
"Bibit pelakor"
Zyandru dan Tiana sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sadar dengan apa yang terjadi, Zyandru mendorong tubuh Tiana hingga wanita itu terjatuh ke lantai dan langsung meringis kesakitan.
Sedangkan Alula meneruskan langkahnya ke dapur, tak peduli Zyandru mengejarnya di belakang.
"Sayang, itu gak seperti yang kamu lihat! Aku bersumpah! Tadi itu Tiana terpeleset dan jatuh."
Alula tak mendengarkan perkataan suaminya, wanita itu membuka kulkas dan mengambil es krim yang belum sempat ia makan sejak siang.
Begitu menutup pintu kulkas bagian atas, Alula di kejutkan dengan wajah Zyandru yang berada di sana.
"Sayang, kamu percaya kan? Jangan cuekin aku gini!" Rengek Zyandru. Pria itu mengambil alih es krim yang berada di tangan Alula dan meletakkannya sembarangan.
Alula yang diam tak bersuara menjadikan Zyandru begitu panik dan takut. Berkali-kali menjelaskan yang sebenarnya, namun Alula hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Alula, kumohon jangan marah!" Zyandru memeluk tubuh Alula begitu erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya.
Melihat Tiana berjalan ke arah mereka dengan gelisah, Alula berusaha melepaskan pelukan Zyandru, namun suaminya itu seolah tak membiarkan Alula pergi.
"Lepas!" Ucap Alula dengan tangan yang berusaha menjauhkan Zyandru.
Pria yang mendekap tubuhnya itu menggeleng dengan tangan yang makin kuat merapatkan tubuh mereka. Kepala Zyandru pun semakin menyatu dengan leher Alula.
"Alula, aku minta maaf. Yang di bilang Zyandru itu benar, tadi itu gak seperti yang kamu lihat." Ucap Tiana, wanita itu terlihat merasa bersalah.
"Oh, gak papa kok! Lanjut Aja! Kalau perlu nikahin sekalian!"
Dengan mudahnya Alula mengatakan hal tersebut, membuat Zyandru seketika mengangkat kepalanya. Melihat wajah tenang dengan senyum tipis istrinya, Zyandru dibuat semakin merasa bersalah.
Merasa tangan Zyandru di pinggangnya melemah, Alula menjadikan itu sebagai kesempatan. Wanita itu mendorong kasar dada suaminya.
Zyandru tentu tak membiarkan hal itu terjadi, pria itu kembali berusaha memeluk istrinya yang hendak pergi. Namun, karena Alula yang terus memberontak, membuat Zyandru tak sengaja menekan tangan kanan istrinya itu.
Teriakan penuh kesakitan Alula pun tak terelakkan, wanita itu seketika menunduk ke lantai dan memegangi jarinya yang terbungkus perban berwarna coklat.
"A...Alula"
Kepanikan Zyandru bertambah berkali lipat. Tak ingin terjadi hal yang makin buruk, Zyandru segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar dari rumah.
Tak lagi memikirkan hal lain, Zyandru mengeluarkan salah satu mobilnya dan menancap gas keluar dari pekarangan rumahnya.
Di mobil, Alula hanya diam sambil terus mengusap pelan tangannya. Alula sudah berhenti menangis dan tak berteriak kesakitan seperti tadi, namun sekarang malah Zyandru yang menangis.
Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan yang tak main-main, mereka sampai di salah satu rumah sakit. Zyandru yang berusaha menggendong Alula selalu saja di tepis oleh istrinya itu.
Meskipun dokter mengatakan jari manis Alula baik-baik saja, hal itu tak membuat Zyandru tenang. Pria itu terus merutuki dirinya yang kembali menyakiti istrinya.
Usai dengan pemeriksaan Alula, Zyandru mengendarai mobilnya kembali menuju rumah mereka. Beberapa kali pria itu menoleh dan melihat istrinya hanya diam sejak keluar dari rumah sakit tadi.
Zyandru tak tahu apa yang sedang Alula pikirkan saat ini, entah masalah Tiana, atau mungkin masalah tangannya. Pria itu hanya berharap sang istri mau berbicara dengannya kembali.
Masuk ke halaman rumahnya, Alula langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Zyandru membukakan seperti biasa.
Alula memilih dapur sebagai tempat yang didatanginya begitu masuk ke dalam rumah. Wanita itu masih ingin memakan es krim yang terus saja gagal masuk ke dalam mulutnya.
Membawa kotak kecil berisi makanan beku dengan tiga warna dan sebuah sendok, Alula berjalan menuju meja makan.
Sementara di belakang, Zyandru terus mengikuti langkah istrinya itu. Setelah bersikap begitu dewasa saat ada Tiana tadi, kini Alula malah mengeluarkan sisi anak kecilnya.
Melihat tingkah istrinya, Zyandru malah dibuat semakin takut. Perubahan sikap Alula yang begitu cepat, membuat Zyandru berpikir mungkinkah mental Alula semakin buruk.
Berlutut dengan menundukkan kepalanya, Zyandru kembali menangis di depan Alula. Hanya di depan Alula Zayana lah kewibawaan seorang Zyandru Avior akan hilang berganti dengan sikap manja bak anak kecil.
"Sayang, aku minta maaf. Kalau tadi aku biarin kamu pergi, kamu gak akan kesakitan gini."
Alula yang duduk di kursi, melihat dengan jelas air mata Zyandru mengalir deras. Wanita itu memilih diam dan memperhatikan.
"Masalah Tiana... Aku bersumpah demi Tuhan semua yang aku bilang itu memang benar adanya. Aku gak ada hubungan apapun dengan Tiana, maafkan aku."
Diamnya Alula seperti inilah yang membuat Zyandru takut. Pria itu lebih baik di marahi bahkan di pukul, dari pada didiamkan seperti ini.
"Sayang... Tiana itu–"
"Tak masalah bagiku mau kamu dekat dengan wanita manapun, justru aku senang melihatnya. Dengan begitu, aku akan dengan mudah lepas dari kamu."
Untuk pertama kalinya, Alula berani mengutarakan isi hatinya. Tak peduli tanggapan suaminya nanti, Alula benar-benar sudah muak dengan semuanya.
"Alula, maksud kamu apa? Kamu mau–"
"Ya! Aku sudah lelah hidup bersama dengan kamu Zyandru Avior. Kamu tahu apa yang paling aku inginkan di dunia ini? Berpisah dari kamu!" Alula mengarahkan jari telunjuknya pada dada Zyandru.
Pria itu seketika terdiam. Hal paling menakutkan bagi Zyandru adalah kata pisah yang keluar dari mulut Alula.
Dengan cepat Zyandru memeluk pinggang Alula, kepalanya tepat berada di perut istrinya itu. Pria itu menangis sejadi-jadinya hingga wajahnya terlihat memerah. kata-kata tolakan terus keluar dari mulut Zyandru.
Pria itu sungguh tak siap bahkan tak mau jika harus berpisah dari wanita yang saat ini sangat dicintainya. Zyandru tak peduli jika semua orang di dunia meninggalkannya, namun tidak dengan Alula. Sampai kapan pun istrinya itu tak boleh meninggalkannya.
Suara tangis Zyandru menggema memenuhi ruangan itu. Tak peduli jika orang lain menganggapnya cengeng atau mungkin gila, orang lain tak akan mengerti ketakutan yang Zyandru rasakan saat ini.
"Gak mau! Aku gak mau! Kumohon jangan pergi dari hidupku! Jangan ngomong gitu Alula... Harus dengan cara apa aku membuktikan penyesalan dan cintaku? Katakan Alula!"
"Bunuh aku!"