
Hari-hari berlalu begitu cepat bagaikan debu yang terbawa angin. Tidak ada yang kekal di dunia ini, begitupun dengan masalah dan cobaan yang akan datang dan pergi seiring berjalannya waktu.
Terkadang diam menjadi cara terbaik untuk menghindari segala permasalahan.
Rumah yang dulunya begitu hampa, kini di penuhi dengan canda tawa dan kebahagiaan. Sekali lagi, Alula membawa perubahan dalam hidup Zyandru.
Sejak kejadian Tiana yang mengaku dilukai dan akan dibunuh Alula, tanpa menunggu perintah dari Zyandru, Ansell segera menyelidiki semuanya.
Ternyata yang dipikirkan Ansell memang benar adanya, semua itu sudah direkayasa oleh Tiana. Kelima pekerja di rumah Zyandru sudah bekerjasama dengan wanita itu.
Dengan bayaran cukup besar yang diiming-imingi oleh Tiana, mereka berlima menyetujuinya begitu saja tanpa pernah memikirkan akibat perbuatan mereka.
Kini, Tiana beserta kelima orang tersebut, harus menanggung akibatnya dengan dijatuhi hukuman berlapis, yaitu pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.
Zyandru tak peduli tentang Tiana yang merupakan temannya atau kelima orang yang sudah mengabdikan diri mereka padanya. Lagipula setiap perbuatan harus ada pertanggungjawaban, dan inilah akibatnya jika ada yang berani mengusik dirinya terlebih lagi Alula.
Sementara Devin memilih memendam rasa penasarannya mengenai perkataan Tiana hari itu. Laki-laki itu berpikir, ini adalah masalah rumah tangga sang kakak dan suaminya, tak pantas jika dirinya ikut campur.
Devin juga sangat bersyukur Alula menikahi pria seperti Zyandru. Meski awalnya ada rasa ragu, namun semua itu ditepis dengan melihat langsung betapa sayangnya Zyandru pada Alula.
Namun ada satu hal yang masih mengganjal hati Devin, yaitu mengenai mata Zyandru. Seingat dirinya kakak iparnya itu buta, mungkinkah Zyandru mendapatkan donor mata. Entahlah, Devin terlalu malas untuk bertanya.
Sementara Chika sudah melanjutkan pendidikannya di sekolah baru yang sudah dipilihkan Zyandru langsung. Tak tanggung-tanggung, Zyandru menyekolahkan Chika di sekolah internasional yang biayanya tak main-main.
Mereka semua benar-benar menganggap Chika sebagai adik terkecil mereka. Begitupun dengan Devin, meski awalnya tak terima, namun seiring berjalannya waktu, Devin mulai menaruh iba hingga akhirnya menyayangi Chika layaknya seorang kakak.
...***...
Meski kondisinya sudah pulih, Zyandru tetap tak tega meninggalkan Alula sendiri, namun ia pun tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Memutar otaknya agar dapat melakukan dua hal sekaligus, Zyandru memilih bekerja dari rumah.
Seperti saat ini, Zyandru yang berada di ruang kerjanya nampak duduk tenang dengan mata fokus menatap layar laptopnya yang menampilkan para karyawannya tengah rapat.
Saking fokusnya, Zyandru sampai tak menyadari kehadiran Alula yang tengah berdiri di depan pintu. Wanita itu nampak seperti ingin menyampaikan sesuatu namun tak ingin mengganggu.
Hingga setelah beberapa saat, Zyandru menutup layar laptop yang artinya pria itu sudah selesai dengan pekerjaannya. Dengan langkah kecilnya, Alula berjalan masuk dan menghampiri suaminya itu.
Merasakan sesuatu merambat di kedua bahunya, Zyandru menoleh dan mendapati Alula yang memeluknya.
"Aku mau izin pergi, boleh gak?"
"Mau ke mana sayang?" Zyandru balik bertanya. Pria itu menarik lengan Alula dan mendudukkan istrinya itu ke pangkuannya.
"Besok kan Devin balik ke Inggris, jadi malam ini aku mau kita semua kumpul dan makan malam bersama. Aku mau beli bahan makanan di supermarket."
"Aku temani ya?" Tawar Zyandru.
Dengan cepat Alula menggeleng, sejujurnya ia malas mengajak Zyandru belanja karena suaminya itu pasti akan merengek meminta cepat pulang.
"Aku pergi berdua sama Chika, nanti minta diantar pak Mun. Aku pergi ya, Chika udah nunggu di bawah."
Alula melepaskan tangan Zyandru yang merangkul pinggangnya dan mengecup pipi suaminya itu, kemudian berlari keluar.
Menatap kepergian istrinya, Zyandru meraba pipi kanannya tepat di bekas kecupan Alula "padahal aku maunya disini." Jari Zyandru beralih menyentuh bibirnya.
...***...
Awalnya Zyandru memberikan Chika dua pilihan, mau tetap bersamanya dan Alula atau tinggal sendiri di apartemen pemberiannya. Chika yang tak ingin kembali merepotkan akhirnya memilih apartemen dengan fasilitas mewah pemberian Zyandru.
Usai dengan kebutuhan dapur, kini Alula mengajak Chika ke salah satu mall yang cukup terkenal di jakarta.
Gadis itu begitu senang bukan main. Bagai anak kecil yang diajak ke wahana permainan, seperti itulah Chika.
Meski terkesan norak hingga beberapa orang menatap aneh, Alula tak marah apalagi merasa malu, justru dengan semangat Alula mengenalkan dunia yang selama ini tak pernah Chika tahu.
Kini, mereka berada di salah satu toko pakaian. Alula terlihat sibuk memilih beberapa pakaian untuk Chika, sedangkan gadis itu terus membuntuti di belakang.
Memegang salah satu dress yang menurutnya sangat indah, Chika sontak melebarkan matanya begitu melihat harganya yang mencapai dua juta lebih.
"Kalau mau ambil aja Chika! Lagipula bayarnya pakai kartu ATM suami kakak, jadi jangan takut gitu oke!"
Mendengar perkataan Alula, Chika jadi malu sendiri. Mendapatkan perlakuan baik saja sudah membuat Chika sangat bersyukur, namun ia malah mendapatkan semua fasilitas yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Usai dengan pembayarannya, Alula dan Chika keluar dengan totebag yang memenuhi kedua tangannya. Ungkapan rasa terimakasih pun terus keluar dari mulut Chika.
...***...
Byurrr !!!
Alula yang kini tengah makan di salah satu restoran yang letaknya tak jauh dari mall sebelumnya, begitu terkejut ketika tiba-tiba saja ada yang menyiram wajahnya.
Mengusap wajahnya yang sudah basah, Alula melihat pelakunya adalah Rani, ibu Princy sekaligus bibinya. Wanita berusia 50 tahunan itu terlihat begitu marah.
"KEMBALIKAN PUTRIKU! KEMBALIKAN PRINCY ALULA!"
Suara Rani menggelegar hingga meja yang di tempati Alula dan Chika menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
"Maksud bibi apa? Kenapa tiba-tiba siram Alula gini?"
Chika terlihat begitu bingung sekaligus kesal, gadis itu sudah siap meluapkan segala emosi yang sudah menumpuk di kepalanya. Namun begitu mendengar Alula mendengar wanita asing itu dengan sebutan bibi, Chika menjadi diam.
"Masih pura-pura beg* kamu hah! Dua bulan lalu Princy dan suami kamu sepakat bertemu, hingga sekarang Princy belum juga kembali. Pasti suami kamu itu yang menyekap Princy, minta suami kamu kembalikan putriku Alula!"
Alula diam, ia mencoba mencerna tiap kata yang keluar dari mulut sang bibi. Dua bulan lalu itu artinya ia masih dirawat di rumah sakit. Lagipula untuk apa Zyandru dan Princy bertemu.
Melihat wajah terkejut Alula, Rani menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Kamu tahu Alula, Princy dan Zyandru adalah sepasang kekasih saat SMA dulu. Dan satu hal lagi, Zyandru menikahi kamu karena ingin kembali mendekati Princy. Cih, kasihan sekali ya kamu, dinikahi bukan karena cinta tapi karena Zyandru mempunyai rencana terselubung."
Bukan hanya Alula, namun Chika juga sama terkejutnya dengan wanita itu. Tanpa terasa air mata Alula menetes menambah air di wajahnya yang sudah basah.
"Atau jangan-jangan Zyandru sudah menikahi Princy secara paksa."
"Zyandru tak akan melakukan itu!"
Plak !!!
Bantahan yang Alula keluarkan mendapat balasan berupa tamparan dari Rani. Kepala Alula menoleh ke samping saking kerasnya pukulan yang didapat. Rasa panas itu mulai menjalar dan menimbulkan kemerahan di wajah kirinya.
"Bilang pada Zyandru kembalikan Princy atau bibi akan menuntutnya atas kasus penculikan."