Blind Husband

Blind Husband
Blind 17


Sesampainya di rumah, Zyandru langsung menarik lengan Alula dengan kasar dan menyudutkannya ke dinding.


"Aww, sakit Zyandru" benturan akibat terkena rak di supermarket tadi masih sakit, dan sekarang Zyandru malah menambahnya.


"Sakit kamu bilang, sejauh mana hubungan kalian?"


"Hubungan apa?"


"GAK USAH PURA-PURA BODOH ALULA, aku tau kamu sama Revaz masih punya hubungan" wajah Zyandru terlihat memerah saking marahnya.


"Dari dulu aku gak pernah punya hubungan apa-apa sama Revaz"


"Gak usah bohong, aku lihat sendiri kalian itu dekat layaknya pasangan!"


"Kamu lihat?" heran Alula.


Seketika Zyandru merutuki kebodohannya, ia sampai keceplosan seperti ini.


"Aku dengar orang-orang kantor terus membicarakan kalian, jangan mentang-mentang aku gak bisa lihat kamu jadi seenaknya selingkuh"


"Kamu lebih percaya orang lain dari pada istri kamu sendiri Zyandru"


"KAMU TINGGAL JAWAB SEJAUH MANA HUBUNGAN KALIAN!" Zyandru kembali meninggikan suaranya.


"AKU GAK SELINGKUH!" Alula yang sudah lelah dengan pertanyaan Zyandru lantas ikut meninggikan suaranya.


Entah apa yang ada di pikiran Zyandru, tiba-tiba saja ia mencekik Alula cukup kuat, Alula yang mendapat perlakuan seperti itu lantas memberontak.


"Sekali lagi aku tanya kamu udah ngapain aja sama Revaz?" tekan Zyandru, wajahnya terlihat sangat menakutkan.


Melihat Alula menggeleng, kemarahan Zyandru kembali memuncak, pria itu mendekatkan wajahnya ke Alula dan langsung mencium bibir Alula.


Alula yang mendapat perlakuan seperti itu lantas memukul dada Zyandru berkali-kali.


"Pasti bibir kamu ini udah pernah dicium Revaz kan, apalagi hah, ini juga" Zyandru mengecupi wajah hingga tengkuk Alula.


"Zyandru aku mohon, sakit" lirih Alula yang hampir kehabisan napasnya.


Tak peduli dengan tangisan sang istri, Zyandru kembali menyerang bibir Alula dengan kasar. Tak berhenti sampai disitu, tangan kiri yang Zyandru gunakan untuk menahan tangan Alula kini ia gunakan untuk memegang bagian tubuh Alula yang lain.


Ya Tuhan tolong. Tak memiliki kuasa untuk berbicara, Alula hanya bisa memohon dalam hati.


Puas dengan kegiatannya, Zyandru menghempaskan Alula begitu saja, Alula terjatuh dengan lehernya yang terasa sangat sakit, napasnya terengah-engah, air matanya tak berhenti berjatuhan.


Zyandru menunduk dan mencengkeram kuat wajah Alula, "pasti kamu udah lakuin semua itu kan sama Revaz, dasar murahan, istri gak tahu diri kamu"


Bugh


Kini giliran Alula yang mendorong Zyandru hingga sang suami terjatuh ke belakang.


"Harus berapa kali aku bilang, aku gak ada hubungan apa-apa sama Revaz, aku juga gak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu dengan siapapun"


Memang benar yang Alula katakan, ia tak pernah melakukan hal tersebut bahkan dengan Zyandru, ia selalu menjaga kesuciannya, bahkan barusan adalah ciuman pertama bagi Alula, tapi Zyandru mengambilnya secara paksa.


"Sampah kamu Alula" Zyandru meninggalkan Alula begitu saja, tak peduli istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Alula hanya bisa menangis, dia benar-benar tak mengerti dengan Zyandru, padahal semuanya bisa dibicarakan baik-baik, tanpa harus memakai kekerasan.


Kenapa disaat hubungan mereka baik-baik saja, masalah selalu datang, tidak bisakah ia hidup tenang tanpa air mata.


Dengan langkah gontai, Alula berjalan menuju kamar tamu berada, ia tak peduli akan kemarahan Zyandru nantinya. Yang ia inginkan hanyalah menyendiri.


...***...


Malam harinya, setelah pertengkaran dengan Alula dan pergi begitu saja, Zyandru kembali ke rumah sekitar pukul satu malam.


Dilihatnya Alula tidak berada di kamar mereka, dicarinya sang istri kedapur, namun tak menemukannya. Zyandru bahkan sempat berpikir Alula meninggalkan rumah.


Zyandru terlihat frustasi, sesaat ia memikirkan kamar tamu, dan benar saja, saat sampai di sana ia melihat Alula tertidur dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Perlahan Zyandru mendekat dan duduk dipinggir tempat tidur, perasaan Zyandru campur aduk melihat leher Alula yang memerah akibat cengkeramannya.


Matanya begitu bengkak, Alula terlihat begitu kacau, tangan Zyandru terulur mengusap pelan leher Alula.


Ketika bertemu Revaz di supermarket, Zyandru kembali teringat akan perbuatan gila Revaz bersama Nindy, entah mengapa Zyandru mempunyai pikiran Alula pun melakukannya dengan Revaz.


Zyandru masih beranggapan Alula dan Revaz memiliki hubungan, puas memandang Alula, Zyandru keluar dan kembali ke kamarnya.


...***...


"Akh Shh"


Seorang wanita cantik terlihat menggeliat dalam tidurnya, ia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.


Perlahan Alula membuka matanya, pergerakan sedikit saja rasanya tak nyaman. Tiba-tiba napasnya terasa sesak, perlahan Alula membangunkan dirinya dan mencoba mengatur napasnya.


Alula kembali memikirkan kejadian kemarin sore, tak terasa air matanya terjatuh, tubuhnya memang sakit, namun hatinya lebih sakit.


"Katanya jodoh anak perempuan itu cerminan ayahnya, tapi Zyandru beda banget sama ayah"


Alula terus mengusap air matanya yang tak berhenti berjatuhan.


"Ayah gak pernah sekalipun bentak apalagi main tangan, bahkan ayah gak pernah buat kakak menangis, tapi Zyandru kebalikan dari ayah, Zyandru tempramen, kakak takut yah, hiks hiks"


Dengan menatap selembar foto kedua orang tuanya, Alula menceritakan semua masalahnya.


Ruangan itu menjadi saksi bisu betapa sakitnya luka yang Alula rasakan, mata yang sempat mengering kini kembali basah.


"Kenapa rasanya sesakit ini" Alula memukul dadanya yang terasa sangat sesak, perlahan Alula kembali merebahkan tubuhnya, mencoba neredam semua rasa sakit yang menyerang tubuhnya.


"Tidur Alula besok kerja" gumam Alula pada dirinya sendiri, namun nyatanya melanjutkan tidur tak semudah yang ia bayangkan.


Alula melirik ponselnya, dilihatnya waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi, dengan sangat hati-hati Alula pergi menemui sopir pribadinya.


Zyandru yang belum tidur melihat dari balkon kamarnya, ia begitu heran melihat Alula menaiki mobil bersama sang sopir.


"Mau kemana jam segini" gumam Zyandru yang merasa curiga namun juga cemas.


...***...


"Pak mun maaf ya ngerepotin" ucap Alula yang saat ini tengah berada di mobil.


"Gak apa-apa nyonya, memang udah tugas saya, ngomong-ngomong nyonya sakit apa?"


"Cuma sakit punggung aja pak"


Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan, mereka sampai di salah satu rumah sakit. Di salah satu ruangan, Alula terlihat sedang diperiksa.


"Kenapa bisa memar begini bu?" tanya dokter wanita yang menangani Alula.


"Kebentur rak supermarket dok"


"Apa lagi yang dirasakan selain punggung?"


"Dada saya sesak" jawab Alula jujur.


Setelah beberapa pemeriksaan, tidak ada luka dalam di punggung Alula, hanya luka luar saja, dan untuk dada yang sesak itu akibat benturan pada punggung.


Setelah menebus beberapa obat yang sudah diresepkan, Alula kembali ke rumah.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Alula sempat berbicara kepada pak mun.


"Pak mun, besok pagi tolong belikan Zyandru sarapan ya, sama satu lagi besok langsung berangkat aja ke kantor, gak usah nunggu saya"


"Baik nyonya"


"Oh iya, jangan kasih tau Zyandru masalah ini ya pak"


"Baik nyonya"


Baru saja Alula masuk ke kamar tamu, Zyandru langsung keluar dan menemui pak mun dan menanyakan tentang hal yang terus mengganjal hatinya.


Zyandru mencelos ketika mendengar penjelasan pak mun mengenai Alula yang minta diantar ke rumah sakit.


Dengan langkah gontai Zyandru kembali ke kamarnya, ia terus memikirkan sang istri yang saat ini sedang sakit.


Tak dipungkiri ada rasa bersalah yang terus hinggap dalam hati Zyandru, "Apa aku sejahat itu"