
"Kamu bisa lihat Zyandru?"
Zyandru tak memperdulikan pertanyaan Baskoro, ia menarik salah satu kursi untuk Alula, setelahnya Zyandru duduk tepat di samping istrinya.
"Kamu bisa lihat?" kali ini Revaz yang bertanya, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan kalian, lebih baik kita lihat presentasi Ansell terlebih dahulu" ucap Zyandru dengan senyum tipisnya.
Ansell yang sudah siap dengan layar proyektornya, mulai menyalakan laptop dan menampilkan angka serta persesan laporan keuangan.
"Ini adalah rangkaian penggelapan dana yang telah terjadi selama empat tahun belakang, dari sini kita bisa lihat seberapa besar kerugian yang di terima perusahaan akibat korupsi ini"
Sejak Zyandru kecelakaan empat tahun lalu, sejak saat itulah ia mempercayakan perusahaan pada Baskoro dan Revaz.
Bukannya memegang tanggung jawab dengan amanah, ayah anak itu malah melakukan korupsi secara berangsur-angsur yang jika di hitung empat tahun ini, totalnya mencapai 171 milyar.
Pada slide selanjutnya, Ansell menujukkan bukti rencana jahat Baskoro Revaz dan seorang pengusaha bernama Johan. Mereka bertiga berencana menusuk Zyandru dari belakang.
Zyandru tersenyum sinis melihat wajah terkejut paman dan sepupunya, "kenapa wajah kalian kaget gitu?"
"Apa maksudnya ini Zyandru?" Baskoro bertanya dengan keringat dingin yang mulai mengucur di pelipisnya.
"Ansell" Zyandru mengkode agar asistennya itu menjelaskan.
"Pak Baskoro dan Revaz bekerja sama dengan pak Johan untuk mengakuisisi perusahaan tuan Zyandru bukan?. Tidak perlu menyangkalnya karena saya sendiri yang mengumpulkan semua bukti itu!. Kalian bertiga bahkan sudah membuat perusahaan kecil yang akan menggantikan distributor bagi perusahaan pak Johan"
"Gak, ini bohong!, apa-apaan kamu Ansell, berani kamu memfitnah kami, Zyandru kamu percaya sama om kan!"
"Lanjutkan Ansell" Zyandru tak mempedulikan perkataan Baskoro.
"Baik tuan, sekarang kita masuk ke kejahatan kalian di masa lalu!" ucap Ansell sambil mengotak-atik laptopnya.
Ansell menampilkan beberapa bukti rekayasa kecelakaan yang dialami Zyandru empat tahun lalu. Lagi dan lagi Bakoro dan Revaz menyangkal itu semua, namun tak diindahkan oleh Zyandru.
"Pasti kalian sangat kenal dengan wajah ini, kalian yang sudah merekayasa kecelakaan yang membuat papa meninggal"
Bagai tersambar petir siang bolong, Alula yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, kini menatap Zyandru dengan mata bulat sempurna.
"Kurang apa papa terhadap kehidupan kalian?, hingga dengan teganya kalian melakukan ini hah! om Baskoro itu cuma adik tiri tapi papa tak pernah mengungkit itu. Sejak dulu hidup kalian sudah di tampung oleh papa, tapi dengan teganya kalian membalas dengan cara seperti ini"
Dada Zyandru naik turun menandakan emosinya meluap-luap.
"Dan kamu Nindy!" Zyandru menunjuk sekertaris Baskoro.
"Berapa uang yang kamu dapatkan untuk membantu mereka dan memberikan tubuh kamu pada Revaz?"
"Jaga mulut kamu Zyandru!"
"S–saya c–cuma" ucapan Nindy terhenti karena Revaz menggebrak menja dengan keras.
"Jangan asal fitnah kamu Zyandru! Tidak cukup kamu memfitnah aku dan papa dengan semua ini, sekarang kamu juga memfitnah aku dan Nindy, sungguh gila kamu! Alula, lihat berapa gilanya pria yang kamu nikahi ini"
"Alula bahkan sudah tahu hubungan kamu dan Nindy, ya kan sayang?" Zyandru menatap Alula dan mengecup punggung tangan istrinya itu.
Dengan kepala menunduk, Alula mengangguk pelan, sejujurnya ia sangat bingung sekaligus takut dengan situasi mencekam ini.
"Lepasin tangan kotor lo dari istri gue!" Zyandru berdiri kemudian mendorong Revaz agar menjauh dari istrinya itu.
Merasa situasi makin mencekam, Ansell langsung memutarkan video yang membuat Revaz dan Nindy terdiam.
Nindy menunduk malu ketika aibnya di pertontonkan, "saya memang berhubungan dengan pak Revaz dan saya juga di bayar untuk melakukan segala perintah pak Baskoro dan Pak Revaz. Saya tahu saya salah, tapi tolong ampuni saya pak, saya hanya butuh uang" Nindy menangis dan bersujud di bawah kaki Zyandru.
"Jangan asal kamu Nindy!, saya gak pernah berhubungan dengan wanita menjijikkan seperti kamu!" Revaz masih menyangkal padahal bukti di depannya sudah sangat jelas.
"Alula, ini semua cuma rekayasa Zyandru, video itu bohong Alula, aku gak akan melakukan itu dengan orang lain, aku mohon percaya sama aku"
Alula menghempaskan tangan Revaz dengan kasar, ia beralih menunduk dan memegang kedua bahu Nindy.
"Bangun!, kamu gak boleh sujud seperti itu!, kamu mengakui kesalahan kamu itu tandanya kamu juga harus menanggung akibatnya!" ucap Alula.
"Maaf" Nindy berhambur memeluk Alula dengan erat, air matanya membasahi bahu Alula.
"Selama empat tahun ini saya memang berpura-pura buta untuk mengungkap semua kejahatan om dan Revaz, ah satu hal lagi, om juga yang meracuni makanan mama saya kan!"
Kenyataan menyakitkan apa lagi ini, Alula dan Ansell kompak menatap Zyandru dengan mulut menganga lebar.
"Racun yang membuat mama meninggal setelah melahirkan adik saya. Sungguh iblis anda Baskoro"
"Hahahahahaha" Baskoro tertawa sangat keras hingga membuat orang sekelilingnya menatapnya heran.
Jangankan Alula, Ansell saja yang sudah mengikuti Zyandru bertahun-tahun, tak tahu masalah yang satu ini.
"Jadi kamu sudah tahu, ya, memang om yang sudah meracuni mama kamu, sebenarnya maksud om itu meracuni papa kamu, tapi yang kena malah mama kamu, ya sudah mau bagaimana lagi" wajah tak bersalah Baskoro, sungguh membuat siapapun yang melihat keheranan.
"Pah, maksud papa apa?" tanya Revaz tak percaya.
Zyandru berdecih melihat reaksi Revaz yang menurutnya hanya bohong. mata Zyandru tak sengaja bertatapan dengan mata Alula, sepasang mata itu memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu tahu, om sangat iri dengan papa kamu, semua yang dimilikinya sempurna, mulai dari kesuksesan bahkan istri, mama kamu terlalu sempurna untuk orang penyakitan seperti papa kamu Zyandru"
Hati Zyandru sangat sakit menghadapi masalah ini, hidupnya sangat hancur dengan kepergian ibunya, di tambah lagi ayahnya yang juga meninggal secara tragis, dan yang lebih parahnya pembunuhnya adalah orang yang sama. Orang yang begitu di percaya menjadi orang yang memberi luka paling dalam.
Tak tahan lagi dengan semuanya, Zyandru segera memanggil masuk beberapa polisi yang memang sudah menunggu di depan.
Dengan semua bukti yang sudah Ansell berikan, ia berkerja sama pada pihak kepolisian. Ketiga polisi tersebut langsung memborgol Baskoro, Revaz dan juga Nindy.
"APA-APAAN INI ZYANDRU?, LEPASIN GUE! PA, REVAZ GAK MAU DI PENJARA PA! ALULA, ALULA TOLONG AKU!, AKU GAK MAU DI PENJARA ALULA!"
Revaz terus memberontak sambil terus mengucapkan kata kasar yang di tujukan pada Zyandru, Berbeda dengan Revaz, Baskoro justru terlihat tenang seperti tak terjadi apa-apa. Sedangkan Nindy, wanita cantik itu hanya bisa menangis menyesali semua perbuatannya.
Ansell segera mengikuti para polisi tersebut untuk menindaklanjuti masalah ini.
Seketika satu perusahaan menjadi heboh dengan kejadian ini, mereka keheranan mengapa tiga orang itu di bawa polisi.
Kini di ruang rapat, tinggalah Alula dan Zyandru, dengan memberanikan diri, Alula memanggil nama sang suami.
Zyandru mendekat dan meraih tubuh Alula untuk di peluknya, "aku pinjam bahu kamu sebentar aja" ucap Zyandru yang mulai meneteskan air matanya.
Tangan Alula terangkat dan membalas pelukan Zyandru tak kalah eratnya, air matanya pun ikut tumpah membayangkan kesedihan Zyandru.