
Entah kenapa, hari ini perasaan Dzaky tidak enak, dia yang pergi bekerja tanpa melihat istrinya.
" Lo kenapa sic Dzak? gue lihat gelisah?"
" Nggak ada!" Jawab Dzaky sambil mengangkat bahunya, matanya tetap fokus pada benda lipat yang menampilkan angka-angka.
" Cerita Dzak, kalau ada apa-apa, Lo, gue lihat sering mendem semua sendiri"
" Ngga ada...sana. Tuc, banyak karyawan yang ngeliat kita" tunjuk Dzaky dengan dagunya beberapa karyawan yang terlihat melirik tak suka ke arah mereka.
" Heran gue, cuma ngobrol bentar aja mata mereka sinis gitu" Bisik Bagas.
" Jam kerja ini gas!"
" Ya gue balik, saran gue ikutin filling Lo" Bagas pergi sambil melirik tidak suka ke arah karyawan yang tadi terlihat sinis, saat dirinya tengah berada di meja Dzaky.
Dzaky melamun, tentang perasaan yang tidak enak yang di rasakannya sejak bangun tidur. Mama telah di telponnya tadi pagi, untuk memastikan itu perasaan bukan dari sang mama. dan suara dering hpnya menyadarkan Dzaky dari lamunannya.
Dzaky dapat melihat, itu nama Bunda sayang yang sudah lama tidak pernah muncul beberapa Minggu di layar hpnya.
Dzaky menggeser tombol hijau dan langsung menempelkannya ke telinga.
" Ayah......." Terdengar suara Sean menangis.
" Ya bang! ada apa?" Dzaky panik.
" Bunda yah....."
" Kenapa bunda bang?" Dzaky sudah berdiri bersiap untuk pulang.
" Bunda nggak mau bangun.... Abang takut" Cuaca mendung, dan beberapa petir terdengar bersuara membuat Sean takut.
" Ayah pulang, Abang sabar!"
" Ayah.....Abang takut...." Sean sudah sesenggukan menangis.
" Abang kan, sudah mau jadi abang-abang! Abang harus tenang jangan nangis! Ayah sebentar lagi sampai" Dzaky mencoba menenangkan putranya, Dzaky membawa mobil dengan kecepatan melewati yang di anjurkan, beruntung jalan sepi dan tidak terlihat ada polisi yang biasa berlalu lalang menertibkan kendaraan yang melanggar peraturan lalulintas.
Dzaky memarkirkan mobil di depan, tidak masuk ke halaman karena gerbang tertutup.
" Bang..... bang....!" Teriak Dzaky begitu membuka pintu.
Dzaky langsung menuju kamarnya, terlihat suasana masih sama seperti tadi saat di tinggalkannya. Gorden masih tertutup, lampu masih mati hanya cahaya yang menembus gorden yang membuat kamar tidak terlalu gelap.
" Bang!"
" Ayah...." Sean berlari turun dari tempat tidur bundanya.
Dzaky langsung menggendong Sean dan membuka gorden, matanya tertuju pada Aulia istrinya yang terlihat tertidur.
" Nda.....Bunda....." Panggil Dzaky pelan sambil menggoyangkan lengan istrinya.
" Nda......" Dzaky mulai terlihat panik.
" Bunda....." Dzaky mengambil minyak angin yang biasa Aulia hirup untuk mencegah mual.
" Bunda......ayo bangun! jangan buat Sean sedih" Dzaky mulai menyadari perasaannya yang tidak enak sejak pagi, Dzaky menyesal tidak melihat keadaan istrinya sebelum berangkat kerja.
Bersyukur Aulia terlihat mengerjap- ngerjapkan matanya.
" Alhamdulillah, bunda?"
" Hemmm" Jawab Aulia sambil berusaha duduk, Dzaky dengan cepat membantu Aulia untuk duduk.
" Bunda kenapa?"
" Kepala bunda sedikit pusing, mual dan juga lemas" Sean langsung memeluk bundanya.
" Maaf bang, bunda buat Abang nangis" Aulia mengelus punggung Sean yang terlihat menangis.
" Abang takut, bunda nggak bangun. Abang takut suara petir" Dzaky ikut mengelus kepala Sean.
" Nggak apa-apa, bunda terlalu nyenyak tidur, jadi nggak tau kalau Abang bangunin bunda"
" Abang ngantuk Abang boleh bobo sini?"
" Iya boleh"
" Tapi boboknya di samping, kasihan dedek bayinya kejepit, kalau Abang bobok sambil peluk bunda" Dzaky menjelaskan, karena posisi Sean sekarang tepat menekan perut Aulia.
Sean langsung kesamping dan tidak lama dia sudah tertidur, karena kelamaan menangis membuatnya mengantuk lelah.
" Kamu kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang" Ucap Dzaky hendak berdiri, tapi tangannya di tahan oleh Aulia.
" Nanti bahaya! kamu tinggal nunggu hari ul! aku jadi nggak tenang ninggalin kamu"
" Pikiranku sudah macem-macem, Sudah makan?" Aulia menggeleng.
" Maafkan aku, aku seperti suami yang jahat mengabaikan istrinya"
" Ayah nggak salah, semua suami yang menyayangi istrinya akan marah kalau melihat kejadian kemarin"
" Sudah, aku ambilkan nasi" Dzaky berlalu pergi.
Aulia pingsan memang karena lemas dan tidak bisa berdiri karena pinggangnya pegal dan bobot perutnya.
Tak berapa lama Dzaky kembali dengan sepiring nasi dan segelas air putih.
" Ayo aku suapin, maaf aku cuma goreng telur"
" Apa yang kamu rasakan ul?" Tanya Dzaky sambil terus menyuapi Aulia makan.
" Biasa, pegal pinggangnya yah. Ayah nggak usah khawatir, semua ibu hamil mengalami ini saat trimester ke tiga"
Huft " Aku rasa, hamil kali ini kamu berbeda. Kaki bengkak dan perut kamu......"
" Sudah, ini biasa kata bunda Fatma"
" Yasudah, kalau Dokter Fatma yang bilang biasa aku percaya"
Aulia menghabiskan sepiring nasi dan Dzaky membawa piring ke dapur, kembali dengan segelas susu hangat.
" Ini di minum, aku lihat susunya masih banyak. Kamu jarang minum susu?"
" Sudah kenyang yah, nanti malah muntah. Bunda lagi nggak mau minum susu"
" Sedikit aja"
Akhirnya Aulia mengambil gelas susu dari tangan Dzaky, terdiam sesaat karena memang dia mual kalau minum susu. Dengan perlahan susu di dalam gelas berpindah ke dalam perut Aulia. Namun gelas susu belum berpindah dari tangan Aulia, Aulia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya, termasuk makanan yang baru saja masuk. Baju Aulia penuh dengan cairan muntahan.
" Maaf....." Saat Dzaky membersihkan kotoran di tubuh Aulia dan membuka daster Aulia dengan niat ingin menggantinya tapi pikiran Dzaky malah sudah traveling melihat tub** yang hanya berbalut dala**n.
" Bunda yang harusnya minta maaf, Bunda selalu nyusahin ayah" Ucap Aulia dengan wajah sendu.
Perlahan Dzaky memegang wajah Aulia dan mengelap mulut Aulia dengan perlahan.
Sebuah hasrat yang sudah beberapa bulan terpendam muncul, Dzaky mulai mendekati bib**nya dengan bibi* istrinya.
Dzaky melum** bib*r Aulia dengan raku*, Aulia menahannya.
" Bau muntahan yah" Dzaky menggeleng dan melanjutkan ******* bibir Aulia. Sejurus kemudian pandangan Dzaky tertuju pada Sean, Dzaky segera memindahkan Sean ke kamarnya dengan segera.
Jujur, Sebenarnya Aulia tidak bisa melayani Dzaky karena kondisinya. Tapi Aulia tidak mungkin menolak, Dzaky sudah lama berpuasa karena banyak hal.
Dzaky kembali dengan kemeja yang sudah terbuka dan langsung menutup pintu.
Dzaky menarik tengkuk Aulia mel**atnya kasar, Aulia hanya bisa mengikuti semua yang suaminya lakukan.
Puas mel*mat bi*ir Aulia sampai bengkak, Dzaky menyusuri leher hingga bagian da**. Dengan perlahan tapi pasti, Dzaky menyelipkan tangannya kebelakang dan membuka pengait yang menampung benda ke*yal yang porsinya sangat penuh.
Dzaky menye***, mengu*** benda itu. Aulia yang sudah lama tidak merasakannya ikut terbuai, sedikit-sedikit mengeluarkan desah** dari mulutnya.
Aulia mencengkram kepala ranjang dengan satu tangannya lagi meremas rambut Dzaky.
Dzaky membuka semua pakaiannya dan membantu Aulia membuka kain yang tertinggal di selip** pa**kal pa*anya.
" Aku boleh?" Tanya Dzaky dan Aulia mengangguk cepat, tanda menyetujui apapun yang akan suaminya lakukan.
Dzaky memposisikan Aulia senyaman mungkin dengan perut besarnya, Dzaky benar-benar melihat Aulia sangat seksi.
Beberapa kali Dzaky mengelus perut besar Aulia dan merasakan sapaan dari anaknya.
" Ayah jenguk ya dek!" Pamit Dzaky.
Dzaky berada di tengah tubuh Aulia, Aulia masih bersandar di kepala ranjang.
Dzaky membuat posisi Aulia senyaman mungkin, mereka melakukan kegiatan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Selesai menyalurkan hasratnya Dzaky menciumi perut besar istrinya, Aulia begitu terlihat kelelahan.
Dzaky membantu Aulia membersihkan diri dan menyiapkan makan siang, dengan lauk yang sama dengan yang tadi Aulia makan. Selanjutnya Dzaky membersihkan diri, karena akan pergi kekantor, walaupun sebentar lagi akan masuk jam makan siang. Dzaky bertanggung jawab atas pekerjaan yang tertunda karena main pulang sesuka hati.
Dzaky tersenyum seolah habis mendapatkan bonus tahunan yang banyak.
likenya readers.....semangatin author.