
Mendengar keributan, semua penghuni rumah berlari menghampiri. Betapa terkejutnya mereka, Tiana terlihat terduduk di tanah yang ditumbuhi rerumputan tipis itu, tengah menangis kesakitan dengan tangan dan wajah yang di penuhi darah.
Tatapan beberapa orang itu tertuju pada Alula yang tertunduk menatap sebuah pisau yang juga terdapat bercak darah.
"Aku kan sudah bilang, mental Alula itu belum sembuh sepenuhnya. Lihat! Dia mencoba membunuhku!" Tiana menunjukkan luka di wajahnya yang terlihat cukup dalam.
Haaahhh !!!
Dengan mata melebar dan mulut terbuka, semua orang terus menatap Alula yang tak membantah sedikitpun. Beberapa dari mereka tentu tak percaya, namun bukti sudah ada di depan mata.
Terlihat Devin begitu emosi, laki-laki tampan dengan rambut panjang terikat itu mengepal tangannya dengan kuat hendak marah, namun langkahnya tertahan oleh Zyandru yang lebih dulu angkat bicara.
"Atas hak apa kau berkata seperti itu hah? Aku tahu siapa istriku, Alula bukan wanita licik seperti kamu Tiana!"
Tiana terdiam, ia kira Zyandru akan percaya padanya begitu saja, apalagi melihat Alula yang hanya diam tak bersuara.
Bahkan sekarang Zyandru terlihat berjalan menghampiri Alula dan segera membuang pisau itu dari tangan bergetar istrinya.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?"
Menunduk di depan istrinya, Zyandru segera menarik Alula ke dalam pelukannya. Pria itu tak akan termakan omongan orang lain mengenai istrinya, apalagi menyangkut masalah nyawa seperti ini.
Tak mendapat jawaban sedikitpun. Zyandru berpikir mungkin Alula teringat akan dirinya yang menusuk perutnya sendiri, hingga membuat Alula terlihat takut seperti ini.
"Maksudmu aku berbohong dan menggoreskan sendiri pisau itu pada wajahku Zyandru? Yang gila itu Alula, bukan Aku!"
Tiana bangkit kemudian menghampiri Zyandru dan Alula dan mencerca suami istri di depannya itu.
Sedangkan dari arah berbeda, Devin berjalan maju dan mendorong bahu Tiana agar menjauh dari sang kakak.
Entah siapa wanita bernama Tiana ini. Tiba-tiba saja datang membuat keributan dan merusak ketenangan mereka.
"Atas dasar apa lo nuduh kakak gue begitu? Punya bukti? Gak ada kan? Lagian kakak gue dapetin tuh pisau dari mana hah?" Devin berdecih dengan sinis sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kediaman lo ini membuktikan kalau lo yang melukai diri lo sendiri bi*ch!"
Bahu Tiana terlihat naik turun saking emosi dirinya. Wanita itu menoleh ke sekitar dan menatap beberapa pekerja di rumah Zyandru.
"Kata siapa gue gak punya bukti? Alula dapat pisau itu dari mereka," Tunjuk Tiana pada ketiga pelayan Zyandru.
Semua orang sontak menoleh begitupun dengan Zyandru, pelayan wanita yang sudah bekerja kurang lebih tiga tahun itu menundukkan kepala mereka.
Ansell yang berdiri berdampingan bersama Chika yang tak jauh dari para pelayan, segera bertanya apakah hal itu benar adanya.
Tiana tersenyum senang begitu ketiga pelayan itu menganggukkan kepalanya dan membenarkan ucapannya.
"Dan mereka," Tiana menunjuk kedua penjaga di rumah Zyandru. "mereka adalah saksi mata Alula melukai wajah gue!"
Lagi dan lagi kedua pria itu membenarkan ucapan Tiana. Melihat yang lain hanya diam tak membantah ucapannya, membuat Tiana seketika merasa menang.
Sementara pak Mun dan Bi Asri adalah kedua pekerja yang sama sekali tak di tunjuk oleh Tiana. Meski tak melihat langsung kejadiannya, mereka sama sekali tak percaya akan hal itu. Mereka tahu bagaimana sifat Alula, tidak mungkin nyonya mereka akan melakukan hal tersebut.
Di saat semua kembali berdebat tentang siapa yang salah. Zyandru masih setia memberikan ketenangan untuk Alula.
"Lo itu cuma calon pelakor yang berusaha memfitnah kakak gue!" Chika mendorong kedua bahu Tiana cukup kencang hingga membuat wanita di depannya hampir terjatuh.
Di balik wajahnya yang imut, ternyata Chika sangatlah galak dan bawel. Gadis itu terus memarahi Tiana yang kembali berulah dengan mengadu kesakitan.
Ucapan salah seorang pelayan menghentikan keributan yang ada, semua mata tertuju pada wanita berusia sekitar 35 tahun itu.
Devin merasa tubuhnya lemas seketika, sebelumnya Tiana berbicara tentang mental dan sekarang tentang pembunuhan. Sebenarnya fakta apa yang tak ia ketahui tentang sang kakak selama satu tahun belakang.
Zyandru melepaskan rangkulan pada tubuh Alula, pria itu bangkit dan berdiri menatap satu persatu pekerja rumahnya.
"Kalian saya pecat! Mulai hari ini, berani kalian menampakkan diri di depan saya, itu artinya kalian siap menderita seumur hidup. Hal itu juga berlaku untuk kamu Tiana!"
Zyandru berbicara dengan tegas, selain pak Mun dan Bi Asri, total ada lima pekerja yang ia berhentikan hari itu juga.
"Bedebah!"
"Ayo sayang," Zyandru memegang kedua bahu Alula dan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah.
Sebelum pergi, Zyandru menatap Ansell, dan seperti biasa Ansell akan mengerti tatapan tuannya itu. Pria itu segera menyeret lengan Tiana dengan paksa.
"Aku akan menuntut kalian semua!" Sumpah Tiana saat beberapa langkah mendekati gerbang besar rumah Zyandru.
"Silakan nona Tiana!" Sahut Ansell dengan santai.
"Justru kalau anda menuntut, hukuman anda akan berkali lipat. Sekarang pergi atau pulang hanya tinggal nama!"
...***...
Menatap wanita yang telah mengikat hatinya begitu kuat, wanita yang menjadi alasannya untuk tetap menjalani kehidupan. Zyandru tak peduli dengan tuduhan yang Tiana layangkan pada Alula.
Bahkan jika semua orang di dunia berkata Alula salah, Zyandru akan menjadi orang pertama dan satu-satunya yang membela istrinya itu.
Entah apa yang Alula rasakan, sejak kejadian siang tadi hingga sore hari ini, Alula terus saja diam. Bahkan mengangkat kepalanya saja tidak.
Kepalan tangan yang berada di atas pahanya, seketika melemah begitu merasa sebuah tangan merambat dan menggenggam lembut punggung tangannya.
Perlahan tapi pasti, Alula mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria tampan yang begitu dicintainya.
Tangan Alula beralih memegang perut bagian kiri Zyandru. Wanita itu mengingat ucapan pelayan tentang dirinya yang sudah meminta nyawa suaminya.
"Maaf" Satu kata terlontar dari bibir yang sejak tadi tertutup rapat.
"Sayang, buat apa kamu meminta maaf? Kamu gak salah Alula! Harusnya sejak awal aku tak membiar—"
"Maaf sudah memintamu mengambil nyawamu sendiri. Memang benar yang Tiana bilang, aku hanya wanita gila. Aku—"
Tak membiarkan Alula meneruskan ucapannya, Zyandru dengan cepat menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Alula, mencintaimu adalah pilihanku, dan menjagamu adalah kewajiban yang harus kujalani. Hidup dan matiku sudah kuserahkan pada tuhan. Aku hanya takut jika aku mati, aku tidak bisa lagi melindungimu."
Alula dibuat tak berdaya dengan ucapan Zyandru. Wanita itu hanya bisa menangis tak kuasa membayangkan jika hari itu Zyandru benar-benar meninggal akibat permintaan gilanya.
Mengurai pelukan mereka, Alula mulai menceritakan fitnah yang dituduhkan Tiana pada dirinya. Sebenarnya, tanpa di ceritakan pun Zyandru akan mempercayai Alula.
"Kamu gak benci aku kan?" Tanya Alula. Wanita itu mengingat ucapan Tiana sebelumnya.
Zyandru mencubit pelan ujung hidung Alula. "gak akan sayang."