butuh aku."
" Aku yakin kamu bisa." Tara menepuk bahu Dzaky dan meninggalkan Dzaky di dalam ruangannya sendirian. Dzaky tidak tahu kenapa Tara menginginkan dia yang pergi padahal masih banyak orang lain yang ada dalam bidang yang sama dengan Dzaky yang bisa dia suruh.
" Kenapa yah?" kata Aulia mendekati suaminya.
" Ayah dinas luar kota besok, selama 5 hari."
" Emm yaudah nggak apa-apa." Sebenarnya Aulia tidak mau jauh dari suaminya sejak hamil anak kedua ini.
" Tapi bunda masih suka mual pagi hari."
" Nggak apa-apa, bunda kuat koq."
" Maafin ayah ya dek besok pergi, jaga bunda jangan buat bunda mual ya sayang! ayah sayang kalian berdua. emuuach" Ucap Dzaky sambil mencium dan memeluk erat perut Aulia.