
Alula sedikit menjauhkan tubuhnya dari Zyandru, kata-kata yang keluar dari mulut pria itu bagaikan puisi yang sangat indah, saking indahnya Alula merasa seperti disayat di setiap baitnya.
Masalah seperti ini bukan hal yang besar bagi Alula, ia pernah merasakan rasa sakit yang lebih dari ini. Ia tidak akan menjadi lemah hanya karena fitnah yang tak berbobot ini.
"Apa buktinya kamu menuduh aku seperti itu?"
Zyandru lagi-lagi menoleh ke Ansell, dengan menganggukkan kepala, Ansell menunjukkan rekaman di mana Alula beberapa kali masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya di gunakan Revaz dan Nindy.
"Kamu sekertaris aku Alula, bukan perkerja lapangan, ngapain kamu masuk ke dalam ruangan itu?"
Tak menjawab pertanyaan Zyandru, Alula malah menatap Ansell, "apa ada rekaman saya berhubungan sama Revaz?"
Ansell menggeleng, melihat tatapan Alula yang tak seperti biasanya, sejujurnya Ansell sangat takut sekarang.
Alula beranjak dari duduknya kemudian berjalan menaiki tangga, Zyandru dan Ansell yang melihat hanya bisa diam tak mengerti dengan wanita itu.
"Bukannya jawab malah pergi" gumam Zyandru yang terlihat sangat marah.
"Tuan maaf, bukannya saya mau ikut campur, tapi–bukankah tadi kata-kata tuan sudah keterlaluan, maksud saya tuan menikahi Alula karena ingin kembali mendekati Princy kan. Jadi kenapa tuan mengatakan hal seperti itu"
Belum sempat Zyandru menjawab, Alula sudah kembali dengan membawa beberapa map di tangannya. Alula memilih tetap berdiri dan meletakkan map tersebut di meja.
"Pak Zyandru pernah minta saya buat cari beberapa laporan lapangan di tahun 2022, dan kak Ansell, oh maaf, maksud saya pak Ansell pernah minta saya cari laporan keuangan beberapa bulan sebelumnya. Saya sudah berkeliling ke beberapa ruangan mencari laporan yang kalian minta, akhirnya saya menemukannya di ruangan itu. Dan untuk masalah beberapa kali saya terlihat keluar masuk ruangan itu, ya karena saya menjalani perintah kalian berdua."
Mendengar penuturan panjang Alula, Zyandru dan Ansell saling lirik. Mereka seolah mengerti pikiran satu sama lain.
"Terserah pak Zyandru mau percaya atau tidak, sekali lagi saya tegaskan. SAYA TIDAK PUNYA HUBUNGAN APAPUN DENGAN REVAZ SELAIN REKAN KERJA. SAYA JUGA TIDAK SEGILA ITU UNTUK SUKARELA MEMBERIKAN TUBUH SAYA PADA ORANG LAIN!"
Alula melirik jam tangannya, "Terima kasih atas semua tuduhan yang kalian berikan, Terima kasih sudah membuat saya merasa seolah-olah saya adalah wanita paling terhina. Dan Terima kasih sudah mendengarkan penjelasan saya. Saya permisi."
Alula meninggalkan kedua pria yang masih termenung dengan pikirannya masing-masing. Di kamar, ia langsung mengobati lukanya di sudut bibirnya.
Perkataan dan bukti yang Alula berikan seolah menampik semua tuduhan dirinya. Perasaan Zyandru campur aduk saat ini, akankah Alula memaafkannya seperti sebelum-sebelumnya.
Lima belas menit kemudian Alula kembali turun dengan memakai dress dan heels, rambutnya diikat hingga menampilkan lehernya yang jenjang. Wajahnya pun dirias dengan make up tipis namun sudut bibirnya tetap terlihat memerah.
Zyandru berdiri ketika melihat Alula berjalan melewatinya begitu saja, "mau kemana kamu Alula?"
"Pindah ke surga!" jawab Alula kemudian keluar dari rumah.
"Jadi maksudnya rumah ini neraka gitu?" gumam Zyandru yang hanya bisa didengar olehnya.
"Ansell kita yang salah! saya harus gimana?" tanya Zyandru yang mulai panik setelah ditinggal pergi Alula.
"Saya... Saya juga tidak tahu tuan, saya sendiri yang menyuruh Alula mencari laporan itu, tapi saya lupa. Alula pasti sakit banget, apalagi wajahnya kelihatan sedih banget tadi" ucap Ansell yang makin membuat Zyandru panik.
"Kita ikutin dia!, saya takut dia kenapa-kenapa"
...***...
Alula yang tengah berjalan-jalan di salah satu mall, sama sekali tak tahu ada dua pria yang terus mengikutinya di belakang.
Setelah keluar dari rumah tadi, Alula memilih menyegarkan otaknya dengan cara seperti ini. Setelah ini ia juga berencana akan pergi ke salon dan mempercantik diri.
Dengan membawa beberapa totebag di kedua tangannya, Alula masuk ke salah satu toko perhiasan. Mata bermanik coklat itu seketika berbinar melihat keindahan sebuah kalung keluaran Van Cleef dengan variasi maroon, tanpa menunggu waktu lagi, Alula segera membelinya.
Tak peduli berapa uang yang di habiskan saat ini, toh selama ini ia bekerja untuk dirinya.
Ya, sejak tadi Alula berbelanja menggunakan uangnya sendiri. Sebenarnya Zyandru memberikannya sebuah ATM, Alula pun menggunakan kartu itu hanya untuk kebutuhan rumah saja. Mulai sekarang Alula bertekad tak akan memakai sepeser pun uang suaminya itu.
Sejak masuk ke pusat perbelanjaan ini, seketika Alula menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung.
Bagaimana tidak, wanita berwajah cantik dengan tubuh yang ramping dan tinggi tengah berjalan sendiri tanpa ada pria yang menemani. Orang yang melihat pun langsung berpikir Alula itu single.
Ada beberapa pria yang nekad mendekati Alula, namun dengan sopan Alula menolaknya.
Bahkan ada pasangan suami istri bertengkar hanya karena sang suami terus menatap Alula.
Visual Alula yang terbilang sempurna membuat siapapun kagum, bukan hanya pria, namun juga wanita merasa terpesona dengan kecantikan yang Alula miliki.
Smentara Alula bersikap biasa saja, karena memang tak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian, berbeda dengan pria yang sejak tadi mengikutinya.
Giginya bergemelatuk, mata tajamnya menunjukkan kemarahan, tangannya terkepal kuat ketika melihat beberapa pria menatap istrinya dengan tatapan penuh nafsu.
Sebagai sesama pria, Zyandru tentu mengerti tentang tatapan pria lain, jika saja tak ditahan Ansell, para pria itu sudah babak belur di tangan Zyandru.
"Saya gak mau tahu, tandain tuh muka para pulu-pulu" ucap Zyandru dengan tatapan yang sangat tajam.
"Pulu-pulu itu apa tuan?" tanya Ansell tak mengerti.
"Ck, itu loh laki-laki yang terus natap Alula!" jawab Zyandru cuek.
"Kenapa tuan sebut mereka pulu-pulu?" Ansell kembali bertanya.
"Kamu lihat aja penampilannya!, gak ada apa-apanya di banding saya yang tampan gini" jawab Zyandru dengan percaya diri.
Ansell menelisik Zyandru dari atas sampai bawah, ia akui tuannya itu memang sangatlah tampan. Tidak sebanding dengan para pria yang mendekati Alula, tapi haruskah Zyandru mengatakan itu.
Zyandru membalas tatapan Ansell, "kenapa lihatnya gitu? gak setuju sama omongan saya?"
"Setuju tuan, memang tuan sangat tampan, beruntung sekali Alula menikah dengan tuan"
Zyandru tak membalas ucapan Ansell, ia kembali membawa matanya ke sebuah toko perhiasan. Seketika Zyandru menjadi panik karena tak melihat Alula di sana.
Matanya berkeliling mencari sang istri, namun ia tak menemukannya, "Alula ke mana Ansell?"
"Lagi beli perhiasan tuan"
"Ck, lihat dong Alula gak ada di sana!" ucap Zyandru dengan nada tinggi.
"Loh iya tuan, tadi perasaan Alula masih di sana, kok udah gak ada ya tuan, Alula pergi ke mana?"
"Hish mana saya tahu, kamu sih ngajak ngobrol terus, ayo cari!"
Sementara Zyandru dan Ansell sibuk tengah mencari dirinya, Alula kini sibuk mencari restoran, Alula baru sadar jika dirinya belum makan apapun sejak pagi.