Blind Husband

Blind Husband
Blind 72


Seorang wanita cantik mengerjapkan matanya setelah beberapa jam tertidur. Merasakan sebuah tangan masih melingkar di tubuhnya, wanita itu ikut membalas pelukan tersebut tak kalah eratnya.


Kepalanya yang berada tepat di dada Zyandru, membuat Alula dengan jelas mendengar detak jantung suaminya itu. Suara ini sungguh menenangkan Alula, hingga rasanya ingin kembali menutup matanya.


Menggerakkan sedikit kepalanya, Alula menghirup aroma tubuh Zyandru yang menurutnya lebih harum dari parfum manapun.


Mengikhlaskan selalu tak pernah mudah, berat rasanya melepas pria yang sudah menjadi suaminya selama satu tahun lebih ini, namun bertahan pun tak mungkin.


Di satu sisi Alula merasa kecewa pada Zyandru, namun di sisi lain Alula berharap semoga yang dikatakan sang bibi hanya kebohongan.


Kembali memikirkan perjalanan mereka sejak awal menikah, Alula tak tahan untuk tak mengeluarkan air matanya. Semakin Alula mencoba kuat, semakin dalam pula lukanya.


Tangisan yang semakin keras membangunkan pria yang tengah di peluknya. Zyandru yang terkejut, langsung saja membangunkan tubuhnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Zyandru. Kedua pipi Alula yang sudah basah dengan air mata membuat Zyandru bingung sekaligus khawatir.


Bukannya menjawab, Alula malah kembali memeluk Zyandru dengan kuat. Entah bagaimana Zyandru menjelaskan ini semua, ia merasa Alula bertingkah seolah tak ingin jauh darinya.


Cukup lama Alula menangis hingga matanya sudah bengkak. Wajahnya yang memerah dan basah, diusap dengan penuh kelembutan oleh Zyandru. Rambutnya yang cukup berantakan pun dirapikan oleh orang yang sama.


Zyandru kembali menanyakan hal yang sama, Alula berbohong dengan menjawab jika dirinya begitu sedih untuk melepaskan Devin yang akan kembali tinggal sendiri di negara lain.


"Devin akan baik-baik aja di sana, percaya sama aku ya?"


Tanpa pernah Alula tahu, Zyandru sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasi Devin dari jauh, sekiranya untuk membantu jika adik iparnya itu dalam kesulitan.


...***...


Siang harinya, seorang laki-laki terlihat menuruni tangga dengan membawa kopernya yang berukuran sedang.


Sementara dari bawah, pandangan Alula tak lepas dari adiknya itu. Tubuh tinggi kekar, wajah tampan, rambut panjang berwarna hitam dengan sedikit bagian berwarna merah. Alula baru menyadari ternyata adiknya sudah tumbuh dewasa.


Dengan ditemani oleh salah satu sopir pribadinya, Alula mengantarkan Devin ke bandara. Sedangkan Zyandru harus pergi ke penambangan karena ada sedikit masalah di sana.


Segala nasihat tak berhenti keluar dari mulut Alula, wanita itu kembali memeluk Devin sangat lama dan melepasnya begitu mendengar panggilan boarding yang menandakan bahwa para penumpang harus segera menuju gerbang keberangkatan.


Dengan di penuhi air mata, Alula harus melepaskan keberangkatan Devin, begitupun sebaliknya.


Setelah memastikan pesawat yang Devin tumpangi benar-benar sudah lepas landas, Alula segera meminta sopirnya untuk membawanya kembali pulang.


Perjalanan dengan jarak yang cukup jauh antara bandara dan kediaman Avior, membuat Alula tak sabar hingga beberapa kali meminta sopirnya itu untuk mengebut.


Hingga saat mereka sampai, dengan tergesa-gesa Alula turun dari mobil dan langsung memasuki rumah. Wanita itu berlari menuju ruang kerja suaminya.


Dilihatnya sebuah lemari kaca di sebelah kanan, berisi puluhan map dan di lemari kaca yang berada di bagian kiri, terdapat puluhan penghargaan yang di miliki Zyandru sebagai pengusaha.


Mencoba mendinginkan kepalanya, Alula teringat akan sesuatu. Wanita itu membuka sebuah kotak kecil yang berada di antara map berisikan berkas tersebut.


Dan benar saja, ponsel lamanya yang tengah ia cari sedari tadi ada di dalam kotak tersebut, Alula mengambil posisi duduk di kursi kerja Zyandru dan mulai menyalahkan bendah pipih tersebut.


Tampilan pada ponsel itu berubah, Alula jadi semakin yakin bahwa Zyandru telah melakukan sesuatu. Beruntung setiap kali Alula memiliki ponsel baru, ia akan menyimpan semua datanya pada satu folder, sehingga jika ponselnya di format, semua datanya tetap akan tersimpan.


Dengan tangan gemetar, Alula membuka beberapa pesan yang dikirim Princy. Seketika itulah air matanya luruh begitu saja.


Puluhan foto seorang pria dan wanita dengan berbagai gaya, mulai dari mereka memakai seragam SMA dengan wajah mereka yang masih sangat muda hingga mereka tumbuh dewasa.


Ternyata yang dikatakan sang bibi memang benar. Alula merasa tak sanggup lagi, namun ia tetap harus melanjutkan kebenaran ini.


Alula dibuat semakin sakit begitu melihat beberapa foto di mana Zyandru terlihat mencium wajah Princy dengan sangat mesra, tanpa sadar Alula meraba wajahnya sendiri yang selalu dicium Zyandru bila ada kesempatan.


Alula beralih mendengarkan beberapa rekaman suara berupa ungkapan rasa cinta dan pujian yang Zyandru tujukan untuk Princy. Bahkan terdengar beberapa kali Zyandru memberikan kecupan jauh untuk Princy.


Sejenak Alula berhenti untuk sekedar menghapus air matanya. Jika memang Zyandru pernah menjalin hubungan dengan orang lain sebelum mereka menikah, Alula tak mempermasalahkannya, lagipula itu semua hanya masa lalu. Yang ada di pikiran Alula saat ini adalah perkataan bibinya mengenai alasan sebenarnya Zyandru menikahinya.


Mengatur napasnya yang terasa sangat berat, dengan tangan gemetar Alula membuka satu rekaman suara tersisa.


"Aku menikahi Alula karena ingin mendekati kamu kembali Princy. Aku masih sangat mencintai kamu yang membuat aku menghalalkan segala cara agar kamu kembali ke pelukan aku, termasuk menikahi Alula karena kalian sepupu."


Mendengar Zyandru yang mengatakan sendiri hal tersebut, Alula merasa dunianya hancur saat itu juga. Rasanya lebih sakit ketimbang ia mendengarnya dari Rani.


"Kisah cinta pertamaku gagal di saat aku belum memilikinya seutuhnya. Mengapa harus seperti ini, bagaimana aku harus menghadapi ini semua tuhan."


Alula yang semula duduk di kursi, kini sudah terjatuh ke lantai. Hujan terus mengguyur wajah cantiknya, teriakan penuh kesakitan Alula keluarkan hingga tenggorokannya terasa begitu sakit.


Berusaha menghalau segala rasa sesak, Alula memukul dadanya sendiri dengan kepalan kecil tangannya. Semua janji, ungkapan cinta dan perlakuan manis yang Zyandru tunjukkan hanyalah sandiwara belaka.


Tak ingin terlalu lama menangisi keadaan, Alula bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya dan Zyandru.


Di sana, Alula segera mengeluarkan sebuah koper berukuran cukup besar dan memasukkan pakaian serta barang-barangnya.


Menatap foto dirinya dan Zyandru yang terpampang jelas di atas tempat tidur, Alula kembali teringat photoshoot yang mereka lakukan beberapa waktu lalu. Saat itu, Zyandru berkata ingin membuat banyak foto kenangan yang bisa ia tunjukkan pada anak-anak mereka nanti.


Dengan perasaan campur aduk, Alula menarik kopernya keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan kepala menunduk sambil sesekali menghapus air matanya. Tanpa di duga, ia malah bertemu dengan Zyandru yang baru saja datang.


"Lho sayang, kamu kenapa nangis gini? Terus ini kenapa bawa-bawa koper?"


"Aku akan mengurus perceraian kita."