
Di sebuah tempat yang digunakan khusus untuk pesawat mendarat dan lepas landas. Terlihat ratusan bahkan ribuan orang berlalu lalang.
Ada yang tengah menggeret koper dengan lesu setelah penerbangan yang melelahkan. Ada pula yang berjalan tergesa-gesa menuju ruang tunggu mengejar jadwal penerbangan.
Tak jarang beberapa dari mereka meneteskan air mata dan memberikan pelukan yang tulus untuk mengantar atau menjemput sanak saudara yang akan pergi maupun baru tiba.
Di dalam sebuah ruang tunggu, terlihat beberapa pria dengan pakaian serba hitam mengelilingi satu raga wanita yang masih menutup matanya.
Setelah memastikan Princy benar-benar sudah pingsan saat berada di rumah Zyandru tadi, Rio memasangkan pakaian yang tertutup juga masker agar tak ada yang dapat mengenalinya.
Para pria yang sebelumnya menculik Princy berbeda dengan pria yang menunggu di bandara saat ini. Ketujuh anak buah Aziel sudah di lumpuhkan oleh para pria kiriman Zyandru.
Kini, mereka semua tinggal menunggu kedatangan sang pria yang tak lain tak bukan adalah Aziel.
Dengan earphone kecil yang menutup kedua kupingnya, beberapa anak buah Zyandru terlihat berada di beberapa sudut bandara. Mereka semua bersikap layaknya sedang menunggu jadwal keberangkatan.
Setelah beberapa menit, pria yang menjadi incaran mereka akhirnya tiba juga di bandara. Bergegas Aziel berlari menuju ruang tunggu berada.
"Alula! Aku bahagia sekali!" Aziel memeluk tubuh Princy yang ia kira adalah Alula.
Dengan melirik satu sama lain, para pria berbadan kekar itu menganggukkan kepala sebagai kode. Mereka yang berjaga di depan, kompak masuk dan memukul tengkuk Aziel juga asistennya.
Dengan beberapa kali pukulan, kedua pria musuh dari bos mereka akhirnya pingsan. Melihat itu, salah seorang pria membawa asisten Aziel pergi ke tempat lain.
Sedangkan Princy dan Aziel sendiri, dimasukkan ke dalam koper yang berbeda. Setelahnya, mereka membawa koper besar tersebut menuju pesawat yang sudah Zyandru siapkan.
Ya, Zyandru sudah menyiapkan pesawat pribadi yang akan membawa Aziel dan Princy menuju negara yang amat jauh dari Indonesia.
Entah sudah berapa milyar Zyandru habiskan hanya untuk mengusir jauh kedua penganggunya. Pria itu sama sekali tak peduli tentang uang, ia melakukan semuanya hanya untuk istri tercintanya.
Di dalam pesawat, Princy dan Aziel sudah dibaringkan senyaman mungkin. Di sisi kanan mereka, Rio nampak mengeluarkan dua jarum suntik.
Karena negara yang di tuju sangatlah jauh, setidaknya membutuhkan waktu 38 sampai 40 jam perjalanan, jadilah Rio memberikan bius yang akan membuat mereka tak sadar setidaknya selama dua hari ke depan.
Usai melakukan tugasnya, Rio beralih berbicara empat mata dengan kedua pilot. Entah apa yang mereka bicarakan, kedua pilot itu nampak menganggukkan kepala beberapa kali.
Rio diikuti beberapa pria di belakangnya keluar dari pesawat, beberapa menit kemudian pesawat pribadi itu lepas landas.
Menghembuskan napasnya panjang, Rio menghubungi seseorang dan mengabarkan rencana mereka sudah berjalan dengan lancar.
...***...
Di Koridor sebuah rumah sakit, seorang pria yang memakai tuxedo hitamnya nampak bersembunyi di balik sebuah dinding. Dengan kepala yang menjulur sedikit, beberapa kali pria itu menarik kepalanya dengan jantung yang berdegup dengan kencang.
Lucu sekali ketika seorang CEO yang terkenal begitu arogan bernama Zyandru Avior mengendap-endap bagai seorang pencuri. Kegiatan yang dilakukannya tak lebih dari sekedar mengintip pemandangan yang menenangkan hatinya, yaitu istrinya.
Tak ingin Alula melihat dirinya, jadilah Zyandru melakukan hal seperti ini. Bagai seorang ayah yang tengah mengawasi putrinya dari jauh, beberapa kali Zyandru menggenggam tangannya saking gemasnya dengan istrinya sendiri.
Setelah sekian lama, akhirnya Zyandru dapat kembali mendengar suara Alula. Istrinya itu nampak tengah berbicara dengan seorang anak kecil perempuan yang juga merupakan pasien di rumah sakit ini.
Entah bagaimana mereka bertemu, Zyandru pun tak tahu. Yang pasti Zyandru sangat senang melihat senyum yang begitu tulus yang Alula tunjukkan pada anak kecil itu.
Gadis kecil berusia 6 tahun itu ternyata mengidap penyakit tumor otak. Kepala gadis kecil itu sudah sepenuhnya botak, dengan selang oksigen yang tak lepas dari kedua lubang hidungnya.
Rengekan gadis itu pun tak terelakkan hingga terdengar oleh Alula. Wanita itu bergegas menghampiri dan menenangkan gadis kecil itu hingga ia bisa kembali tersenyum.
Kini, Alula tengah berjongkok sambil menutup matanya menggunakan kedua tangannya. Terdengar Alula mulai menghitung.
Sedangkan gadis kecil yang berada di belakangnya itu membawa kursi rodanya pergi bersembunyi dari Alula.
"Nadia. Tante cari ya?" Alula berdiri dan membawa kepalanya menatap sekitar. Melihat sebuah kursi roda di balik tembok, Alula menghampiri dan menepuk pelan lutut Nadia yang tengah menutup matanya.
Sontak saja hal itu membuat Nadia terkejut bukan main, gadis kecil itu mendesah kesal karena menganggap Alula terlalu hebat bermain petak umpet ini.
Alula yang melihat hal tersebut mulai merayu dan memuji Nadia yang juga tak kalah hebat darinya. Tak kunjung membuat Nadia tersenyum, Alula dengan jahilnya menggelitik pelan perut Nadia hingga membuatnya tertawa dengan keras.
Melihat senyum Nadia, entah mengapa Alula merasakan sakit. Wanita itu membayangkan betapa menderitanya anak seumuran Nadia harus merasakan sakit karena penyakit mematikan tersebut.
Kepalanya yang sedikit membesar tak membuat Nadia mengeluh kesakitan. Gadis kecil itu berkata bahwa Tuhan memberinya cobaan seperti ini karena Tuhan begitu menyayanginya.
"Tuhan juga pasti sayang banget sama tante sampai tante harus di rawat di rumah sakit." Lanjut Nadia kemudian membawa tangannya mengusap pelan pipi Alula.
"Kamu benar banget anak cantik!" Alula membawa tangan Nadia untuk di kecupnya beberapa kali.
Nadia pun melakukan hal yang sama dengan mengecup seluruh bagian wajah Alula, hingga wanita yang ia panggil tante itu di buat tertawa akibat ulahnya.
Interaksi Alula dan Nadia itu membuat beberapa orang di sana ikut terharu. Sejak tadi mereka tak hanya berdua saja, selain ibu Nadia dan Zyandru yang masih sembunyi, di sana juga ada beberapa penjaga Alula.
Psikiater yang menangani Alula pun ikut tersenyum senang. Berkat Nadia, Alula kembali berbicara bahkan tertawa. Kesehatan mental Alula berkembang pesat hanya karena gadis kecil penderita penyakit mematikan berupa tumor.
Tak jauh berbeda dengan Zyandru yang masih setia dengan kegiatannya saat ini. Pria itu menatap istrinya dengan ekspresi sedihnya.
"Melihatmu begitu menyukai anak kecil. Salahkah jika aku berharap semoga hubungan kita membaik dan kita segera mempunyai anak, Alula?"
"Tidak tuan," Timpal seorang pria di belakang membuat Zyandru terkejut hingga membuatnya berteriak cukup keras.
Mendengar itu, semua orang yang berada di sana kompak menoleh, begitupun Alula dan Nadia.
Zyandru yang sadar langsung menarik Ansell untuk ikut bersembunyi, pria itu segera membawa asistennya pergi dari sana.
Napas kedua pria itu memburu setelah berlari menuruni tangga hingga ke lantai satu.
"Kamu ngapain ngagetin gitu Ansell?" Tanya Zyandru dengan berkacak pinggang di depan asistennya itu.
"Tuan sendiri ngapain ngintip orang begitu? Hati-hati tuan, nanti matanya bintitan lho!" Kata Ansell menakut-nakuti.
Melihat tatapan tajam yang Zyandru berikan, membuat Ansell seketika menunduk takut.
"Maaf tuan, saya hanya mau mengabari bahwa Aziel dan Princy sudah berhasil dikirim pergi. Sekarang Rio dan anak buah kita yang lain sudah kembali dari bandara dan sedang menunggu perintah lanjutan dari tuan."
"Hah! Untung saja kamu membawa berita baik. Kalau tidak, sudah saya tendang bokongmu itu!" Ancam Zyandru membuat Ansell meraba tubuh bagian belakangnya sendiri.
"Mari kita temui mereka!"