Blind Husband

Blind Husband
Blind 43


Aziel yang menyadari Zyandru memperhatikannya, lantas semakin gencar mendekati Alula.


Entah apa yang mereka bicarakan, Alula terlihat tertawa sambil beberapa kali memukul lengan Aziel.


Puas membuat Zyandru terbakar, Aziel pamit untuk menemui para gerombolan pengusaha yang lain, Alula mengangguk sebagai jawaban seraya memberikan senyuman tipisnya.


"Bagaiamana Zyandru? ceraikan Alula malam ini juga!" Aziel bermonolog dengan senyum miringnya.


Melihat Aziel pergi ke tempat lain, Zyandru menghampiri istrinya saat itu juga.


"Kamu habis dari mana?" tanya Alula dengan senyum yang tak luntur sejak tadi.


"Toilet" Zyandru menjawab dengan lembut, walaupun sudah berusaha menutupinya dengan senyuman, namun hatinya tak bisa berbohong.


"Aku bahagia sekali" Alula menggandeng lengan Zyandru dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Bahagia karena aku atau karena selingkuhan kamu Alula. Batin Zyandru yang dibuat semakin sakit melihat senyum Alula, sebisa mungkin Zyandru menahan air matanya agar tidak tumpah.


Semakin lama acara semakin membosankan, Alula juga sudah terlihat tak nyaman, Zyandru lantas mengajak istrinya itu pulang. Tak lupa Ansell mengekor di belakang.


Setelah sampai di parkiran, Zyandru malah menyuruh Ansell dan pak Mun untuk pulang dengan taksi. Zyandru mengatakan ia ingin berdua dengan Alula.


Dengan senang hati kedua anak buahnya itu menuruti perintah sang tuan. Kini tinggalah Alula dan Zyandru di dalam mobil berdua.


Tak seperti sebelumnya yang begitu bahagia, kini Zyandru malah menunjukkan wajah sebaliknya. Pria itu terlihat menyeramkan dengan wajah datarnya.


"Zyandru" panggil Alula lembut di iringi usapan di lengan suaminya.


Tak kunjung mendapat jawaban, Alula di buat semakin heran ketika Zyandru mempercepat mobil yang dikendarainya.


"Zyandru kenapa kencang banget?" tanya Alula yang mulai panik namun tak mendapat jawaban apapun dari sang suami.


"Zyandru pelan-pelan!" sambil menutup mata, Alula memegang erat seat belt. Alula beberapa kali meminta Zyandru memperlambat laju mobil namun sama sekali tak didengar oleh Zyandru.


"Biar kita mati sama-sama!" ucap Zyandru yang kembali menginjak pedal gas.


"ZYANDRU AKU TAKUT! AKU MOHON PELAN-PELAN ZYANDRU! BERHENTI, BERHENTI SEKARANG!"


Ciiiiieeeetttt


Zyandru menginjak rem dan seketika membunyikan suara decitan ban yang terbentur dengan aspal.


Bugh Bugh Bugh


Zyandru memukul setir beberapa kali sambil mengerang hingga membuat Alula kembali takut.


"AKHHHHHH KAMU GILA ALULA!"


Alula memberanikan diri membuka matanya yang sejak tadi terpejam, air matanya terjatuh saat itu juga. "Kamu kenapa? hiks hiks"


"KAMU YANG KENAPA?" Zyandru menggenggam kuat bahu Alula hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


Takut dan bingung, itulah yang Alula rasakan, ia benar-benar tak tahu mengapa Zyandru tiba-tiba berubah dalam sekejap mata.


Sikap lembut yang Zyandru tunjukkan berubah menjadi kasar, entah apa penyebabnya Alula pun tak tahu.


"Kenapa kamu berbuat sejauh ini Alula?" kini Zyandru mulai menangis membuat istrinya semakin heran.


"Aku gak ngerti kamu ngomong apa! kenapa kamu tiba-tiba marah gak jelas?, kalau aku ada buat salah kamu bisa bilang!"


Alula menjulurkan tangannya menghapus air mata Zyandru, namun langsung di tepis oleh pria tampan itu.


"Ahhh" ringis Alula merasakan sakit karena tangannya terbentur dasbor mobil.


"Turun!"


"A–apa?" Alula melihat keluar jendela mobil. "T–tapi rumah kita masih jauh, Zyandru aku..."


"Gak mau, ini udah malam, apalagi ini di pinggir jalan. Zyandru aku takut!" Alula menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.


Tanpa berkata apa-apa, Zyandru turun dan memutari mobil, kini Zyandru membuka pintu sebelah kiri dan memaksa Alula untuk turun. Dengan teganya pria itu menarik lengan istrinya dengan kasar.


Setelah berhasil menurunkan Alula, Zyandru kembali masuk dan mengunci pintu mobil.


"Zyandru aku mohon jangan tinggalin aku sendiri, aku takut Zyandru, hiks hiks." Sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil, Alula terus memohon namun tak dipedulikan sang suami.


"ZYANDRU, AKU TAKUT!"


Zyandru menyalakan mobilnya dan meninggalkan Alula yang masih berlari mengejarnya. Pria itu melirik kaca dan melihat Alula tesandung dan terjatuh di tengah jalan.


Mata hati dan pikiran pria itu telah di butakan api cemburu setelah melihat foto-foto istrinya bersama pria lain. Bukan hanya itu, sebelumnya Zyandru juga mendapat pesan yang mengatakan Alula sudah sering menjual tubuhnya.


Alula yang mempunyai ingatan mencekam tentang jalan raya seketika memeluk dirinya sendiri dengan rasa takut. Ingatan akan dirinya tertabrak mobil 16 tahun menjadi trauma mendalam bagi dirinya.


"Ayah, bunda. Tolong! kakak takut hiks," Alula beringsut ke pinggir jalan dengan tangan dan kaki yang terluka akibat terjatuh tadi.


"Sebenarnya salah aku apa? kenapa kamu ngelakuin ini ke aku Zyandru?" berkali-kali Alula mengusap air matanya yang tak hentinya terjatuh.


Alula melihat sekelilingnya, tidak ada apapun selain jalan beraspal yang sepi dengan lampu di pinggir dan beberapa pohon. Tak ada kendaraan berlalu lalang, suara-suara hewan malam makin menembah suasana menakutkan.


Alula membuka tasnya dan mengambil ponsel, niat hati ingin memesan taksi online, namun sayang tak ada sinyal di sana.


"Sebenarnya ini di mana?" Alula merasakan bingung luar biasa, pasalnya saat berangkat tadi ini bukanlah jalan yang dilaluinya.


Zyandru benar-benar kejam meninggalkan istrinya di tengah jalan yang entah di mana.


"Tuhan lindungilah hamba!" tak ingin terlalu lama menunggu hal yang tak pasti, Alula melangkahkan kakinya menyusuri jalan satu arah tersebut.


Hari yang semakin malam membuat udara pun semakin dingin, Alula beberapa kali mengusap lengannya sendiri kala angin malam menusuk kulitnya. Kakinya pun sudah terasa lecet karena heels yang di pakainya.


Senyum wanita itu mengembang ketika melihat jaringan muncul di layar ponselnya.


Langkah Alula terhenti begitu melihat sekumpulan pria teler dengan penampilan yang acak-acakan, tangan bertato itu terlihat menggenggam botol berwarna hijau. Alula sendiri tahu itu adalah botol minuman keras.


Alula sudah membayangkan nasibnya jika nekat melewati ketiga pria tersebut. Ditambah lagi dengan berita pelecehan di mana-mana, Alula benar-benar harus waspada.


Dengan sangat hati-hati Alula membalikkan tubuhnya dan sebisa mungkin tak membunyikan suara sedikitpun.


Sial sekali ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring. Alula menoleh dan mendapati ketiga preman itu menatapnya dengan seringai menakutkan.


"TOLONG !!!"


Alula berteriak sambil terus berlari dari kejaran ketiga preman itu. Nahas, lagi dan lagi Alula kembali terjatuh.


"Mau kemana cantik?"


"Mari bersenang-senang sayang!"


"Mulus banget cuy"


"Jangan takut gitu dong, kita gak jahat kok"


"Paling cuma gigit dikit, hahahah"


Ketiga preman itu mengelilingi Alula dan menatapnya seperti harimau kelaparan. Alula bagaikan kelinci kecil bagi mereka.


"Minggir lo, biar gue duluan!"


Salah seorang preman menggubris yang lain kemudian mendekat, dengan gerakan secepat mungkin Alula melepaskan heels nya dan menusuk mata preman yang hendak menyentuhnya itu.


"AKHHHHH ANJ*NG, JAL*NG GILA! MATA GUE SIALAN!"