
Setelah Aulia tau dia sedang hamil, Aulia hanya bisa menahan haru setelah beberapa bulan menunggu akhirnya Allah menitipkan kembali bayi dalam rahim nya.
Mereka sekarang sedang menunggu obat yang di resepkan dokter Fatma untuk mengurangi mual dan pusing.
" Bunda mau makan apa setelah ini? tadi pagi bunda sudah muntah banyak perutnya kosong kasian dedek bayinya pasti laper." kata Dzaky sambil berjongkok di depan istrinya.
" Hah...bunda punya dedek Bayi?" tanya Sean yang tidak tahu karena sewaktu bundanya di periksa dia sibuk bermain dengan suster yang menjemput Aulia tadi.
" Iya dek, wah Sean sekarang sudah bukan adek lagi ya? tapi Abang Sean karena sebentar lagi Sean akan punya adik."
" Mana adik bayinya ma?" Sean celingak-celinguk mencari yang namanya bayi.
" Adik bayinya ada di dalam perut bunda, Abang Sean sekarang tugasnya menjaga bunda dan adik bayi ya?." Kata Dzaky sambil mengelus perut rata istrinya.
" Horeeee Sean akan punya dedek bayi seperti Adzkia adeknya mas Baim." ucap Sean senang sambil melompat di atas kursi tunggu.
Dzaky pun langsung menggendong Sean supaya tidak mengganggu orang yang juga sedang duduk mengantre obat.
Tak lama nama Aulia di panggil, Dzaky langsung mengambilnya dan mengajak Aulia pulang tapi sebelum itu Dzaky membeli banyak makanan untuk istrinya dan Sean.
" Kok banyak banget yah?"
" Iya nanti bunda bisa pilih mana makanan yang bunda pengen makan."
Setibanya di rumah Dzaky langsung membantu Aulia untuk beristirahat dan Dzaky meminta Aulia untuk tidak melakukan apapun.
" Yah bunda ini cuma hamil bukan sakit."
" Ayah tau dan ayah juga tau kamu itu orangnya bandel kalau nggak di giniin kamu banyak gerak, apa bunda nggak inget pendarahan waktu hamil Sean? ayah nggak mau itu terulang lagi, apalagi ini daya tahan tubuh bunda lebih lemas pusing dan muntah di setiap pagi. Jadi bunda harus dengerin apa kata ayah."
" Siap bos..."
" Nah itu baru istri yang penurut." Dzaky langsung menghadiahkan Aulia ciuman kasih sayang di keningnya.
π₯
Selama seminggu Aulia benar-benar tidak melakukan banyak hal yang berarti namun online shop Aulia terus meningkat orderannya karena tidak mengerjakan apa pun Aulia lebih fokus ke online shop nya dan sampai saat ini Dzaky belum mengetahui tentang online shop yang Aulia jalankan karena Aulia tidak melakukan packing dan pengiriman semua di lakukan oleh pihak supplier.
" Ayo bunda makan yang banyak semua sudah ayah siapkan, tapi ayah belum mandiin Sean soalnya dia belum bangun nda."
" Iya biar bunda nanti yang mandiin ayah berangkat kerja aja nanti kesiangan."
" Iya tapi biar Sean mandi sendiri, Sean kalau mandi nggak bisa diem takut kena perut bunda dan takut bunda kepleset. Sean akan menjadi Abang harus mandiri." Ucap Dzaky sambil mencium Aulia dan berpamitan.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
π₯π₯
Kehidupan Dzaky semakin harmonis dan bahagia. Mereka juga sering berkumpul dan picnik bersama keluarga Bagas dan Tara. Namun kehidupan mereka berbanding terbalik dengan kehidupan Tara dan Amira yang belakangan sering cekcok dan ribut. Puncaknya saat Tara mendengar Aulia hamil anak kedua Dzaky, mendengar kabar itu Tara tidak bisa konsen bekerja, hubungannya dengan Dzaky pun akhir-akhir ini kurang dekat Tara banyak menghindar.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, kakak koq sudah pulang?" Tanya Amira yang sedang sibuk membuat kue untuk acara besok.
" Lagi pusing."
" Ya sudah, Mira ambilin obat dulu."
" Pusingnya nggak ada obatnya."
" Kok pusing nggak ada obatnya? Apa kita harus kedokter kak?"
" Kakak pusing karena kamu Amira." Bentak Tara.
Amira terdiam, tak ada angin tak ada hujan Tara suaminya yang dulunya baik dan perhatian sekarang lebih acuh dan dingin bahkan bisa membentaknya.
" Maksud kakak apa?"
" Ya! kakak pusing karena kamu."
" Amira tidak melakukan apapun kak!." ucap Amira marah dengan tuduhan Tara.
Amira pernah meminta Tara untuk menikah lagi atau mengadopsi seorang anak namun Tara menolak dengan alasan sudah bahagia dengan kehidupannya dengan Amira.
Sekarang Tara malah menyebutkan hal yang harusnya tidak pernah di katakan dan disinggung lagi dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Tapi emosi Tara memuncak saat di kantor semua orang memberikan Dzaky selamat atas kehamilan yang kedua dari istrinya. Tara dengan berat hati juga memberikan selamat namun setelah itu dia izin pulang karena merasa sakit kepala.
" Kakak bilang apa?" tanya Amira yang terkejut mendengar hal yang paling menyakitkan baginya.
" Sudahlah kakak mau istirahat sebaiknya kamu lanjutkan pekerjaan mu."
Amira tidak langsung pergi diam masih diam di tempat.
" Kenapa masih disitu?" Tanya Tara
" Kak kita sudah pernah bahas ini, kalau kakak mau menikah lagi atau mengadopsi anak Mira tidak keberatan kak Tapi jangan pernah kakak katakan itu lagi, sakit kak." Amira menangis.
Dengan menghela nafas kasar untuk meredam emosinya Tara menghampiri Amira.
" Kakak tidak mau mengadopsi anak, kakak mau darah daging kakak sendiri."
" Maka menikahlah lagi kak, Amira tidak keberatan."
" Itu bukan masalah menikah lagi, kita tidak bisa langsung menikah dengan orang yang tidak kita kenal, melakukan hubungan dan memiliki anak butuh waktu."
" Maka carilah yang sesuai dengan kakak."
" Apakah kamu menyetujuinya?"
" Amira akan setuju dengan siapapun kakak menikah asalkan dia wanita baik-baik."
" Benar? kamu rela? kamu ikhlas?"
" Rela dan ikhlas tidak mudah apalagi untuk laki-laki yang sangat kita cintai namun karena mira mencintai kakak, apapun akan Mira lakukan termasuk rela dan ikhlas."
Tara memegang bahu Amira.
" Apakah kamu akan membantu kakak untuk mendapatkannya?"
" Iya."
" Dia cinta pertama kakak."
Amira berfikir setahunya cuma satu cinta pertama suaminya yaitu gadis desa tempat di mana dia pertama kali di tempatkan untuk mulai bekerja.
" Apakah kita harus ke sana? ketempat pertama kali kakak di tempatkan?."
" Tidak perlu dia sekarang di kota ini."
( Di kota ini? itu artinya selama ini kak tara? atau jangan-jangan mereka sudah?) Begitu banyak pemikiran yang ada dalam kepala Amira.
" Apakah Mira mengenalnya kak?"
" Ya."
Deg Amira mulai berspekulasi bahwa suaminya ada main selama ini.
" Siapa kak katakan? Mira akan berusaha membantu supaya dia mau menikah dengan kakak." walaupun kata-kata itu keluar dengan sangat lancar akan tetapi hati Amira hancur berantakan. Wanita mana yang bisa baik-baik saja saat suaminya ingin menikah lagi dan meminta si istri untuk membantu mendapatkan wanita itu.
" Dia adalah.....Aulia."
" Aulia istri kak Dzaky?" Tanya Amira memastikan karena terkejut.
" Iya."
" Jadi selama ini?"
" Kami tidak pernah di luar batas, apalagi Aulia sangat mencintai Dzaky."
" Apa kakak sudah gila! tega ingin merebut istri sahabat sendiri yang sudah seperti keluarga." Teriak Amira histeris tidak menyangka orang yang pernah singgah di hati suaminya adalah Aulia, orang yang paling dekat dengannya.