Blind Husband

Blind Husband
Blind 51


Sepasang netra yang sejak tadi mengeluarkan tangis membasahi wajah, kini kembali mengering tanpa ada tangan yang menghapus.


Menatap lekat raga yang sudah disakiti berkali-kali, perasaan bersalah kembali menyerang memenuhi relung dada.


Dua hati yang baru saja bersatu dengan indah, harus kembali runtuh hanya karena ego dari salah satu bagian. Tembok cinta yang mereka bangun, nyatanya tak sekuat yang mereka harapkan.


Entah sudah berapa lama, Zyandru tak mengalihkan pandangannya dari Alula. Manik indah istrinya itu masih tertutup rapat seolah tak ada keinginan untuk terbuka.


Zyandru tak bisa menyalakan segala takdir dan cobaan yang datang, semua keputusan ada pada dirinya. Ia yang harus memilih untuk menghadapi cobaan itu atau malah pergi meninggalkan Alula sendiri. Namun ternyata Zyandru mempunyai pilihan lain, yaitu memperburuk masalah itu, hingga istrinya menjadi korban kesalahannya sendiri.


Andai waktu bisa diputar kembali, Zyandru akan mengenggam erat tangan Alula, berdiri di depan melindungi Alula. Menjadikan segala cobaan yang datang sebagai bukti cinta mereka begitu kuat.


Pria berkantung mata yang terlihat jelas itu menundukkan kepalanya, membawa bibirnya mengecup dalam-dalam punggung tangan istrinya. Tetes air matanya membasahi tangan lembut istrinya.


Alula, mungkin aku tidak pantas mengatakan ini. Aku hanya ingin kau tahu betapa aku sangat mencintaimu, Tuhan begitu baik mengirim dirimu padaku, bukannya menjaga aku malah menyakiti.


Segala penyesalanku tak bisa merubah fakta bahwa aku salah, maafkan aku istriku. Meski membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun, aku akan berusaha menebus semua kesalahanku.


Zyandru kembali mengatur napasnya yang tersengal akibat menangis, ia harus selalu kuat untuk Alula.


Pria itu beralih merapikan selimut Alula. Tak ingin jauh dari istrinya barang sejengkal pun, Zyandru merebahkan kepalanya tepat di samping kepala Alula, tak lupa ia memberikan kecupan kecil di pipi sang istri.


Di luar, Ansell membuka sedikit pintu, dilihatnya Zyandru memejamkan mata di samping Alula. Pria itu kembali sibuk membicarakan keamanan tuan mereka dengan beberapa anak buahnya.


Dengan langkah lebarnya, Ansell berjalan keluar dari rumah sakit menuju area parkir. Sebelum masuk ke dalam mobil, Ansell melirik beberapa anak buahnya yang memang ditugaskan berjaga di luar.


Di salah satu mobil yang terparkir, terdapat seorang pria yang tak mengalihkan pandangannya sejak Ansell datang. Melihat Ansell mengendarai mobilnya keluar, pria itu mengikuti di belakang.


Tanpa pria itu tahu, sebenarnya Ansell sudah menyadari dirinya tengah dibuntuti, mata tajam pria itu melirik kaca di depannya dan melihat sebuah mobil hitam mengikutinya.


"Mau main-main ternyata," Ansell tersenyum sinis di balik topi hitam yang menutup sebagian wajahnya.


Ansell menaikan kecepatan mobilnya, cukup lama Ansell berkendara dengan menyalip beberapa mobil di depan. Pria itu menghentikan mobilnya disalah satu tempat yang begitu gelap, hingga mobil hitamnya tak terlihat.


Dengan bersembunyi di semak-semak, Ansell melihat pria yang membuntutinya keluar dari mobil dan celingukan mencari dirinya.


Melihat pria itu mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang, Ansell mengeluarkan pistolnya kemudian perlahan menghampiri pria itu.


Tuk !!!


Ansell menarik pelatuk pistolnya tepat ketika ia berdiri di belakang pria itu. Dengan memiringkan sedikit kepalanya, Ansell hendak melihat wajah pria asing yang memakai masker hitam itu, namun sayang, sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Ansell.


Perkelahian pun tak terelakkan, pistol yang berada di genggaman Ansell terjatuh entah kemana.


Bugh Bugh Bugh !!!


Pria itu hendak kembali memukul, dengan sigap Ansell menunduk dan memukul perut pria itu hingga membuat nya tersungkur ke belakang.


Tak ingin kalah, pria asing itu kembali bangkit dan hendak membalas namun Ansell selalu bisa menepisnya.


Tiba-tiba saja Ansell teringat akan Alula yang berhasil melumpuhkan dua orang preman. Ansell berpikir hendak melakukan hal yang sama, sebisa mungkin Ansell mencari kesempatan, hingga saat pria itu berbalik, Ansell langsung menendangnya dari belakang dengan sekuat tenaga.


"Aaaaaakhhhhhh !!!"


Pria itu terjatuh tengkurap ke tanah sambil memegang alat vitalnya, tendangan Ansell sungguh tak main-main.


Sebagai sesama pria, Ansell ikut merasakan ngilu, namun itu tak membuat Ansell berbaik hati. Dengan sekuat tenaga, ia meloncat dan jatuh duduk tepat di punggung pria itu.


Tak tanggung-tanggung, Ansell langsung membuat pria itu pingsan dengan sekali pukulan di kepala. Melihat lawannya sudah tak berdaya, Ansell membawanya masuk ke dalam mobilnya kemudian mengikat kaki dan tangannya.


Ansell beralih menggeledah mobil pria itu, namun ia tak menemukan apapun. Mendengar suara denting ponsel, Ansell mengambil benda pipih tersebut yang berada di tanah. Ansell berdecak kesal ketika membaca semua pesan singkat dan riwayat panggilan.


Pria yang dibawa Ansell saat ini ternyata suruhan Aziel, pria ini sudah memata-matai dirinya dan Zyandru selama beberapa hari belakang.


Ansell langsung membawa pria itu menuju rumah Aziel. Sesampainya di sana, Ansell melihat sekeliling, dilihatnya rumah dengan gerbang besar ini begitu sepi. Ansell beralih mengeluarkan pria yang dibawanya kemudian menjatuhkannya ke tanah begitu saja.


Setelah melakukan pekerjaannya, Ansell melenggang pergi meninggalkan pria suruhan Aziel yang masih terbaring di tanah.


...***...


Keesokan paginya, Zyandru yang tidur dengan posisi duduk terbangun merasakan pegal pada sekujur tubuhnya.


"Akh shh"


Ringisan kecil terdengar, pria itu menepuk-nepuk lututnya yang semalam ditekuk ketika tidur. Dilihatnya sang istri masih tertidur dengan posisi yang tak berubah sejak semalam.


Setelah melakukan rutinitasnya setelah bangun tidur, yaitu mengecup kepala Alula, Zyandru beralih ke kamar mandi.


Usai membasuh wajahnya, Zyandru keluar menemui para anak buahnya.


Pagi ini, seisi kota dihebohkan dengan berita seorang pria terkapar di jalan dengan kondisi sudah di kebiri dan luka memenuhi sekujur tubuhnya. Saat ini, pria itu masih sekarat di rumah sakit. Pria tersebut tak lain dan tak bukan adalah preman yang semalam Zyandru serahkan pada anak buahnya.


Zyandru puas sekali mendengar kabar tersebut, ia sendiri yang memberikan ide itu. Zyandru ingin preman itu menghabiskan sisa hidupnya dalam kesengsaraan.


Sedangkan di dalam, Alula perlahan mengerjapkan matanya, merasakan kepalanya berdenyut sakit, wanita itu mengangkat tangan meraba kepalanya.


Sementara di luar, setelah pembicaraan singkatnya, Zyandru hendak kembali menemani Alula. Baru saja membuka pintu, mata pria itu seketika berbinar melihat istrinya sudah membuka matanya.


"Sayang!"


Mendengar suara, Alula menolehkan kepalanya, saat itu juga matanya melebar melihat seorang pria. Jantungnya berdegup kencang, apalagi ketika pria itu berjalan menghampirinya, tubuh Alula mulai bergetar.


"Sayang kamu udah ba–"


"TOLONG... PERGI! SAYA MOHON LEPASKAN SAYA! TOLONG, HIKS HIKS"


Alula menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, wanita itu mulai menjerit histeris meminta tolong sambil menangis.


"Sayang kamu kenapa?" Zyandru mulai mendekat dan itu membuat Alula semakin ketakutan.


"JANGAN... TOLONG LEPASKAN SAYA, SAYA CUMA MAU PULANG, TOLONG... "


"Alula, ini aku suami kamu, Zyandru!"


Alula tak mendengarkan perkataan Zyandru, wanita itu terus menangis memohon untuk di lepaskan. Sedangkan Zyandru benar-benar bingung saat ini, melihat wajah penuh kesakitan istrinya membuat Zyandru ikut sakit.


Zyandru yang tak menuruti perintah Alula, membuat istrinya itu berteriak semakin keras hingga para perawat menghampiri dan membawa Zyandru keluar.


Di dalam, para perawat berusaha memenangkan Alula. Wanita itu tak hentinya memberontak ingin pergi, namun sebisa mungkin para perawat memberikan pengertian hingga Alula kembali tenang dan terkendali.


Tak lagi mendengar suara teriakan dan tangis, Zyandru berjalan menemui dokter. Tanpa berbasa-basi, Zyandru langsung menanyakan mengapa istrinya seperti itu.


"Mungkin ini terdengar begitu sakit, namun, saya harus mengatakannya. Istri anda trauma melihat laki-laki."


Zyandru hampir saja terjatuh mendengar perkataan dokter wanita di depannya.


"T–tapi saya suaminya dokter!"


"Itulah trauma! Istri anda takut dan tak bisa melihat semua laki-laki, tak peduli siapapun itu. Tapi, dengan rangkaian terapi psikologis, saya pastikan istri anda akan kembali normal dalam waktu satu bulan."


Entah harus di jelaskan bagaimana perasaan Zyandru saat ini. Mengapa penderitaan yang dialami sang istri seolah tak ada habisnya.


Zyandru saja yang mendengarnya begitu sakit, bagaimana Alula yang merasakannya.


Kekerasan fisik yang Alula dapatkan dari 3 pria sekaligus membuatnya tak bisa melihat manusia berwujud laki-laki.


"Dan satu hal lagi, saya minta untuk satu bulan ini anda jangan dulu menampakkan wajah di depan istri anda"