Blind Husband

Blind Husband
Blind 10


Pagi ini, Alula tengah duduk di depan meja riasnya, wanita itu terlihat cantik dengan make-up tipis di wajahnya.


Alula berinisiatif berkunjung ke rumah sang bibi dan memberitahukan tentang pernikahannya.


Bertahun-tahun tidak bertemu bahkan berkomunikasi membuat Alula sangat gugup, apalagi pertemuan terakhir mereka penuh dengan kekecewaan.


Alula sebenarnya ragu, namun sang bibi adalah satu-satunya keluarga yang Alula miliki. hubungan mereka akan terus jauh jika salah satunya tidak menurunkan ego.


Mendengar suara deru mobil, Alula dengan cepat berjalan ke bawah, sosok pria tampan dengan tuxedo yang melekat di tubuhnya, menjadi pemandangan saat Alula membua pintu.


"Hai" Alula menyapa dengan senyum lebarnya.


"Hei?" Zyandru membuka kacamata hitamnya.


Mereka memang berencana pergi bersama ke rumah bibi Alula, Zyandru yang memintanya.


"Yuk"


Seperti biasa Alula akan menggandeng lengan kiri Zyandru, mereka sama-sama berjalan menuju Ansell yang sudah menunggu di mobil.


Di dalam mobil, Alula terlihat mencengkeram kedua tangannya, bahkan kakinya tak berhenti bergerak sejak tadi.


Zyandru dapat merasakan itu, perlahan tangannya terulur dan memegang lengan Alula.


"Kaki kamu sakit?"


"Enggak"


"Terus kenapa dari tadi gak bisa diem?"


"Zyandru" untuk pertama kalinya Alula memanggil nama tanpa embel-embel pak.


"Ya"


"Aku takut"


"Takut kenapa?


"Sebenernya, semenjak kedua orang tua aku meninggal aku gak pernah ketemu sama keluarga bibi, karena aku sama Devin memilih hidup sendiri"


"Nah itu juga yang mau aku tanyain, kamu masih punya bibi, kenapa gak tinggal sama bibi kamu?"


Alula terdiam, wanita itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Aku... aku gak mau ngerepotin bibi, jadi yaa gitu"


Zyandru semakin erat menggenggam tangan Alula.


"Alula dengerin aku ya, kamu gak pergi sendiri, ada aku disini yang bakal nemenin kamu, jangan takut lagi oke"


Alula mengangguk kemudian tersenyum, "makasih"


"Sama-sama, aku emang gak bisa lihat, tapi aku bisa merasakan kegelisahan kamu itu"


Alula menghangat, sungguh Zyandru membuat Alula merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


...***...


Sekitar satu jam perjalanan, kini mereka sampai di sebuah rumah yang tak kalah megah dari rumah Alula.


Alula kembali meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati ini semua, setelah berbicara dengan penjaga rumah, mereka di persilahkan masuk.


Kini Alula dan Zyandru sudah berada di ruang tamu, seorang wanita berparas cantik dengan tubuhnya yang sangat indah terlihat menuruni tangga.


Rambutnya yang berwarna kecoklatan terang tergerai menambah kecantikannya, wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Princy Farasha.


Princy begitu terkejut ketika mendengar Alula datang ke rumahnya, namun yang membuat ia lebih terkejut adalah sosok pria yang duduk di samping Alula.


Begitupun dengan Alula dan Zyandru yang sama-sama terkejut, setahu mereka Princy berada di New York.


Ketiga orang tersebut saling diam, hingga sebuah suara menyadarkan mereka dari lamunan.


Bibi Alula datang dengan wajah angkuhnya yang sejak dulu tak berubah.


"Jadi ada perlu apa datang kesini?" tanpa berbasa-basi lagi, sang bibi menanyakan hal tersebut kepada Alula.


"Alula kesini mau mengabari bibi, minggu depan Alula akan menikah, dan ini calon suami Alula"


"Perkenalkan bibi, saya Zyandru Avior, maaf sebelumnya, saya disini mau meluruskan sesuatu, saya buta sejak empat tahun yang lalu akibat kecelakaan"


Saat berpacaran dengan Princy dulu, Zyandru tidak pernah diperkenalkan ke keluarga Princy, dan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.


"Sesuai perkataan Alula barusan, saya ingin meminta izin dan restu bibi, untuk meminang Alula"


"Gak ada yang bisa bibi katakan selain selamat untuk kalian berdua, oh ya, kamu bekerja sebagai apa Zyandru?"


"Saya CEO sekaligus pemilik perusahaan Avior group yang berfokus di bidang pertambangan"


"Selain pintar mencari uang, kamu juga pintar mencari pasangan ya Alula" entah apa maksud sang bibi mengatakan hal tersebut, namun dari nada bicaranya ia terkesan mengejek.


Alih-alih marah, Alula justru menganggap perkataan itu sebagai pujian.


"Oh iya" Alula mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "ini undangan Alula dan Zyandru, jangan lupa dateng ya tante, acara ini cuma dihadiri keluarga aja"


...***...


Sejak pergi dari rumah orang tua Princy, Zyandru menjadi lebih diam, tak mau mengganggu, Alula memilih membiarkan calon suaminya itu.


Kamu gak berubah ya Princy, kecantikan kamu gak berkurang sedikitpun.


Zyandru terus bermonolog dalam hatinya, Zyandru benar-benar tak memikirkan perasaan Alula jika mengetahui dirinya memikirkan wanita lain.


Merasakan cacing di perutnya terus memanggil, Zyandru meminta Ansell menepikan mobil di restoran yang mereka lewati.


Dengan sangat telaten Alula membantu Zyandru untuk makan, setelah memastikan Zyandru sudah aman, Alula pun ikut makan.


Setelah acara makan yang singkat, mereka kembali melanjutkan perjalanan, sebuah butik menjadi tempat selanjutnya yang mereka datangi.


Di dalam sebuah ruangan, Alula nampak sedang mencoba sebuah gaun, sedangkan di luar, Zyandru menunnggu dengaan Ansell yang senantiasa selalu berada di dekatnya.


Zyandru terlalu fokus pada pikirannya hingga tak sadar Alula sudah keluar dengan gaun berwarna putih yang sangat indah.


"Tuan" Ansell berbicara sangat pelan.


Zyandru mengangkat pandangannya, dilihatnya Alula berdiri dengan gaun pengantin, sungguh wanita itu sangat cantik.


Untuk beberapa saat Zyandru terdiam terpesona, jika dibandingkan dengan Princy, sebenarnya Alula lebih cantik.


Princy memiliki wajah cantik namun jika terus dilihat akan membosankan, berbeda dengan Alula, semakin dilihat wanita itu semakin cantik.


"Ansell foto"


"Iya tuan?"


"Foto Alula"


"Kalian ngomongin apa?" tanya Alula pada kedua pria yang sedang berbisik itu.


"Emm Alula, saya fotoin kamu ya"


"Duh saya gak fotogenic" ucap Alula merendah.


"Buat kenang-kenangan Alula, kamu cantik banget sumpah" puji Ansell.


Atas dasar bujukan, Alula setuju, banyak foto yang Alula ambil, ada juga beberapa foto bersama Zyandru.


...***...


Setelah seharian berpergian, kini Ansell mengemudikan mobilnya menuju rumah Alula.


Sepanjang perjalanan Alula tertidur, wanita itu nampak sangat lelah, Zyandru menatap lekat wajah Alula, tanpa diduga, ia malah tersenyum.


Setelah sekian waktu perjalanan, kini mereka sampai di rumah Alula, Zyandru nampak sibuk membangunkan wanita itu.


"Udah sampe?" tanya Alula dengan suara khas bangun tidurnya.


"Udah, kamu nyenyak banget tidurnya"


"Langsung istirahat, jangan begadang" peringat Zyandru sambil mengusap pelan kepala Alula


"Iya, kamu juga"


Setelah Alula masuk, Ansell langsung mengemudikan mobilnya pergi.