
Setelah beberapa kali melakukan penekanan pada perut istrinya akhirnya terlihat setengah kepala bayi yang berambut kecoklatan seperti rambut Aulia, semua orang semakin semangat terutama Dzaky yang merasa sangat takjub melihatnya namun semua rasa itu berganti dengan perasaan khawatir ketika melihat kondisi Aulia terkulai lemas tidak bertenaga dengan wajah pucat.
"sayang? sayang? bunda dedeknya sudah kelihatan sayang." tak terasa air mata Dzaky semakin deras keluar tanpa permisi.
" Bapak jangan panik, ibu baik-baik saja" Dokter menyemangati Dzaky yang terlihat frustasi dengan keadaan istrinya.
Dokter langsung memberi kode ke arah Bu bidan. Bu bidan yang mengerti langsung mendekati Aulia dan meminta Dzaky untuk turun.
" Bu Aulia dedek bayinya sudah hampir keluar." Bu bidan mengambil tangan Aulia untuk menyentuh kepala bayi yang tertahan di jalan lahir.
Aulia yang merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang dia yakini kepala bayinya, muncul rasa haru dan semangat dari dalam dirinya. Aulia langsung semangat untuk mengejan dengan Bu bidan yang membantu mendorong perutnya dan Dzaky yang berada disampingnya yang terus memberi semangat.
" ya Allah..........." teriak Aulia yang merasakan sakit.
Dan akhirnya kepala bayi terlihat jelas keluar namun tubuh bayinya masih tertahan. Dokter Fatma langsung membersihkan lendir yang memenuhi kepala dan wajah si bayi dan berusaha untuk menariknya keluar.
Aulia terlihat tersenyum menyentuh kepala bayinya dengan tubuh yang gemetar menahan sakit. Sementara Dzaky menangis sambil sesekali menciumi wajah istrinya.
Tapi usaha Aulia belum berakhir, dia harus berusaha mengeluarkan bayi itu seutuhnya. Dan disinilah terjadi hal yang menegangkan, bahwa tubuh bayi tersangkut di jalan lahir di karenakan tubuh bayi yang besar. Sebenarnya inilah yang di khawatirkan sang Dokter apabila bayi terlalu besar dalam kandungan di tambah kelahirannya dengan proses normal.
Tenaga medis sudah berusaha untuk mengeluarkan bayi tersebut tapi tetap belum berhasil sementara si ibu terlihat sudah tidak bertenaga untuk sekedar mengambil nafas pun telah dibantu selang oksigen. Posisi tubuh Aulia telah diubah-ubah untuk mempermudah proses.
Sekali lagi Dokter memberi kode ke Bu Bidan, dan Bu bidan langsung keluar entah apa yang di lakukannya Dzaky tak mengerti yang dia tau sekarang keadaan sedang mengkhawatirkan, istrinya sedang terkulai lemas dengan suster yang membantu memegang kedua kaki istrinya dan di buka lebar sementara suster satunya lagi masih sibuk menekan-nekan perut istrinya karena terlihat istrinya sudah tidak bisa mengejan atau sekedar berteriak.
" Bu Aulia, ayo Bu dedeknya butuh bantuan ibu untuk keluar" ucap Dokter Fatima menyemangati, Sebenarnya beliau juga sudah mulai khawatir melihat kondisi si ibu tapi seorang Dokter tidak boleh membuat panik pasien dan keluarganya.
Aulia memandang suaminya yang tengah menangis ada rasa sedih dalam hatinya dan berusaha mencoba untuk mengejan kembali.
" e'eeeeekkkkkkkk" ya Allah mudahkanlah dalam hati Aulia sambil menggigit bibir bawahnya sampai terluka.
Akhirnya Dokter melakukan tindakan episotomi dengan sangat hati-hati karena melihat Aulia masih berusaha untuk mengejan. Dzaky yang melihatnya hanya bisa melotot tidak menyangka ada tindakan seperti itu dalam proses melahirkan, dia melihat sendiri bagaimana Dokter Fatma menggunting jalan lahir yang sudah terlihat kepala anaknya dan darah yang keluar dari area yang terluka. Dia tidak bisa berkata-kata.
" ayo Bu sekali lagi...."
" Aaaaaaaaaa hu hu hu." tenaga terakhir Aulia keluarkan.
Dan akhirnya usaha terakhir Dokter dan Aulia membuahkan hasil, tepat di pukul 03.20 wib tubuh bayi yang berlumuran darah langsung meluncur keluar tanpa suara tangisan. Dokter bertindak cepat dengan langsung memotong tali pusar dan memberikan bayi ke Dokter anak yang sudah siap sedia memberi pertolongan pada bayi besar yang terlihat pucat dan tidak menangis. Ternyata kode dokter kepada Bu Bidan tadi untuk menghubungi Dokter anak karena Dokter Fatma telah menduga hal ini akan terjadi.
Aulia langsung tidak sadarkan diri, Dzaky yang berada disamping istrinya hanya bisa menangis. Ada rasa haru, sedih dan khawatir disaat yang bersamaan. Rasa haru karena telah lahir jagoan yang mereka nantikan, sedih dan khawatir melihat keadaan istri dan anaknya.
Dokter Fatma melanjutkan tindakan untuk Aulia. Mengeluarkan ari-ari, menjahit dan membersihkan bagian inti Aulia.
Setelah semua selesai, Aulia langsung dipindahkan keruang perawatan sementara bayinya masih diruang perawatan bayi untuk dilakukan observasi lanjutan.
Disinilah Dzaky berada, diruangan VIP sambil menyandarkan kepalanya disamping istrinya.
"Bunda terima kasih sudah mau berjuang melahirkan dedek bayi, ayah nggak menyangka kalau prosesnya begitu mengerikan. Ayah rasanya tidak sanggup melihat bunda kesakitan. Semoga dedek bayi sekuat bunda" tangis Dzaky pecah saat mengingat proses persalinan istrinya ditambah dengan melihat kondisi anak mereka yang lahir tetapi tidak menangis.