Blind Husband

Blind Husband
Blind 39


Zyandru merasa hatinya kembali hidup setelah kehadiran Alula, sungguh ia merasa sangat bahagia, bahkan saat bersama dengan Princy dulu, Zyandru tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.


Alula benar-benar segalanya bagi hidupnya, tak terhitung betapa besarnya rasa cinta yang Zyandru miliki untuk Alula.


Setelah pembicaraannya dengan Princy tadi, Zyandru mendapat pesan bahwa Aziel lebih dulu pergi. Bergegas Zyandru mencari Alula yang ternyata tengah duduk seorang diri.


"ALULA"


Wanita cantik yang membuat hatinya berbunga-bunga itu terlihat termenung di kursi dekat kolam renang, dengan semangat Zyandru menghampiri istrinya itu.


Alula menoleh dan memberikan senyuman manisnya pada pria yang sudah ia nikahi beberapa bulan ini.


Zyandru langsung memeluk erat tubuh yang dengan beraninya mengobrak-abrik hati dan pikirannya.


"Zyandru kamu meluknya kencang banget!" Ucap Alula dengan napas yang tersendat.


Bukannya melepaskan, Zyandru malah semakin memeluk erat raga Alula, sebisa mungkin Alula melepaskan diri hingga memukul punggung Zyandru.


"A–aku gak bisa napas"


Mendengar rintihan Alula, barulah Zyandru melepaskan pelukannya. Seketika Alula menunduk memegangi dadanya dengan napas tak beraturan.


"Alula kamu kenapa? aku peluknya terlalu kencang ya?"


"KAMU MAU BUNUH AKU?, HAH!" sembur Alula dengan kesal.


"Eh gak gitu, bisa jadi duda muda aku"


"Terus tadi ngapain peluknya kencang banget?" Alula masih menatap tajam suaminya itu.


"Maaf, tadi aku cuma terlalu senang aja, makanya reflek peluk kamu, hehe"


Zyandru kembali menarik lengan Alula, pelukannya kali ini tidak sekasar sebelumnya. Dengan mata terpejam, Zyandru mengecup kepala Alula berkali-kali.


"Kamu kenapa?" Alula mendorong dada Zyandru.


"Kenapa apanya?" lagi dan lagi Zyandru merapatkan tubuh mereka.


"Kenapa tiba-tiba senang benget? habis menang tender?" tanya Alula yang mulai membalas pelukan Zyandru.


"Karena kamu"


"Aku?" Alula mengangkat wajahnya dan melihat Zyandru tengah tersenyum padanya.


Cup


Dengan singkat Zyandru mengecup bibir merona istrinya hingga membuat Alula gelagapan.


"Ngapain cium-cium?" Alula kembali di buat kesal dengan tingkah suaminya itu.


"Emangnya kenapa? gak boleh? kamu kan istri aku jadi sah-sah aja dong"


Melihat wajah tak bersalah Zyandru membuat kekesalan Alula meningkat. Alula hanya bisa menahan malu karena saat ini mereka tengah berada di tempat umum.


"Alula"


"Hm"


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, mau kan?"


"Tempat apa?" tanya Alula seraya mengurai pelukan mereka.


"Rahasia, nanti kamu lihat sendiri aja"


"Bukan tempat yang aneh-aneh kan Zyandru?" Alula terlihat sedikit khawatir.


"Bukan, yuk!"


...***...


Ya, Alula tak salah lihat, setelah menempuh sekitar satu setengah jam perjalanan, pak Mun memberhentikan mobil di sebuah area pemakaman elit yang berada di karawang.


Area yang di tumbuhi rerumputan hijau tipis, dari penampakannya saja bisa dipastikan bukan orang sembarangan yang bisa di makamkan di sini.


Masih dengan rasa terkejutnya, Alula turun dan mendapati Zyandru menjulurkan tangannya.


Suami istri muda itu berjalan sambil bergandeng tangan, Zyandru menuntun Alula menuju area pemakaman privat dengan rumput hijau yang terawat.


Saking bagusnya kontur tanah di sana, Alula merasa area ini lebih mirip lapangan golf dibanding pemakaman.


Zyandru melepaskan genggaman tangan mereka, kemudian menunduk mengusap batu nisan hitam berbahan marmer. Kedua batu nisan dengan nama yang Alula sendiri baru pertama kali lihat.


Zyandru mendongak dan melihat wajah heran istrinya "Alula, kenalin. Ini papa dan mamaku!"


Mendengar perkataan Zyandru, Alula menunduk dan ikut mengusap nisan bertuliskan nama 'Darius Avior'. Alula juga mengusap makam di sebelahnya yang bertuliskan nama kebarat-baratan, yaitu 'Clementine Rayne'. Yang Alula tahu, ibu Zyandru memang asli orang Inggris.


Alula dan Zyandru berlanjut menyirami air mawar juga memanjatkan do'a.


"Pa, ma. Kenalin, ini istri abang, maaf ya beberapa bulan belakang abang jarang kesini. Abang terlalu sibuk sama istri abang yang cantik ini." Ucap Zyandru beralih menatap Alula yang duduk di sampingnya.


Alula hanya menanggapi ucapan Zyandru dengan senyuman. Tanpa terasa Air mata Alula tumpah kala mengingat kedua orang tuanya yang juga sudah tiada.


"Alula" Zyandru begitu terkejut melihat istrinya meneteskan air mata.


Zyandru mengerti mengapa Alula bisa seperti ini, jika dirinya masih bisa mengunjungi makam kedua orang tuanya. Lain halnya dengan Alula, jangankan berziarah, melihat jasad mereka untuk yang terakhir kalinya saja tidak bisa, lantaran jasad kedua orang tua Alula tenggelam di lautan lepas.


"Maaf, maafkan aku, sungguh maafkan aku Alula." Zyandru yang awalnya tegar, kini ikut menangis.


Dalam pelukannya, Zyandru dapat merasakan tubuh Alula bergetar hebat. Zyandru tak menghentikan tangis Alula, ia membiarkan istrinya menumpahkan semua rasa sakit yang dipendam selama bertahun-tahun.


Cukup lama mereka menangis hingga Zyandru merasa bajunya basah karena air mata Alula.


Ketika sudah mulai tenang, Alula mengangkat wajahnya, di saat itulah Zyandru mengusap kedua pipi istrinya.


"Maaf" ucap Alula dengan suara pelan.


"Kenapa minta maaf, hm?"


"Kamu jelek kalau nangis gini." Alula membawa tangannya dan mengusap sisa air mata di wajah Zyandru


"Kamu malah makin cantik kalau nangis gini."


Alula tertawa kecil mendengar perkataan Zyandru. "Mana ada orang nangis makin cantik!"


"Ada, kamu" seolah tak ada bosannya, Zyandru kembali memeluk Alula untuk yang kesekian kalinya.


Merasakan anginnya semakin kencang, Alula menelusupkan kepalanya pada dada bidang Zyandru, membuat pria itu terkekeh geli.


"Alula"


"Hm"


"Maaf"


"Maaf buat?"


"Aku ajak kamu kesini dengan tujuan mengenalkan kamu ke kedua orang tua aku. Aku sama sekali gak ada maksud buat kamu sedih, sumpah!"


"Iya, aku ngerti kok. Aku senang kamu bawa aku menemui papa dan mama mertua."


"Alula, kita pergi ke suatu tempat yuk!"


"Ke mana?"


"Tempat yang bisa melupakan kesedihan kamu."


"Yuk"