Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 73


" Ul....Semua sudah tau kalau Dzaky akan berpisah dengan mu, setelah anak yang kamu kandung lahir"


Tidak habis pikir Aulia, dari mana kabar tentang rumah tangganya bisa tersebar. Dia belum menceritakan kepada siapapun termasuk Amira ataupun Sinta sahabat nya.


" Kamu pasti berfikir dari mana orang tau kabar itu, kan? Mungkin Dzaky pernah cerita keorang lain, Bagas mungkin!" Aulia sudah tidak bisa berfikir lagi, ini berat untuk otaknya yang mulai lelah.


" Sudahlah kak, ul lagi ingin istirahat. Tolong baringkan Sean di sini" Aulia menunjuk tempat kosong di sebelahnya, berhimpitan dengan dinding kamar.


" Besok kakak akan ke sini lagi"


" Tidak perlu"


Tara keluar dari kamar Aulia, Aulia kembali melamun. Kedatangan Tara malah membuatnya bertambah sedih.


" Mana Sean tar?"


" Sean tidur kak, Sean tidur di sebelah bundanya"


" oh....biarlah. Anak itu sudah beberapa hari tidak tidur bersama ibunya. Sean takut melihat bundanya yang sering diam tidak seperti biasanya"


" Aulia butuh waktu kak, menerima semua ini"


" Ya, kamu betul Tar. Aulia anak yang paling dekat dengan ibu, walaupun dulu pernah berpisah 2 tahun, tapi mereka tidak pernah seharipun tidak saling bertukar kabar"


" Kak, Tara permisi dulu. Besok Tara akan kesini lagi sampai acara tujuh hari ibu"


" Kamu menginap di mana?"


" Belum tau kak, tadi motel yang di dekat sini penuh. Mess perusahaan lagi ada tamu"


" Kamu menginap saja di sini, tapi tidurnya sama-sama di bawah. Tapi kalau kamu mau, nanti tidak biasa tidur beralaskan ambal, malah kamu sakit lagi"


" Tidak apa-apa kak, Tara mau. Soalnya Tara tidak ada yang dekat dengan pegawai yang di sini, jadi mau mau menumpang tidur"


" Ya sudah, Sean juga pasti senang kamu di sini. Kalau mau istirahat bisa cari tempat di mana saja, maklum lagi rame gini"


" Iya kak, terimakasih"


Malam harinya Tara duduk di depan bersama rombongan bapak-bapak, setelah seharian bermain dengan Sean. Anak itu begitu senang mendapati Tara akan tidur di sana. Sejak siang menempel, bahkan makan pun Sean ingin Tara yang menyuapinya. Tapi karena sudah malam Sean tidur dengan bundanya, dia sudah mau tidur dengan Aulia yang sudah mulai memperhatikannya.


" Assalamualaikum yah"


" Waalaikumsalam sayang"


Sudah dua malam sejak Dzaky pulang, dia selalu menghubungi nomor Aulia untuk melepas rindu dengan Sean. Sebenarnya Dzaky ingin berbicara dengan Aulia, tapi Aulia tidak ingin berbicara dengannya.


" Abang lagi ngapain?"


" Lagi mau tidur yah"


" Bunda sudah tidur bang?"


" Sudah yah" Sean melihat kearah bundanya yang sudah memejamkan mata, padahal Aulia hanya pura-pura tidur.


Dia belum mau berbicara dengan Dzaky, di tambah Aulia sudah mendengar perkataan Tara tadi siang. Membuatnya merasa kecewa terhadap sikap Dzaky yang menceritakan masalah rumah tangga mereka kepada orang lain.


" Adik bayi sama bunda baik-baik saja bang?".


" Iya, dedek bayi senang di dalam perut bunda. Dedek Bayi tendang-tendang perut bunda" Sean dengan semangat menceritakan kegiatan yang tadi dilakukannya sebelum bundanya itu tidur.


" Alhamdulillah, berarti dedek bayi sehat. Abang hari ini ngapain aja?"


" Ayah!" Ucap Sean sedikit berteriak " Ada papa tidur di sini"


" Papa?"


" Iya....papa Tara yah..."


Mata Dzaky langsung membola, kenapa si brengse* itu sudah ada di sana? jangan-jangan! Dzaky mengingat perkataan Bagas, yang mengatakan Tara tidak masuk. itu berarti sejak pagi dia berangkat ke sana? Brengse*.


" Yah?" Sean memanggil Dzaky yang tidak bersuara, tenggelam dalam pikirannya.


" Ya, ya bang? Sejak kapan papa di sana nak?"


" Tadi siang papa sampai"


" Sudah"


Beraninya mereka bertemu di rumah ibu, apalagi sampai menginap. Pasti mereka bersekongkol bertemu di saat aku tidak ada. Geram Dzaky sambil memukul kepala tempat tidur.


" Yah... Abang ngantuk, Abang tidur dulu ya?"


" Ya bang tidur yang nyenyak, jangan lupa baca doa. Ayah sayang Abang. muuach"


" Muach"


Dzaky tidak bisa tidur, memikirkan istrinya pasti bertemu dengan laki-laki yang menjadi sumber masalah dalam rumah tangganya.


Rasanya besok Dzaky ingin langsung ke tempat Aulia, tapi itu tidak mungkin. Mengingat sudah berapa kali dia tidak masuk, dia tidak enak dengan rekan kerja yang lain. Apalagi dia sudah mengatakan akan izin saat tujuh hari mertuanya meninggal, sekaligus menjemput Aulia.


Di tempat Aulia, setelah sambungan telepon mati dan Sean sudah tertidur.


Aulia bangun, terduduk di tempat tidur. Memikirkan, apa yang Dzaky fikirkan setelah mendengar Tara berada di sini.


Mengelus perutnya yang bergelombang, bayi dalam perutnya protes karena sudah beberapa hari Aulia makan dengan porsi sedikit, melupakan anak yang juga berbagi makanan di dalam perutnya.


Berjalan pelan dengan kaki bengkak, sambil menyanggah pinggang karena beban perutnya yang sudah sangat besar, tinggal menunggu hari.


Aulia mengabaikan pesan- pesan Dokter Fatma yang mengatakan kalau Aulia harus segera pulang di rawat, untuk menstabilkan tensi darahnya yang tinggi sebelum terjadi kontraksi.


Sampai di dapur Aulia langsung membuka penutup makanan yang terbuat dari rotan dengan warna kesukaan ibunya, warna hijau.


Aulia melihat masih ada ayam goreng dan telur sambal yang bisa dia makan, Aulia makan dengan santai di saat orang-orang sudah tertidur lelap di jam selarut ini.


Terdengar suara maskulin dari laki-laki yang tidak ingin di lihatnya.


" Kamu masih sama, masih suka makan di malam hari?"


" Bukan urusan kakak" Tara tersenyum dan duduk di kursi meja makan tepat di samping Aulia.


" Kenapa di sini? sengaja menunggu ul keluar kamar?"


" Kakak ingin minum ul... terlalu banyak minum kopi bersama bapak-bapak tadi membuat tenggorokan Kakak sakit dan tidak mengantuk, kakak ke sini cuma mau minum air hangat" Tara melihat apa yang Aulia makan. " Jangan terlalu banyak makan sambal, tidak baik untuk bayimu. Koq tidak ada sayurnya ul?" ucap Tara dengan lembut.


" Huft... kenapa jadi cerewet sekali? ini anak ul! kakak juga tidak punya hak mengatur ul" Ul mengunyah dengan cepat, tidak ingin berlama-lama duduk di samping laki-laki yang menjadi biang masalah dalam rumahtangganya.


" Memang kakak tidak punya hak ul, tapi ini perhatian untuk sesama manusia" masih dengan kelembutan Tara berbicara.


Aulia yang semakin kesal, mempercepat makannya sampai ia tersedak. Hidungnya terasa panas karena sambal masuk ke hidungnya, sangking terlalu lama tersedak membuat perut Aulia kram.


" Ya Allah...." Ucap Aulia sambil memegang perutnya.


" Kenapa ul?" Tanya Tara melihat kesakitan di wajah Aulia.


" Perut ul sakit kak.... Bisa minta tolong ambilkan obat ul di kamar di laci sebelah tempat tidur.


Tara bergegas masuk ke kamar Aulia dan mencari obat di tempat yang tadi Aulia katakan, saat hendak keluar Tara mendengar hp Aulia berdering. Tara mendekati hp yang berada di atas meja tempat tadi Tara mengambil obat dan melihat siapa orang yang menghubungi Aulia selarut ini.


Hp itu sekarang berada di tangan Tara dan dengan lancangnya Tara menggeser tombol hijau


" Hallo assalamualaikum?"


" Hallo assalamualaikum?"


" kamu di sana? maaf aku membangunkan mu, aku......"


" Ada apa?"


Orang di seberang kaget, dia sangat mengenal siapa orang yang mengangkat panggilan handphone milik istrinya.


like


like


like


like