Blind Husband

Blind Husband
Blind 24


"ZYANDRU" pekik Princy ketika melihat pria yang begitu dikenalnya tengah duduk bersama sang ibu.


Princy berjalan menghampiri bahkan dengan tak malunya ia memeluk pria itu, Zyandru yang mendapat perlakuan itu tentu saja terkejut.


Zyandru langsung melepaskan tangan Princy yang berada di lehernya, sebenarnya Zyandru sangatlah senang dan ingin sekali membalas pelukan Princy dengan tak kalah eratnya, namun di sana ada Rani yang notabene nya adalah bibi dari istrinya.


"Maaf, aku terlalu senang sampai reflek peluk kamu" ucap Princy malu-malu.


Zyandru hanya menaggapinya dengan senyum canggung.


"Kok kamu bisa ada disini Zyandru?" tanya Princy yang langsung duduk di sebelah pria itu.


"Alula dirawat di rumah sakit ini"


"Loh emang Alula sakit apa?"


"Anemia, kita ke sana sekarang ya, takutnya Alula udah bangun terus nyariin aku" ucap Zyandru sambil yang langsung berdiri.


"Yuk, maaf sebelumnya kamu kan gak bisa lihat, jadi aku gandeng ya"


Zyandru mengangguk tanda setuju, dengan semangat Princy menggandeng lengan Zyandru.


Begitu sampai di kamar rawat Alula, benar saja firasat Zyandru, istrinya itu sudah bangun dan tengah mencarinya.


"Aku tadi lagi cari pak mun, maaf ya ninggalin kamu sendiri, oh iya ada yang mau jenguk kamu loh" ucap Zyandru sambil mengusap pelan wajah pucat Alula.


Princy dan Rani langsung masuk, seketika itulah Alula langsung mengembangkan senyumnya. Kedua anak dan ibu tersebut terlihat begitu khawatir.


Mereka yang dulu begitu jahat dan kejam, kini 360 derajat berubah menjadi sangat baik, Princy dan Rani begitu perhatian dengan Alula.


Zyandru yang melihat itu terus saja mengembangkan senyumnya, wanita yang sejak dulu ia cintai, wanita yang selalu mengingatkannya pada ibunya sama sekali tak berubah.


Princy beberapa kali melihat ke arah Zyandru, bahkan dengan tak sungkan mendekati pria itu. Zyandru tentu saja menyadari hal tersebut, pria itu beranggapan Princy masih memiliki perasaan terhadapnya. Hal tersebut menjadikan tekad Zyandru bertambah kuat untuk kembali mendapatkan Princy.


...***...


Setelah beberapa lama berada di kamar rawat Alula, Princy dan Rani sudah pulang, kini tinggalah Alula yang tengah berbaring dengan tatapan tak lepas dari Zyandru yang saat ini tengah duduk di sofa.


Sejak kepergian Princy dan Rani, Zyandru terus saja diam, entah apa yang dipikirkan pria itu hingga beberapa kali Alula memanggilnya ia tak dengar.


"Zyandru" sekali lagi Alula memanggil dengan nada yang cukup tinggi, namun suaminya itu tak juga dengar.


Alula yang sejak tadi ingin sekali buang air kecil namun ia tahan, akhirnya perlahan mencoba membangunkan dirinya.


Dengan susah payah Alula menahan tubunya menggunakan tangan kanannya, setelahnya ia langsung menurunkan kakinya.


Baru saja hendak melangkah, Alula malah terjatuh saking lemasnya, "akh shh"


Ringisan Alula akhirnya menyadarkan lamunan Zyandru, dengan cepat ia menghampiri dan langsung menggendong Alula kemudian mendudukinya kembali di ranjang.


"Kok bisa tiba-tiba ada di lantai gitu?" tanya Zyandru sambil membenarkan selang infus Alula.


"Aku mau pipis"


"Kenapa gak bilang, biar aku gendong Alula!"


"Udah, dari tadi di panggil gak jawab malah asik ngelamun" cetus Alula membuat Zyandru tertawa kecil.


"Ya udah, sekarang aku antar ya"


Dalam gendongan Zyandru, Alula tak hentinya menatap pria itu, sangat jelas jika Zyandru bisa melihat semuanya, Alula memikirkan sebuah ide yang akan membuat Zyandru mengakui kebohongannya.


Tunggu aku sembuh, aku akan membongkar kebohongan kamu itu Zyandru. Batin Alula.


"Butuh bantuan?"


Alula yang sudah berada di dalam kamar mandi, dikejutkan dengan Zyandru yang tiba-tiba membuka pintu dan memunculkan kepalanya.


"Astaga Zyandru, ngapain ngagetin gitu sih"


"Enggak, aku bisa sendiri, udah sana keluar!"


Alula berusaha mendorong tubuh kekar Zyandru, awalnya ia menolak dan kekeh ingin membantu Alula, tapi karena Alula mengancam akan menangis jadilah Zyandru keluar.


Setelah selesai lagi-lagi Zyandru membawa Alula menuju ranjangnya, tubuh ramping Alula menjadikan Zyandru dengan mudah mengangkatnya.


"Alula"


"Ya"


"Nanti kapan-kapan kita berkunjung ke rumah bibi kamu ya, silaturahmi aja" ajak Zyandru sambil terus mengusap kepala Alula.


Alula mengiyakan permintaan Zyandru tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Cup


Zyandru melayangkan sebuah kecupan di pipi kiri Alula, kali ini Zyandru menciumnya dengan penuh kelembutan, sangat berbeda dengan terakhir kali yang melakukannya dengan kekerasan.


Alula yang mendapat perhatian seperti ini hanya bisa tersenyum, tanpa terasa air matanya menetes, entah mengapa ia merasa sangat sedih.


"Sekarang kamu tidur ya!" pinta Zyandru membenarkan selimut Alula.


"Aku bakal tidur kalau kamu nyanyi"


"Aku gak bisa nyanyi, suara aku jelek" tolak Zyandru.


"Sekali aja!"


Zyandru mulai bernyanyi lagu nina bobo sesuai permintaan sang istri, Alula menahan tawanya ketika melihat wajah penuh keterpaksaan Zyandru.


...***...


Di tempat lain, Princy sedang tersenyum senang memikirkan nasib pernikahan Alula jika ia berhasil merebut Zyandru.


"Tunggu sebentar lagi Alula, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan!" gumam Princy sambil menggenggam erat gelas berisi jus yang berada di tangan kirinya.


Rani keheranan melihat Princy tengah menyeringai menakutkan, wanita paruh baya itu menghampiri sang putri dan menanyakan hal tersebut.


"Aku akan balas dendam ke Alula ma" Princy meletakkan gelas tersebut dengan cukup kuat hingga membunyikan suara.


"Mama masih gak ngerti deh, kenapa dari dulu kamu tuh benci banget sama Alula" heran Rani.


"Mama sendiri kenapa benci banget sama keluarga mereka?" Princy balik bertanya.


Rani menjelaskan alasan ia sangat membenci Alula adalah karena Rani dan ibu Alula pernah mencintai pria yang sama, namun pria itu malah lebih memilih ibu Alula, hubungan mereka hanya beberapa bulan saja sebelum akhirnya ibu Alula menikah dengan kakak laki-laki Rani yang merupakan ayah Alula.


Mendengar penjelasan sang ibu membuat Princy membulatkan matanya, "kok sama kayak aku sih ma"


"Masa sih?" Rani membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap Princy.


"Mama inget gak anak cowok yang namanya Aziel?" tanya Princy.


"Tetangga kita, yang waktu masih kecil kamu sering kejar-kejar itu kan?"


"Iya, selama bertahun-tahun aku cinta banget sama dia, aku selalu ngejar-ngejar dia, bahkan sering banget kasih hadiah ke dia, bukannya membalas perasaan aku, dia malah menaruh perasaan ke Alula. Selang beberapa bulan ditolak Alula, Aziel pindah keluar negeri, bisa-bisanya dia nolak aku dan lebih memilih Alula, padahal saat itu umur Alula masih 14 tahun"


"Kalau saat itu umur Alula 14 tahun, berarti kamu 17 tahun dong, bukannya kamu pacaran sama Zyandru dari umur 17 tahun?" tanya Rani memastikan.


"Iya, karena sakit hati, akhirnya waktu aku jadiin Zyandru sebagai pelampiasan, dari situ aku benci banget sama Alula, gak disangka Alula malah menikah dengan Zyandru"


"Memang ibu anak sama-sama licik" geram Rani.


"Makanya sekarang aku bertekad merebut Zyandru dari sepupuku tersayang, aku yakin Zyandru masih memiliki perasaan sama aku karena dulu Zyandru cinta mati sama aku"


Rani melihat sebuah kebencian dan ambisi di wajah Princy.


"Aku akan buat Alula merasakan apa yang aku rasakan."