
" Bunda ...ayah nggak bisa tanpa bunda ....." tangis Dzaky makin kencang, malunya pergi bersama dengan rasa khawatirnya yang datang.
" Segera panggil bunda sus" Perintah Bu bidan.
Suster berlari, dia tahu keadaan pasien sedang tidak baik.
Bu bidan dan beberapa suster mencoba menangani situasi sampai Dokter Fatma tiba.
Bayi cantik berjenis kelamin perempuan dengan berat 3800gram dan panjang 50cm, bayi yang terlihat sangat mirip dengan Dzaky, kini bayi yang sudah terbungkus rapi itu berada dalam gendongan ayahnya.
Dzaky menangis haru, dan mendekatkannya ke arah istrinya yang terlihat pucat dan lemah.
" Dia mirip sekali dengan ayah, nda" Dzaky tersenyum haru.
" Dia seperti bidadari"
" Iya, adek mirip ayah" Aulia melihat bayinya, sementara bidan dan para suster masih sibuk pada bagian bawah Aulia.
" Ayah...bunda titip Sean dan......, adek belum punya nama yah?"
" Namanya Aurora Kylia Hasanah, ayah sudah lama memikirkannya" Ucap Dzaky sambil mengelus pipi gembul merah itu dan mengecup bibir Aulia.
" Bunda titip Sean dan Ara" Aulia menangis, menyadari bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
" Bunda ngomong apa? anak kita ini, ya harus kita besarkan bersama. Kita lupakan semua, Ara akan menjadi salah satu sumber kebahagiaan kita"
" Bun....nda....h....ek hek" Nafas Aulia tersengal.
" Bunda......." Tangis Dzaky bertambah kencang.
" Bunda minta maaf atas semua yang terjadi"
" Bunda istirahat, bunda pasti capek" Aulia menggeleng.
" Bunda bisa tidur sekarang"
" Bunda takut, kalau bunda menutup mata, bunda tidak bisa membukanya lagi"
" Ayah akan menjaga bunda, kalau sudah cukup istirahat ayah akan membangunkan bunda"
Suster menerobos masuk dengan nafas ngos-ngosan.
" Mba, bunda tidak bisa ke sini masih di ruang operasi, ada pasiennya yang urgen tidak bisa di tinggalkan. Bunda meminta Bu Aulia untuk transfusi darah. Sepertinya bunda sudah mengetahui bahwa Bu Aulia akan pendarahan, bunda juga memberikan catatan ini" Suster yang tadi diminta untuk memanggil Dokter Fatma kembali, langsung mendekati Bu bidan mengatakan semua yang Dokter Fatma katakan dan memberikannya secarik kertas.
*Mba... Aulia pasien saya, saya sedih tidak bisa mendampinginya. Karena pasien saya sekarang datang lebih dulu dan sangat urgen.
Saya tau kondisinya pasti kritis, bukan saya ingin mendahului Allah. tapi tensinya tinggi dan pasti akan terjadi pendarahan. walaupun mendapat transfusi darah, itu tidak akan membantu. Itu bukan hanya fisiknya yang lemah tapi mentalnya juga lemah.
Terimakasih telah membantu*.
Bu bidan melipat kembali kertas itu, dan memasukkannya kedalam kantong bajunya. Matanya telah berkaca-kaca, tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi apa-apa dengan pasien yang sedang di tanganinya.
Benar kata Dokter Fatma, transfusi tidak banyak membantu. Darah terus mengalir, bagai keran rusak. Semua tindakan telah di lakukan, kode yang hanya di pahami oleh tenaga medis membuat mereka memasang raut sedih.
Dzaky masih sibuk berbicara dengan Aulia dengan air mata masih mengalir.
" Bunda jangan begini......." Nafas Aulia tersengal-sengal.
Tenaga medis sudah berbaris dengan baju putih.
Wajah Aulia semakin pucat dengan darah yang sudah membasahi lantai.
Dzaky semakin panik dan berteriak kepada tenaga medis untuk membantu istrinya.
" Mba, sus, jangan diam saja! Lakukan tindakan" Dzaky berteriak sambil menggendong putrinya, kesana-kemari menggoyangkan lengan Bu bidan dan suster satu persatu.
" Tolong istri saya......."
Sementara Aulia sudah, kejang diatas ranjang.
Dzaky langsung mendekati istrinya dan memeluknya.
" Bunda.....bunda..... Jangan seperti ini. Bunda harus kuat sayang...." Tangis Dzaky sambil menahan tubuh istrinya yang kejang.
" Bunda....bunda harus kuat......" Tubuh Aulia sudah melengkung dengan mata menghadap ke atas.
Dzaky bingung tenaga medis tidak ada yang bergerak, untuk membantu istrinya.
Dzaky meletakkan bayinya ke dalam box bayi, segera berlari mendekati istrinya yang seperti menahan sakit sampai tubuhnya beberapa kali melengkung, tidak ada kata yang terucap hanya darah yang terus mengalir memenuhi lantai ruangannya.
Dzaky mendekati area bawah Aulia, dapat dilihat darah yang mengalir deras. Dzaky mengambil kain dan coba menutup aliran darah yang terus keluar dari inti istrinya.
" Bunda.......bertahan" Dzaky sudah meraung seperti orang kesurupan. Semua kain yang ada di sana sudah digunakan Dzaky untuk menutupi bagian bawah istrinya. Akhirnya Dzaky melihat kaos yang di gunakannya sudah banyak noda darah, Dzaky melepaskannya dan meletakkannya di area bawah istrinya. Sudah penuh bertumpuk kain, tapi darah itu masih juga tidak mau berhenti.
Aulia terus kejang dan akhirnya berhenti dengan mesin yang mengeluarkan suara cepat.
tittittittitt
tittittittitt
dan tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit
Tubuh Aulia terhempas dengan wajah putih seputih kapas.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan, di tubuhnya.
Dzaky menggoyangkan kencang tubuh Aulia berharap istrinya kembali bernafas.
" Bunda......"
" Bunda bangun"
" Bukan seperti ini caranya"
" Bukan seperti ini caranya, kalau mau meninggalkan ayah. Ayah ikhlas kalau bunda mau pergi bersama Tara"
" Asal ayah masih bisa melihat bunda"
" Bunda......" Raung Dzaky.
" Bunda... bagaimana dengan anak-anak"
" Ayah tidak bisa merawat mereka seorang diri" Dzaky memeluk tubuh pucat kaku, sesekali membenamkan kepalanya pada leher istrinya.
" Bunda..........."
" Bunda..........."
" Ayah......."
" Ayah......bangun" Aulia mengguncang tubuh Dzaky, yang terlihat sedang mimpi buruk.
" Sudah Abang kembali tidur" Aulia menyelimuti Sean yang terlihat takut mendengar ayahnya berteriak dengan mata tertutup.
" Ayah bangun!" Akhirnya Aulia memercikan air yang berada dalam gelas di meja sebelah tempat tidur Sean.
Dzaky terbangun dengan keringat membasahi baju dan rambutnya.
" Bunda! Bunda masih hidup?" Dzaky langsung memeluk istrinya erat, sementara Sean terlihat bingung dengan memegang selimutnya.
" Jangan pernah tinggalkan ayah, ayah percaya bunda. Apapun yang terjadi, ayah percaya bunda. Cinta Harusnya membuat ayah percaya dan tidak meragukan bunda" Dzaky sesenggukan dalam pelukan istrinya.
" Ayah cengeng" Terdengar suara Sean.
Aulia dan Dzaky menatap Sean, Aulia tersenyum mendengar perkataan sean sementara Dzaky sesikit malu.
" Ayah kenapa?" Tanya Aulia mengelus lembut lengan suaminya.
" Ayah........ Ayo kita kerumah sakit! bunda harus kontrol sebelum terjadi kontraksi" Ajak Dzaky dengan wajah panik.
" Ayah ini kenapa? Bunda nggak sakit, lagian melahirkan harus ada kontraksi yah...."
" Pokoknya besok kita kerumah sakit. Bunda tidur sini, ayah mau tidur sama bunda" Aulia bahagia, kejadian tadi siang tidak membuat suaminya mengacuhkannya.
" Abang juga mau peluk bunda"
" Bunda nggak bisa tidur terlentang, nafas bunda sesak" Ucap Aulia saat Sean memintanya telentang.
" Bunda harus menghadap ayah"
" Hadap Abang!"
" Kok nggak mau ngalah sama anak sendiri, yah?"
" Bunda nggak tau, ayah barusan mimpi apa!"
" Mimpi apa?"
" Sudahlah ayah tidak mau menceritakannya, apalagi mengingatnya. Bunda tidur, harus banyak istirahat"
Aulia tidur menghadap Sean dan Dzaky terus mengelus perut Aulia.
" Dek, ayah harap adek lahirnya lancar. Jangan buat bunda susah dan menderita, ayah tidak mau kehilangan bunda. Ayah lebih memilih bunda pergi bersama pria lain di bandingkan bunda pergi untuk selamanya. Ayah akan sangat merindukan bunda" Dzaky berbicara dalam hatinya"
Dzaky tidak bisa membayangkan kalau, kejadian tadi benar-benar terjadi. Mungkin dia akan ikut pergi bersama Aulia.