
" Bun, besok ayah pelatihan diluara kota, tadi pagi surat tugasnya sudah turun. Ayah lupa mau nelpon bunda baru ingetnya sekarang."
" Ya sudah nggak apa-apa. Berangkatnya pagi?"
" Iya pagi, tapi ayah berat mau ninggalin kalian soalnya pelatihannya satu Minggu. Apa minta ibu buat kesini?"
" Nggak usah yah, soalnya ibu kemarin habis sakit darah tingginya kumat. Bunda nggak tega nyuruh ibu kesini."
" Tapi bunda cuma sama Sean di rumah. Ini nggak kayak biasanya yang cuma dua atau tiga hari ini satu Minggu nda..."
" Iya ayah tenang aja, Bunda bisa sendiri."
" Tapi ayah nggak tenang nda."
" Sudah jangan terlalu difikirkan. Ayo sekarang kita paking baju yang mau ayah bawa, mumpung Sean tidur."
Mereka pun langsung menunju kemar mereka untuk menyusun perlengkapan yang akan Dzaky bawa. Dzaky sengaja pulang lebih cepat dari biasanya karena besok pagi akan pergi jadi dia meminta izin untuk pulang terlebih dahulu untuk bermain dengan anaknya tapi sayang Sean sedang tidur.
" Yah cukup segini bajunya?"
" Cukup nda...emm nanti kalau bunda butuh apa, atau ada apa-apa hubungi Bagas ya?"
" iya ayah sayang."
Malam harinya Dzaky sibuk mengajak Sean untuk bermain sampai Sean tertidur dikamar mereka. Dzaky pun dengan oerlahan memindahkan Sean kekamarnya. Sean memang di ajarkan tidur sendiri sejak umur hampir 2 tahun.
" Yah biarin aja Sean tidur disini besok pagi kan ayah mau berangkat."
" Hehe. Masa bunda nggak mau itu tu....sebelum ayah berangkat?" kode Dzaky dengan menaik turunkan alisnya.
" Itu tu apa sih yah?"
" Itu..bekal ayah."
" Oh ayah mau bawa bekal? Besok aja bunda masaknya, nanti basi kalau di masak dari sekarang."
" Bukan makanan nda..."
" Jadi apa? ngomong aja yah, bunda nggak ngerti!"
" Itu....kegiatan rutin malam Jumat."
" Oh....mau itu aja muter-muter yah...."
" Habis bunda di kodein nggak ngerti."
" Buat apa kode-kodean yah, ngomong aja langsung. Kayak baru kenal aja..."
" Tunggu dan siap-siap ya nda? ayah pindahin adek dulu."
" Iya....."
Dengan secepat kilat Dzaky sudah kembali lagi ke dalam kamar mereka.
" Bunda koq lama banget siap-siapnya?"
" Bukan bunda yang lama, tapi ayah yang kecepatan. Bunda lagi cari baju haram bunda yang warna merah kesukaan ayah, tapi koq nggak ketemu."
" Kelamaan nda...lagian bkaal di buka juga. Hayo sini."
Aulia pun mendekati Dzaky yang telah siap sedia. Tanpa malu-malu lagi mereka melancarkan kegiatan yang sangat nik*** dilakukan.
Setelah melakukan kegiatan itu mereka masih sempat mengobrol seakan tak ingin melewatkan waktu bersama mereka Karena akan berpisah cukup lama bagi mereka yang tidak pernah berpisah lebi dari 3 hari.
" Nda..."
" Ya yah?" mereka masih dalam selimut dalam kondisi yang sama setiap setelah melakukan kegiatan panas. yaitu Berpelukan.
" Apa nggak sebaiknya bunda Nggak KB lagi?."
" Kenapa memangnya?"
" Emm kita kasih Sean adik, kayaknya seru punya anak lagi kayak Bagas. Apalagi kalau nanti adeknya Sean cewe. Cantik kayak bunda."
" Bunda sic terserah ayah saja."
" Jangan terserah ayah, karena bunda yang mengandung di tambah lagi saat persalinannya. Bunda sudah siap belum?"
" Insyaallah bunda siap yah. Mudah-mudahan semua di mudahkan."
" Amiiin. Jadi nanti sebelum ayah pulang bunda sudah lepas alat kontrasepsinya ya?."
" Iya ya, sudah tidur bunda sudah mengantuk. Besok ayah harus berangkat pagi. Pesawatnya jam berapa yah?"
" Jam 6, sekali lagi ya nda? supaya bekalnya cukup 1 Minggu."
" memang kalau nggak cukup ayah mau ngapain?"
" Oh...kirain."
" Kirain apa? jangan punya pikiran macem-macem."
Sambil mencubit hidung mancung istrinya.
" He...Ayok..."
Mereka pun mengulang kegiatan mereka tadi. Sampai mereka tidur lewat tengah malam.
Subuh-subuh suami istri itu sudah bangun walaupun jam tidur mereka kurang. Setelah menyiapakan semua mereka mandi dan Dzaky bersiap dengan pakaian kerjanya sedangkan Aulia menyiapakan sarapan untuk suaminya.
" Ayok ya....sarapan dulu." Aulia mengajak suaminya yang sedang mengganggu Sean tidur untuk sarapan.
" Adek kalau tidur susah banget di bangunin."
" Mungkin kecapean karena sebelum tidur ayah ajak maen."
" Iya mungkin." Mereka pun memulai sarapan tanpa Sean karena jam masih menunjukkan pukul 5.
" Ayah mau diantar ke bandaranya?"
" Nggak usah nda nanti di jemput supir kantor, lagian yang pergi ada 4 orang."
" Yaudah hati-hati jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai yah."
" Iya sayang. Bunda juga hati-hati dirumah semua pintu dan jendela periksa ulang sebelum tidur kalau ada apa-apa cepat hubungi ayah atau Bagas. Dia nggak ikut pergi karena baru punya bayi kasian Sinta kalau harus ditinggal. keluarga mereka baru pulang dua hari yang lalu."
" Iya yah."
" Ingat semua pesan ayah." Dzaky pun langsung mencium semua wajah Aulia ketika terdengar bunyi klakson di depan rumah yang menandakan yang menjemput sudah di tiba.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
*
Sudah tiga hari Dzaky pergi keluar kota. Mereka sering melakukan panggilan Video. Karena sering menanyakan ayahnya, Aulia sering mengajak Sean bermain dengan Baim. Di tambah Sean sangat menyukai bayi perempuan yang bernama Kia anak Adik dari Baim.
Tapi hari ini Aulia tidak mengajak Sean keluar karena tubuhnya kurang sehat. Dia membelikan Sean banyak jajanan dan mainan supaya tidak rewel minta keluar rumah.
" Assalamualaikum." Dzaky menghubungi Aulia saat jam makan siang tiba.
" Waalaikumsalam ayah...." Sean yang mengangkat panggilan video dari Dzaky.
" Adek lagi ngapain?"
" Lagi main yah." Sean menunjukkan mainan Aru yang Aulia belikan dan beberapa jajanan yang berserakan dilantai. "Ayah kapan pulang adek kangen..."
" Ayah juga kangen sayang, Sabar ya.... Bunda mana dek?"
" Bunda lagi bobok yah...Bunda sakit."
" Bunda sakit?" Sean pun langsung mengangguk. " Bisa kasi hpnya sama bunda dek?" Sean pun langsung masuk kedalam kamar dan memberikan hpnya kepada bundanya yang sedang tidak tidur melainkan hanya memejamkan matanya tetapi tangannya terus menekan pangkal hidungnya yang terasa sakit.
" Assalamualaikum bunda?"
"Waalaikumsalam yah" Aulia menjawab dengan suara yang serak.
" Bunda kenapa sayang?" Tanya dzaky khawatir.
" Nggak apa-apa yah, cuma sedikit pusing aja."
" Sudah minum obat?"
" Sudah yah...."
" Sudah makan sayang? Ini yang jadi fikiran ayah kalau jauh. Bunda sakit nggak ada yang ngurusin."
" Nggy apa-apa yah, bunda masih bisa bangun."
" Kalau nggak ayah minta Bagas buat anterin bunda ke Rumah Sakit?"
" Nggak usah. Kemarin Kita habis imunisasi mungkin sekarang lagi rewel yah."
" Oh ayah minta tolong Tara aja ya, buat bawa bunda?"
" Nggak! nggak mau bunda. pokoknya ayah nggak usah khawatir bunda nggak apa-apa. Nih bunda sudah bisa bangun." Aulia memaksakan dirinya di tengah kepalanya yang sedang pusing untuk berdiri menunjukkan ke suaminya kalau dia benar-benar sudah merasa baikan.
Namun tak berapa lama Aulia langsung limbung jatuh terduduk sambil memegang kepalanya.
" Nah kan! Jangan di paksain. Ayah hubungi Tara dulu."
"Yah.... ayah?" Dzaky langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengar persetujuan dari Aulia.