Blind Husband

Blind Husband
Blind 13


Alula yang sudah bangun pagi-pagi sekali, langsung mengerjakan pekerjaan rumahnya, setelahnya ia kembali ke kamar dan melihat Zyandru sudah rapi dengan pakaian yang sudah ia siapkan.


"Aku udah buat sarapan"


"Hm"


"Mau aku bantu?"


"Ya"


Alula membantu Zyandru memakai jasnya dilanjut dengan dasi.


"Aku mau tanya sesuatu boleh?" ucap Alula dengan sangat hati-hati.


"Ya"


"Di rumah ini gak ada ART?"


Zyandru menahan tangan Alula yang masih berada di dadanya.


"Kamu kenapa nanya gitu?, merasa tertekan karena harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri tanpa ART"


Alula menatap Zyandru dengan alis tertaut, "aku gak bilang gitu, aku cuma heran aja, kemarin waktu aku datang, rumah ini cukup bersih, aku juga lihat pakaian kamu udah berjejer rapi di lemari"


Zyandru tersenyum sinis, "jadi maksud kamu karena aku buta aku gak bisa melakukan hal itu"


"Aku enggak-"


"ENGGAK APA?"


Alula terlonjak kaget karena tiba-tiba Zyandru membentaknya, tangannya digenggaman dengan kuat.


"Sebelumnya memang ada ART disini, tapi karena suaminya sakit dia berhenti, sampai sekarang aku belum dapat ART yang cocok. Lagipula aku sudah buta bertahun-tahun, jadi aku terbiasa melakukan semuanya sendiri"


Zyandru menghempaskan tangan Alula dengan kasar, kemudian keluar, di bawah Zyandru langsung pergi bersama sopir barunya.


Sedangkan di kamar, Alula masih terpaku di tempatnya, ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi.


Bukan hanya meninggikan suara, Zyandru bahkan melakukan kekerasan padanya hanya karena Alula menanyakan masalah kecil.


Alula tak bermaksud untuk untuk mengeluh apalagi menghina kekurangan Zyandru, pria itu sendiri yang mengasumsikan seperti itu.


Sungguh Alula tak mengerti dengan keadaan saat ini, Zyandru berubah setelah sehari pernikahan, sangat berbeda dengan Zyandru yang Alula kenal sebelumnya.


Pria yang dulu dengan mudahnya tertawa hanya karena candaan kecil, kini berubah menjadi pria tempramen.


"Apa setelah menikah semua pria akan berubah"


Suara isakan mulai terdengar, Alula menatap tangannya yang memerah akibat cengkeraman Zyandru tadi.


Alula turun ke meja makan, ia terus menatap masakan buatannya, jangankan memuji masakannya, Zyandru bahkan tak menyentuhnya sama sekali.


...***...


Sementara itu di kantor, Zyandru tengah berada di ruangan direktur, Zyandru menunggu Baskoro yang tengah melakukan meeting di luar bersama klien.


Di sana Zyandru berpura-pura tak mengetahui keberadaan Revaz yang tengah duduk di kursi direktur.


Sekian waktu Zyandru menunggu, pintu ruang terbuka dan menampilkan sosok wanita berpakaian formal, ia adalah Nindy, sekertaris Baskoro.


"Siapa?"


"Ini Nindy pak"


"Apa Revaz belum sampai?"


Nindy terlihat melirik ke arah Revaz, "belum pak"


"Tolong antar ke ruangan saya" pinta Zyandru.


"Baik, mari pak" Nindy terlihat menuntun jalan Zyandru menuju lantai di mana ruangan CEO berada.


Zyandru terlihat sedang mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja, pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Melihat perlakuan Nindy selama bekerja, sudah dipastikan ia adalah kaki tangan Baskoro dan Revaz.


Zyandru juga kembali memikirkan perkataan Ansell tentang Alula yang kemungkinan tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Baskoro dan Revaz.


Memikirkan tentang Alula, Zyandru mengingat kejadian pagi tadi.


Apa gue udah keterlaluan ya sama Alula, dia emang gak nyinggung kebutaan gue, tapi– Batin Zyandru.


"Ah tau lah pusing gue" Zyandru mengacak rambutnya kasar.


...***...


Siang harinya, dengan senyum yang terus mengembang, Alula terlihat menaiki taksi menuju perusahaan Zyandru.


Alula berencana membawakan Zyandru makan siang, semoga saja Zyandru menyukai masakannya.


Setelah menetralkan hati dan pikirannya, Alula memilih untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Zyandru.


"Semoga Zyandru gak marah lagi" gumam Alula melihat tas bekal yang berada di pangkuannya.


Sekian waktu perjalanan, Alula sampai dh perusahaan, dengan cepat wanita itu berjalan masuk.


"Loh Alula" sapa seorang wanita yang baru saja datang.


"Kak Yola"


"Bukannya kamu lagi ngambil cuti, ngapain ke kantor?"


Alula tersenyum canggung, ia sampai lupa bahwa ia merahasiakan pernikahannya dengan Zyandru, sekarang apa yang harus ia katakan.


"Ohh begitu, terus itu apa?" Yola menunjuk tas bekal bawaan Alula.


Melihat pintu lift terbuka, Alula segera mengambil kesempatan ini untuk menghindari pertanyaan Yola, "kak, Alula duluan ya"


"Oke"


Dengan langkah pasti, Alula berjalan menuju ruangan Zyandru berada, sebelum masuk Alula menyempatkan merapikan pakaiannya.


Tok Tok Tok


"Siapa?" suara Zyandru dari dalam.


"Aku... Alula"


"Hah"


Dengan cepat Zyandru membuka pintu, ia begitu terkejut melihat wanita yang sejak tadi terus ia pikirkan.


"Aku boleh masuk?" tegur Alula yang melihat Zyandru hanya diam.


"Oh–iya"


"Kamu udah makan belum?" Alula meletakkan tas bawaannya di meja.


Zyandru mengerjap, ia bahkan melupakan dirinya yang belum memakan apapun sejak pagi.


"Belum"


"Aku bawain makanan, kamu makan dulu ya" Alula menggapai lengan Zyandru dan membawanya duduk di sofa.


"Aku gak laper" tolak Zyandru.


"Loh, katanya belum makan"


"Ya emang, tapi aku gak laper" lagi dan lagi Zyandru bersikap dingin.


"Zyandru, sebenarnya aku mau minta maaf masalah tadi pagi, aku gak ada maksud buat ngeluh apalagi menghina kamu, aku benar-benar gak ada maksud kesana"


Melihat wajah sedih Alula, entah mengapa Zyandru merasa kasihan pada wanita itu.


"Aku–aku juga gak tau kenapa bisa semarah itu, maaf udah bentak dan kasarin kamu"


Alula tersenyum mendengar penuturan Zyandru, wanita itu terus memperhatikan Zyandru hingga pria itu salah tingkah.


"Tadi katanya bawain makanan buat aku"


"Oh iya" Alula menghidangkan makanan yang ia bawa, kemudian membantu Zyandru untuk makan.


Zyandru mengerutkan keningnya ketika suapan pertama masuk ke mulutnya, "ini ayam bakar bumbu padang?"


"Iya, kamu gak suka ya?"


"ini makanan kesukaan aku"


"Hah serius, enak gak?" tanya Alula dengan senyum lebarnya.


"Enak"


...***...


Di depan cermin wastafel, Alula tersenyum senang ketika mengingat betapa lahapnya Zyandru saat makan tadi. Padahal hanya pujian kecil namun Alula merasa sangat senang.


Sementara di ruangan Zyandru, Nindy baru saja memberitahukan jika Revaz ingin bertemu dengannya.


Sesaat setelah kepergian Nindy, Zyandru tiba-tiba tersenyum penuh arti, entah apa yang akan ia rencanakan kali ini.


Tak lama Alula kembali dan meraih tas bekalnya hendak pergi, "Zyandru aku pulang ya"


"Tunggu" cegah Zyandru.


"Kamu butuh sesuatu?"


"Sini" titah Zyandru yang saat ini duduk di kursi kebesarannya.


Alula menurut, wanita itu langsung berdiri di sebelah Zyandru, tiba-tiba saja Zyandru menarik pinggang Alula hingga wanita itu jatuh ke pangkuannya.


Alula terdiam, ia terkejut dengan apa yang baru saja Zyandru lakukan, wanita itu hendak bangun namun langsung di tahan.


Zyandru mengeratkan pelukannya pada pinggang Alula, kepalanya tepat berada didada Alula hingga ia dapat merasakan jantung Alula yang berdegup kencang.


"Jantung kamu kenapa berisik banget?" ucap Zyandru dengan nada menggoda.


"Kamu kenapa tiba-tiba meluk gini?" Alula kembali ingin bangkit, namun lagi-lagi di tahan Zyandru


"Sebentar aja Alula" pinta Zyandru dengan mata terpejam.


Alula pasrah, perlahan tangannya terangkat membalas pelukan Zyandru, Alula bingung dengan sikap Zyandru yang tiba-tiba berubah, namun tak dipungkiri bahwa ia bahagia.


Cukup lama mereka berada di posisi ini, hingga tak menyadari kehadiran seseorang yang saat ini berdiri diambang pintu.


"Ekhem"


Mendengar suara deheman orang, Alula dengan cepat melepaskan pelukannya, kepalanya tertunduk malu.


"Mesra banget pengantin baru" goda Revaz yang sebenarnya sakit melihat adegan tadi.


Alula hanya bisa tersenyum canggung, sedangkan Zyandru terlihat tersenyum senang.


"Tadinya aku mau bahas tentang pekerja lapangan, tapi liat kamu lagi sibuk sama Alula, aku tunda aja deh" ucap Revaz.


"E–enggak kok, aku udah mau pulang, kalian lanjut aja" dengan cepat Alula pergi meninggalkan kedua pria itu.