Blind Husband

Blind Husband
Blind 32


Splassss!


Sebuah ruangan yang jauh dari pemukiman, terlihat 5 orang pria berbadan besar mengelilingi seonggok raga dengan kaki dan tangan terikat.


Bukan hanya mengelilingi, kelima pria itu tak hentinya melayangkan cambuk mereka pada tubuh yang meringkuk tak berdaya itu.


"Aaaakhhhhhh" sekali lagi pria tersebut mengerang dengan suara tertahannya.


Dengan penerangan seadanya, Zyandru hanya duduk memperhatikan. Zyandru yang gelap mata tak peduli dengan teriakan penuh kesakitan pria berusia 40 tahunan itu.


Usaha tidak mengkhianati hasil !!!


Seperti itulah yang kini dirasakan oleh Zyandru dan Ansell, setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya terkumpul sudah semua bukti kejahatan yang di lakukan Baskoro dan Revaz.


Ansell berhasil menemukan pelaku yang merekayasa kecelakaan mobil Zyandru dan sang ayah.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Ansell segera menangkap dan menyekapnya di suatu tempat yang hanya diketahui dirinya dan Zyandru juga beberapa anak buah mereka.


Zyandru yang sebelumnya hanya memperhatikan, akhirnya bangun dari duduknya kemudian berjalan menghampiri dan menghentikan aksi kelima anak buahnya.


Pria asing tersebut menjelaskan, empat tahun lalu, dengan membawa banyak uang, Baskoro memerintahkan sekitar 6 orang untuk merekayasa kecelakaan sebuah mobil yang ditumpangi dua orang.


Dari 6 orang itu, mereka memiliki tugas masing-masing, dan salah satunya adalah pria yang ditangkap Ansell saat ini. ia mendapat bagian menabrak juga mendorong ke jurang mobil yang dikendarai Zyandru dan ayahnya.


"Saat mendengar hanya satu orang yang meninggal, tuan Baskoro sangat marah dan lantas menembak kami semua, saya adalah satu-satunya orang yang berhasil kabur. Melihat kelima teman saya meninggal, saya sangat takut, akhirnya saya mengasingkan diri di sebuah pedesaan. Hingga 4 tahun ini tuan Baskoro tidak dapat menemukan saya"


"Takut?" Zyandru tersenyum sinis mendengar penjelasan pria itu.


"Ampuni saya tuan, saya hanya disuruh, saya tidak tahu apa-apa" dengan tubuh ringkihnya, pria itu bersusah payah menghampiri Zyandru dan langsung berlutut.


Zyandru menjulurkan tangan kanannya, mengerti maksud sang tuan, salah satu anak buahnya memberikan cambuknya.


Splasssss!


"Haaaaaaa!" pria tersebut kembali mengerang merasakan punggungnya seperti terkelupas.


"Apa dengan mengampuni anda papa saya akan kembali? tidak kan!"


Zyandru menjelma menjadi binatang buas, tatapan matanya sangat berbeda dengan sebelumnya. Sisi kejam pria itu muncul dengan emosi yang meluap-luap.


Sekali lagi, Zyandru mengarahkan cambuk tepat mengenai tengkuk pria tersebut yang langsung mengeluarkan darah.


Merasa hidupnya tak lama lagi, pria suruhan Baskoro itu menangis dan memohon di bawah kaki Zyandru dengan suara paraunya.


Tak mempedulikannya, Zyandru menendang wajah pria itu dengan kasar kemudian kembali merapikan pakaiannya.


Mengerti dengan anggukan kepala Ansell, para anak buahnya kembali menyiksa pria suruhan Baskoro tersebut.


"Jangan biarkan langsung mati, siksa perlahan" ucap Zyandru sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.


...***...


"Silakan tuan" Ansell memberikan minuman kaleng pada Zyandru.


Saat tengah kacau seperti ini, Ansell akan membawa Zyandru ke salah satu pantai. Ansell sangat mengerti Zyandru sangat menyukai pantai ini.


Zyandru pernah bercerita, ini adalah pantai yang sering di datanginya bersama Princy. Ketika ada masalah atau pikirannya kalut, Zyandru akan datang ke pantai ini untuk melupakan sejenak masalahnya.


Meski tak datang bersama Princy seperti dulu, Zyandru tetap senang, namun mengapa malam ini rasanya sangat berbeda, pantai ini tak bisa menenangkannya seperti sebelum-sebelumnya.


"Ansell" Zyandru membuka suara setelah beberapa lama terdiam.


"Iya tuan"


"Kenapa rasanya berbeda?"


"Maksud tuan?" tanya Ansell tak mengerti.


Ansell menunduk diam tak mengerti ucapan Zyandru. Tak lama Ansell tiba-tiba terpikirkan satu ide.


"Saya sering lihat ini di film, katanya kalau kita teriak dengan keras bisa mengurangi beban pikiran kita, begini tuan" Ansell mulai mengambil ancang-ancang dengan menarik napasnya dalam lalu, "Aaaaaaaaahhhhhh"


Zyandru melihat Ansell tanpa berekspresi sedikitpun, membuat Ansell jadi malu sendiri.


"Maaf tuan" Ansell menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.


...***...


Di tempat lain, Alula yang tengah asik tidur malah dikejutkan dengan pak mun yang tiba-tiba mengabari jika Zyandru belum juga pulang.


Alula tahu Zyandru pergi bersama Ansell sekitar pukul 8 malan, namun hingga pukul 2 dini hari, suaminya itu belum juga kembali.


"Waktu pergi tadi, Zyandru atau Ansell ada bilang sesuatu gak pak mun?" tanya Alula dengan wajah bantalnya.


"Tuan cuma bilang gerbangnya jangan di tutup dulu karena tuan perginya cuma sebentar, tapi sampai jam segini belum juga pulang nyonya"


Berbeda dengan pak mun yang begitu khawatir, Alula justru terlihat biasa saja.


"Mending pak mun tidur, lagian Zyandru kan perginya sama Ansell, nanti juga pulang kok" Alula menenangkan pria paruh baya yang sudah dianggap keluarga itu.


"Ya sudah saya permisi nyonya"


"Hm" Alula menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kembali ke kamar tamu yang beberapa hari ini ia tempati.


Di dalam kamar, Alula merebahkan tubuhnya, berulang kali ganti posisi ia tetap tak dapat kembali memejamkan matanya.


"Ish" Alula kembali pada posisi duduk sambil mengacak-acak rambutnya kasar.


"Sebenernya dia kemana sih? udah jam segini, gak tau waktu banget, awas aja kalau berani nemuin perempuan lain, gue gantung di atas tangga!"


Alula tak tenang, ia memilih akan menunggu Zyandru di bawah, baru saja membuka pintu kamar, Alula di kejutkan dengan suara benda terjatuh di sofa ruang tamu.


Antara penasaran dan takut yang Alula rasakan, dengan langkah yang sangat pelan Alula mencoba mengintip dan mendapati Zyandru tengah meringkuk dengan posisi yang tak nyaman.


Wajah lelah yang penuh dengan keringat, bercak darah yang terdapat di beberapa bagian pakaiannya membuat Alula begitu terkejut melihat keadaan sang suami.


"Zyandru, kamu kenapa?, Zyandru bangun! kamu habis dari mana? kenapa bisa ada darah begini Zyandru?"


Beberapa kali Alula menepuk pelan wajah Zyandru namun tak mendapatkan respon apapun.


Alula menghela napasnya, wanita itu membuka sepatu kotor Zyandru, Alula merasa ada keanehan ketika membersihkan tubuh suaminya.


Alula melihat telapak tangan kanan Zyandru memerah namun tak ada luka apapun, Alula terus berpikir dari mana asalnya bercak darah di pakaian Zyandru ini.


"Kamu habis membunuh orang Zyandru" sekali lagi Alula menepuk wajah suaminya, kali ini cukup keras.


"Enggh, mama jangan tinggalin abang!, mama bangun!, adek nangis terus manggil mama, mama abang mohon bangun ma!"


Alula mengerjap cemas mendengar rintihan Zyandru, Alula yang semula akan menjauh kini kembali mendekat.


"Mama sama adek udah pergi, sekarang papa juga pergi, abang gak mau sendiri, bawa abang pergi juga pa! hiks hiks"


Alula dibuat semakin heran ketika melihat Zyandru menangis dan mengeluarkan keringat dingin.


Pertama kalinya melihat Zyandru seperti ini, Alula tak ingin mengasumsikan sendiri. Rasa kesal yang semula Alula rasakan kini berganti dengan rasa cemas sekaligus ingin melindungi.


Usapan di kepala membuat Zyandru yang semula menggeliat gelisah menjadi tenang dan berhenti mengigau.


"Sebenernya kamu kenapa? kamu mimpi apa sampai ketakutan gini?"


Alula berpikir ingin mengambilkan selimut, namun saat akan beranjak, Zyandru menahan tangan Alula dan membawanya sebagai alas pengganti bantal pria itu.


Alula diam, membiarkan Zyandru melalukan sesukanya, perlahan Alula ikut menyenderkan kepalanya pada sisi sofa, terus memandang wajah tampan suaminya, tak lama Alula menyusul Zyandru ke alam mimpi.