Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 64


Sudah 3 hari ibu menemani keluarga Aulia, mereka sangat senang.


Siang hari Tara datang berkunjung kerumah Aulia, entah kenapa akhir-akhir ini Tara selalu datang di saat Dzaky tidak ada di rumah, membuat Aulia sedikit merasa tidak nyaman.


" Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam" Lama ibu terdiam setelah membuka pintu dan melihat siapa yang datang. " Kayaknya ibu pernah lihat, siapa ya?"


" Ini Tara Bu, masa ibu lupa? apa ul nggak pernah cerita, kalau Tara sekarang satu tempat kerja lagi dengan Dzaky" Tara menyalami tangan ibu Aulia.


" Owalah, nak Tara! Sudah lama kita nggak pernah ketemu, jadinya ibu lupa. Aulia juga nggak pernah cerita sama ibu, ayo masuk. Dzaky belum pulang, kamu mau cari Dzaky kan?"


" Tara, mau melihat Sean Bu"


" Ibu panggil Sean dulu"


Sean langsung keluar menemui Tara.


" Papa...koq baru ke sini? Sean kangen tau! mama juga nggak pernah kesini"


" Papa sibuk, mama lagi nggak enak badan sayang"


" Anak kamu sudah berapa Tar?" Tanya ibu.


" Belum ada Bu"


" Sabar, Aulia dulu juga nggak langsung dapet Sean"


" Ya Bu"


" Ibu doain kamu cepat punya anak, ibu tinggal dulu" Dan di jawab anggukan oleh Tara.


" Ul, itu si Tara di panggil papa Sam sean?"


" Kak Tara sering kesini sama istrinya dan deket, terus Sean yang mau panggil papa ke kak Tara"


" Oh...Ibu tanya tadi dia belum punya anak, memangnya Tara baru menikah ya?"


" Emm...Kak Tara nikahnya duluan dari pada ul Bu, Tapi istrinya memang nggak bisa kasih anak ke kak Tara Makanya dia senang bermain dengan Sean"


" Astaghfirullah ul, ibu tadi tanya tentang anak, bahkan ibu bilang sabar."


" Nggak apa-apa Bu, kak Tara faham ibu nggak tau cerita keluarganya"


" Mudah-mudahan ul, kasihan Tara. Padahal anaknya baik dan kelihatan sayang sama anak-anak, kalau nggak sayang mana mungkin dia dekat sama Sean"


" Iya Bu"


Tidak lama Tara pamit pulang karena akan makan siang di rumah, padahal ibu sudah mengajak untuk makan bersama. Tapi Tara menolak.


Keesokan harinya Tara kembali datang untuk bermain dengan Sean di saat Dzaky belum pulang.


" Ul, Tara memang sering datang ke sini?"


" Ia Bu"


" Nggak baik, apalagi suami kamu nggak ada di rumah. Walaupun kalian dekat tapi orang lain bisa salah faham"


" Ul nggak bisa ngelarang Bu, kak Dzaky sudah tau dan tidak masalah katanya"


" Ya, tapi tetap harusnya nggak boleh ul. Memangnya dia nggak di marah pimpinan tempatnya bekerja? Dzaky aja selalu pulang saat jam makan siang, lah si Tara malah datang sebelum makan siang"


" Kak Tara itu manager atau pimpinan wilayah sini di kantor"


" Oh...bosnya Dzaky? pantesan bisa datang sembarangan. Lain kali Nggak usah di suruh masuk kalau Dzaky nggak ada di rumah ya ul?"


" Ya Bu...."


" Kita nggak tau kedepannya, kecuali dia datang bersama istrinya, ini malah ibu belum pernah lihat istrinya"


" Istrinya baik Bu, mungkin lagi banyak kerjaan"


Sudah hampir satu Minggu ibu tinggal bersama mereka, besok sudah akan pulang. Ibu juga tidak ingin di ajak berjalan-jalan dengan alasan hanya ingin berkumpul bersama mereka di rumah dan tubuh ibu tidak sekuat dulu mudah lelah jika di ajak keluar rumah.


" Bu besok mau di bawain apa aja? biar Dzaky siapkan"


" Nggak usah nak Dzaky, ibu lihat kalian akur, senang dan sehat sudah jadi oleh-oleh ibu buat di ingat di sana"


" Ibu......" Aulia memeluk ibunya haru.


" Kamu jaga kandungan kamu, selalu nurut sama suami. Eh ibu belum tau jenis kelamin bayi yang ul kandung?"


" Iya Bu. Ul sama kak Dzaky sudah tanya, tapi dedek bayinya selalu nggak mau nunjukin dia cewe atau cowok bu. Selalu di tutupin"


" Cewek atau pun cowok sama aja, yang penting bayinya sehat dan normal. Ibu doakan semoga nanti lahirannya lancar, ibu nggak janji bisa nungguin kamu lahiran"


" Amiin, iya Bu"


" Nak Dzaky? tadi Tara kemari bermain dengan Sean"


" Iya Tara memang sering ke sini Bu"


" Kalau ibu nggak ada, Tara ke sini tanpa istrinya apa nggak jadi fitnah? apalagi kamu juga lagi nggak di rumah!" Ibu ingin melihat reaksi Dzaky.


" Ibu hanya mengingatkan, walaupun kalian dekat tapi Tara dan Aulia itu tidak ada hubungan darah. Sebaiknya sedikit menjaga jarak" Perasaan ibu tidak bisa bohong, ada hal lain yang ibu lihat di mata Tara.


" Iya Bu"


Merekapun istirahat karena besok ibu akan pulang sementara Sean sudah tertidur sejak sore hari.


***


Sudah beberapa hari ibu pulang tapi suasana yang seisi rumah rasakan masih merindukan ibu, mereka seperti sudah terbiasa dengan sosok ibu yang hangat. Sekarang seperti ada yang hilang. Terutama Sean yang selalu minta untuk pulang ketempat neneknya.


" Bunda"


" Ya?"


" Hari Kamis jadwal kontrol kandungan kan?"


" Iya yah"


" Ayah sudah nggak sabar pengen tau dedek bayinya cewe atau cowok"


" Cewe atau cowok sama aja yah inget pesan ibu, Eh yah bunda Fatma bilang setelah hari Kamis itu dia ada acara ke luar kota beberapa Minggu, memang sengaja nunggu jadwal kontrolnya bunda baru beliau pergi"


" Ow... Jangan sampai lupa nda"


" Iya, ayah juga harus ingetin bunda"


" Kok sayang"


Hari senin Dzaky di panggil Tara ke ruangannya.


" Ada apa Tar?"


" Ini, besok kantor pusat minta perwakilan dari bagian kamu, ada beberapa orang yang dikirim ke sana, Jadi besok pagi-pagi kalian sudah harus berangkat. Tiketnya sudah di pesan, yang lain sudah aku kasih surat tugasnya"


" Berapa hari?"


" Cuma satu Minggu KY"


" Tar, jangan lagi lah. Kamis itu jadwal Aulia kontrol, Dokternya harus keluar kota beberapa hari, jadi Kamis itu kami harus datang"


" Mau bagaimana lagi KY, Kalau nggak biar Amira saja yang nemenin Aulia kontrol, gimana?"


" Huft.....Ia nanti aku obrolin dulu sama Aulia. Kalau begitu aku minta pulang lebih cepat hari ini dan harus boleh"


" Kamu ini KY, mentang-mentang managernya aku seenaknya saja. Tapi aku bolehin"


" Itulah keuntungannya kalau sahabat jadi manager kita" Ucap Dzaky sambil berlalu dan tertawa.


Sampai di rumah, Aulia kaget pasalnya baru jam tiga tapi suaminya sudah pulang.


" Ayah sakit?" Tanya Aulia saat Dzaky masuk rumah dengan lesu.


" Ayah kangen Bunda, Sean kemana?"


" Tidur yah..."


" Nda? emm, nanti kalau bunda kontrol ayah nggak bisa nemenin bunda. Bunda jangan marah! ayah harus pergi ke luar kota urusan pekerjaan"


" Mau Bagaimana lagi yah, walaupun sebenarnya bunda berat"


" Ayah juga berat nda, ayah pengen banget nemenin bunda apalagi tau jenis kelamin dedek bayi"


" Ya sudah nggak apa-apa, bunda bisa sendiri"


" Bunda nggak boleh sendiri, ayah sudah minta Tara untuk memberitahu mba Amira nemenin kamu saat kontrol"


" Yah.....nanti mba Amira tersinggung"


" Tara tadi yang memberikan saran bukan ayah, malah kalau ayah tolak mereka akan tersinggung"


" Terserah ayah sajalah, bunda nurut aja"


" Bunda memang istri yang Sholeha" ucap Dzaky sambil mencubit hidung istrinya.


Aulia cuma mencebikkan bibirnya.


" Nanti malam jangan lupa kasih ayah bekal"


" Iya....." Ucap Aulia yang sudah tau maksud suaminya.


" Ayah tambah sayang"


" Sudah, muji terus nanti minta dauble bekalnya"


" Hahaha....Bunda tau aja"


like


like


like