
"Ansell, carikan wanita malam!"
Ngieeettttt !!!
Mendengar perintah Zyandru, Ansell terkejut bukan main hingga ia mengerem mendadak mobil yang dikendarainya.
Selama ini yang Ansell tahu, Zyandru bukanlah tipe pria yang suka bermain wanita. Bahkan Zyandru menolak dengan tegas wanita yang berani mendekatinya, tapi sekarang, pria itu sendiri yang minta dicarikan wanita penghibur.
Ansell menatap Zyandru dengan tatapan yang sulit diartikan. Begitupun Zyandru yang menatap Ansell dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tuan, bagaimana bisa anda meminta dicarikan wanita sedangkan Alula sedang sakit. Anda sungguh tega tuan!"
Cara berbicara dan ekspresi Ansell membuat Zyandru tertawa terbahak-bahak. Pria itu sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
Melihat Zyandru tak merasa bersalah dengan ucapannya, membuat Ansell makin heran sekaligus kesal.
"Saya tidak akan menuruti perintah tuan! Kasihan Alula. Kalau mau, cari sana sendiri!" Ansell mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.
Kerena terus dicurigai yang tidak benar, Akhirnya Zyandru memberitahukan rencananya pada asistennya itu. Seketika Ansell dibuat malu sendiri karena sudah salah sangka.
Jadilah mereka mencari wanita malam yang biasanya berada di pinggir jalan. Cukup lama Ansell berkendara hingga ia menghentikan mobilnya di jalan yang entah apa namanya, tepat di kejauhan ia dan Zyandru sama-sama melihat seorang wanita berambut sebahu dengan pakaian seksinya berdiri sambil celingukan ke kanan dan kiri.
Ansell membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya, pria itu menaik turunkan jari telunjuknya sebagai tanda panggilan.
Melihat pria tampan dengan mobil mewahnya seperti ingin menjadi calon pelanggannya, wanita tersebut dengan senang hati menghampirinya.
Wanita dengan heels tinggi dan riasan wajah menor itu seketika melebarkan matanya melihat ada pria yang lebih tampan duduk di kursi sebelah.
Sejujurnya Ansell memang tampan, tapi Zyandru lebih dari kata sempurna yang membuat wanita itu seketika berpaling.
Dengan melenturkan tubuhnya agar makin terlihat seksi, wanita itu mencoba menggoda Zyandru namun pria itu tak meliriknya sama sekali.
Ansell meminta wanita itu naik ke mobil yang berada di belakang mereka. Awalnya wanita itu bingung, namun ia tetap menurutinya. Begitu masuk, ia dikejutkan dengan tiga orang pria berbadan besar di mobil tersebut.
Sejak keluar dari pelabuhan, Zyandru dan Ansell tidak hanya pergi berdua, melainkan bersama ketiga anak buah mereka yang membuntuti dengan mobil lain.
Kini, mereka semua kembali pergi ke tempat berkumpulnya ketiga preman yang menganiaya Alula. Beruntunglah hanya ada seorang pria di sana.
Melihat itu, Zyandru keluar dari mobil dan menghampiri wanita malam yang dibawanya.
"Goda pria itu dan bawa ke sini!" Titah Zyandru tanpa menatap wanita di sampingnya.
Wanita itu terlihat bingung dengan perkataan Zyandru, ia beralih menatap preman yang tengah sibuk dengan minuman kerasnya.
"Bukannya tuan panggil saya karena ingin saya layani." Terka wanita itu kemudian mencoba mendekati pria tampan yang ia kira menginginkan jasanya.
"Tangan anda putus jika berani menyentuh saya!" Zyandru menatap tajam wanita itu. "Anda cukup menggoda pria di sana dan membawanya kesini. Saya akan membayar anda 10 kali lipat dari yang anda terima dari biasanya, setelah itu anda bisa pergi."
Wanita yang memakai crop top yang menampilkan perut ratanya itu menatap Zyandru dengan alis saling tertaut. Awalnya wanita itu menolak, namun Zyandru menawarkannya dengan bayaran 20 kali lipat, jadilah ia menuruti perintah Zyandru.
Dari jarak yang cukup jauh, Zyandru dan Ansell melihat bagaimana wanita suruhan mereka dengan mudahnya menggoda pelaku terakhir yang menyiksa Alula. Terlihat preman itu sudah setengah mabuk, membuat sang wanita membawanya dengan susah payah.
Zyandru ingat betul dengan wajah preman ini. Di antara yang lain, preman inilah yang paling bengis menyiksa Alula, dia juga yang merobek paksa pakaian Alula dan menggerayangi tubuh Alula
Sesuai dengan perjanjian awal, Zyandru memberikan uang yang cukup banyak pada wanita malam yang ia bawa dan menyuruhnya untuk pergi begitu saja.
Sebuah tendangan menjadi pembuka dari Zyandru, preman itu seketika terjatuh menahan perih pada perutnya.
Ansell membawa matanya melihat sekeliling. Meski kondisi sekitar sangat sepi, namun ia tetap harus waspada karena ini adalah jalan raya.
Zyandru tak ingin berhenti di sana, pria itu berkali-kali memukul preman itu hingga membuat wajahnya menjadi lebam.
"Bawa!"
Satu kata dari Zyandru membuat para anak buahnya mengerti, beberapa dari mereka langsung memasukkan preman itu ke mobil.
Saat akan pergi, Zyandru mendapat kabar jika Alula sudah sadar namun kondisinya tak baik-baik saja. Istrinya itu meracau dan marah-marah tidak jelas, bahkan tak ingin melihat siapapun.
Antara senang dan khawatir mendengar kabar istrinya, akhirnya Zyandru memilih menyerahkan preman itu pada anak buahnya. Sedangkan ia dan Ansell langsung bergegas ke rumah sakit.
"Setelah semua yang saya lakukan, apa Alula akan memaafkan saya. Ansell?" Sebuah ketakutan yang amat besar tercetak jelas di wajah Zyandru saat ini. Pria itu bahkan tak sadar menggigit jarinya sendiri.
"Kalau saya jadi Alula, sudah pasti saya meminta cerai dan meninggalkan tuan." Jawab Ansell dengan entengnya membuat ketakutan Zyandru meningkat.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan. Jika Alula melakukan seperti yang Ansell katakan, apa aku siap menerimanya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka sampai di rumah sakit. Dengan langkah lebarnya, Zyandru berlari mencari ruang rawat sang istri.
Begitu sampai di sana, Zyandru melihat beberapa dokter berada di luar ruangan. Para dokter itu kompak menoleh ke arah Zyandru.
Sebelum membiarkan Zyandru masuk, mereka mengajak pria itu berbicara tentang kondisi istrinya saat ini.
Di sebuah ruangan, Zyandru duduk diam mendengarkan penjelasan kedua dokter yang menangani Alula.
Dokter pria itu menjelaskan Alula mengalami keretakan tulang pada jari manis bagian kanan, dan membutuhkan waktu setidaknya 3 bulan untuk sembuh total. Alula juga mengalami cedera otot dada yang cukup parah sehingga selama beberapa minggu ke depan, Alula membutuhkan oksigen untuk membantunya bernapas.
Zyandru terus mendengarkan kata demi kata yang menyakitkan tentang kondisi istrinya. Betapa hancurnya hati Zyandru saat ini, bukan hanya kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental Alula ikut terganggu.
Seorang dokter spesialis kejiwaan atau yang sering disebut psikiater mengatakan Alula mengalami depresi berat dan trauma yang mendalam. Dokter wanita itu juga meminta dengan sangat untuk tidak ada yang membahas kejadian yang menimpa Alula sebelumnya.
Dukungan orang terdekat menjadi hal yang penting bagi Alula saat ini. Namun, bagaimana jika orang terdekatnya adalah penyebab ia mengalami gangguan kejiwaan ini.
Keluar dari ruangan dokter, Zyandru berjalan lunglai dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan.
Di saat ia tengah sibuk dengan pikirannya, salah seorang anak buahnya menghampiri dan memberikan barang-barang Alula yang ia dapat dari ketiga preman tadi.
Sebuah tas, ponsel, kalung dan cincin terdapat di dalam sebuah kantong berwarna hitam tersebut.
Sambil menahan tangisnya, Zyandru berjalan masuk ke kamar rawat Alula. Istrinya itu sempat tak terkendali hingga harus diberi obat penenang dan sudah kembali tidur saat ini.
Kepala dan jari yang ditutup kain kasa, kulit yang dipenuhi dengan luka lebam.
Zyandru duduk di kursi samping tempat tidur istrinya, ia tak dapat menahan air matanya lagi. Menangis tanpa suara, itulah hal yang tengah dilakukan Zyandru saat ini. Jika bisa, ingin sekali rasanya menggantikan posisi Alula saat ini.
Zyandru perlahan menyentuh tangan kanan istrinya, jari yang seharusnya dilingkari dengan cincin, kini malah dilingkari dengan perban.
"Sayang... Bunuh saja aku"