
Dzaky membuka sedikit pintu kamar Sean, memastikan anaknya masih tidur.
Setelah berpamitan dengan Aulia, Dzaky langsung meluncur ke kantor. Tanpa Dzaky sadari ada mobil di depan rumah tetangganya, yang menunggu kepergian Dzaky.
Saat Dzaky terburu-buru keluar kantor, dengan hp yang menempel di telinganya. Tara mengikuti Dzaky dan mendengar semua yang di katakan Dzaky saat menenangkan Sean. Ada rasa khawatir dalam hatinya untuk Sean dan Aulia.
Tara mengikuti Dzaky dan menunggu di depan rumah tetangga Dzaky, yang berjarak empat rumah dari rumah Dzaky agar Dzaky tidak curiga. Setelah Dzaky pergi, Tara memberanikan diri masuk ke dalam rumah Aulia, dia ingin memastikan sendiri kalau Aulia dan Sean baik-baik saja.
Tara masuk seperti seorang pencuri, dia hanya ingin melihat Aulia dan Sean tanpa di sadari mereka.
Tara tidak melihat Sean ataupun Aulia, Tara memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Sean. Dengan perlahan membuka pintu dan mendekati Sean yang sedang tidur nyenyak.
" Bukan Sean! Sean baik-baik saja" Tara menarik tangannya yang tadi menyentuh kening Sean, untuk mengetahui Sean baik-baik saja.
Tara keluar dan menutup pintu perlahan setelah melabuhkan ciuman ke Sean.
Tara sangat merindukan Sean, dia hanya bisa melihat Sean dari jauh.
Aulia melihat Tara, beruntung ada hijab di atas meja tv yang selalu di pakainya jika sewaktu-waktu ada tamu masuk tanpa salam.
Saat pintu telah tertutup Tara berbalik dan Tara terkejut melihat Aulia menatap tajam ke arahnya dengan satu tangan menyanggah pinggangnya.
" Apalagi yang Kakak cari!" Teriak Aulia.
Tara terlihat salah tingkah, bagai pencuri yang ketahuan.
" Kenapa selalu mengganggu kami? Aulia sudah lelah kak! biarkanlah kami bahagia" Aulia menangis, memang dia sudah sangat lelah menghadapi kesalahpahaman yang di ciptakan Tara.
Tara ingin mendekati Aulia.
" Jangan mendekat! Pergi sekarang!"
" Kakak hanya khawatir kepada kalian, Kakak lihat Dzaky pulang dengan terburu-buru. Jadi kakak pikir ada apa-apa dengan kalian, syukurlah kalian baik-baik saja"
" Walaupun kami mati, itu bukan urusan kakak! jangan pernah menginjakkan kaki kakak di rumah ini lagi! sesuai dengan yang di minta ayah sean!"
*
" Aduh....pake acara ketinggalan lagi!" Ucap Dzaky saat menyadari dompetnya tertinggal di kantong celana yang tadi"
Dzaky berbalik, padahal sudah hampir sampai kantor.
" Bayar pake apa? makan di kantin! nggak mungkin ngandelin Bagas"
Sepanjang jalan dia selalu tersenyum, mengingat kelakuannya yang menyalurkan hasrat pada istrinya dengan perut besar istrinya. Dzaky merasa lucu dengan dirinya.
*
Tara mendekati Aulia walaupun Aulia menolak.
" Kakak tidak bisa jauh dari Sean, kalau kita tidak bisa bersama, setidaknya kita masih bisa seperti dulu"
" Memang tidak tau malu! sudah membuat kekacauan di rumah tangga orang, Kakak ingin di perlakukan dengan baik" Aulia tersenyum sinis dengan air mata terus mengalir di pipinya.
" Kalau kakak tidak keluar, ul akan teriak! Astaghfirullah sst..." Aulia merasakan sakit pada perut bagian bawahnya.
" Jangan mendekat!" Teriak Aulia, pada saat Tara memegang lengannya. Aulia mengibaskan lengannya, menandakan dia tidak ingin Tara sentuh.
Aulia terduduk dengan memegangi perutnya.
Tara mendekati Aulia, Aulia menolak dengan menepis kasar tangan Tara yang memegangi lengannya.
" Pergi! jangan pernah kemari!" Aulia sambil berpegangan pada lemari tv hendak berdiri. Lagi-lagi Tara mencoba membantu dan sekali lagi Aulia menepisnya.
Tara kesal dengan penolakan Aulia, akhirnya Tara menarik tengkuk Aulia kasar dan menempelkan bib**nya pada bibi** Aulia.
Sekuat apapun Aulia menolak sekuat itu pula Tara bertahan.
Sampai kepala Tara terasa sakit, Tara melepaskan Aulia yang masih memejamkan mata dan menangis.
Aulia membuka mata dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Dzaky berdiri dengan wajah penuh emosi, Aulia dapat melihat kalau Dzaky baru saja memukul kepala Tara dengan vas bunga.
" Sudah ku bilang jangan menginjakkan kaki mu di sini!" Teriak Dzaky emosi, sementara Tara hanya memegang kepalanya sambil meringis menahan sakit. Tidak ada darah yang keluar, tapi melihat ekspresi Tara hantaman vas bunga cukup membuat kepalanya berdenyut.
Dzaky sudah mengangkat tv dan ingin melemparkannya ke Tara, beruntung Tara segera pergi.
Aulia masih terdiam, tidak ada kata yang ingin di ucapkannya. Mungkin Dzaky sudah bosan mendengarkan penjelasannya, kalau Dzaky mencintainya suaminya itu akan percaya padanya. Cinta Harusnya Menyatu kan kepercayaan, Cinta Harusnya Menyatu kan hati dan pikiran mereka, sehingga setinggi apapun gelombang masalah pasti bisa mereka lewati. Itu yang ada dalam fikiran Aulia.
Setelah Dzaky pulang dia tidak kembali lagi ke kantor moodnya hancur, padahal beberapa waktu yang lalu dia melangkah dengan tersenyum.
Dzaky menyibukkan mengurus Sean dan mengacuhkan istrinya.
Malam hari, Dzaky merasa haus dan keluar dari kamar Sean dengan mata mengantuk.
Dzaky tidur di kamar Sean, dan meninggalkan Aulia sendiri di kamar mereka.
Sampai di depan dapur, Dzaky terdiam sejenak karena mendengar suara aneh dari dalam kamarnya. Dengan perlahan Dzaky membuka pintu dan alangkah terkejutnya Dzaky, mata yang tadinya terasa lengket sekarang terbuka lebar seperti habis tersiram air panas.
Dzaky melihat istrinya sedang bercumbu dengan mantan sahabatnya.
Dengan langkah pasti Dzaky mengambil pisau dari dapur dan tanpa pamit dia menancapkan ke punggung Tara yang polos tanpa sehelai benang pun.
Aulia kaget, segera menarik selimut yang masih terlipat rapi di sebelahnya.
Aulia menangis histeris melihat Tara yang sudah berlumuran darah, sedetik kemudian dia merasakan sakit pada perutnya.
Dzaky masih diam mematung seakan belum menyadari apa yang telah di lakukannya. Sementara Aulia dengan perlahan mengenakan daster yang tadi terlempar ke atas ranjang.
Setelah menggunakan pakaiannya Aulia mendekati Tara yang tertelungkup lemah dengan pisau masih tertancap di punggungnya.
" Ayah, kenapa harus seperti ini!" Ucap Aulia menangis.
Barulah Dzaky sadar.
" Apa salah ku ul!" Teriak Dzaky. " Begitu teganya melakukan ini terhadap ku" Dzaky sudah mulai menangis. " Semua yang terjadi selama ini, telah aku lupakan. Tapi ini balasan mu"
Aulia meringis, meremas erat dasternya. Dia merasakan cairan hangat mengalir dari pangkal pahanya.
Aulia langsung duduk di pinggiran ranjang dengan tangan tiada henti menggenggam daster kuning yang terlihat sudah basah dengan darah.
Di dalam mobil Dzaky terlihat panik walaupun benci dan jijik terhadap istrinya tapi rasa sayang dan cinta jauh lebih besar. Aulia terlihat meremas sandaran jok mobil.
Berhenti tepat di depan lobi rumah sakit, Dzaky berteriak meminta suster membawa istrinya segera.
Kunci mobil di lemparkan Dzaky ke tangan security, meminta agar mobilnya di parkirkan ke tempat seharusnya.
Dzaky menggendong Sean dengan menyeret koper kecil berisi perlengkapan bayi, berlari kecil menyusul Aulia.
Dzaky meminta salah satu perawat untuk menjaga Sean yang masih terlihat nyenyak, walaupun sudah beberapa kali pindah tempat. Dzaky sudah kenal dengan perawat itu, salah satu perawat yang selalu ada saat mereka kontrol dengan Dokter Fatma.
Dzaky mengikuti Aulia yang di bawa masuk ke dalam ruangan khusus ibu bersalin. Tidak lama terlihat Dokter Fatma masuk dengan wajah khawatir.
" Bunda sudah bilang, Aulia harus kontrol sebelum merasakan kontraksi"
Aulia terlihat mengelinjang di atas kasur menahan sakit, dengan tubuh bawahnya terus mengeluarkan darah.
" Sus... tekanan darah?"
" Tinggi Bun, 200/120"
" Kita tidak bisa melakukan tindakan secar tekanan darahnya tinggi, kita harus memberikan obat untuk menstabilkan tekanan darahnya"
" Mba, bukaan betapa" Tanya Dokter Fatma pada bidan yang ikut membantunya.
" Lima Dok."
Dokter menghampiri Dzaky yang terlihat shock.
" Pak Dzaky, ini lah alasan kenapa saya meminta Aulia untuk datang sebelum adanya kontraksi, kita harus menurunkan tekanan darahnya. Kalau seperti ini kita tidak bisa melakukan tindakan operasi, bahaya. Aulia bisa pendarahan hebat, dia mengalami preeklampsia pak. Untung saya masih di rumah sakit"
" Kita juga tidak bisa melakukan tindakan operasi walaupun bisa, karena ruang operasi sudah penuh dengan jadwal Ibu-ibu yang akan melakukan operasi"
" Memberikan surat rujukan pun, tidak akan membantu. Jarak tempuh rumah sakit terdekat masih jauh"
" Saya mohon Bun, lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya" Dzaky sudah menangis.
" Temani Aulia, saya akan mencari solusinya. Sus jangan biarkan ibunya mengejan, bisa kejang nanti"
" Iya Bun"
" Saya tinggal dulu pak, masih ada pasien" Padahal sudah larut malam tapi Bunda masih mengurusi beberapa pasiennya yang juga urgen.
" Nda, ayah maafin bunda untuk kali ini. Bertahanlah!" Dzaky menggenggam tangan Aulia yang mencengkram seprai dengan erat.
Sudah setengah jam berlalu, Bu bidan datang untuk mengecek pembukaan.
" Kita lihat dulu ya Bu" Bu bidan menekuk kaki Aulia dan melakukan VT.
Aulia meringis merasakan sesuatu memasuki jalan lahir untuk bayinya.
" Udah naik jadi pembukaan enam Bu, sabar"
Dua jam menunggu akhirnya, pembukaan Aulia lengkap, posisi Aulia sudah siap. Tapi Dokter Fatma tidak bisa menemani Aulia, karena pasien lainnya. Dokter Fatma mempercayakan Aulia pada bidan yang selalu menemaninya saat membantu persalinan pasiennya.
" Jangan mengejan Bu...kita lakukan perlahan"
Entah kenapa Aulia sangat merasakan sakit, di tambah lagi dia tidak di perbolehkan mengejan, seakan sebuah hukuman yang sangat mengerikan. Tidak bisa menyalurkan rasa sakit.
Beruntung Dzaky selalu berada disampingnya.
" Aaaaaaaa......" Teriak Aulia, dia tidak bisa berbuat banyak untuk melampiaskan rasa sakitnya, kecuali dengan teriak.
Byuurrrrr, terdengar suara air ketuban yang di pecahkan Bu bidan. Ternyata Aulia mengalami kembar air, itu yang membuat perutnya terlihat sangat besar.
Air bercampur darah mengucur deras dari bagian inti Aulia, Dzaky tidak sanggup melihatnya. Dzaky hanya berdiri sambil sedikit membungkuk memeluk kepala Aulia.
" Aaaa...Bu, rasanya saya ingin mengejan"
" Jangan Bu...tensi ibu masih tinggi, bahaya untuk ibu" Bu bidan melihat layar monitor yang terhubung kabel dengan perut Aulia, menunjukkan tensi dan kontraksi tinggi.
" Yah, maafin bunda.....bunda banyak salah sama ayah...." Ucap Aulia terbata.
Dzaky hanya bisa menciumi puncak kepala istrinya dengan air mata mengalir deras.
" Semua tidak seperti yang ayah bayangkan. Jaga anak-anak" Aulia berkata dengan menahan nafas
" Bunda ngomong apa, kita akan melupakan segalanya dan memulai hidup yang baru"
" Aaa...aaaaaa" Teriak Aulia lagi. " Bu saya sudah tidak kuat"
" Sabar Bu, kami akan membantu menggunakan forceps"
Perlahan Bu bidan memasukan alat itu untuk menjepit kepala si bayi.
Aulia benar-benar merasa sakit saat alat itu masuk memenuhi jalan lahir anaknya.
" Emmmm" Aulia mulai mengejan.
" Jangan mengejan Bu, biar kami yang bekerja menarik pelan kepala bayi" Bu bidan masih mengusahakan kepala bayi keluar.
Saat kepala bayi setengah berada di jalan lahir, bersama dengan alat yang di tarik keluar. Aulia sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengejan, sakit luar biasa yang di rasakannya seolah minta untuk cepat lepas dari tubuhnya.
" Eeeeeeekkkk" Sekuat tenaga Aulia mengejan, ingin melepaskan sakit yang tertahan.
" Oek oek...." Terdengar suara bayi menangis bersamaan dengan darah segar keluar bagai air bah.
" Eh eh eh, bunda berhasil yah....Titip Mereka"
" Bunda ...ayah nggak bisa tanpa bunda ....." tangis Dzaky makin kencang, malunya pergi bersama dengan rasa khawatirnya yang datang.
like
like
beberapa bab lagi ya