
"Sayang," Panggil Zyandru dengan sangat lembut. Pria itu duduk tepat di samping istrinya.
Entah bagaimana menggambarkan perasaan Zyandru hari ini. Pira itu begitu bahagia karena keadaan istrinya yang sudah membaik.
Zyandru bisa kembali membawa pulang Alula dan menjalani rumah tangga mereka seperti sebelumnya. Dengan begitu, ia bisa menebus segala kesalahannya dan membuktikan pada Alula berapa besar cinta yang di milikinya.
Namun, saat melihat wajah istrinya begitu murung tak ada ekspresi sedikitpun, membuat Zyandru berkecil hati. Akankah Alula memafkannya dan kembali menjadi wanita yang ceria seperti dulu lagi.
Dari samping, Zyandru dapat melihat kecantikan istrinya tak luntur sedikitpun meski pipinya begitu tirus dengan mata yang nampak cekung.
"Alula sayang," Zyandru kembali memanggil di iringi usapan pelan di pipi kiri Alula.
Tak kunjung mendapat jawaban. Zyandru lantas beralih berlutut di depan Alula, kedua tangannya ia letakkan di lutut istrinya itu.
"Sayang, hari ini kamu udah boleh pulang!" Ungkap Zyandru dengan hati-hati. Sebenarnya pria itu sedikit takut membayangkan trauma Alula yang belum sembuh total.
Lagi-lagi Alula tak memberikan jawaban, bahkan membuka mulut saja tidak. Zyandru perlahan meraih kedua tangan Alula. Pria itu berkali-kali mengecup kedua punggung dan telapak tangan yang begitu dingin milik istrinya.
Alula hanya diam tak memberikan reaksi mendapat perlakuan Zyandru. Mata kecoklatan miliknya melirik sedikit pria yang sudah membunuhnya berkali-kali.
"Sayang, aku mau kasih tahu sesuatu," Kata Zyandru dengan senyum lebarnya, kemudian menegakkan punggungnya.
"Sebenarnya rumah yang kita tinggali itu rumah yang aku beli beberapa hari sebelum kita menikah. Kita pindah ke rumah aku yang lain ya?"
Mendengar perkataan Zyandru, Alula menolehkan kepalanya menatap sempurna suaminya. Zyandru yang melihat itu tentu mengerti tatapan Alula, meski istrinya itu tak berkata apapun.
"Kita akan pindah ke rumah yang sebelumnya aku tinggali bersama almarhum kedua orang tua aku. Aku tak akan membiarkan kamu masak atau mengerjakan apapun, karena di sana ada beberapa pelayan dengan tugasnya masing-masing."
Alula ingin sekali membantah, namun tak bisa. Suara wanita itu kembali tertahan setelah melihat wajah suaminya.
"Pakaian serta barang-barang kamu akan di urus sama anak buah aku nanti. Kita pergi sekarang yuk!"
Zyandru menggandeng tangan Alula, namun istrinya itu hanya diam seolah tak ingin bangkit dari duduknya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Zyandru dengan nada yang begitu rendah. Pria itu membawa tangannya mengusap pelan kepala istrinya.
"Tubuh kamu masih lemas ya? Mau pakai kursi roda? Atau mau aku gendong aja?" Tawar pria yang memakai pakaian casual berupa celana chino dan polo shirt itu. Tanpa menunggu jawaban, Zyandru langsung saja mengangkat tubuh istrinya yang begitu kurus.
Dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu, Alula kehilangan banyak berat badannya. Perbedaan itu tentu di rasakan Zyandru. Menggendong Alula sekarang, sangat berbeda ketika ia melarikan Alula ke rumah sakit beberapa waktu lalu.
Dalam gendongan Zyandru, Alula sebenarnya ingin memberontak dan berjalan sendiri, namun entah mengapa tubuhnya terasa sangat kaku. Wanita itu merasa tak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri hingga hanya bisa pasrah menerima perlakuan suaminya.
Dengan posisi wajah yang sama-sama dekat, menjadikan Zyandru dengan mudah mencium kepala dan wajah Alula.
Tak peduli tatapan aneh dari orang sekitar, Zyandru tetap melanjutkan aktivitasnya hingga membuat kedua bodyguard wanita yang di belakangnya menjadi iri.
"Tante!"
Sebuah panggilan dari arah belakang membuat Zyandru berhenti seketika. Masih di Koridor yang sama, pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil yang begitu cantik dengan air mata yang membasahi kedua pipinya yang kemerahan.
"Nadia," Pekik Alula. Wanita itu sontak menurunkan tubuhnya dan dengan cepat menghampiri anak kecil yang masih duduk di kursi rodanya itu.
"Nadia kenapa nangis sayang? Ada yang sakit?" Tanya Alula setelah mengurai pelukannya dan mengecek tubuh gadis itu.
Nadia menggeleng sebagai jawaban, "Tadi ibu dokter bilang tante Alula mau pulang, aku sedih. Hiks hiks, nanti teman main petak umpet aku siapa? Huwaaa!"
Alula tak bisa berkata apa-apa, wanita itu sibuk mengusap air mata Nadia sambil berusaha menahan air matanya agar tidak ikut tumpah.
"Maaf"
"Tante jangan minta maaf. Aku emang sedih, tapi aku juga senang karena tante udah sembuh dan bisa pulang."
Alula kembali menarik anak kecil yang begitu hebat menahan penyakitnya itu ke dalam pelukannya. Pemandangan itu membuat pria yang sejak tadi diam meneteskan air matanya tiba-tiba.
"Om itu kenapa nangis?" Nadia menunjuk Zyandru yang berada di belakang Alula.
Zyandru buru-buru menghapus air matanya. "Om gak nangis, om cuma kelilipan."
Nadia mendengus, "Kenapa orang dewasa selalu bohong? Padahal Nangis tapi bilangnya kelilipan, sama kayak mama."
Ucapan polos Nadia membuat yang lain tertawa, niat awal Zyandru dan Alula akan pulang malah tertahan dengan mengobrol bersama Nadia dan ibunya.
Entah sudah berapa lama mereka duduk mendengarkan celoteh Nadia yang begitu lucu, hingga hari sudah menjelang siang dan Nadia pun sudah terlihat begitu lelah.
"Om, tolong jaga tante Alula, ya? Ini tante kesayangan aku, jangan di marahin apalagi dibuat nangis ya om!" Dengan nada yang terdengar seperti ancaman, Nadia memberikan perintah pada pria yang berada di depannya itu.
"Siap tuan putri," Zyandru memberikan hormatnya pada Nadia. "Om akan selalu menjaga dan mencintai istri om ini."
Kedua suami istri itu menatap kepergian Nadia yang senantiasa duduk di kursi roda yang di dorong sang ibu.
Zyandru menjulurkan kedua tangannya ingin kembali menggendong Alula, namun istrinya itu langsung menghindar dan berjalan lebih dulu.
"Sayang, kamu gak masalah jalan sendiri? Emang kaki kamu udah gak sakit lagi? Mending aku gendong aja, ya?"
Tanpa menjawab satupun pertanyaan dari Zyandru, Alula dengan cepat masuk ke dalam lift bermaksud meninggalkan suaminya itu. Namun sayang, usaha Alula sia-sia karena Zyandru dapat menahan pintu lift itu dan ikut masuk bersamanya.
Sesampainya di lobby, suami istri itu disambut oleh beberapa orang, di antara yang Alula kenal adalah Ansell dan pak Mum. Mereka semua kompak mengucapkan selamat atas kesembuhan Alula.
Tak hanya ucapan selamat, mereka semua juga membawa masing-masing bucket bunga dengan jenis yang berbeda.
Alula yang melihat itu tak merasakan kebahagiaan apalagi terharu. Wanita itu bergerak gelisah seperti tak nyaman.
Zyandru yang melihat itu langsung membantu Alula masuk ke dalam mobil. Zyandru kembali melayani Alula dengan berusaha membuat istrinya itu senyaman mungkin.
Pria tampan yang membuatnya merasakan cinta dan kebencian dalam waktu yang sama itu sibuk berbicara, namun tak Alula pedulikan. Wanita itu memilih membawa matanya menatap ke arah jalanan.
Entah sudah berapa senyuman dan kata-kata yang Zyandru keluarkan untuk Alula, namun tak ada satupun balasan dari istrinya.
Sakit? Tentu Zyandru merasa sakit, namun ia takkan pernah putus asa untuk kembali mendapatkan hati Alula.