
Hari-hari berlalu begitu cepat, setelah mengungkapkan perasaannya, sikap Zyandru benar-benar berubah 180 derajat. Tidak peduli di rumah atau di luar, Zyandru terus menunjukkan sisi romantisnya pada Alula.
Karena sampai sekarang Zyandru masih belum mengumumkan pernikahan mereka, jadilah ulah Zyandru itu membuat para karyawan di kantor menjadi heran bahkan mengatakan hal buruk tentang Alula.
Kegilaan Zyandru bertambah jika Alula sedang berada di ruangannya, tak peduli ada Ansell di sana, Zyandru terus saja mendekati Alula hingga membuat istrinya itu geram.
Bagaimana tidak, saat Alula mengantarkan berkas, Zyandru yang duduk di kursi kebesarannya malah sengaja menahan tangan Alula dan membawanya untuk dikecup berkali-kali.
"Tangannya tolong di kondisikan pak Zyandru!" ucap Alula dengan tegas.
Zyandru tak mempedulikan peringatan Alula, ia terus saja memperhatikan wajah sang istri yang begitu cantik. Bodohnya ia yang baru menyadarinya.
Alula yang sudah jengah lantas menarik tangannya, namun Zyandru menahan dan balas menarik Alula hingga membuat Alula terjatuh tepat di pangkuannya.
"Ansell" Zyandru mengeluarkan suara dan menatap asistennya itu dengan tajam.
Mengerti perintah sang tuan, Ansell menundukkan kepalanya dan berlalu keluar dari ruangan itu.
"Eehh, pak Ansell mau ke mana? jangan pergi, tolong saya!"
Seperti anak kecil yang meminta mainan, rengekan Alula membuat Zyandru tertawa.
"Lepas!"
Tangan kekar Zyandru terus menahan Alula hingga membuat istrinya itu tak bisa bergerak.
"Saya masih banyak kerjaan pak Zyandru"
"Biar Ansell yang ngerjain!" tolak Zyandru yang masih setia dengan kegiatannya, yaitu menyandarkan kepalanya di bahu Alula.
Alula yang sudah lelah memberontak akhirnya pasrah dan menyandarkan punggungnya pada dada Zyandru.
"Alula" panggil Zyandru sambil mengesampingkan rambut panjang istrinya.
"Ya?"
"Nanti malam ada acara award untuk para pebisnis, kamu ikut ya!"
Alula langsung menegakkan punggungnya, wajahnya menunjukkan betapa heran dirinya.
"Lho, ini kan acara pengusaha, kenapa ajak aku? kenapa gak ajak pak Ansell?"
Bukannya menjawab, Zyandru malah mengangkat tubuh Alula dan mendudukkannya di meja penuh berkas miliknya.
Zyandru menundukkan sedikit punggungnya, kedua tangannya tepat berada di kedua sisi Alula.
"Yang istri aku itu kamu Alula, bukan Ansell. Apa kata orang kalau aku menggandeng Ansell." Zyandru semakin mendekatkan wajahnya pada Alula.
"Tapi pak Ansell tetap ikut?"
"Iyalah, dia kan asisten aku jadi kemanapun aku pergi, Ansell harus ada di sana."
"Tapi kan orang-orang gak tahu pernikahan kita."
"Kalau masalah itu kamu tenang aja ya! Cukup ikuti aku, oke!" Ucap Zyandru seraya tangannya mengusap pelan wajah Alula.
"Tapi aku gak punya pakaian bagus!, kamu kenapa baru bilang sekarang sih? coba kalau bilang dari kemarin, kan aku bisa siap-siap!"
Melihat wajah cemberut Alula, membuat Zyandru semakin gemas.
"Kamu tenang aja ya! udah aku siapin semua kok."
"Tapi–"
Ucapan Alula terhenti karena Zyandru langsung menyerang bibirnya, tak membiarkan Alula mengambil napas, Zyandru menelan semua ucapan tertahan Alula.
"Kebiasaan!" napas Alula tersengal akibat ulah Zyandru yang menciumnya berkali-kali.
Alula mendorong dengan kasar bahu Zyandru, kemudian menghentakkan kaki keluar dari ruangan suaminya itu.
Sedangkan Zyandru hanya bisa tertawa setelah mengerjai istrinya.
"Duh, duh, duh. Enaknya yang habis mempertemukan bibir dengan pak Zyandru." ucap salah satu karyawan wanita yang berpapasan dengan Alula.
"Apa sih mbak?" tanya Alula dengan alis saling bertaut.
"Setelah kepergian pak Revaz, sekarang incarannya pak bos, ups!" wanita itu menutup mulutnya seolah mengejek Alula.
"Maksud mbak apa?" tanya Alula yang merasa tersinggung.
"Cih, gak usah pura-pura polos kamu Alula, ngaca sana!" karyawan tersebut berlalu pergi setelah mencibir Alula.
Alula terdiam, seketika ia menjadi panik. Sambil terus menutup mulutnya dengan satu tangan, Alula berlari ke toilet.
Alula mendesah kesal kala melihat pantulan dirinya di cermin, lipstiknya sudah belepotan kemana-mana, rambutnya juga acak-acakan. Pantas saja karyawan tadi berkata seperti itu.
"Ini gara-gara Zyandru!"
Untung saja tak ada satupun orang di toilet, jadilah Alula bisa marah-marah sepuasnya.
...***...
"Wah ganteng banget"
Alula hanya tersenyum menanggapi ucapan Zyandru.
Kini sepasang suami istri tersebut tengah sama-sama berdiri di depan cermin. Zyandru yang tampil gagah dengan style prianya berwarna hitam putih diminta Alula untuk duduk.
Wanita cantik itu beralih berdiri di belakang Zyandru dan dengan cekatan merapikan rambut suaminya.
Jika orang lain menilai Zyandru adalah seorang pria yang gagah, berwibawa dan arogan. Lain halnya dengan Alula yang menilai Zyandru adalah pria yang tingkat mesumnya semakin hari semakin meningkat.
Alula tampil menawan serta elegan dengan gaun putih polos panjang dengan bahan organza sebagai lapisan luar, tangan pendek berkerut yang juga berbahan organza, juga tiga mutiara di bagian dada sebagai penghias.
Alula membiarkan rambutnya tergerai dengan anting kristal silver panjang sebagai pelengkap.
Mata Zyandru tak ada bosannya menatap bayangan istrinya yang begitu cantik di cermin yang berada di hadapannya.
"Selesai" Alula kembali meletakkan sisir yang sejak tadi ia genggam.
Zyandru membalikkan tubuhnya dan memeluk Alula dengan posisinya yang masih duduk.
"Alula kayaknya kita gak usah datang deh!"
"Lho, kenapa?" heran Alula.
"Kita disini aja! aku kangen banget sama kamu, aku–" Zyandru menghentikan ucapannya kemudian membuang napasnya. "Aku mau kamu Alula!"
Alula terdiam beberapa saat, awalnya ia tak mengerti ucapan Zyandru, namun ketika Zyandru mengatakan menginginkannya. Itu artinya...
"Nanti" ucap Alula memecah keheningan di antara mereka.
"Apa?" tanya Zyandru dengan mata yang masih terpejam.
"Yaaa nanti setelah kita pulang dari acara itu." gumam Alula dengan suara yang sangat kecil namun Zyandru masih dapat mendengarnya.
"Alula" Zyandru mengangkat wajahnya dan menatap Alula dengan mulut menganga lebar.
"Aku ngerti maksud kamu, yaa pokoknya gitu deh!" Alula jadi bingung mau mengatakan apa.
"Sekarang?"
"Nanti Zyandru!"
"Nantinya kapan Alula?"
"Setelah kita pulang dari acara award itu"
Mata Zyandru berbinar mendengar jawaban istrinya, "yang benar Alula?"
"Iya"
"Janji ya!"
"Iya suamiku yang ganteng, udah ayo cepat, nanti kita telat!" Alula segera menggamit tangan Zyandru dan menariknya.
"Sebentar!" Zyandru melepaskan tangan Alula dan berjalan menuju nakas, di sana Zyandru membuka laci kecil paling bawah dan mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah.
Zyandru kembali menghampiri Alula, betapa terkejutnya Alula kala Zyandru membuka kotak kecil tersebut dan menampilkan sebuah kalung yang sangat indah.
Kalung dengan berlian kecil mengelilingi, dan sebuah berlian yang paling besar di antara yang lain berada di tengah-tengah.
Zyandru membawa Alula berdiri di depan cermin, pria itu beralih berdiri di belakang istrinya dan memakaikan kalung tersebut.
Alula hanya diam tak bisa berkata-kata menerima perlakuan romantis suaminya.
Masih dengan posisi di belakang Alula, Zyandru memegang kalung itu dan mengangkatnya agar sejajar dengan mata Alula. Jika diperhatikan lebih teliti, terdapat dua huruf di dalam berlian yang berada di tengah itu.
"AZ" Alula menatap wajah suaminya yang berada di bahunya.
"AZ untuk Alula Zayana." Pria itu membalik kalung tersebut, "dan ZA untuk Zyandru Avior."
Alula tercengang mendengar penjelasan Zyandru, sungguh tak menyangka suaminya itu akan memberikan hadiah sedetail dan semanis ini.
Alula menunduk dengan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. "Makasih" Alula berbalik dan memeluk erat tubuh Zyandru.
"Kamu suka?"
Alula mengangguk, isakan kecil terdengar dari wanita itu hingga membuat Zyandru khawatir.
"Alula kamu nangis?" Zyandru melepaskan tangan Alula yang melingkar di tubuhnya.
"Kenapa nangis? nanti make up kamu luntur loh!"
Alula memukul pelan dada Zyandru, bisa-bisanya suaminya itu malah melucu, merusak suasana saja.
"Makasih, aku cinta kamu"
Cup Cup
Alula melayangkan kecupan pada dua pipi Zyandru membuat tubuh pria itu kaku seketika.
"Alula kita gak usah pergi aja ya!"