Blind Husband

Blind Husband
Blind 38


Zyandru terus menatap wanita cantik yang menjadi alasannya menikahi Alula. Princy sadar di sana ada Zyandru yang tengah memperhatikannya, tepat setelah Princy selesai pemotretan ia langsung menghampiri Zyandru.


"Loh Zyandru, kok kamu ada di sini?" ujar Princy basa-basi.


"Aku lagi ada pertemuan dengan rekan bisnis, kamu sendiri ada pemotretan?"


"Iya, aku jadi model salah satu produk skincare, emm Zyandru, boleh aku minta waktu kamu sebentar? aku mau bicarakan sesuatu." Pinta Princy dengan hati-hati.


"Boleh, tapi tunggu Alula sebentar ya!"


Princy langusung memegang lengan Zyandru saat itu juga, "sebenarnya ini masalah kita berdua, aku gak mau sampai Alula tahu, aku mohon, sekali ini aja."


Melihat wajah melas Princy, Zyandru jadi tak tega, "ya udah"


"Kamu tunggu di sini, aku ganti pakaian sebentar!" pinta Princy yang langsung meninggal Zyandru menuju ruang ganti pakaian.


Zyandru melirik ke kanan dan kiri, dilihatnya Aziel tidak ada di sampingnya, entah kemana perginya rekan bisnisnya itu.


Sesaat Zyandru terdiam, ia kembali berpikir Aziel bisa saja mendekati Alula jika dirinya tak ada di sana. Zyandru yang mulai berpikiran aneh ingin pergi, namun langkahnya tertahan karena ada seseorang yang menahan lengannya.


"Kita cari tempat yang enak buat ngobrol yuk!" ajak Princy yang langsung menggandeng lengan Zyandru.


"Princy sebentar, Alula di sana sendiri, aku taku–"


"Aku mohon, sekali ini aja kita bicara berdua tanpa Alula, aku ngerti kamu pasti gak nyaman, tapi ini benar-benar penting."


Zyandru memalingkan wajahnya kala melihat Princy hampir saja menangis.


"Ya udah"


...***...


Di tempat lain.


Alula yang baru saja selesai dengan hajatnya, kini beralih merapikan sedikit riasannya, lebih tepatnya hanya menambahkan sedikit perona bibir.


Alula menatap pantulan dirinya di cermin, bayangan tentang perkataan Zyandru pagi tadi, tiba-tiba saja terbayang.


Terkadang Zyandru itu menunjukkan sisi posesifnya, bukannya marah, Alula justru senang karena merasa itu adalah bentuk kasih sayang Zyandru untuk menjaganya dari hal yang tidak diinginkan.


"Kalau terlalu merah nanti Zyandru marah lagi." Alula mengusap bibirnya kemudian kembali merapikan rambutnya.Setelahnya Alula berjalan keluar, baru beberapa langkah, Alula di kejutkan dengan kehadiran Aziel.


Pria yang memakai tuxedo itu terlihat berdiri dengan gagahnya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Matanya menatap lurus ke depan.


"Ekhem" Alula berdehem tepat di belakang pria itu.


"Oh, kamu sudah selesai?" Aziel membalikkan tubuhnya.


"Sudah, pak Aziel mau ke toilet juga?"


"Enggak, aku nunggu kamu." Jawab Aziel dengan mata menatap lekat wanita cantik di depannya.


"Nunggu saya? oh iya suami saya mana?" Alula celingukan mencari keberadaan Zyandru.


"Pak Zyandru sedang membicarakan bisnis dengan asisten aku, Alula, bisa kita bicara sebentar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu."


Tanpa menunggu lama lagi, Alula segera menyetujuinya, Alula pun ingin menanyakan hal yang sejak tadi ia pikiran.


Di sebelah hotel, terdapat kolam renang yang di kelilingi pepohonan kecil, di sinilah Alula dan Aziel berada, duduk bersebelahan di salah satu kursi.


"Alula, kamu ingat aku gak?" tanya Aziel tanpa ingin berbasa-basi lagi.


"Inget, pak Aziel itu orang yang pernah numpahin minuman ke pakaian saya kan!"


"Kamu cuma inget itu ya Alula? coba ingatan kamu di mundurin sedikit!"


Alula ingin sekali tertawa kala melihat wajah Aziel, sejujurnya Alula ingat semua, ia hanya ingin mengerjai pria ini saja.


"Emm, di mall itu pertemuan pertama kita, dan ini adalah pertemuan kedua kita." Jawab Alula yang membuat Aziel mendesah lesu.


Hahahahaha


Alula yang tak tahan lagi, langsung menyemburkan ketawanya dengan keras, sebelah tangan menunjuk wajah Aziel, sedangkan tangan satunya lagi memegangi perutnya. Alula sangat puas mengerjai pria itu.


"Abang lucu, hahahaha."


Mendengar Alula kembali memanggilnya 'Abang' Aziel tersenyum senang, pira itu langsung menarik Alula ke dalam pelukannya.


Dengan senang hati Alula membalas pelukan pria yang selama 12 tahun ini tidak di temuinya. Mereka menumpahkan rasa rindu yang mereka rasakan dengan berpelukan cukup lama.


"Jadi kamu ngenalin abang?" tanya Aziel sesaat setelah melepas pelukan mereka.


"Sebenarnya saat ketemu di mall, Alula sama sekali gak kenal, tapi saat kita berkenalan tadi pagi, Alula langsung tahu kalau itu abang." Jawab Alula dengan senyum lebarnya.


"Abang kapan balik ke Indonesia? kok gak bilang Alula? abang juga ternyata rekan bisnis suami Alula, kenapa gak pernah temuin Alula, Hah!" bertubi-tubi Alula memberikan pertanyaan dengan nada marah.


"Maaf, abang disini baru sekitar sebulan yang lalu, bukannya abang gak mau temuin kamu, tapi tujuan abang kesini kan karena bisnis. Lagipula abang juga baru tahu kalau kamu itu istrinya Zyandru."


Alula manggut-manggut mendengar penjelasan Aziel.


"Oh iya, kamu udah berapa lama nikah sama Zyandru?"


"Sekitar 11 bulan, maaf ya gak kasih tahu abang, selain karena Alula gak punya kontak abang, acara pernikahan kita juga cuma sederhana aja."


"Ohh begitu, selamat ya, semoga cepat dapet momongan."


"Amin"


Alula tersenyum canggung mendengar Aziel yang mendoakannya segera mempunyai anak, sedangkan ia dan Zyandru sampai sekarang belum pernah melakukan hubungan suami istri.


"Oh iya, istri abang gak diajak?" Alula belum tahu bahwa sampai sekarang Aziel belum melupakannya.


"Abang belum menikah."


"Hah! serius? abang normal kan?" goda Alula membuat Aziel tertawa.


"Abang normal Alula, normal banget malah, cuma sampai sekarang abang belum ketemu wanita yang tepat aja." Jawab Aziel seadanya.


"Alula do'akan semoga abang cepat bertemu wanita baik, cantik, pintar yang mampu menggetarkan hati seorang Aziel Savio."


Wanita itu sudah ada, tepat di depan abang, yaitu kamu Alula. Aziel hanya bisa mengatakan itu dalam hatinya.


...***...


Sementara itu, di hotel yang sama namun tempat yang berbeda, terlihat seorang wanita cantik tengah menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya membuat pria yang duduk di depannya merasa khawatir.


"Princy, sebenarnya kamu kenapa? ada masalah?, kalau iya, kamu bisa cerita ke aku!" ujar pria itu sambil mengusap surai panjang berwarna kecoklatan itu.


"Zyandru, hiks hiks" Princy berhambur memeluk Zyandru, wanita itu kembali menangis dengan keras di dada Zyandru.


Zyandru beberapa kali celingukan ke kanan dan kiri, sebenarnya ia merasa tak nyaman, takut Alula melihat dan menimbulkan masalah nantinya.


Cukup lama Princy menangis, kini ia sudah mulai tenang, wanita itu nampak mengatur napasnya.


"Kamu kenapa tiba-tiba nangis gini?" tanya Zyandru dengan lembut.


"Apa kamu masih belum punya jawaban atas pertanyaan aku beberapa waktu lalu?"


Malam di mana Princy menemui Zyandru di rumah pria itu, malam itu juga Alula melihat Zyandru tengah berpelukan dengan seorang wanita. Saat itu, dengan tanpa malunya Princy mengatakan bahwa ia masih mencintai Zyandru.


Princy juga mengatakan bahwa ia tahu dirinya salah karena mencintai suami sepupunya, namun Princy tak bisa menghalangi perasaan ini, Princy ingin hubungan mereka kembali.


Saat itu, Zyandru tak langsung menjawab, entah mengapa Zyandru malah meminta waktu pada Princy untuk memikirkan semuanya. Padahal, kalau dipikir-pikir, itu adalah kesempatan emas baginya, tujuannya akan tercapai namun Zyandru malah bimbang.


"Aku mau jujur tentang satu hal ke kamu, awalnya aku menikahi Alula karena ingin mendekati kamu kembali Princy. Saat itu, aku masih sangat mencintai kamu yang membuat aku menghalalkan segala cara agar kamu kembali ke pelukan aku, termasuk menikahi Alula karena kalian sepupu. Tapi sekarang, nama kamu sudah tidak ada lagi di hati aku, jika dulu aku selalu berdebar saat berdekatan dengan kamu, sekarang tidak lagi. Aku sadar bahwa aku telah sepenuhnya melupakan kamu, Aku– aku sangat mencintai Alula. Maaf, hubungan kita telah selesai saat kamu lebih memilih karir kamu dulu"


Princy kembali menangis sejadi-jadinya, berulang kali wanita cantik itu mengatakan maaf dan menyesal, namun itu tak membuat Zyandru goyah. Sekarang Zyandru sudah menyadari bahwa hati dan pikirannya sudah di penuhi oleh istri sahnya yaitu Alula.


"Boleh aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" pinta Princy dengan air mata yang terus menetes.


"Maaf, aku–"


"Aku mohon, setelah ini aku tak akan pernah mengganggu hubungan kalian lagi."


"Baiklah" Zyandru menerima permintaan Princy tanpa tahu Princy sudah merekam percakapan mereka sejak tadi.