Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 51


Malam harinya mereka bersama sedang menonton tv dengan siaran kartun kesukaan Sean, sebuah Chanel yang bertemakan anak-anak jadi seluruh siarannya hanya kartun tidak ada yang lain.


Selain menonton Sean juga sibuk mencorat coret di buku, dia sudah mulai pandai menulis angka dan huruf karena Aulia rajin mengajarkannya.


Saat sedang asyik belajar Aulia pamit hendak sholat, jadilah Sean bersama Tara dan Maura. Di sebuah acara yang Sean tonton ada seekor beruang besar dengan anak kecil.


" Om beruang itu siapanya?" tanya Sean


" Itu temannya, bisa juga papanya."


Sean terdiam " Emm beruang bisa jadi papanya?"


" Ia karena si beruang sayang sama dia."


" O... kalau sayang bisa jadi keluarga om?"


" Ia,"


" Bararti om bisa jadi papanya Sean dong dan Tante mama Sean, kan om sama Tante sayang Sean kita tinggal bersama." Tara dan Maura tersenyum, siapa yang tidak mau dianggap papa dan mama oleh anak sepintar dan seganteng Sean.


" Sean boleh panggil Tante mama dan om papa, bagaimana Sean mau?" jawab Amira semangat.


" Mau dong ma...." Amira pun langsung memeluk Sean bahagia.


Aulia keluar dari kamar setelah sholat.


" Bunda,"


" Ya?"


" Sean punya papa dan mama."


" ya punya sayang, bunda sama ayah."


" Bukan!" Aulia langsung berkerut dahi " ini papa dan mama Sean." Sean menunjuk Amira dan Tara.


" Nggak boleh gitu sayang."


" Nggak apa-apa Aulia, kami suka." Jawab Amira


" Tapi mba...Sean itu memang terkadang permintaannya macem-macem."


" Itu tandanya anak pintar, biarkan dia memanggil kami papa mama, atau kamu keberatan aulia?"


" Nggak mba..." Jawab Aulia cepat takut menyinggung perasaan Amira.


" Terimakasih Aulia." Maura langsung memeluk Aulia.


" Ma...Sean mau makan mie boleh?"


" Sean! nggak boleh nyuruh mama gitu." Sean langsung diam


" Nggak apa-apa, mama buatin."


Selama Amira memasak mie untuk Sean, Aulia dan Tara duduk lesehan diatas karpet berbulu untuk melihat tulisan Sean. Tara terus memandangi Aulia, dia begitu kagum kepada Aulia yang sedang mengajarkan Sean dengan lembut.


Dari arah pandang Amira terlihat Tara seperti sedang melihat Sean padahal bukan.


Sedang asyik dengan kesibukan mereka terdengar bunyi ketukan pintu depan, Aulia langsung melihat kearah jam yang tergantung di dinding.


" Siapa ya? yang jam segini bertamu?" Tanya Aulia, hendak berdiri melihat siapa orang itu yang datang saat jam sudah menunjukkan pukul 9.


" Biar aku yang buka ul."


" Iya Aulia biar kak Tara yang buka." sambung Amira.


Tara langsung menuju pintu depan dan membukanya dan ternyata tamu itu adalah Dzaky si pemilik rumah.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Jawab Tara kaget.


Sean yang mendengar suara ayahnya segera berlari dan melompat memeluk sang ayah yang sangat di rindukannya.


" Ayah........." Teriak Sean


" Sayang. Ayah ganti baju dulu, ayah kotor.


Tara melihat interaksi Antara anak Dan ayah itu ada rasa iri dalam hatinya kapan dia bisa merasakan dirindukan oleh seorang anak saat dia pergi bekerja dan akan di peluk hangat saat pulang fikir Tara.


" Tar." Dzaky mengagetkan Tara yang tengah bermain dengan fikirannya.


" Eh Dzak, kok sudah pulang? bukannya besok?"


" Iya sudah nggak sabar ketemu anak istri." Jawab Dzaky dengan senyum lebar. Dengan menggendong Sean Dzaky menghampiri Aulia dan memeluknya. Tara kembali iri, dia hanya bisa diam. Maura pun merasa heran melihat cara suaminya memandang interaksi keluarga Dzaky tapi dia tidak tau pandangan apa itu, sulit untuk diartikan Maura.


" Sean sama om dan Tante dulu ya..ayah mau bersih-bersih dulu."


Dzaky masuk ke dalam kamar di temani Aulia. Dzaky langsung pergi mandi sementara Aulia membereskan bawaan Dzaky.


" Yah, koq sudah pulang? " Tanya Aulia saat Dzaky keluar kamar mandi.


" Ya harusnya si besok cuma ayah memilih pulang duluan setelah semua acara sore tadi, untungnya ada tiket malam ini. Ayah terus kepikiran kalian di sini." Dzaky langsung memeluk istrinya dari belakang. " Bunda sudah baikan?."


" Alhamdulillah sudah sehat yah, cuma masih sedikit lemes."


" Alhamdulillah ayo kita keluar." Dzaky menggenggam tangan Aulia menghampiri anak dan temannya.


" Sean lagi makan apa nak?"


" Mie yah, mama yang masak."


" Mama?" Dzaky tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.


" Iya mas Dzaky, Sean meminta memanggil kami dengan mama papa. Nggak apa-apa kan mas?" tanya Amira


" Selama kalian tidak keberatan, kami juga senang kita sudah seperti keluarga."


" Tar kalau ada kegiatan di luar kota Kalau bisa jangan aku, apalagi lama, aku kepikiran mereka."


" Itu kan demi karier kamu Dzak, masa iya kamu mau gini-gini aja nggak ada peningkatan."


" Kami nggak apa-apa yah." kata Aulia


" Iya dech, untung ada kalian sekali lagi terimakasih tar mba Amira."


" Kami juga senang mas, ada Sean juga hiburan kami. Mas kan sudah pulang, kami pamit pulang ya?"


Tara langsung menatap Amira. " Ayo kak!."


" Besok aja mba..." kata Dzaky


" Deket mas, mas juga capek, ayo kak..."


Merekapun berpamitan, ada rasa tidak rela Tara harus berpisah dengan Sean dan Aulia. Seharusnya malam ini mereka masih bisa bersama seperti sebuah keluarga.


" Kenapa harus pulang malam ini sic si Dzaky!" kata Tara pelan saat berjalan menuju mobil.


" Apa kak?" Tanya Amira saat terdengar samar-samar Tara berbicara.


" Oh nggak ada."


Sampai dirumah Tara langsung masuk kedalam kamar dan tidur. Amira semakin heran dengan perubahan sikap Tara yang diam tanpa mengajaknya berbicara.


Di tempat Dzaky, setelah Sean tidur Dzaky langsung mengajak Aulia kekamar, fikir Aulia mungkin Dzaky lelah makanya langsung mau tidur tapi dugaannya salah.


Dzaky menggendong Aulia menuju kasur.


" Eh eh yah jatuh nanti."


" Nggak akan jatuh, ayah ini kuat. kamu sudah sehat kan cuma lemes?"


" Iya, kenapa?"


" Ayah kangen... ayah pengen, biar ayah yang beraksi kamu diem aja."


" Ih...ayah."


Dengan perlahan Dzaky melancarkan aksinya. Membuk* ba*u Aulia, Aulia yang sudah terbawa suasana yang tiba-tiba hujan turun dengan derasnya ikut mende***.


Dengan nafas naik-turun Dzaky Melu*** bi*** Aulia dengan rakusnya, seperti orang yang baru pertama kali melakukannya. Aulia hanya menikmati karena dia benar-benar masih lemas. Dzaky mulai memasuki gua terlarang dengan sekali gerakan membuat Aulia hanya bisa mer**** seprai tempat tidurnya dan menahan desa***.


" Jangan di tahan nda keluarin aja suaranya, ayah suka."


" Ayah...." de*** Aulia.


" Nah begitu." Dzaky pun memulai gerakan berirama maju mundur cantik. cantik.


Aulia terbuai, sehingga sudah Pele***** terlebih dahulu.


" Bunda sudah?" Tanya Dzaky dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Aulia.


Dzaky terus memacu, sekarang dengan tempo cepat. membuat suara Aulia memenuhi seisi kamar.


" Aaahhkk." Dzaky juga sudah mengeluarkan bibit kecebong kedalam gua dan langsung berbaring di samping istrinya yang masih mengontrol nafasnya.


" Terimakasih nda, bunda sudah nggak KB kan!"


Aulia hanya mengangguk. " Semoga jadi ya dek!" kata Dzaky sambil mengelus perut rata Aulia.


Mereka pun segera membersihkan diri dan kembali tidur, karena sama-sama lelah.