
"Cari teknisi pak Mun!"
"Baik tuan" pria paruh baya itu langsung berlari menjalankan tugas dari sang tuan.
"ALULA, AKU MOHON BUKA PINTUNYA! TOLONG JAWAB AKU SEKALI AJA!"
Zyandru kembali memukul pintu tersebut berharap akan terbuka. "SIALAN, KENAPA SUSAH BANGET SIH HAH!"
Seolah tak lelah dengan pekerjaannya saat ini, Zyandru terus mencoba membobol pintu tersebut tak peduli tangannya sudah terluka.
Zyandru menunduk lemah di lantai, "Aku yang salah Alula, aku yang bodoh, aku memang gila, aku pria bajingan yang hanya bisa menyakiti kamu. Silakan kalau kamu mau merutuki, memukuli aku atau bahkan membunuh aku sekalipun. Tapi aku mohon keluar Alula, aku sungguh takut, aku gak mau kehilangan kamu. Aku mencintaimu kamu Alula, sangat..."
Setelah beberapa waktu, pak Mun kembali bersama seorang pria dengan membawa beberapa peralatan. teknisi itu mengeluarkan alat yang bentuk genggamannya mirip pistol, kemudian mulai mengarahkan alat tersebut ke pintu.
"Tolong mundur sedikit pak!" pinta pria tersebut yang langsung di turuti pak Mun, ia juga menarik Zyandru untuk menjauh.
Percikan api mulai keluar, Zyandru tak hentinya memanggil nama sang istri sembari berdoa dalam hati semoga Alula baik-baik saja.
"Cepat! istri saya di dalam"
Cukup lama waktu yang dibutuhkan teknisi tersebut untuk membuka kunci digital yang melekat di pintu tersebut.
Melihat kunci terlepas begitu saja, tanpa menunggu waktu lama lagi Zyandru segera masuk.
Keadaan kamar yang sepi membuat Zyandru bertanya-tanya di mana Alula. Melihat bercak darah di lantai, Zyandru mengikuti arah bercak tersebut dan tatapannya tertuju pada kamar mandi.
"ALULA"
Begitu terkejutnya Zyandru kala melihat keadaan istrinya saat ini. Alula terduduk di sudut kamar mandi dengan mata terpejam, bibirnya sudah membiru dan wajahnya begitu pucat.
Kulit dan pakaian yang sebelumnya penuh dengan darah, kini bersih berkat air yang terus mengalir dari shower.
"Alula... "
Zyandru mengangkat tubuh ringkih istrinya dan membawanya ke kasur, merasakan kulit Alula yang begitu dingin, Zyandru langsung merobek pakaian Alula, dan kini tersisa hanya pakai dalam saja.
Hati Zyandru berkecamuk melihat luka yang memenuhi sekujur tubuh Alula.
Zyandru berlari menuju lemari dan mengambil setelan pakaian hangat kemudian memakaikannya di tubuh tak berdaya istrinya. Zyandru juga menyelimuti Alula dengan selimut tebal dan langsung menggendongnya ke bawah.
"PAK MUN, KE RUMAH SAKIT!"
Tanpa babibu lagi, pak Mun segera menuruti perintah majikannya.
Di mobil, Zyandru tak hentinya menangis dan memanggil nama Alula berharap istrinya merespon walau hanya sepatah kata.
Merasakan tubuh Alula yang semakin dingin, Zyandru merobek paksa kemeja putihnya yang di penuhi darah, melepas dan membuangnya sembarangan, kemudian ikut menyelimuti tubuhnya.
Zyandru merapatkan tubuhnya pada tubuh Alula, berharap metode skin to skin ini dapat menghangatkan tubuh istrinya.
"Sayang, Alula. Maafkan aku"
Melihat betapa parahnya tubuh Alula, Zyandru sempat tak tega walau hanya sekedar menyentuhnya. Zyandru hanya takut akan menyakiti dan menambah luka Alula.
Saking fokusnya pada Alula, Zyandru sampai tak memperhatikan sekitar, melihat mobilnya terparkir tepat di depan rumah sakit. Bergegas Zyandru turun dan berlarian meminta tolong.
"DOKTER, TOLONG ISTRI SAYA!"
Zyandru membaringkan tubuh Alula dan ikut mendorong brankar itu. Saat hendak ikut masuk ke ruang ICU, para perawat segera menahan Zyandru.
"Maaf pak tak bisa, ini ruangan steril khusus pasien. Silakan tunggu di sini"
"Gak bisa, saya mau masuk!" Zyandru terus memberontak tak peduli apapun yang terjadi. Pria itu hanya ingin menemani istrinya.
"Pak tolong dengarkan kami, kalau bapak terus bersikap seperti ini, istri bapak tidak akan bisa di tangani." Tegas seorang perawat laki-laki kembali menahan tubuh Zyandru.
"Tuan, kalau tuan nekat nanti nyonya Alula makin parah, lebih baik kita tunggu di sini." Pak Mun mencoba menenangkan Zyandru yang lepas kendali.
Mendengar pak Mun menyebut nama 'Alula' Zyandru langsung terdiam, dengan pandangan kosongnya Zyandru menatap pria paruh baya itu.
Pak Mun segera mengajak Zyandru untuk duduk, meski awalnya terus menolak, namun perlahan Zyandru mulai menurut setelah pak Mun berkata untuk kebaikan Alula.
Suara orang berlari di lorong sebelah kiri, membuat pak Mun menoleh. Dilihatnya Ansell tergesa-gesa menghampiri mereka.
Dengan membawa totebag di tangannya, Ansell memberikannya pada Zyandru, namun tak ada respon sama sekali dari pria itu.
Saat di perjalanan tadi, pak Mun menyempatkan mengabari Ansell dan memintanya membawa pakaian untuk Zyandru.
Berkali-kali Ansell dan pak Mun memanggil namun tetap tak ada jawaban. Hingga perhatian Zyandru terlaihkan dengan seorang dokter berlari keluar dari ruangan itu, tak lama dokter tersebut kembali dengan sebuah alat yang entah apa namanya.
"Tuan, saya bawakan pakaian, dipakai ya tuan! Kalau nanti tuan ikut sakit, bagaimana tuan bisa merawat Alula!" Sekali lagi Ansell memberikan pengertian dengan lembut.
Zyandru menatap pria yang sudah menjadi asistennya sekitar 7 tahun lamanya itu. Dengan sangat terpaksa Zyandru menuruti permintaan Ansell dan menutup tubuhnya yang sejak tadi terbuka.
Melihat lengan atas Zyandru terluka, sebenarnya Ansell ingin mengobatinya, namun Zyandru pasti menolak keras. Ansell tahu betul bagaimana keras kepalanya seorang Zyandru Avior, jadilah Ansell diam tak membahas luka itu.
Entah sudah berapa lama mereka terdiam, hingga pintu ICU terbuka dan menampilkan seorang dokter dengan APD lengkapnya.
Zyandru yang tak sabar langsung menodong dokter tersebut dengan berbagi pertanyaan.
Sebelum berbicara, dokter pria tersebut membuka masker dan menghela napasnya berat. "Istri anda mengalami hipotermia berat, suhu tubuhnya mencapai 27 derajat celcius. Kalau saja cepat di tangani, hal ini tidak akan terjadi."
Zyandru dibuat mencelos mendengar penjelasan dokter barusan. Air matanya kembali terjatuh, entah sudah berapa tetes air mata yang Zyandru keluarkan pada malam menjelang pagi ini.
Mata Zyandru terlihat memerah dengan kantung mata yang begitu jelas. Mata yang biasanya menunjukkan ketegasan, kali ini yang ada hanyalah kesedihan.
Hening menyelimuti ketiga pria yang duduk tepat di depan ruang ICU. Mereka kompak berdo'a dalam hati untuk keselamatan satu nama, yaitu Alula Zayana.
Entah sudah berapa lama mereka saling diam, hingga suara adzan subuh menyadarkan mereka.
Zyandru dan pak Mun kompak beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju area belakang rumah sakit. Sebelum benar-benar pergi, Zyandru meminta tolong pada Ansell untuk menjaga Alula sebentar.
Pria dengan kulit yang sudah basah dengan air wudhu itu terdiam menatap sajadah berwarna hijau yang saat ini di tapakinya. Nama sang istri kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
Zyandru tahu caranya sholat, ia hanya tidak pernah melaksanakannya karena kesibukan yang dimilikinya. Mengingat betapa seringnya ia melihat Alula melaksanakan sendiri, perasaan bersalah kembali menyerangnya.
Aku memang suami yang buruk, bagaimana aku bisa menggandengmu ke surga sedangkan aku tak pernah menjadi imam untukmu Alula.
Selesai dengan kewajibannya, Zyandru tak ada niat beranjak dari sana. Pria itu duduk dengan menundukkan kepalanya.
Puas mengadukan semua masalahnya pada sang pencipta, Zyandru dan pak Mun kembali ke ruang ICU berada.
"Pak Mun, nanti ada anak buah saya yang datang buat jaga Alula, pak Mun pulang aja! Dan Ansell, mari ikut saya. Kita harus menyelidiki sesuatu!" Titah Zyandru dengan nada bicara yang lembut, tak seperti biasanya.