
Sebuah jet pribadi dengan fasilitas yang tidak terlalu mewah, namun juga tidak bisa disebut biasa saja terlihat kedua pilot sibuk dengan pekerjaan mereka saat ini.
Para pilot dan awak kabin bisa bernapas lega, akhirnya mereka sampai di negara tujuan setelah penerbangan yang begitu melelahkan.
Jarak perjalanan yang begitu panjang hingga mencapai total mengudara 38 jam menjadikan pilot harus tiga kali transit di bandara yang berbeda. Jet pribadi asal jakarta itu akhirnya landing di El Dorado International Airport, lebih tepatnya di kota Bogota.
Setelah benar-benar mendarat, keempat pria yang sejak tadi menunggu di bandara, bergegas menghampiri.
Melihat kedua penumpang yang masih menutup matanya dengan rapat, mereka membawa satu raga pria dan satu raga wanita itu untuk di masukkan ke mobil.
Negara yang berada di wilayah barat laut Amerika dengan warna bendera kuning, biru dan merah itu adalah negara dengan 72% wilayahnya berupa hutan.
Negara yang pernah dijajah Spanyol itu menjadikan bahasa negeri matador tersebut sebagai bahasa nasional mereka. Hanya segelintir orang saja yang bisa berbahasa Inggris di sana.
Zyandru yang tak ingin Aziel dan Princy kembali ke tanah air memilih mengasingkan kedua penjahat itu di negara yang letaknya paling jauh dari Indonesia. Yaitu Kolombia.
Para anak buah Zyandru itu kembali melanjutkan perjalanan hingga beberapa jam lamanya mereka sampai di desa kecil bernama Minca. Sebuah desa beriklim sejuk yang berada di kaki bukit-bukit sierra nevada de santa marta.
Sesampainya di desa yang cukup jauh dari kota tersebut, keempat pria itu kembali membawa Aziel dan Princy pada satu bangunan yang terlihat seperti rumah panggung yang terbuat dari bambu.
Membaringkan tubuh kedua pelaku kejahatan tersebut di tempat tidur yang memang sudah di siapkan sebelumnya, salah seorang pria terlihat mengeluarkan dua jarum suntik.
Usai melakukan tugasnya, mereka tak langsung pergi, melainkan memotret Aziel dan Princy kemudian mengirimkannya pada tuan mereka yang tak lain dan tak bukan adalah Zyandru.
Mendapat balasan pesan berupa kata "bagus" keempat pria itu tersenyum senang kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Sekitar setengah jam pasca di tinggalkan, seorang pria dan wanita yang tertidur panjang selama dua hari ini, akhirnya menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
"Shh Akhh"
Suara pria dan wanita terdengar mengerang, tangan mereka kompak mengibas wajah mereka sendiri. Entah mengapa mereka merasa sangat panas pada tubuh masing-masing.
Keempat mata itu terbuka sempurna, merasakan seluruh anggota tubuhnya pegal dan sakit, Princy dan Aziel kompak bangkit kemudian duduk.
"Alula?"
"Zyandru?"
Entah obat apa yang di berikan anak buah Zyandru sebelumnya, mata mereka yang berkunang-kunang menjadikan mereka menyebut nama yang salah.
Melihat orang yang di cintai dan diincarnya ada di depan mata, Aziel dan Princy kompak tersenyum senang. Kedua insan itu perlahan mendekat dan saling memberikan pelukan yang hangat.
Ungkapan cinta dan bahagia pun keluar begitu saja dari mulut mereka.
Dalam penglihatan Aziel saat ini, Princy adalah Alula, sedangakan dalam penglihatan Princy, pria yang tengah mengusap punggungnya saat ini adalah Zyandru.
Tak lagi memikirkan tempat dan waktu, atau bagaimana keadaan sekitar. Aziel dan Princy mulai menyentuh tubuh satu sama lain hingga terjadilah hubungan terlarang di antara mereka.
Dengan kondisi yang sama-sama belum sadar sepenuhnya, kedua insan itu begitu bahagia mengingat melakukan hal tersebut bersama orang yang mereka harapkan.
...***...
"Istri anda sudah bisa pulang!"
Satu kalimat dari seorang wanita yang membuat pria di depannya terdiam tak bisa berkata-kata.
"Sebentar!" Zyandru mengangkat tangan kanannya sebatas bahu. "Maksud dokter apa?"
"Istri anda sudah bisa pulang pak Zyandru," Psikiater wanita yang selama lebih dari dua minggu ini menangani Alula mengulang kata-katanya.
"Pulang? Tapi kan dokter sendiri yang bilang istri saya harus di rawat setidaknya satu bulan. Sedangkan ini baru 17 hari dan 8 jam dok!"
Zyandru menghitung minggu, hari bahkan menit dan detik yang ia habiskan dalam kesendirian tanpa Alula di sampingnya.
Ekpresinya yang terlihat bingung dengan mata yang bulat sempurna juga mulut yang sedikit terbuka, membuat psikiater itu menunduk dan tertawa kecil melihat tingkah laku suami dari pasiennya itu.
"Saya tahu, maksud saya di sini adalah kondisi fisik istri anda sudah membaik, hanya tinggal pemulihan jari dan otot dadanya saja. Dan untuk masalah mental, bisa di rawat di rumah dengan kontrol rutin dua kali seminggu."
Zyandru terdiam, pria itu masih tak menyangka dengan kata-kata yang baru saja di dengarnya. Antara senang dan bingung yang Zyandru rasakan, pria itu tak sadar meremas jarinya sendiri.
Masih dengan rasa terkejutnya, Zyandru kembali meminta penjelasan mengenai keadaan Alula saat ini. Hingga di kali ketiga, Zyandru baru sadar dan langsung berteriak kegirangan.
Pria itu bangkit dari duduknya kemudian meloncat kecil beberapa kali sambil meninju angin. Tingkah lakunya itu tak luput dari pandangan beberapa orang di sekitarnya. Zyandru tak peduli, pria itu hanya butuh pelampiasan untuk meluapkan kebahagiaannya saat ini.
Setelah mengucapkan banyak terimakasih pada dokter dan para perawat, Zyandru berlari keluar hendak menghampiri istrinya.
Tak di sangka ia malah bertemu dengan Ansell yang baru saja tiba. Zyandru yang terlampau senang, memeluk tubuh asisten sekaligus sahabatnya itu hingga Ansell membulatkan matanya tak percaya.
"Ansell, carikan dokter pribadi yang paling bagus untuk merawat kesehatan fisik dan kesehatan mental. Saya tunggu hari ini juga!"
Setelah puas memeluk dan menepuk punggung Ansell dengan cukup kuat, Zyandru memberi perintah kemudian meninggalkan Ansell yang masih terpaku dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
Sebelum masuk ke ruang rawat Alula, Zyandru nampak merapikan rambut dan pakaiannya beberapa kali. Senyum pria itu begitu cerah, secerah cuaca pagi ini.
Memberi ketukan tiga kali, Zyandru membuka pintu dan mendapati istrinya itu tengah duduk di sofa dengan mata tertuju pada tumpukan bunga kirimannya.
"Sayang"