Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 71


" ibu....kenapa ibu pergi secepat ini! ul masih sangat membutuhkan ibu. Tidak kah ibu perduli kepada ul, Bu? Harusnya ibu mengajak ul! Tidak ada alasan ul untuk tetap hidup" ul masih menangis di dalam hati terus berkeluh kesah kepada ibunya, mencurahkan semua yang di rasakannya saat ini.


" Aulia?" Dzaky memanggil Aulia, mereka sudah lebih dari setengah perjalanan jam sudah menunjukan pukul 10 lewat.


Aulia menghiraukan panggilan Dzaky, dia tetap berada pada posisi yang sama, melamun melihat ke arah jendela. Hujan mulai turun membuat suasana bertambah dingin dan menyedihkan.


" Aulia? kita harus istirahat. Aku akan mencari restoran atau tempat lainnya yang masih buka"


" Tidak usah, ul ingin secepatnya sampai" Berbicara tanpa mengalihkan pandangannya.


" Tapi kamu harus istirahat! Kamu ingat pesan Dokter Fatma? Kalau kamu tidak boleh memaksakan tubuh kamu!"


" Ul baik-baik saja"


" Tapi ul...."


" Ul yang tau kondisi tubuh ul" Ucap Aulia memotong perkataan Dzaky.


Dzaky tidak bisa berbicara lagi, Aulia tipe wanita yang keras kepala.


" adek harus kuat nak! kita akan melihat nenek untuk yang terakhir kalinya" ul berbicara dalam hati sambil mengelus perutnya.


" Sakit ul?" Tanya Dzaky yang melihat Aulia mengelus perutnya.


Aulia hanya menggeleng.


" Ul....aku tau kamu sekarang sangat sedih, tapi kamu harus ingat dedek bayi, dia butuh istirahat! Kondisi kamu juga belum sepenuhnya baik" Jujur, Dzaky sangat mengkhawatirkan Aulia dan bayinya.


" Ibu.... Aulia hanya ingin secepatnya bertemu ibu..... Aulia mohon!" Ucap Aulia sambil kembali terisak.


" Baik, baiklah, kamu tenangin diri kamu. Kalau kamu begini tensi kamu akan naik!"


" Makanya kakak fokus saja membawa mobil, tidak usah pedulikan ul!"


Akhirnya Dzaky diam, kalau memaksa Aulia istirahat sementara dia tidak mau, akan membuat keadaannya memburuk.


Tepat jam 12 malam mereka tiba di kediaman ibu Aulia yang terlihat sudah banyak keluarga yang datang. Terlihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir di samping rumah, tapi hanya beberapa pria yang duduk di depan. Aulia berlari menuju rumah dengan perut besarnya, Dzaky khawatir dan ingin segera mengejarnya, tapi Sean bangun dan menangis. Dengan menggendong Sean Dzaky mendekati Aulia.


Aulia masuk rumah dan langsung di peluk oleh Adi, mereka menangis saling memeluk. Di dalam rumah terlihat sepi, mungkin keluarga sudah beristirahat.


Aulia terduduk di depan jenazah ibunya yang terbungkus kain.


" Ibu....kenapa secepat ini Bu.......apa ibu tidak mau melihat anak yang ul kandung lahir?" Aulia menangis sesenggukan, sambil melihat wajah pucat ibunya.


" Nanti siapa yang menjadi tempat ul cerita Bu......"


Dzaky yang baru masuk menggendong Sean langsung melihat kearah Aulia.


Adi langsung menyalami Dzaky.


" Kamu yang sabar ya di? Semoga amal ibadah ibu di terima di sisi Allah. Ibu sudah bahagia di sana, ibu orang baik" Dzaky memeluk Adi ikut menangis.


Kak firman dan kak Bian keluar dari dalam kamar beserta istri mereka, mereka memeluk Aulia menenangkan Aulia, adik perempuan satu-satunya, yang paling dekat dengan ibu mereka.


" Kamu sabar dek! ibu sudah tidak sakit lagi" Ucap mereka ikut menangis melihat kesedihan Aulia.


" Ibu tega ninggalin ul...Ibu tidak menyayangi ul...tega ibu tidak mengajak ul"


" Ul.... jangan berbicara seperti itu....ibu sangat menyayangi kamu ul, kamu tenang dulu" Istri kak Bian memberikan ul minum.


" Kamu tenang kamu harus ingat anak kamu ul!" Ucap istri kak firman, setelah melihat Aulia lebih tenang. Tidak histeris seperti pertama kali melihat jenazah ibu.


Aulia duduk, dia sudah tidak menangis lagi, tapi tatapannya kosong. Menyiratkan betapa terpukulnya dia atas kepergian ibu.


" Ul, sebelum ibu meninggal. Ibu berpesan semoga kami menjaga kamu ul, dan ibu berharap kamu melahirkan dengan lancar, ibu berkata maaf tidak bisa menemani anak keduamu nanti saat lahir."


" Kenapa ibu bisa meninggal mba?"


" Ibu sudah sakit sejak dua hari yang lalu"


Deg-


Aulia ingat, itu hari dimana dia menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya. Jadi setelah dia bercerita, besoknya ibu sakit. Itu artinya dialah penyebab ibunya pergi, pikir Aulia. Dia kembali memeluk jenazah ibunya.


" Ibu maaf ........ul minta maaf Bu ...... karena ul ibu pergi....." Aulia kembali histeris.


" Ul....ini bukan kesalahan kamu.....ini sudah takdir" Ucap keluarga.


" Ini salah ul......" Aulia tidak bisa mengatakan kalau gara-gara dia menceritakan masalah rumah tangganya, membuat ibu kepikiran, sakitnya kambuh dan meninggal.


Dzaky memberikan Sean yang sudah tertidur kepada istri kak Bian dan dia mendekati Aulia.


" Sudah nda.........kamu harus ingat kondisi kamu!" ucap Dzaky sambil memeluk Aulia.


Aulia hanya menangis dalam pelukan hangat suaminya, dia sedikit tentang.


" Kalau bunda seperti ini, ibu akan sedih! Ayo kita kekamar dari tadi bunda belum tidur. Dedek bayi harus istirahat"


Dzaky kembali memanggil Aulia dengan sebutan bunda, tidak ingin membuat keluarga menyadari kalau mereka sedang dalam masalah.


" Ayo ....."


" Bunda mau tidur di sini, di samping ibu"


" Nanti bunda masuk angin!"


" Ini untuk yang terakhir kalinya, bunda mohon!"


Akhirnya Dzaky mengalah membiarkan Aulia berbaring di samping sambil memeluk jenazah ibunya.


Melihat Aulia sudah tidur, Dzaky mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Aulia. Dia sendiri berbaring di samping Aulia, Dzaky sangat lelah karena membawa mobil tanpa istirahat. Dzaky akhirnya ikut tertidur.


Paginya semua proses untuk jenazah segera di kuburkan sudah dilakukan, Aulia ikut memandikan jenazah ibunya. Ibu akan di kuburkan di TPU tidak jauh dari tempat tinggal ibu.


Aulia di bonceng Adi menggunakan motor menuju tempat ibu akan di kuburkan, karena kondisi kaki Aulia yang bengkak dengan perut yang sudah sangat besar, di takut kan Aulia tidak kuat dan pingsan.


Setelah proses penguburan dan doa, orang-orang mulai meninggalkan gundukan tanah merah yang baru saja ibu Aulia di kuburkan di sana.


" Ayo dek pulang, tidak baik kalau kamu berlama-lama di sini" Ucap kak Firman mengingatkan.


" Izinkan ul, sebentar lagi di sini kak!"


" Baiklah jangan terlalu lama" Hanya di angguki oleh Aulia.


" Dzak, jangan tinggalkan istrimu sendirian" Pesan kak Bian.


" Ya kak"


Mereka pulang meninggalkan Aulia dan Dzaky.


" Bu..... maafkan Aulia membuat ibu pergi. Kenapa ibu tidak menunggu Aulia! kita bisa pergi bersama" Ucap Aulia menggenggam nisan ibu sambil terus menangis.


" Sudahlah nda, ibu akan sedih jika kamu terus seperti ini! Melupakan anak yang kamu kandung.... Ayo kita pulang, besok kamu masih bisa kesini lagi"


Dzaky memapah Aulia menuju motor yang tadi Adi tinggalkan.


Aulia terlihat sangat menyedihkan, mata bengkak, kaki bengkak dan perut besar.


Sampai di rumah Aulia langsung di bawa Dzaky ke kamar. Sean hanya sebentar menangisi kepergian neneknya, setelah itu dia kembali bermain dengan keluarga yang lain.


" Di minum dulu obatnya nda..." Aulia diam.


" Kamu jangan begini, takut terjadi apa-apa sama dedek bayi" Aulia pun akhirnya mau meminum obat yang di sodorkan Dzaky, Dzaky dengan sabar memberikan obat kepada Aulia.


" Dek....dedek harus menguatkan bunda....dedek harus tetap sehat....." Ucap Dzaky sambil memeluk perut Aulia, menempelkan wajahnya di perut Aulia, merasakan pergerakan dan tonjolan yang diciptakan si bayi.


" Kenapa? kamu mau menyemangati bunda kan sayang!"


Lama Dzaky masih dengan posisi yang sama, menemani Aulia yang menatap kosong kedepan.


like


like


like


like