
Setelah kepergian Dzaky Aulia masuk kedalam kamar dia benar-benar kecewa terhadap sikap sang mertua yang ternyata belum berubah, di dalam kamar Aulia hanya melamun tidak berniat mengerjakan sesuatu hal dia keluar jika tiba waktu makan saja sampai membuat mertuanya penasaran apa yang terjadi dengan menantunya itu begitupun sewaktu dzaky pulang dan makan malam Aulia hanya diam berbicara jika ditanyakan saja.
Keesokan harinya setelah sholat berjamaah Aulia langsung kedapur dia tak banyak bicara.
" kamu kenapa aulia? mama lihat dari kemarin kamu lebih banyak diam."
" gak apa-apa ma."
" kamu gak suka mama di sini?" mama mulai terpancing dengan sikap Aulia yang acuh seperti tak menghargainya, padahal Aulia hanya menekan perasaan kecewanya takut mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan karena dalam keadaan hamil perasaannya lebih sensitif.
"mama kok ngomong kayak gitu?"
"habisnya kamu kayak gak suka mama disini, diemmm aja!"
"cuma lagi gak mood buat ngomong ma... gak ada yang lain." Aulia memilih pergi menyiram tanaman dari pada berdebat dengan mama mertua membuat darah tinggi.
"bang, lihat istri kamu itu mama ajak ngobrol malah ditinggal pergi gak sopan banget, itu tu kalau sekolah cuma sampai SMA." ucap mama mengadu pada Dzaky yang baru keluar kamar.
" ma jangan ngomong gitulah, nanti kalau Aulia denger gak enak pasti kepikiran, ibu hamil gak boleh banyak fikiran, gak tau kenapa abang merasa ada yang Aulia fikirkan dari kemarin memang sikapnya sedikit berubah." Dzaky mengingat istrinya yang selalu menghindar jika diajak berbicara dengan alasan capek.
"itu tu kalau dibela terus! jadi besar kepala."
"sudah lah ma."
Mereka pun sarapan dalam diam tidak ada yang berniat membuka suara, begitupun mama yang terlihat kesal melihat Aulia.
Keadaan yang canggung itupun terasa sampai beberapa hari menjelang kepulangan mama mertuanya dan hari terakhir Aulia memilih untuk berdamai dengan mama mertuanya itu, dia berusaha dan mencoba mengajak mengobrol duluan, dia berusaha untuk tidak egois bagaimana pun beliau mama dari suaminya.
Dua Minggu sudah mama tinggal di rumah Dzaky hari ini waktunya mama untuk pulang melanjutkan pekerjaannya setelah libur sekolah.
" mama pulang bang, kamu jaga kandungan istrimu."
"iya ma, kalau sudah sampai kabari Abang." sambil menyalami dan memeluk mama
"mama hati-hati." Aulia melakukan hal yang sama dengan Dzaky
" ingat Aulia jaga calon cucu mama, banyak membaca buku yang mama belikan kemarin jangan malas membaca seorang ibu itu harus terus belajar."
"iya ma."
" nanti kalau ada waktu libur mama usahakan kesini, assalamualaikum."
"waalaikum sallam."
****
Bulan berganti bulan kandungan Aulia kini telah memasuki usia 8 bulan, keinginan Dzaky yang ngidam makanan pun telah lama tidak dirasakannya lagi sudah normal seperti sebelumnya.
" dek nanti malam jadwal kontrol kan?" tanya Dzaky sebelum berangkat kerja
"iya yah".
" kita tanya kenapa perut bunda bisa sebesar ini kayak hamil anak kembar." Dzaky yang menghawatirkan kondisi istrinya yang dirasa sudah kesusahan untuk berjalan dan beraktivitas karena perutnya yang besar.
" iya yah, mudah-mudahan gak kenapa-kenapa."
" iya artinya dia ngizinin ayah untuk berangkat kerja".
" jangan kencang-kencang dek nanti bunda sakit pelan aja, yaudah ayah pergi dulu assalamualaikum"
" waalaikum sallam"..
Malam pun tiba mereka sudah berada di rumah sakit sedang mengantre, banyak ibu-ibu hamil yang ditemani suaminya banyak pula yang hanya ditemani kerabat dekatnya. Aulia sangat bersyukur mempunyai suami yang sangat siaga di masa kehamilannya sebelum tidur Dzaky pasti mengelus pinggang istrinya dan memijit kaki istrinya yang sudah kelihatan sedikit membengkak.
" ibu Aulia......"panggil suster
"iya mba" jawab mereka serentak
"assalamualaikum"
"waalaikum sallam, gimana bu? koq besar banget ya? masuk 8kan bu?" Bu dokter kaget yang merasa kehamilan Aulia yang tiba-tiba langsung besar berbeda dengan bulan lalu.
"iya dok saya merasa akhir bulan 7 kemarin hamil saya langsung besar, saya khawatir dok." jawab Aulia yang memang itulah yang ingin dia tanyakan.
"gak apa-apa kita periksa dulu ya, ayo Bu berbaring."perintah sang dokter, setelah dioles jel oleh suster yang mendampingi dokter langsung menggerak-gerakkan alat USG diatas perut Aulia. " nah ini baby-nya yah sudah sangat jelas hidungnya kayak ayahnya mancung pipinya tembem sekali, oh ini berat baby-nya langsung melonjak dari bulan lalu ibu harus diet ya? kurangi makanan berkarbohidrat tinggi jangan minum air es dengan tambahan gula kurangi yang manis-manis ya Bu! bulan lalu 1,7 kg itu aja sudah besar sekarang sudah 2,6 kg karena ibu mau lahiran normal takutnya bayinya terlalu besar kasian ibunya waktu lahiran ini baru masuk 8 bulan soalnya nanti saya kasih resep dan makanan apa aja yang bagus dan yang harus dihindari ya Bu. selain itu semuanya normal Alhamdulillah."
" iya dok, saya kasihan melihat istri saya yang sudah terbatas pergerakannya, ternyata karena bobot bayinya."
"iya tapi gak masalah, yang terpenting support ayah ke ibunya bantu pekerjaan ibu dan berikan sedikit pijatan ya pak?."
" iya dok, setiap malam suami saya melakukannya."
" ibu harus bersyukur bapak termasuk calon ayah siaga."
"Alhamdulillah Bu dokter." Aulia tersenyum memandang suaminya dia sangat bahagia dan bangga memiliki suami seperti Dzaky yang selalu memberikan rasa nyaman selama pernikahan mereka.
Setelah periksa mereka langsung pulang dan beristirahat.
"dek perasaan ayah, ayah yang banyak makan koq adek yang badannya gendut?" sambil memeluk perut Aulia.
"iya ya yah! pantesan pinggang bunda sering pegel."
" pasti berat ya nda? kadang ayah gak tega liat bunda berdiri atau jalan berasa mau lepas perutnya. pengen ayah pegangin."
" inilah prosesnya yah, bunda menikmatinya dan sangat bersyukur bisa menjalaninya."
" apalagi kalau nanti bunda lahiran, apa ayah sanggup nemenin bunda?" ucap Dzaky melihat Aulia sakit saja dia panik apalagi nanti pas proses melahirkan, entahlah yang pasti dia akan selalu disamping istrinya saat istrinya berjuang mengeluarkan buah cinta mereka.
" setiap istri pasti mau ditemenin suaminya yah, bunda gak mau sendirian berjuang."
" pasti ayah temenin bunda, ayah juga gak mau melewatkan proses kelahiran dedek, ayah akan menjadi orang pertama yang melihat adek keluar dari perut bunda selain dari tenaga medis." ucap Dzaky mantap.
" wihhhj romantisnya ayah dek....terharu bunda sayang."
" buatnya sama-sama, merawatnya juga sama-sama walaupun ayah gak merasakan hamil dan melahirkan tapi insyaallah ayah akan selalu ada saat bunda butuhkan." mereka merasakan bahagia menanti kelahiran anak pertama mereka.
like
like