
Tara tiba di rumah, membuka pintu dengan kasar. Amira langsung melihat siapa yang membuka pintu dengan suara yang kencang, ternyata suaminya. Amira kembali kaget saat melihat wajah Tara yang berlumuran darah, Amira memapah suaminya yang jalan sempoyongan sambil memegang wajahnya untuk duduk.
" Kamu kenapa kak? Siapa yang memukulimu?" Tanya Amira khawatir sambil terus membersihkan wajah suaminya.
" Apa perlu ke Dokter kak?"
" Tidak perlu"
" Takutnya ada luka dalam kak?"
" aku bilang tidak perlu ya tidak perlu!" Ucap Tara membentak sambil menahan perih saat mulutnya bergerak.
" Kakak ini kenapa? Kenapa harus marah-marah! Kalau tidak mau ya sudah, Mira cuma tanya kak!"
" Kenapa kamu jadi cerewet begini! sstt" Tara menahan perih.
" Wajar kalau Mira tanya, kenapa kakak sampai seperti ini?"
" Ini semua karena kamu!"
" Amira?" Tanya Amira memastikan.
" Ya karena kamu tidak bisa hamil!"
Jedar. Sebuah kalimat yang mampu membuat Amira sakit tapi tak berdarah dalam sekejap.
" Kenapa kakak harus mengatakan itu! Kakak dulu menerima itu, Kenapa sekarang selalu kakak ungkit? Sakit kak! Kakak pikir Mira tidak merasa bersalah, kecewa, sedih? Itu semua yang Mira rasakan! Mira bisa apa kak? Mira juga tidak bisa menolak, apa yang sudah menjadi takdir Mira" Ucap Amira menangis sesenggukan saat membahas masalah ini.
"Harusnya kamu berobat lebih keras lagi!"
" Kenapa pulang-pulang, kakak membahas ini, apa yang sudah terjadi? Apa ada hubungannya dengan Aulia? Mira sudah mengikhlaskan kalau kakak mau mendekati Aulia, dimana lagi kesalahan Mira kak?" masih menangis.
" Kamu tau? Karena kamu tidak bisa hamil, makanya aku mendapatkan ini semua"
" Jangan bilang, kalau kak Dzaky yang melakukan ini?"
" Iya! dia yang menghajarku, karena aku juga ingin merasakan memiliki istri yang hamil"
" Hahaha....Dan menganggap istrinya itu seperti istrimu?" Tanya Amira mengejek. " Mana ada suami yang membolehkan laki-laki lain menyentuh istrinya! Kamu gila kak!"
" Ya aku gila! Sekarang pergilah kamu dari rumah ini! aku sudah muak melihatmu"
Lama Amira terdiam, tidak menyangka akan di usir oleh suaminya sendiri. Bagaimana dia memberitahukan keluarganya? Pasti semua akan terbongkar, tentang dirinya yang tidak bisa hamil. Masa bodoh, pikir Amira. Itu semua bukan kehendaknya, memiliki kekurangan yang tidak bisa memiliki anak.
" Baiklah aku akan pergi! Terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini" Amira pun segera merapikan semua barang-barang pentingnya.
Tara hanya diam melihat kepergian Amira, ada rasa sesal, kenapa dia bisa menyakiti orang yang dulu sangat ia jaga hatinya.
*
Pagi berganti siang, siang berganti sore dan sore berganti malam, semua berputar sesuai dengan waktunya.
Malam ini setelah pertengkaran yang terjadi tadi pagi, Dzaky belum keluar kamar. Aulia hanya memanggil dan mengetuk pintu kamar, akan tetapi tidak ada jawaban. Aulia berfikir mungkin Dzaky butuh waktu untuk meredam emosinya, jadi Aulia tidak berani untuk masuk tanpa izin, Sampai Aulia mandi di kamar Sean dan menggunakan pakaian yang baru saja di angkat dari jemuran. Begitu pun Sean dia tidak bertanya tentang ayahnya yang belum keluar dari kamar, yang dia tau ayahnya sedang capek sesuai dengan yang bundanya jelaskan.
Aulia meninggalkan Sean yang sibuk dengan mainannya, Dzaky tadi pulang membawa banyak mainan yang di tinggalkannya di depan pintu dapur. Aulia membereskan semua bawaan Dzaky memisahkan pakaian kotor dengan bawaan lainnya, termasuk mainan untuk Sean, langsung Aulia berikan untuk Sean. Sean sangat senang sehingga melupakan apa yang tadi membuat dia menangis.
Akhirnya, Aulia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar yang di tempati Dzaky.
Pertama membuka pintu, pemandangan gelap lah yang terlihat oleh Aulia. Aulia langsung berinisiatif menyalakan lampu untuk melihat keberadaan suaminya, saat lampu menyala terlihat suaminya yang sedang berbaring di atas ranjang dengan satu tangan berada di atas kepala. Pakaian suaminya masih sama dengan yang tadi pagi di kenakan nya.
Aulia mendekati suaminya.
" Yah bangun, sudah malam" Aulia menggoyangkan lengan suaminya.
Tidak ada jawaban.
" Yah bangun, dari tadi ayah belum makan. Nanti ayah sakit" Masih tak ada jawaban.
" Yah, bunda minta maaf. Mungkin kesalahpahaman ini sudah melukai hati ayah" Dzaky masih tak menjawab.
Aulia memutuskan untuk keluar kamar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara suaminya.
" Ternyata kalian sudah lama bermain di belakang ku" Dzaky berkata dengan posisi yang sama. "Teganya kalian, menusukku dari belakang"
" Kami tidak ada hubungan apa-apa yah"
" Aku sudah memikirkannya sejak lama, tapi baru sekarang aku tau jawabannya. Kalau selama kamu hamil, Kamu tidak banyak menggunakan uang yang aku berikan ke dalam ATM mu, hanya sedikit notifikasi dana keluar. Namun aku terlalu sibuk dengan keluarga ku sehingga lupa untuk membahas itu. Ternyata kamu telah di berikan nafkah oleh laki-laki itu, selama kamu hamil! Kamu hamil anaknya kan? Tidak mungkin dia menanggung tanggung jawab dengan memberikan uang setiap bulannya, kalau tidak ada apa-apanya" Dzaky berkata masih dengan posisi berbaring, semua kata meluncur dengan lancar. Seperti telah di susun rapi sejak lama. Namun kata-kata itu begitu melukai harga diri Aulia.
" Yah, Selama ini bunda menjalankan online shop. Bunda berfikir nanti akan memberitahu ayah, karena kegiatan itu tidak mengganggu bunda dalam urusan rumah tangga atau lainnya. Posting, ada yang order tinggal lapor ke supplier. Semua mereka yang urus, bunda buat rekening baru untuk semua keuntungan yang bunda dapat. Alhamdulillah hasilnya lumayan untuk kebutuhan harian dan membeli hal kecil, tidak mengganggu duit ayah. Duit yang ayah kirim untuk masa depan Sean, itu rencana bunda. Menyesal bunda baru mengatakan ini, jika tau akan membuat ayah berpikir buruk tentang bunda. Karena kepercayaan bunda terlalu besar, ayah tidak mungkin mempermasalahkan ini, tapi bunda salah" Ucap Aulia meyakinkan suaminya, kenapa jarang menggunakan uang yang di kirim suaminya.
" Jangan membuat kebohongan untuk menutupi kebohongan mu yang lain!"
" Harus bagaimana agar ayah percaya, bahwa kak Tara tidak pernah memberikan Aulia uang yah?"
" Jangan sebut nama laki-laki berengs** itu!" Ucap Tara dengan penekanan.
Aulia diam, dia tidak tau harus berbicara apa lagi, semua salah di mata suaminya.
" Tadinya aku berfikir bahwa yang namnya CLBK ( cinta lama bersemi kembali) itu hanya ada dalam sinetron atau FTV saja, ternyata aku salah! Istriku sendiri mengalaminya"
" Yah......" Aulia mengeluarkan nafas pelan, dadanya terasa sesak perutnya terasa nyeri. " Bunda mohon, percayalah! bunda tidak pernah berkhianat" Air mata Aulia mengalir deras dengan suara tertahan.
" Keluar!" Aulia masih diam " KELUAR!" Bentak Dzaky, sungguh sebenarnya dia tidak tega melihat Aulia menangis, tapi emosi telah menguasainya.
Aulia bergegas keluar dengan pelan menutup pintu kamar dan menghapus jejak air mata yang keluar tanpa di perintah.
Sean dari tadi mencari bundanya dan langsung mendekat ketika melihat bundanya.
" Bunda nangis?" Tanya Sean
" Enggak sayang, bunda tadi kelilipan sewaktu menutup pintu"
" Sini Sean tiup nda" Aulia pun berlutut di depan Sean, Sean segera meniup mata Aulia. Aulia langsung menangis memeluk Sean.
" Sakit bunda?" Aulia hanya menggeleng.
*
Weekend yang bisanya di tunggu dan di penuhi dengan hangatnya kebersamaan, Sekarang suasananya sudah berubah. Dzaky hanya bangun untuk makan, itupun dia hanya menggoreng telur, hanya mengganjal perutnya yang kosong, Tidak menyentuh masakan yang telah Aulia siapkan.
Begitu besar kecewa dan sakit hati yang Dzaky rasakan, sehingga mengabaikan Sean yang mencari perhatian ayahnya.
Hari ini Dzaky berangkat bekerja tidak sarapan, tidak menyapa Aulia ataupun Sean. Dia pergi begitu saja, membuat Sean bertanya-tanya kepada bundanya ada apa dengan ayahnya. Aulia hanya mengatakan kalau Dzaky sedang tidak enak badan.
Di kantor pun orang-orang merasa heran melihat Dzaky dan Tara yang biasanya sangat akrab, apalagi melihat wajah Tara yang banyak memar sisa pukulan yang Dzaky lakukan. Sekarang berpapasan pun mereka tak bertegur sapa, ibarat orang yang tidak pernah kenal.
Jam makan siang Dzaky habiskan di kantin kantor, hal yang tidak pernah Dzaky lakukan. Panggilan Aulia Dzaky abaikan, saat jam pulang kantor Dzaky masuk ke dalam ruangan Tara.
" Kita perlu bicara" Ucap Dzaky, saat masuk tanpa melihat wajah Tara. Dzaky langsung duduk di sofa.
" Ya"
" Apa anak yang ada dalam kandungan Aulia itu anak mu?"
" Dia istri mu, harusnya kamu lebih tau"
Bugh
" Jawab breng***" Dzaky melayangkan pukulan ke wajah Tara yang masih terlihat memar.
" Hehe.....Kalau iya, kenapa?"
"Brengs**" Dzaky melayangkan tinju lagi, tapi Tara mengelak.
" Kalau kamu tidak mau mengurus Aulia, aku bisa menjaga Aulia dan bayi dalam kandungannya. Lepaskan mereka!"
" Baiklah, aku akan melepaskannya di saat dia telah melahirkan. Itu sebagai imbalan untuk sikap baiknya selama ini, setidaknya dia tidak akan malu dan aku tidak akan terlihat buruk. Menceraikan perempuan yang sedang hamil" Tara hanya menggeleng sambil tersenyum mengejek, bisa-bisanya Dzaky berpikir buruk tentang istrinya.
Setelah perdebatan panjang dua orang yang dulunya bersahabat, dan menambah rasa sakit di hati Dzaky. Mereka memutuskan kan untuk pulang.
Di rumah Dzaky langsung masuk dan menarik tangan Aulia.
" Jangan begini yah, Sean akan takut" Aulia melepaskan tarikan tangan Dzaky dan mendekati Sean yang menatap bingung.
" Bunda mau ngomong sama ayah dulu, Sean main sendirian dulu ya? Nanti bunda temenin main lagi" Bujuk Aulia, syukur Sean mengerti. Dia mengangguk tersenyum dan melanjutkan bermain.
" Ada apa yah? bisa tidak jangan kasar di depan Sean? Dia tidak tau apa-apa?" Ucap Aulia lembut.
" Iya, dia memang tidak tau kelakuan bejat bundanya!"
" Huft...Kenapa lagi?"
" Benarkan! bayi yang kamu kandung itu anak laki-laki bereng*** itu?" Aulia mendekati Dzaky dan meraih tangannya, tapi di tepis oleh Dzaky. Sekali lagi Aulia meraih tangan Dzaky, kali ini Dzaky membiarkannya.
" Ayah, serendah itukah bunda di mata ayah? Ayah, kita sudah hampir enam tahun berumah tangga, masihkah ayah belum mengenal bunda?" Ucap Aulia sudah berderai air mata.
" Dulu aku mengenalmu, tapi sekarang aku tidak mengenalmu lagi. Semenjak kamu dekat dengan dia!"
Aulia meletakan tangan Dzaky diperut besarnya.
" Ayah bisa merasakan, gerakannya? Tidak ada yang bisa memutuskan ikatan batin antara ayah dan anak. Sekarang apa yang ayah rasakan?"
Dzaky mulai melunak, dia mengelus perut Aulia yang bergerak seolah mengatakan aku ini anak ayah. ikatan itu ada, ikatan itu di rasakan oleh Dzaky. Hatinya menghangat merasakan pergerakan bayi yang beberapa hari ini dia abaikan.
" Bagaimana yah?" Dzaky memejamkan mata menikmati nya. Namun sejurus kemudian dia menurunkan tangannya dari perut Aulia. Mengingat Tara juga pernah menyentuh perut ini.
" Heh....dia mungkin memang anak ku, tapi.....Aku tidak tahu, mungkin saat laki-laki brengs** itu menanam saham, waktunya berdekatan denganku yang juga menanam saham di wanita yang sama. Dan kecebong ku lebih kuat bertahan menjadi bayi ini!" ucap Dzaky dengan senyum mengejek.
Aulia mengerti setiap kata yang Dzaky ucapkan, badannya melemas. Bagai tertusuk paku besar hati Aulia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
like
like
like