Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 84


Perjalanan yang terasa cepat, apabila di lalui dengan santai dan senang. Tapi terasa sangat lama jika di lalui dengan khawatir dan hanya memikirkan cara agar tiba secepatnya.


" Bunda masih tahan?" lagi-lagi Aulia hanya mengangguk.


25 menit di perjalanan, mereka terjebak macet, Dzaky semakin panik.


" Ayah turun dulu, kenapa bisa macet sic! Bunda sabar ya?"


" Ya" Jawab Aulia, saat rasa sakitnya hilang.


Dzaky mendekati kerumunan, dan ada beberapa polisi di sana.


" Pak, ini kenapa macet ya?" Tanya Dzaky pada salah satu polisi yang terlihat mencoba membubarkan kerumunan.


" Ada kecelakaan mobil di depan pak" Jawab polisi. " Sebaiknya bapak kembali ke kendaraan bapak"


Dzaky meremas rambutnya, macet ini terlihat tidak akan akan cepat terurai, karena antusiasme masyarakat yang ingin melihat korban kecelakaan yang di duga tewas di tempat.


" Pak, tolong saya pak! istri saya akan melahirkan, Tolong beri saya jalan"


Terlihat polisi itu menemui temannya, entah apa yang di bicarakannya.


Ada 4 orang polisi mendekati Dzaky.


" Dimana mobil bapak?" Tanya salah satu polisi.


" Itu" Tunjuk Dzaky mobilnya yang tidak jauh dari tempatnya, tapi terhalang oleh orang-orang.


" Baiklah kami akan membantu bapak untuk keluar dari kemacetan"


" Terimakasih, terimakasih banyak pak" ucap Dzaky tersenyum sambil berlari menuju mobilnya.


" Ba...gai...mana yah?"


" Sabar ya nda, polisi lagi bantu kita keluar Ada kecelakaan mobil di depan"


" Alhamdulillah" Ucap Dzaky, Saat mereka bisa keluar dengan mudah dari kemacetan atas bantuan beberapa polisi.


Dzaky memacu cepat mobilnya, saat melihat wajah istrinya yang pucat menahan sakit.


Sementara Sean, tidak terganggu sedikit pun dengan apapun yang terjadi sepanjang perjalanan.


" Yah, ber hen ti" Ucap Aulia terbata


" Hah!"


" Berhenti cepat!" Teriak Aulia.


" Kenapa? 20 menitan lagi, ayah usahakan kita sampai nda"


" Berhenti!" Dzaky segera menepi.


" Kenapa nda?" Tanya Dzaky semakin panik.


" Bunda sudah tidak kuat yah"


" Bunda harus kuat! ayah bisa bantu apa?" Tanya Dzaky yang mulai berkaca-kaca.


" Bantu bunda melepaskan diapers ini!" Ucap Aulia sambil tubuhnya setengah berdiri melepaskan diapers yang tadi digunakan untuk menahan air ketuban yang kata Aulia hanya merembes.


Dzaky keluar dan membuka pintu mobil Aulia, Dzaky juga melihat sekitar yang terlihat jarang di lalui kendaraan karena masuk Maghrib.


Dzaky mengatur posisi tempat duduk Aulia.


" Diapersnya penuh kayak gini! ini bukan lagi rembes nda, tapi pecah" Ucap Dzaky mengangkat diapers yang terasa berat, ada air ketuban bercampur lumayan banyak darah.


Aulia terlihat mengatur nafas dan menhan sakit. Aulia rebahan di jok mobil dengan kaki terangkat di atas dashboard mobil.


" Bunda nggak kuat lagi yah" Ucap Aulia terengah-engah.


" Jadi ayah harus apa?" Dzaky makin panik.


" Bantu Bunda, sepertinya adek bayi sudah mau keluar"


" Ayah nggak bisa nda, ayah takut terjadi apa-apa dengan kalian" Dzaky mengelap keringat istrinya. " Ayah akan lebih cepat bawa mobil, bunda tahan sebentar lagi"


" Ini, aaaaarrrgggggghhhh" Teriak Aulia.


" Bunda ...." Dzaky menangis, tidak tau bagaimana harus menolong.


Dzaky mengintip di balik daster istrinya, tidak ada air ketuban yang keluar lagi.


" Bunda takut adek keracunan air ketuban" Ucap Aulia tangannya menegang menahan sakit, Aulia menahan sakit sampai menggigit bibirnya.


Dzaky melihat baju Sean di atas dashboard, langsung meminta istrinya untuk menggigit baju Sean, agar Aulia tidak menggigit bibirnya.


" Emmmmmmppp" Aulia mengejan.


Dzaky akhirnya membantu istrinya untuk menghadirkan anaknya kedunia, walaupun setengah gemetaran.


Dzaky membuka lebar kaki istrinya, menyikap daster yang menghalangi pandangannya.


" Emmmmmmppp, hu hu hu"


" Ayo nda!"


" Emmmmppppp Aaaraggghhggg"


" Rambutnya sudah kelihatan nda..." Aulia sudah menyamping, seperti akan kejang.


" Nda ayo" Dzaky memberi semangat, sesekali mencium paha istrinya.


" Aaarrhhgggghhhh ha ha ha" Dzaky sangat takut, mimpi buruk yang di alaminya seakan berputar di atas kepalanya.


Akhirnya kepala bayi keluar bersama dengan darah segar.


Apa ini pendarahan pikir Dzaky, keringatnya keluar sama banyak dengan istrinya.


" Ayah coba tari pelan kepala adek" Ucap Aulia masih dengan nafas pendek-pendek.


Walaupun ragu, Dzaky memberanikan diri. Mengikuti kepala bayi yang berputar, Dzaky menarik perlahan kepala anaknya. Dan sedetik kemudian seluruh tubuh bayi yang sedikit membiru keluar bersamaan dengan darah segar.


Aulia menerima bayi yang di sodorkan suaminya Masih dengan tali pusar yang terhubung dengan inti Aulia. Bayi itu tidak menangis, Aulia menepuk-nepuk pelan dan membalikkan bayinya.


Dzaky pun ikut menangis.


" Ayo dek" Dzaky mengelus tubuh bayi yang masih berlumur lendir dan darah itu.


" Alhamdulillah" ucap mereka saat bayi itu menangis.


" Yah, tolong ambilkan bedong di koper"


Dzaky membuka koper dan betapa sedihnya Dzaky saat melihat perlengkapan bayi itu, hampir semua bekas Sean. Mereka memang belum belanja perlengkapan bayi, beberapa barang yang terlihat baru, merupakan hasil Aulia membeli online.


Dzaky segera membalut bedong ketubuh bayi merah itu, dan setelah terbungkus layak, Dzaky segera memacu mobilnya cepat menuju rumah sakit.


Di sisa perjalanan, Dzaky sesekali melirik istrinya yang matanya terlihat meredup.


" Bun! bunda?" Aulia mulai tak merespon, tapi bayi mereka meringkuk nyaman dalam gendongan istrinya.


" Bunda....." Dzaky mulai panik saat melihat mata Aulia yang perlahan menutup.


" Bunda, bunda harus kuat ini sudah mau sampai" Sebelah tangan Dzaky sudah menahan tangan Aulia yang masih memeluk bayinya, takut dekapan Aulia terlepas dan menjatuhkan bayi mereka.


Sesaat kemudian mata Dzaky terpaku, saat melihat darah mengalir deras di paha istrinya. Dzaky hampir menabrak palang pintu rumah sakit, kalau tidak cepat sadar dari rasa khawatirnya melihat darah yang mengalir dari jalan lahir bayinya tadi.


Di depan loby yang dekat pintu yang bertuliskan UGD, Dzaky memberhentikan mobilnya. Meminta perawat yang berjaga membawakan brankar dorong, dengan segera memindahkan istrinya yang terlihat sudah tidak sadarkan diri.


" Cepat sus, istri saya melahirkan di perjalanan ke rumah sakit" Jelas Dzaky.


Beberapa suster mendorong brankar masuk dalam ruang UGD, Sean sudah bangun karena terkejut mendengar suara ramai-ramai.


" Dimana yah?" Tanya Sean sambil mengucek matanya.


" Rumah sakit, adek sudah lahir, ayo!"


Sean turun dari mobil, mengikuti Dzaky yang berjalan menyeret koper perlengkapan bayi mereka. Sementara kunci mobil ia serahkan pada security yang bertugas.


Dzaky duduk di kursi di depan UGD, tempat istrinya masuk.


" Bang tunggu sebentar ya? ayah mau mencuci tangan"


" Darah apa itu yah?" Sean melihat tangan ayahnya penuh darah.


" Darah bunda, tunggu sebentar" Sean hanya mengangguk, dia belum sadar sepenuhnya.


Selesai mencuci tangan Dzaky kembali ke tempat tadi di mana Sean Duduk.


" Tadi suster ambil koper yah, katanya adek bayi mau baju"


" Iya nggak apa-apa" Dzaky memeluk kepala Sean, untuk menghilangkan rasa khawatirnya.


Tak berapa lama suster yang sering berjaga di ruang praktek dokter Fatma keluar.


" Sus" Panggil Dzaky.


" Ya?"


" Dokter Fatma sudah di dalam?"


" Iya, eh Sean...adik Sean cantik sekali"


" Suster mau kemana?"


" Kembali ke ruang praktek bunda"


" Emmm....bisa tolong jaga Sean? kalau suster tidak sibuk?".


" Boleh, saya hanya bertugas menjaga tempat praktek jika sedang di tinggalkan bunda saat sedang menangani pasiennya"


" Terimakasih sus"


" Ayah...." Rengek Sean, sebenarnya tidak ingin ikut"


" Bunda lagi butuh ayah, Abang sama suster dulu ya? Mau lihat adek kan?"


" Iya" Jawab Sean lesu.


" Ini sus, kalau Sean rewel, minta tolong belikan apa saja supaya Sean tidak rewel" Dzaky menyerahkan uang merah dua lembar kepada suster yang mau menjaga Sean.


" Suami pasien yang tadi melahirkan di perjalanan" Panggil suster yang tadi membantu mendorong brankar Aulia.


" Saya sus, Abang ikut suster ini ya?" Tanpa menunggu jawaban Sean, Dzaky segera masuk ke dalam.


" Pak, bayinya bisa Bapak adzankan" Dzaky dengan air mata haru mengumandangkan adzan dan Iqamah di telinga bayinya dengan suara bergetar.


" Istri saya sus?" Tanya Dzaky setelah mengadzani bayinya.


" Tunggu sebentar pak, masih di tangani bunda"


" Semoga bunda baik-baik saja ya dek" Ucap Dzaky berderai air mata, bayangan mimpi buruk lagi-lagi melintas di kepalanya.


Tidak lama, suster yang tadi memanggilnya masuk dan meminta Dzaky mengikutinya.


" Pak Dzaky" Panggil Dokter Fatma saat Dzaky memasuki ruangan istrinya.


" Ya Dok?"


" Saya sudah berulang kali mengirim pesan ke Aulia untuk kontrol sebelum terjadinya kontraksi, tapi Aulia memang keras kepala"


" Saya juga sudah beberapa kali mengajaknya kontrol, tapi alasannya mau nunggu kontraksi. Itu Dokter yang bilang katanya" Dokter Fatma menggeleng.


" Dia mengalami preeklampsia, kelahiran normal dapat membayangkan nyawanya. Tapi Aulia beruntung, Allah masih memberikannya kesempatan untuk mengurus bayinya. Dia mengalami pendarahan, tapi masih bisa kita tangani. Saya akan kembali, sebelum pulang. Kalau kondisinya terus stabil seperti ini, Aulia bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Bayi kalian sangat cantik, selamat" Dokter Fatma menepuk bahu Dzaky sebelum melangkah keluar.


Dzaky mendekati ranjang Aulia, Aulia masih menggunakan oksigen dan tertancap selang yang mengaliri darah kedalam tubuhnya.


like


like


like


kalau lumayan banyak likenya, author bakal up satu bab lagi😁.