
Pesawat jet pribadi milik Avior Group terlihat baru saja tiba di bandara soekarno-hatta.
Beberapa staff yang ikut perjalanan bisnis kemarin, terlihat sibuk dengan tas dan koper bawaan mereka, begitupun dengan Alula.
Setelah tiga hari berada di Kalimantan, wanita cantik itu kembali ke kota kelahirannya yaitu jakarta.
Beberapa staff sudah pulang ke rumah masing-masing, begitupun dengan Alula yang diantar pulang oleh Revaz. meski sudah menolaknya berkali-kali, Revaz tetap memaksa, akhirnya Alula pun pasrah.
Mobil Revaz terlihat keluar dari bandara, sedangkan dari tempat yang tak jauh, Zyandru terus memperhatikan kedekatan kedua insan tersebut, dengan Ansell yang senantiasa berada di belakang tuannya itu.
"Mari tuan" Ansell menyadarkan Zyandru dari lamunannya.
Kedua pria yang sama-sama gagah itu berjalan menuju parkiran, tak lupa Ansell membukakan pintu mobil untuk Zyandru.
Tidak ada percakapan yang terjadi antara Zyandru dan Ansell sejak mobil berjalan. Ansell fokus mengemudi, sedangkan Zyandru nampak duduk tenang di kursi belakang.
Zyandru terus memperhatikan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya, di foto itu terlihat dua orang remaja dengan pakaian putih abu-abunya kompak tersenyum ke arah kamera dengan tangan yang saling menggenggam.
Aku akan mendapatkan kamu kembali princy, gak peduli bagaimanapun caranya.
Ya, foto yang sejak tadi terus dilihat Zyandru adalah fotonya dan Princy ketika mereka lulus SMA.
"Tuan" seperti biasa, Ansell akan memanggil tuannya dengan sopan.
"Ya"
"Saya ingin membicarakan hal yang penting dengan tuan"
"Hm" Zyandru meletakkan ponselnya.
"Sebenarnya kemarin saya mendengar pembicaraan Revaz dan Baskoro, saat itu Revaz mencurigai tuan hanya berpura-pura buta"
Zyandru menghela napasnya, "pasti karena kejadian di restoran"
"Memangnya ada kejadian apa di restoran tuan?"
"Alula adalah sepupu Princy"
Ciiiiittttt
Mobil yang dikemudikan Ansell mengerem tiba-tiba hingga menimbulkan bunyi gesekan ban dengan aspal.
"Apa-apaan sih Ansell, ngapain ngerem mendadak hah" Zyandru terlihat sangat kesal.
"Maaf tuan, saya terkejut, maksud tuan sekertaris Alula sepupu dengan mantan tuan Princy?"
"iya, saya juga baru tau fakta ini, Alula sendiri yang bilang, saat itu saya benar-benar terkejut, saya meninggalkan Revaz dan Alula sampai lupa bawa tongkat"
"Satu lagi tuan, dari percakapan mereka, sepertinya Baskoro meminta Revaz mengawasi anda tuan"
Zyandru menyunggingkan bibirnya, "cih, gak pernah berubah mereka, ayah sudah baik sekali mau menampung padahal Baskoro hanya adik tirinya, bukannya membalas budi, mereka malah menginginkan lebih"
"Jadi rencana tuan kedepannya bagaimana?"
"Biarkan mereka terus mengawasiku, kamu tetap cari tahu tentang Alula"
"Ansell"
"Iya tuan"
"Apa kita salah kalau melakukan segala cara untuk mendapatkan yang kita mau, termasuk merugikan orang?"
"Sama seperti Baskoro dan Revaz yang ingin merebut perusahaan tuan, menurut saya sangat salah"
Zyandru mengadahkan kepalanya, "Ahhh terus gue harus gimana"
Ansell melirik rare vision mirror, keadaan Zyandru terlihat kacau, "maaf jika saya lancang tuan, apa yang tuan maksud adalah Alula dan Princy?"
Zyandru tak menjawab, pria itu memijit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing.
...***...
Sedangkan di tempat lain.
Alula baru saja memasuki rumahnya, beruntung Revaz tidak mampir hingga Alula bisa langsung istirahat.
Sebenarnya wanita itu tidak benar-benar istirahat, melainkan membuka laptopnya dan mengerjakan laporan keuangan dinas.
Dengan headphone yang terpasang di kepalanya, wanita itu bergumam mengikuti lirik musik yang ia dengar.
But you are the fire, i'm gasonile
i love you, i love you, i love you
i loved you, dangerously, ee~ee
"Gila suara gue keren banget, bisa nih di bandingin sama Rihanna, hahah"
Tidak berhenti sampai di situ, sekarang Alula bahkan berdiri sambil bernyanyi dengan keras, kepalan tangan kanannya tepat berada di depan bibirnya seolah itu adalah mic.
Setelah sekian waktu, Alula berhenti dari kegilaannya, wanita itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Astaga, kerjaan gue" Alula melompat ke tempat tidurnya, dan kembali memangku laptopnya.
"Enggak selesai-selesai kalo gini caranya, musik bener-bener bahaya"
Saat sedang fokus pada laptopnya, Alula merasa ada yang menepuk bahunya.
"Jangan macem-macem deh, gue gak takut setan, tampakin diri lo sini depan gue" Alula berbicara dengan lantang.
Sekali lagi, tepukan di bahunya membuat Alula menghentikan pekerjaannya.
"Gue bilang gue gak takut set-"
Perkataan Alula terhenti tepat ketika ia membalikkan tubuhnya dan melihat seseorang berada di belakangnya.
"DEVIN"