Blind Husband

Blind Husband
Blind 35


Tangisan yang sempat memenuhi ruangan, kini sudah reda seiring berjalannya waktu.


Alula masih setia memeluk sambil mengusap bahu Zyandru, berharap memberi kenyamanan yang akan membuat sang suami melupakan sejenak masalahnya.


Merasakan kakinya kebas karena posisi mereka yang sama-sama berdiri, Zyandru terpaksa melepaskan pelukannya yang sebenarnya masih ingin lebih lama memeluk sang istri.


Alula menghapus jejak air mata Zyandru, kemudian membantunya duduk.


"Aku ambil minum sebentar, kamu jangan ke mana-mana!" Alula berpesan kemudian berlari keluar dari ruangan tersebut.


Tak beberapa lama Alula kembali dengan air mineral di tangannya, "minum dulu"


Wajah penuh ketegasan yang sempat Zyandru tunjukkan, kini berubah seketika menjadi wajah penuh sakit.


Di rumah, Zyandru terkadang menunjukkan sisi kelembutan dan penyayangnya pada Alula, namun itu tak berlaku di luar rumah terlebih lagi di kantor.


Alula diam menunduk tak bersuara, ia masih terkejut dengan semua fakta yang ia dengar beberapa waktu lalu.


"Alula"


"Ya"


"Maaf"


"Maaf buat?"


"Aku terus menerus curiga tentang kamu dan Revaz, aku juga gak tau kenapa aku bisa seperti ini, aku–"


Ucapan Zyandru berhenti kala merasa tangannya di genggam Alula, Zyandru mengangkat wajahnya dan melihat pemandangan yang begitu menenangkan hati berupa wajah sang istri.


"Gak usah bahas itu lagi ya!, bosen ngomongnya gitu terus"


Zyandru tersenyum, ia kembali menarik Alula ke dalam pelukannya, sungguh pelukan Alula ini sangatlah nyaman.


"Semalam aku sama Ansell pergi menemui pelaku yang menabrak aku dan papa. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh oke!"


"Emm, sebenarnya semalam saat kamu tidur di sofa, kamu mengigau tentang papa dan mama kamu, kamu juga menyebut tentang adik kamu"


Zyandru terdiam menatap Alula dengan tatapan sendu, membuat Alula seketika merasa salah berbicara.


"Maaf, aku gak ada maksud buat kamu sedih"


Zyandru yang sudah tenang akhirnya mulai bercerita pada Alula.


"Mama hamil lagi saat aku umur 10 tahun, mendengar akan menjadi abang aku bahagia banget, tapi kebahagiaan itu gak berlangsung lama. Mama keracunan makanan, karena saat itu kandungan mama baru berusia 7 bulan, dokter memberikan 2 pilihan 'ibu atau anak yang selamat'. Dengan banyak pertimbangan akhirnya papa memilih menyelamatkan mama"


Zyandru menarik napas sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Tapi Tuhan berkehendak lain, adik aku selamat, mama meninggal setelah melahirkan adik, selang 3 hari, adik aku juga meninggal karena jantungnya gak kuat"


Alula terdiam mencoba mencerna cerita Zyandru, sekejam itukah seorang Baskoro.


"Adik aku perempuan, dia cantik banget, persis kayak mama" Zyandru memaksakan senyumnya.


"Dan kenapa aku bisa tahu om Baskoro pelakunya, aku menyelidikinya sendiri. Racun yang di berikan ke mama itu bukan racun yang di jual bebas, melainkan khusus dari sebuah rumah sakit, om Baskoro sendiri yang memesannya."


Lagi dan lagi Alula di buat semakin heran dengan jalan pikiran pria paruh baya itu.


...***...


Jangan pernah memaafkan orang yang menyakitimu, apalagi dengan dalih keluarga. Mungkin seperti itulah yang saat ini Zyandru pegang sebagai prinsip hidupnya.


Alula terus mengusap kepala Zyandru yang berada di pangkuannya, setelah tadi Zyandru mengeluh mengantuk, Alula menyuruh suaminya itu untuk tidur.


Tak ingin di tinggal sendiri, Zyandru meminta Alula untuk menemaninya, Alula tak menolak, ia memberikan keinginan Zyandru untuk tidur di pangkuannya.


Pertama kalinya melihat wajah Zyandru penuh rasa sakit membuat Alula iba hingga melupakan betapa kejamnya pria itu padanya.


"Ternyata masalah kamu lebih berat dari aku"


Alula menunduk mendekatkan kepalanya, bibir Alula menempel sempurna pada dahi Zyandru.


"Kita sama-sama kehilangan orang tua kita, mari saling menguatkan" buru-buru Alula menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.


...***...


Sebuah mobil berjenis Mercedes baru saja terparkir di halaman sebuah perusahaan, sopir pribadi mobil tersebut langsung turun dan membuka pintu belakang. Munculah seorang pria dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.


Jari panjangnya kembali mengancingkan jas berwarna dongkernya. Pria itu juga meregangkan sedikit dasi bergaris abu-abu yang terikat di lehernya.


"Mari pak" dengan membawa beberapa map, pria yang berprofesi sebagai asistennya berbicara kemudian berjalan beriringan.


Dengan mengangkat dagunya tinggi, pria itu seketika membuat heboh beberapa orang yang sedang berlalu lalang.


"Gue gak salah lihat apa? nih orang kayak keluar dari komik"


"Ternyata ada yang bisa menandingi ketampanan pak Zyandru"


"Gila ini sih, ganteng banget!"


"Pak Zyandru, aku oleng sebentar ya!"


"Bener-bener serbuk berlian!"


Terdengar beberapa orang membicarakan bahkan membandingkannya dengan CEO perusahaan yang ia datangi ini.


Pria itu tak peduli bahkan terkesan acuh, tujuannya kesini bukan untuk mencari perhatian melainkan urusan kerjasama dengan Zyandru dan tentunya menemui seseorang yang sedang ia cari.


Baru saja saat akan menaiki lift, kedua pria itu bertemu dengan Ansell. Mereka memang sudah ada janji bertemu namun Ansell lupa karena masalah yang terjadi pagi tadi.


Ansell membawa kedua pria yang menjadi klien barunya menuju ruangan Zyandru berada.


Sedangkan di dalam, Zyandru yang bangun lebih dulu dari Alula, tengah memperhatikan wajah istrinya dengan lekat.


Alis tebal yang bentuknya tidak rata, buku mata tipis namun lentik, hidung kecil namun mancung, bibir yang sedikit terbuka, menjadi pusat perhatian Zyandru.


"Cantik" puji Zyandru untuk pertama kalinya.


Mendengar suara ketukan pintu, Zyandru menghentikan aksinya yang tengah membelai wajah Alula.


Zyandru berjalan membuka pintu dan mendapati Ansell dengan kedua pria asing yang Zyandru tak kenal.


Pria berkacamata hitam yang berdiri tepat di belakang Ansell, melihat ke dalam ruangan Zyandru dan mendapati wanita cantik tengah tertidur di sofa dengan sebuah jas yang menutupi lututnya.


"Tuan, maaf saya lupa memberi tahu, ini adalah rekan bisnis yang sejak sebulan lalu bekerja sama dengan kita, saat penandatanganan kerja sama, asistennya yang menggantikannya" kata Ansell menjelaskan.


Saat berjabat tangan, pria asing itu membuka kacamatanya dan membuat Zyandru sedikit terkejut.


"Perkenalkan, saya Aziel Savio"