
"Bunuh aku!"
Kalimat menyakitkan apalagi yang keluar dari mulut Alula barusan. Tak cukup meminta berpisah, Alula meminta sesuatu yang membuat jantung Zyandru berdetak tak karuan.
Mengangkat kepalanya hingga menampilkan wajahnya yang sudah basah, air mata Zyandru kembali menetes selagi menatap mata kecoklatan Alula.
Baru sebentar bertatapan, Alula malah menolehkan kepalanya. Zyandru mengikuti arah pandangan Alula, dilihatnya ada sebuah pisau yang letaknya tak jauh dari mereka.
Bagaimana bisa Zyandru mengambil nyawa seseorang yang begitu berarti di hidupnya, sedangkan melihat Alula menangis saja hati Zyandru seperti di sayat-sayat.
"Kenapa diam? Aku minta kamu membuktikan semuanya dengan cara membunuhku Zyandru!"
Tidak, Zyandru tak bisa mendengar semuanya, pria itu memalingkan wajahnya tak kuasa menatap wajah istrinya.
"Kenapa harus sejauh ini Alula? Kau pun tahu aku tidak akan bisa melakukannya! Tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Aku merindukanmu, sungguh!"
"Harusnya kau pertanyakan itu pada dirimu sendiri Zyandru! Mengapa kau harus menghancurkanku sejauh ini? Kau balas cintaku dengan air mata dan darah!"
Alula tak dapat lagi menahan dirinya, semua rasa sakitnya hanya bisa ia keluarkan lewat air mata. Hatinya yang sudah retak, kini hancur sepenuhnya tak bersisa.
"Kalau kau tidak mau melakukannya, biar kulakukan sendiri!" Ancam Alula. Wanita itu berjalan dan dengan cepat mengambil pisau berukuran sedang tersebut.
Adegan rebut merebut pun terjadi, Zyandru tak peduli dirinya yang bisa saja terluka dengan pisau di genggaman Alula. Begitupun dengan Alula yang benar-benar nekat, wanita itu tak main-main dengan ucapannya.
Sementara dari arah lain, terlihat ketiga pelayan Zyandru tengah memperhatikan tuan mereka. Sejak Zyandru dan Alula pulang, mereka melihat perdebatan itu secara langsung.
Mendengar keributan, bi Asri lantas keluar dari kamar khusus pelayan dan melihat ketiga teman pekerjanya tengah mengintip sesuatu.
Melihat pertengkaran yang terjadi antara kedua majikannya, bi Asri segera mengusir ketiga temannya itu, namun salah satu dari mereka tak ada yang mendengarkan.
"Kalau begitu bunuh diri kamu sendiri!"
Perkataan Alula membuat keempat pelayannya berhenti berdebat, mereka semua kompak menatap wanita yang mereka panggil nyonya muda itu.
Begitupun dengan Zyandru, pria itu menatap penuh istrinya. Melihat wajah Alula yang sangat serius membuat Zyandru berpikir mungkin ini adalah satu-satunya cara membuat Alula memaafkan dan menerima cintanya.
"Baik kalau itu mau kamu, jika itu membuat kamu bahagia, maka akan aku kabulkan."
Zyandru mengambil pisau yang berada di lantai, pria itu perlahan mengarahkan pisau tersebut ke perut bagian kirinya.
"Kita akan memiliki luka yang sama Alula."
Setelah mengatakan itu, Zyandru mulai menusuk dirinya sendiri. Erangan dan darah segar mulai mengalir dari perut pria itu.
Zyandru yang mulai lemas, terjatuh ke lantai. Sebelum benar-benar menutup matanya, Zyandru melihat Alula menatapnya tanpa ada raut khawatir sedikitpun.
"Aku mencintaimu Alula"
...***...
Di sebuah koridor rumah sakit, nampak seorang pria dan wanita menunggu harap cemas di depan sebuah ruangan.
Sementara yang lain kembali, kini tinggalah Alula dan pak Mun berdua. Tak ada percakapan antara mereka berdua, yang ada hanyalah isakan dari Alula.
Alula kira ia akan senang melihat Zyandru merasakan sakit, namun ternyata tidak. Wanita itu tetap takut membayangkan sesuatu hal buruk yang akan menimpa suaminya.
Saat di rumah, Alula memang tak menunjukkan rasa khawatirnya sedikitpun, namun saat di rumah sakit, begitu Zyandru di bawa masuk ke salah satu ruangan, air mata Alula terjatuh begitu saja.
Wanita itu masih tak menyangka dengan permintaannya, mengapa ia bisa berbuat sejauh ini. Alula meremas telapak tangannya dengan kuat, tak peduli menyakiti jari manisnya yang masih dalam proses penyembuhan.
Sementara pak Mun, pria paruh baya itu pun hanya diam. Diantara Zyandru atau Alula, pak Mun tidak membela siapapun, keduanya terlihat saling mencintai, namun semesta seolah tak menginginkan mereka bersama dengan selalu memberikan cobaan.
Pak Mun melihat sendiri bagaimana kondisi Alula akibat di tinggalkan Zyandru di pinggir jalan. Dan sekarang keadaan berbalik, pak Mun melihat Zyandru yang terluka akibat permintaan Alula sendiri.
"Alula!"
Suara pria memanggil mengalihkan perhatian si pemilik nama, dilihatnya Ansell berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Pak Ansell... "
Tangisan Alula semakin menjadi ketika pria itu berdiri tepat di depannya. Seakan tengah meminta pertolongan pada sang kakak, Alula mengadukan semuanya pada asisten suaminya itu.
Ansell yang tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mengusap kepala Alula. Sejujurnya Ansell pun tak mengerti, mengapa kedua pasangan ini suka sekali memberikan sakit kepada satu sama lain.
"Darah Zyandru banyak banget, saya takut dia gak selamat. Saya salah pak Ansell, hiks hiks!"
"Kamu tenang ya, tuan Zyandru itu kuat! Kamu harus yakin suami kamu akan baik-baik saja. Kamu masih cinta sama tuan Zyandru kan Alula?"
Mendengar pertanyaan Ansell, Alula mengangguk pelan.
"Ya sudah, jadikan ini sebagai pelajaran. Selama ini tuan sudah berusaha meminta maaf dan kamu juga lihat perjuangannya dia kan? Apa kamu mau memaafkan dia Alula?"
Baru saja Alula akan menjawab, pintu ruangan di depannya terbuka dan menampilkan seorang pria yang memakai pakaian putihnya. Melihat terdapat bercak darah pada pakaian dokter tersebut, membuat pikiran Alula tak karuan.
Dokter tersebut menjelaskan Zyandru dalam kondisi baik-baik saja. Beruntung pisau yang menusuk perutnya tidak terlalu dalam sehingga tak mengenai ginjalnya.
"B,,, boleh saya menemui suami saya?" Tanya Alula dengan suara bergetar.
"Silakan!"
Mengusap sisa air matanya, Alula berjalan masuk dan melihat suaminya terbaring lemah dengan mata yang tertutup rapat.
Perlahan Alula menggenggam tangan yang selalu siap melindunginya kapan saja. Kini, tangan itu hanya diam tak bergerak sedikitpun.
Alula kembali menangis, berharap tangan Zyandru terangkat untuk menghapus air matanya seperti sebelum-sebelumnya.
"Kupikir dengan semua rasa sakit yang kau berikan, cintaku akan hilang begitu saja. Nyatanya tidak, membencimu tak semudah mencintaimu. Kembalilah Zyandru, aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Mari kita mulai semuanya dari awal."
"Kamu serius kan Alula?"