
Dengkuran halus terdengar dari pria yang tengah tidur dengan posisi yang kurang nyaman. Duduk di kursi tunggu sebuah rumah sakit, sambil menekuk kedua tangannya di dada, pria yang sudah berkali-kali menangis itu tanpa sadar tertidur.
Sejak semalam hingga siang ini Zyandru sama sekali belum memejamkan mata barang sedetikpun, wajar saja jika pria itu terlihat begitu lelah.
Sementara itu di dalam, wanita yang biasanya produktif, kini hanya bisa terbaring lemah. Dengan area hidung dan mulut yang tertutup, selang tersebut menuju langsung pada sebuah alat bantu pernapasan yang letaknya tak jauh dari brankar.
Terlihat seorang perawat wanita masuk kemudian mengecek kondisi pasiennya, dilihatnya monitor vital Alula. Perawat tersebut tersenyum kecil kemudian menatap Alula.
Saat akan keluar, suara monitor itu berubah, begitupun dengan garis dan angka di layar. Sontak saja hal itu membuat perawat tersebut kelabakan dan langsung berlari keluar memanggil dokter.
Mendengar keributan, Zyandru membuka matanya, dilihatnya seorang dokter berpakaian hijau masuk ke dalam ruang ICU.
Pintu yang terbuka cukup lebar menjadikan Zyandru sekilas melihat Alula. Istrinya itu terpejam lemah dengan beberapa alat dan juga selang yang mengelilingi tubuhnya.
Untuk kesekian kalinya Zyandru dibuat tak tenang. Pria itu mondar-mandir di depan sambil sesekali mengacak rambutnya kasar.
Di dalam sana, dokter dan para perawat juga sama khawatirnya dengan Zyandru. Padahal saat di periksa sebelumnya semua baik-baik saja, namun tiba-tiba saja Alula mengalami henti jantung.
Dengan melepas alat bantu pernapasan Alula, dokter itu mengecek napas dan juga dada bagian kiri Alula. Merasa tak ada detak jantung, dokter tersebut langsung menumpukan kedua telapak tangannya di dada Alula.
Dengan meluruskan siku, dan bahu yang sejajar dengan telapak tangannya, dokter pria itu melakukan CPR.
Menekan dada Alula dengan cukup kuat hingga kedalaman 5 cm, terhitung sudah tiga tekanan yang diberikan pada dada Alula.
Sambil sesekali melirik ke samping, sang dokter seperti tak ada lelahnya berjuang menyelamatkan nyawa pasien.
Cukup lama melakukan tugasnya, dokter tersebut langsung berhenti dan bisa bernapas lega setelah melihat layar monitor kembali berjalan. Segera seorang perawat kembali memakaikan masker oksigen pada Alula.
Setelah mengecek dan memastikan kondisi Alula baik-baik saja, dokter tersebut berjalan keluar. Betapa terkejutnya ia ketika membuka pintu, wajah cemas Zyandru menjadi pemandangannya.
Entah sudah berapa kali Zyandru menanyakan hal yang sama, dokter pria yang berusia 30 tahunan itu tersenyum simpul pada Zyandru.
"Barusan istri anda mengalami henti jantung, namun istri anda langsung merespon begitu saya memberikan CPR. Sekarang kondisinya sudah stabil, kami akan terus memantau beberapa jam ke depan. Jika memungkinkan, istri anda akan dipindahkan ke ruang rawat inap esok hari."
Setelah menjelaskan panjang lebar, dokter tersebut meninggalkan Zyandru yang masih mematung di tempatnya.
"Alula..."
"Aku tahu istriku memang wanita hebat!" Kali ini Zyandru bisa tersenyum setelah mendengar penuturan dokter.
Salah seorang anak buah Zyandru menghampiri dan memberikannya makanan. Meski berat untuk menelan, Zyandru tetap memakannya karena tak ingin kesehatannya terganggu. Ia sadar istrinya harus ia jaga.
Sementara di bawah, Ansell yang baru saja selesai melakukan tugasnya mulai memahami situasi ini. Ia berharap semoga yang ada dipikirannya saat ini tidak benar.
Dengan emosi yang sudah di ujung kepala, Ansell masuk ke rumah sakit dan menemui Zyandru yang saat ini tengah makan.
Melihat kedatangan Ansell, Zyandru mengesampingkan makanannya dan menanyakan hal yang sejak tadi ia pikiran.
Ansell mulai mengeluarkan beberapa lembar foto yang menunjukkan Alula dan Aziel tengah makan bersama namun bukan itu yang menjadi perhatian Zyandru, melainkan di sana juga ada wanita masa lalunya, yaitu Princy.
Ansell mulai menjelaskan hubungan mereka bertiga yang merupakan teman semasa mereka kecil dulu. Ansell juga menjelaskan mereka berpisah karena Aziel yang harus ikut orang tuanya keluar negeri.
"Dan untuk masalah beberapa foto itu, Alula tidak hanya pergi berdua dengan Aziel, melainkan bertiga dengan Princy. Mereka melakukan reuni kecil-kecilan di sebuah hotel."
Dengan semua bukti dan penjelasan Ansell, Zyandru rasanya ingin menusuk dirinya dengan beribu pisau. Zyandru merasa menjadi orang paling bodoh di dunia.
Bersujud di kaki Alula pun tak akan merubah fakta bahwa ia salah.
"Tuan, apa ini berhubungan dengan kondisi Alula saat ini?" tanya Ansell yang terlihat begitu marah.
"Semalam saya mendapatkan pesan itu, saat perjalanan pulang, saya meninggalkan Alula di tengah jalan. Alula memang gagal dari pelecehan, tapi Alula menjadi korban kekerasan."
"Alula memang istri tuan tapi saya sudah menganggapnya sebagai adik saya sendiri. Maaf saya mengatakan ini, tapi saya kecewa dengan tuan!" Setelah sekian tahun, untuk pertama kalinya Ansell mengatakan hal seperti itu.
"Saya memang salah Ansell, silakan kalau kamu mau pukul say–"
Bugh !!!
Tanpa membiarkan Zyandru menyelesaikan ucapannya, Ansell segera memukul wajah kiri pria itu.
Melihat kedua anak buahnya hendak menghampiri, Zyandru mengangkat tangannya tanda meminta untuk membiarkan.
Zyandru sudah pasrah jika Ansell ingin memukulnya lagi, namun bukannya pukulan, melainkan sebuah uluran tangan yang Zyandru dapatkan.
"Kenapa? kamu kelihatannya masih emosi sekali, ayo pukul lagi Ansell!" Ucap Zyandru sesaat setelah mereka sudah sama-sama berdiri.
Ansell menggeleng, "Saya tidak ingin membunuh atasan sekaligus sahabat saya"
Zyandru menghangat, setelah adegan pukul memukul kedua pria itu malah tertawa kecil membahas persahabatan mereka.
"Sekarang kita harus lebih kompak, mari kita balas dendam untuk istri dan adikmu yang sedang terbaring di dalam!" Ucap Zyandru yang membuat Ansell mengangguk.
"Terus jaga dengan ketat istri saya! Jangan biarkan orang lain masuk ke area ini, dan jangan sampai ada orang luar yang tahu istri saya disini"
"Baik tuan!" kedua pria bertubuh kekar itu kompak menjawab perintah Zyandru.
Di perjalanan, Zyandru kembali memikirkan penyebab dirinya murka pada Alula.
"Mereka pergi bertiga, tapi kenapa foto yang dikirim ke saya cuma Alula dan Aziel? Apa kamu memikirkan apa yang saya pikirkan Ansell?" Tanya Zyandru menatap asistennya yang tengah fokus menyetir.
"Benar tuan, bisa jadi ini cara Princy atau Aziel memisahkan tuan dan Alula" Timpal Ansell.
"Atau mungkin mereka berdua bekerja sama, Princy yang ingin kembali tapi saya tolak, dan Aziel yang ingin mendapatkan Alula. Dari tatapannya sangat jelas dia begitu menyukai Alula."
Zyandru kembali menyalakan ponselnya. "Lalu nomor ini, apa kamu sudah tahu siapa?"
"Maaf tuan, setelah saya menyelidiki semuanya, nomor itu tidak terdaftar di manapun. Semuanya seperti sudah di rencanakan sebaik mungkin." Jawab Ansell jujur karena memang begitulah kenyataannya.
"Saya jadi makin yakin. Saya punya rencana untuk menjebak mereka berdua Ansell."
Zyandru mulai membicarakan rencananya untuk menjebak Princy dan Aziel. Tangannya bergerak ke kanan dan kiri saking semangatnya berbicara.
Ansell tersenyum senang mendengar rencana Zyandru yang menurutnya sangat bagus. Kedua pria itu kompak tertawa setelah Zyandru menyelesaikan bicaranya.