Blind Husband

Blind Husband
Blind 49


Dorr !!!


Di sebuah pelabuhan yang letaknya jauh dari pemukiman warga, terlihat ratusan bahkan ribuan peti kemas dengan berbagai ukuran.


Sebuah suara tembakan terdengar nyaring memecah keheningan tempat yang sunyi tanpa satupun orang berlalu lalang tersebut.


Di dalam sebuah peti kemas berwarna merah, terlihat Ansell tengah menatap tajam seorang pria yang baru saja bangun dari mimpinya.


Dengan mata yang berkunang-kunang, pria itu mengangkat kepalanya dan memperhatikan Ansell yang berdiri di depannya dengan seksama. Tangan yang terikat kebelakang dan kaki di depan membuat pria itu tak bisa banyak bergerak.


Entah berapa lama Ansell menyiksanya, pria itu terlihat sudah babak belur dengan bagian tubuh yang sudah di penuhi darah.


Melihat wajah pria itu, Ansell begitu kesal. Dengan tangan kanan yang memegang pistol, dan tangan kiri di saku celana, Ansell berjalan menghampiri pria itu dan membenturkan kepalanya hingga ia kembali dibuat tak berdaya.


Ansell ingat betul bagaimana wajah penuh sakit Alula saat preman ini menganiayanya, dan hal itu membuat Ansell benar-benar ingin menghabisi preman itu saat ini juga. Namun sebisa mungkin ia menahannya, setidaknya untuk nanti.


Berkali-kali preman dengan tato memenuhi tangannya itu meminta ampun, namun tak Ansell pedulikan.


Lengan yang sudah tertembak, Ansell injak dengan kuat membuat preman itu mengerang hebat.


"Ampun? Heh!" Ansell tersenyum miring. "Saat dia meminta ampun apa kalian mendengarkannya? Tidak kan!"


Ansell mengarahkan pistolnya ke kepala preman itu, hingga membuatnya kembali ketakutan.


Dorr !!!


Satu tembakan kembali terdengar menembus daun telinga preman itu yang seketika langsung mengeluarkan darah.


...***...


Tik Tok Tik Tok


Seorang pria terlihat memainkan korek api Zippo berwarna silver di tangannya. Duduk dengan punggung sedikit menunduk, pria itu sesekali menggerakkan kakinya naik turun.


Sedangkan di depannya saat ini, terdapat pria berambut gondrong dengan kain menutup mata kirinya.


Zyandru mengeluarkan selembar foto dari saku celananya dan melemparkan pada pria yang tak berdaya di depannya.


Pria berpakaian serba jeans dengan mata tertutup seperti bajak laut itu menundukkan kepalanya dan melihat foto seorang wanita cantik tengah tersenyum manis.


"Pasti kenal wanita itu kan!" Dengan aura dinginnya, Zyandru bertanya sambil tangan terus memainkan koreknya.


Sebuah gelengan menjadi jawaban yang membuat Zyandru tak puas di buatnya. "Yakin tidak kenal?"


Dengan wajah penuh ketakutan setengah mati, preman yang menjadi tawanan Zyandru itu kembali menggeleng.


Zyandru memegang tangan penuh darah preman itu kemudian menjepit ujung jari telunjuknya dengan korek Zippo yang di pegangnya.


"Aaaakhhhhh! Dia menusuk mata saya!" Dengan suara keras, preman itu menjawab sambil kepala mendongak kebelakang merasakan sakit luar biasa ketika ujung jarinya robek begitu saja.


Zyandru membuka kain yang menutup mata preman itu, terlihatlah mata yang menghitam dan mengeluarkan sedikit darah.


Merasakan aura menakutkan dari Zyandru, preman itu hendak bangun dari duduknya, namun saat bergerak, ia merasakan sakit yang luar biasa pada kedua kakinya.


Entah apa yang Zyandru lakukan sebelumnya. Saat menunduk, preman itu melihat kakinya sudah di penuhi dengan darah dan tak dapat di gerakkan.


Preman yang menyiksa Alula itu terlihat begitu ketakutan apalagi ketika melihat senyum Zyandru. Ia merasa di hadapannya saat ini bukanlah manusia, melainkan iblis pencabut nyawa.


"Kenapa takut? Anda tahu wanita itu siapa? Istri saya! Sekarang dia terbaring lemah di rumah sakit karena ulah Anda dan kedua teman anda!"


Zyandru kembali mendekat, kali ini ia memegang jari tengah pria itu, dengan senyum sinisnya, Zyandru menatap pria itu dan mengulang kembali adegan sebelumnya hingga membuat jari preman itu hampir putus.


"Dengan tangan ini anda menarik rambut istri saya!" Untuk kali ketiga, Zyandru memilih memutuskan jari kelingking preman itu.


Zyandru beralih memegang rambut panjang preman itu, melakukan hal yang sama seperti yang preman itu lakukan pada Alula.


Dengan kasar, Zyandru menghempaskan kepala preman itu yang seketika membuatnya terjatuh lemah. Keringat, air mata dan darah bercampur menjadi satu mengalir di kulit pria berperawakan gempal tersebut.


Zyandru membangunkan preman itu dan mendudukinya di kursi kayu yang berada di dekatnya. Sambil terus berbicara, Zyandru menyenggol kaki pria tersebut hingga membuatnya kembali menangis kesakitan.


Suara penuh kesakitan terdengar begitu nyaring di ruangan sepi itu. Preman itu memberontak ingin pergi, namun tak semudah yang ia bayangkan.


"Mau kemana? Tunggu teman Anda sebentar lagi, oke!"


Zyandru kembali duduk memperhatikan pria itu menikmati setiap rasa sakit yang ia berikan.


Merasa tak memiliki tenaga walau untuk sekedar bergerak, preman itu akhirnya diam dan pasrah, apalagi dengan keadaan tubuhnya saat ini. Rasanya ia ingin segera mati daripada disiksa perlahan seperti ini.


Sementara Zyandru sudah puas dengan siksaannya, Ansell saat ini terlihat masih memukul kepala pria yang di sekapnya menggunakan genggaman pistol.


Memar dan darah sudah memenuhi wajah dan kepala pria dengan bawah mata memerah itu. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, preman itu merangkak keluar dari peti kemas yang sudah berisi darahnya itu.


Sementara Ansell mengikuti di belakang sambil sesekali menendang preman itu hingga kembali tersungkur.


Ansell yang sudah tak tahan lagi, langsung menyeretnya menuju tempat dimana Zyandru berada.


Begitu sampai, kedua preman tersebut langsung menatap wajah satu sama lain. Sungguh, mereka menyesal telah melakukan hal buruk terhadap Alula.


Kini, kedua preman itu duduk berdua dengan tangan sama-sama terikat di sisinya.


"Ansell lihat! Matanya ditusuk Alula pakai heels!" Ucap Zyandru mengolok-olok salah satu preman.


"Apa benar itu tuan? Wah Alula hebat sekali ya. Hahahah!"


Melihat kedua pria yang tak dikenalnya tertawa di atas penderitaan mereka, kedua preman itu hanya diam menahan dendam yang tertanam di hati.


Tes Tes Tes


Kedua preman itu sama-sama mendongak ketika merasa ada sesuatu yang menetes dari atas. Sedikit demi sedikit air itu menetes.


Mereka mulai bisa mencium aroma yang mereka yakini adalah bensin, sontak mereka berteriak tak karuan. Terus meminta ampun namun sayang Zyandru dan Ansell seolah menutup telinga mereka.


Kini, air itu semakin deras mengalir, bahkan sampai pada kaki Zyandru dan Ansell yang memang berdiri mengambil jarak dari kedua preman itu.


Zyandru kembali memainkan korek Zippo miliknya, melihat itu, kedua preman tersebut ketakutan bukan main. Keringat dingin mengucur deras di tubuh mereka.


Saat Zyandru akan melemparkan koreknya pada kedua preman itu, tiba-tiba saja ada beberapa pria bertubuh kekar masuk ke sana.


"Tuan, biar kami saja yang melakukannya," Ujar salah satu pria yang ditujukan pada Zyandru.


"Baiklah" Zyandru melemparkan korek itu pada salah satu anak buahnya. Setelahnya, ia dan Ansell melenggang keluar.


Di saat Zyandru hampir meninggalkan tempat itu, di saat itulah anak buah Zyandru melempar korek yang seketika membuat api menyambar pada kedua preman itu.


Teriakan dan tangisan terdengar begitu memekakan telinga ketika api menyambar seluruh tubuh mereka.


Sebenarnya Zyandru dan Ansell ingin melihat kedua preman itu mati perlahan, namun tak bisa karena hari sudah menjelang malam, dan masih ada satu orang lagi yang belum mereka tangani.


Di mobil, Zyandru sibuk mengganti pakaiannya yang sudah penuh dengan darah. Tidak mungkin dirinya menemui Alula dengan keadaan seperti ini.


Zyandru begitu terkejut menemukan sebuah sisir kecil di mobil Ansell. Pantas saja rambut asistennya itu selalu terlihat rapi.


Zyandru mulai merapikan rambutnya, wajahnya yang terdapat bercak darah pun sudah ia bersihkan. Kini, pria itu sudah kembali rapi dan tampan.


"Ansell, carikan wanita malam!"