Cinta Harusnya Menyatu

Cinta Harusnya Menyatu
Bab 75


Dzaky langsung meluncur menuju kampung halaman Aulia, masih dengan setelan kerja.


" Aku akan menghajar, si pria brengse* itu!"


Sesekali Dzaky memukul stir mobil untuk melampiaskan kekesalannya.


" Apa yang kamu cari dari pria itu Aulia, semua sudah aku lakukan!"


Di kampung Aulia, Tara sedang pamit pulang karena tadi pagi dia mendapat pesan, ada pekerjaan yang perlu di koreksi dan di tinjau. Sean tak lepas dari pelukan Tara, akhirnya Aulia turun tangan keluar dari kamar untuk membujuk Sean untuk mengizinkan Tara pulang.


" Ayo sayang, papa mau pulang ada urusan" Bujuk Aulia.


" Abang mau sama papa, kemarin ayah pulang tapi belum juga kesini lagi" Ucap Sean cemberut.


" Nanti sore ayah sudah disini sayang"


" Bunda bohong!"


" Bunda nggak bohong, Sean dengerin kata-kata bunda. Papa besok kesini bawa banyak mainan"


" Janji!"


" Iya papa janji"


Sean merentangkan tangannya meminta Aulia menyambutnya.


" Sean sudah besar, nggak boleh di gendong bunda, kasian perut bunda sudah besar, nanti dedek bayinya sakit" Tara memberi pengertian Sean.


Akhirnya Sean turun dan berdiri di samping bundanya.


" Kakak pulang dulu" Tara memandang lama perut Aulia ingin sekali mengelusnya, tapi tidak mungkin di lakukannya.


Aulia hanya mengangguk, seakan tidak perduli apapun yang Tara lakukan.


Aulia duduk bersama ibu-ibu yang sedang membersihkan bawang, dan beberapa sayuran lainnya. Kediaman ibu Aulia sudah ramai dengan sanak saudara dan tetangga yang akan memasak untuk acara tahlilan malam nanti.


Siang hari Dzaky sudah sampai di rumah ibu yang terlihat sudah ramai dengan orang. Mata Dzaky awas memperhatikan setiap orang sambil berjalan masuk, Dzaky mencari pria yang sudah membuatnya berpikiran buruk semalaman.


" Eh Aulia, itu bukannya suami kamu?" Tanya salah satu tetangga ibu Aulia.


Aulia langsung mengalihkan pandangannya dari bawang yang di pegangnya, Aulia hanya membantu dengan santai sambil bersilahturahmi dengan tetangganya dulu.


" Sana kamu hampiri ul"


" Kaki kamu bengkak ul?"


" Iya bude..."


" Kenapa di lipat? bude sampai nggak tau kalau kaki kamu bengkak"


" Iya bude, katanya biasa kalau sudah hamil besar"


" Iya kamu harus banyak jalan, dan jangan kerja yang berat-berat"


" Iya bude..."


" Sudah sana" Bude tetangga ul membantu ul berdiri.


" Terimakasih bude"


Aulia mendekati Dzaky, dia tidak enak mengabaikan perkataan bude.


" Yah" Aulia memanggil Dzaky, sebenarnya dia ingin bertanya kenapa siang hari sudah sampai sini. Apa Dzaky tidak bekerja?.


" Bunda, yaampun kakinya kok bisa se bengkak ini?"


Aulia hanya memperhatikan arah pandang Dzaky, yang sedang memperhatikan kakinya yang bengkak.


" Seharusnya bunda banyak istirahat, jangan terlalu banyak bergerak dan tidak boleh capek!" Tadinya Dzaky ingin acuh terhadap Aulia karena mengingat kejadian tadi malam, bayangan buruk selalu melintas dalam pikirannya. Tapi, saat melihat wajah memprihatinkan Aulia dan keadaanya yang membawa beban berat dengan kaki bengkaknya.


Perasaan Aulia menghangat, sungguh perhatian Dzaky membuat dia ingin menangis bahagia.


Aulia berlari kecil memeluk Dzaky, melampiaskan kerinduannya selama ini. Selama ini dia juga mengacuhkan Dzaky karena tidak ingin merasakan sakit di acuhkan setiap melakukan hal apapun untuk Dzaky.


" Kamu kenapa?" Saat Aulia memeluknya dengan erat. " Ingat ada dia, nanti dia terjepit" Dzaky menginginkan Aulia saat pelukan Aulia semakin erat.


" Emm maaf"


" Sudah kangen-kangenan nya? Ul, ajak Dzaky makan sana, Pasti suami kamu belum makan siang?" istri kak Bian lewat dan memperhatikan cukup lama kegiatan dua orang yang baru saja berpisah tidak lebih dari tiga hari itu


" E..iya mba" Aulia melepaskan pelukannya dan tersenyum malu. Baru juga mau masuk rumah, Sean berlari dengan kencang dan melompat ke dalam pelukan Dzaky.


" Ayah....Abang kangen" Peluk Sean erat leher ayahnya.


" Sean sini...Ayah biar makan dulu" Kata istri kak Bian.


Sean menolaknya dan memeluk ayahnya semakin erat.


" Biar aja mba"


Aulia mengajak suaminya untuk makan, mereka duduk di meja makan yang banyak di lewati orang-orang yang mulai sibuk memasak.


Dengan berjalan pelan Aulia menyiapkan suaminya makan, Dzaky masih memangku Sean yang tidak mau turun.


" Nda....biar ayah saja" Dzaky yang tidak tega melihat Aulia mondar mandir menyiapkan makan suaminya.


" Rasanya sudah lama bunda tidak melakukan ini semua" Ucap Aulia saat duduk memberikan nasi yang sudah penuh dengan lauk pauk dan segelas air putih.


" Abang sama bunda dulu sayang, ayah biar makan" Aulia sudah merentangkan tangan menyambut Sean tapi Dzaky menahannya.


" Abang biar sama ayah, kasihan bunda sudah menopang dedek bayi. Pasti bunda kelelahan" Dzaky makan dengan memangku Sean.


" Bun"


" Ya?"


" Sekarang sudah bulannya, bunda harus lebih hati-hati dan menjaga kondisi bunda. Ayah tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan kalian" Tulus Dzaky berbicara tanpa melihat Aulia yang matanya sudah berkaca-kaca.


Hubungan mereka terlihat sangat harmonis, Aulia masih merasa semua ini hanya mimpi, dan dia tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini.


Sementara Dzaky melakukan ini semua karena memang kewajiban dan karena dia merasa harus melakukan ini untuk mempertahankan rumah tangganya. Kalau dia terus dingin bukan tidak mungkin Tara akan sangat mudah merebut Aulia.


Dzaky memang pernah berkata kalau dia akan berpisah dengan Aulia saat bayi mereka lahir, tapi semua itu terucap saat akal sehatnya sedang dikuasai emosi.


Setelah akal sehat itu kembali ke jalannya, Dzaky tidak akan rela memberikan istrinya ke Tara.


" Kenapa nda?" Dzaky bingung melihat mata Aulia berkaca-kaca.


" Ayah....ini benar ayah kan?"


" Maksud bunda apa? Bunda kira ayah laki-laki Lain begitu!" Tanya Dzaky marah, dalam pikiran Dzaky Aulia memikirkan Tara.


" Bu..bukan yah. Sikap ayah sudah kembali seperti dulu...?"


" Ayah harap semua bisa kembali seperti dulu, walaupun kaca yang pecah tidak akan kembali seperti semula, tapi dengan perlahan semua perbaikan akan bisa mengembalikan fungsi kaca itu lagi, walaupun tidak semulus sebelum pecah"


" Terimakasih yah" Aulia reflek memeluk Dzaky.


" Bunda....Abang kejepit nic!"


Aulia langsung melonggarkan pelukannya, Dzaky dan Aulia tertawa bahagia.


Malamnya acara tahlilan berjalan lancar, semua keluarga Aulia mengucapkan banyak terimakasih atas semua partisipasi masyarakat kampungnya dan seluruh anggota keluarga.


Beberapa keluarga dan masyarakat setempat sudah kembali kerumah masing-masing, semua barang yang di gunakan sudah di bereskan termasuk peralatan masak sudah tersimpan rapi berkat kerja sama bersama, tinggal tenda yang belum di lepas karena masih ada beberapa bapak-bapak yang mengobrol dengan keluarga, besok akan dibongkar.


Dzaky, Aulia dan Sean sudah berada di kamar. Dengan Sean yang berada ditengah sudah tertidur pulas karena kelelahan bermain.


" Nda...." Dzaky menatap langit-langit.


" Ya?" Sementara Aulia tidur menyamping dengan bantal menyanggah perutnya sementara tangannya sibuk menepuk pantat Sean.


" Ayah harap bunda tidak membuang kesempatan yang ayah berikan"


" Insyaallah, bunda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ayah berikan" Sebenarnya Aulia masih bingung, dia merasa tidak melakukan kesalahan. Tapi demi keutuhan rumah tangganya, semua rela dilakukannya.


" Bunda harus fokus dengan kehamilan bunda, saat melahirkan Sean darah bunda normal saja bisa se urgen itu, apalagi ini! tensi darah bunda tinggi. Ayah tidak mau terjadi hal membuat kita semua khawatir" Dzaky meraih tangan Aulia yang berada di atas pantat Sean dan menggenggamnya. Selanjutnya tangan Dzaky beralih ke perut besar istrinya. " Dia begitu aktif, ayah sampai sekarang masih belum bisa percaya di dalam perut perempuan bisa ada bayi. Belum bisa percaya dia tumbuh."


Aulia beralih menggenggam tangan Dzaky yang tidak berhenti melakukan kegiatan yang dulu di sukainya.


" Bunda akan kuat, kalau ayah di samping bunda" Mereka tersenyum bahagia.


" Besok kita akan pulang, memulai cerita yang baru, melupakan semua kejadian buruk yang kita alami. Bunda setuju?"


" Ya bunda setuju"


Malam ini mereka bisa tidur dengan nyenyak, setelah mengembalikan semua pada tempatnya.


like


like


like


like