Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 47


Hari demi hari telah terlewati dengan begitu cepat, hari ini Aulia mendapat kabar kalau Sinta telah melahirkan nmaun Aulia akan menjenguknya ketika mereka sudah pulang dari rumah sakit.


" Yah, Sinta sudah melahirkan anaknya cewe, sudah dapat sepasang senangnya." Kata Aulia kepada Dzaky saat berada dihalaman belakang.


" Ia nda, tadi malam Bagas juga SMS ayah. Jam lahirnya hampir sama kayak Sean nda, kalau Sean jam 3 subuh anaknya Bagas jam 4 subuh."


" Iya yah? si Baim di ikut ke Rumah sakit yah?"


" Iya nda, dia mana mau pisah sama sinta."


" Besok katanya sudah bisa pulang yah, kita menjenguknya kalau sudah di rumah aja."


" Iya nda, ayah mau siap-siap dulu. Sean belum bangun nda?"


" Belum yah, kayaknya dia tadi malam bangun terus main sendiri."


" Ayah mau lihat dia dulu."


Di kamar Sean terlihat dia masih tidur dengan nyenyaknya. Dzaky menghampiri anaknya diciuminya wajah anaknya, sampai anaknya merasa terganggu.


" Sudah yah, adek masih ngantuk...." kata Sean dengan mata yang masih terpejam.


" Bangun sudah siang dek."


" Masih ngantuk yah..." kata Sean lagi dengan suara orang yang masih mengantuk.


" Bangun mandi bareng ayah."


" Nggak mau dingin."


Aulia melihat kelakuan ayah dan anak itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Dzaky sangat suka mengganggu Sean saat dia masih tidur.


" Sudah yah jangan di paksa kalau anaknya masih ngantuk. Sana ayah siap-siap berangkat kerja."


" Sana yah kerja cari duit." kata Sean lagi.


" Adek ya...." Dzaky pun langsung menggelitik anaknya.


" Ayah ampun geli....haa geli...." kata Sean kegelian ulah ayahnya


" Makanya bangun. Kita mandi, bunda masak ayam krispi kesukaan adek."


" Benar bunda?" tanya Sean memastikan kalau yang dikatakan ayahnya itu tidak bohong yang hanya ingin membuat dirinya bangun.


" Iya sayang. Makanya adek bangun." Dengan semangat Sean bangun dan mengajak ayahnya mandi.


Ayah dan anak itu bermain air sebelum mandi, membuat kegiatan mandi mereka semakin lama.


Dzaky bersiap menggunakan pakaian kerjanya sementara Aulia memakaikan pakaian Sean.


" Mandinya koq lama sekali? nanti masuk angin dek. Besok nggak boleh mandinya terlalu lama."


" Ayah itu nda, ngajak adek main air."


" Adek duluan koq ayah?" Kata Dzaky sambil tersenyum menggoda, karena memang dia yang mengajak Sean bermain air terlebih dahulu.


" Ayah duluan yang siram adek." Kata Sean cemberut


" Iya iya..ayah duluan ayo kita sarapan jagoan ayah." Dzaky langsung menggendong Sean menuju meja makan.


" Wah enak nda."


" Pinter nya anak ayah kalau memuji, belum di makan sudah bilang enak."


" Masakan bunda mana pernah nggak enak ayah."


" Iya adek betul, ayah setuju"


" Sudah-sudah cepat makan, ayah ini sudah jam 7 lewat."


" Ia ayah, cepat makan dan pergi kerja, cari uang yang banyak. Adek mau beli mainan."


" Iya pangeran."


Aulia hanya tersenyum menanggapi obrolan kedua pria tampan yang disayanginya. Setiap pagi mereka akan selalu seperti ini. Tapi inilah yang membuat Aulia semangat.


" Oh ya, kak Baim sudah punya adik dek."


" Ayo nda kita lihat dedek bayinya?"


" Iya nanti kalau dedek bayinya sudah pulang kerumah sekarang dedek bayi masih di rumah sakit."


" Ayo kita kerumah sakit aja?"


" Rumah sakit nggak baik buat anak-anak sayang."


" Adiknya cantik apa ganteng nda?"


" Cantik." Jawab Dzaky


" Adek juga mau nda adik bayi cantik..." berkata lesu.


" Adek mau dedek bayi?"


" Iya, ada yah?" kata Sean semangat.


" Kita minta dulu sama Allah."


" Ya...lama."


" Sabar. Kak Baim aja nunggu adek bayinya lama, mamanya harus hamil dulu." Dzaky menjelaskan.


" Bunda, cepet hamil juga supaya adek punya dedek bayi kayak kak Baim."


" Iya nanti sayang, sekarang habiskan dulu makanannya."


Setelah selesai sarapan, Aulia mengantar Dzaky kedepan bersama Sean.


" Ayah berangkat dulu." sambil memberikan tangannya untuk anak dan istrinya cium. " Nda itu kode dari adek."


" Maksud ayah?"


" Sean minta adek, kita harus lebih rajin membuatnya."


" Ayah ini, sana kerja" Aulia mendorong tubuh suaminya.


" Nanti malam ya?."


" Sana...."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Nda, memangnya adek dibuat?" tanya Sean.


" Nggak, minta sama Allah maksudnya ayah tadi."


" O..." mereka pun kembali kedalam rumah.


" Gara-gara ayah ini bicara sembarangan depan anak kecil."


ucap Aulia dalam hati.


**


Rumah Sinta tak terlalu jauh dari rumah Amira masih dalam satu kompleks perumahan dinas perusahaan. Tadinya Bagas meminta Dzaky untuk pindah ke salah satu rumah dinas yang kosong tapi Dzaky menolak dengan alasan mereka sudah nyaman dengan rumah yang mereka kontrak di tambah masyarakatnya juga baik-baik.


Di rumah Sinta, Sean langsung mendekati bayi yang sedang Bagas gendong.


" wah cantiknya dedek bayinya om?"


" Iya dong, anak siapa dulu..." kata Bagas sombong


" Memangnya anak siapa om?" Kata Sean bingung, dan membuat seisi ruangan tertawa.


" ya anaknya om Sean....." ucap Bagas gemes.


" O...."


" Selamat ya gas, sudah dapat anak sepasang." ucap Dzaky.


" Iya Dzak. Terimakasih."


" Selamat Gas." kata Tara.


" Terimakasih pak." Bagas tidak bisa memanggil Tara hanya dengan nama karena Tara pimpinan mereka beda dengan Dzaky yang sudah lama mengenal Tara sehingga tidak ada rasa Canggung diantara mereka.


" Bagaimana sin, sudah baikan?" Tanya Amira.


" Alhamdulillah mba, sudah mulai bisa jalan sendiri." kata Sinta


" Gimana beda nggak anak cewe sama anak cowo?" Tanya Aulia penasaran.


" Kalau menurut aku lebih mudah anak cewek Lia. lebih cepat, sakitnya jam 1 malam jam 4 sudah keluar sementara Baim lama."


" Mungkin karena anak kedua" kata Aulia.


" Iya mungkin."


" Menurut gue sama aja, sama-sama sakit kan ma?" tanya Bagas.


" Sakit itu nggak bisa di hindari pa, sudah hukum alam perempuan melahirkan itu sakit." jawab Sinta.


" Kalau gue cukup sudah 1 pasang aja, nggak kuat nemenin istri melahirkan di tambah lihat Baim kayak anak terlantar, tidur di sofa, kayak anak tak terurus. Repot kalau sudah punya anak kalau dulu cuma ngurusin istri doang, ini juga harus ngurusin anak. Kamu dzak kalau mau nambah segerakan."


" Ini Baim dimana gas?" tanya Tara menghindari obrolan soal anak.


" Tidur dikamar pak, Baim sangat pengertian dia ikut begadang nemenin adiknya."


" Oh.....sudah langsung dewasa dia."


" Ia Alhamdulillah."


Banyak yang mereka obrolkan sampai mengganggu Sean yang hanya menunggui bayi kecil itu tidur.


" itu Sean dari tadi nggak pindah-pindah Dzak." kata Bagas.


" Dari pertama mendengar kalau Baim punya adik, Sean juga sibuk minta adik Gas."


" Kode itu Dzak. Ayo Aulia.."


" Ayo apa mas bagas?" tanya Aulia pura-pura tidak tahu.


" Tanya Dzaky." dan mereka tertawa.


Tara dan Amira pamit pulang duluan, ada yang harus mereka kerjakan untuk kegiatan besok. Mereka hanya berjalan kaki menuju pulang karena tidak jauh.


" Maaf kak" kata Amira


" Maaf untuk?"


" Aku nggak bisa kasih kakak anak."


" Sudah kita berjanji untuk tidak mempermasalahkan itu lagi." Tara merangkul istrinya mesra sepanjang perjalanan pulang.


Di tempat Sinta dimana Dzak dan Aulia belum pulang.


" Aku jadi nggak enak sama mba Amira, Lia."


" Iya."


" Kita nggak bermaksud menyakiti ataupun menyindir." Kata Dzaky.


" Iya memang suasananya kan lagi tentang adek bayi." Bagas menyambung.


" Sudahlah, ngomong-ngomong siapa nama bayi cantik ini?" Aulia langsung mengambil bayi itu dari tangan Bagas.


" Namanya Adzkia Izza Saufa. Panggilannya KIA." kata Bagas.


" Bagus namanya."


" Ayo nda kita bawa pulang." kata Sean.


" Sean termasuk anaknya cepat ngomong ya ky?."


" Alhamdulillah Gas, dia 1 tahun sudah lancar ngomongnya."


" Iya kalau Baim dulu 3 tahun masih cedal."


" Ayooo nda." Sean merengek merasa perkataannya diabaikan.


" Ayo apa?"


" Bawa pulang dedek bayinya..."


" Nggak boleh!" terdengar sahutan, yang ternyata dari suara Baim.


" Bunda......" Sean masih merengek.


" Nggak boleh Sean...ini adik kak Baim." kata Baim, yang baru bangun tidur langsung meminta mamanya mengambil adiknya dari gendongan Aulia.


" Iya nggak."


" Bunda....hixs hixs" Sean mulai menangis.


" Kami pulang dulu ya sin." Aulia yang tidak enak karena tangisan Sean bayi Sinta ikut menangis.


" lho koq buru-buru?." tanya sinta


" Ganggu kita tangisan Sean."


" Namanya juga anak-anak."


Sean yang meronta-ronta dalam gendongan Aulia langsung di ambil alih Dzaky yang kasian melihat istrinya menahan anaknya.


" Assalamualaikum." kata Aulia sambil menyerahkan kado yang belum sempat mereka berikan.


" Waalaikumsalam. Terimakasih hadianya kak Sean." kata Sinta


" Bro langsung ngadon kabulin maunya Sean." Teriak Bagas.


" Papa ini."


" Becanda ma..."


like like